
Di kediaman Dafa...
"Kak, aku akan pergi camping." Ucap Amira.
"Camping!" Seru Dafa.
"Iya Kak, boleh ya." Amira mencoba untuk membujuk kakaknya itu.
"Kau boleh pergi, tapi akan ada pengawal yang mengikuti mu. Kalau kau tidak mau membiarkan mereka ikut denganmu, ya sudah. Kau tidak boleh pergi." Ucap Dafa santai.
Amira mencebik kesal.
"Ya udah deh, mereka boleh ikut. Tapi, harus jaga jarak ya. Aku gak mau teman-temanku menganggap ku aneh." Balas Amira.
"Setuju." Ucap Dafa.
************
Keesokan harinya, Dafa tidak muncul di kampus. Sheila berpikir kenapa dia tak datang. Tapi Sheila merasa itu hal yang baik setelah apa yang terjadi antara keduanya. Beberapa hari berikutnya, Dafa tetap tidak muncul juga.
'Kemana dia? Apakah terjadi sesuatu padanya? Tes toefl akan dimulai 2 hari lagi. Dan aku tidak mau menang dengan cara seperti ini. Tidak aku tidak mau. Ini tidak adil. Aku harus menemukannya.' ucap Sheila dalam hati.
Sheila tengah dalam perjalanan pulang ke rumahnya sembari memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Dafa.
"Tunggu dulu, kenapa aku memikirkan dia? Ini semua pasti karena aku tidak mau menang dengan cara tidak adil." Ucap Sheila pada dirinya sendiri.
Sheila hanya berharap bahwa Dafa baik-baik saja.
Sheila secara tidak sengaja melihat ke arah kiri dari jendela mobilnya dan dia melihat seorang pria duduk sendirian di tepi pantai. Dia terlihat begitu familiar.
'Tunggu dulu, dia itu Dafa kan? Apa yang dia lakukan malam-malam begini sendirian disana? Apakah aku harus menemuinya?' pikir Sheila.
Sheila mengambil setangkai bunga mawar yang baru saja dia beli, kemudian mulai mencabut setiap kelopaknya sembari berkata,
"Aku harus pergi atau tidak ya? Pergi, jangan pergi, pergi, jangan pergi, pergi, jangan pergi...."
Kelopak bunga itu memberikan petunjuk pada Sheila agar dia tidak pergi. Tapi Sheila malah tetap pergi.
Sheila berjalan mendekat ke arah Dafa. Dia tidak menyadari kehadiran Sheila.
"Hai." Ucap Sheila.
Dafa melihat Sheila. Dia tampak sedikit terkejut melihat kedatangan Sheila.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Dafa.
Dafa tampak merasa kesepian.
"Aku hanya kebetulan lewat. Ngomong-ngomong, kenapa kau tak pernah pergi ke kampus beberapa hari ini?
"Sahabatku sejak kecil meninggal." Ucap Dafa.
Saat itu, Sheila bertindak tanpa berpikir apapun. Dia langsung memeluk Dafa dengan erat. Kenapa? Karena Sheila tahu benar bagaimana rasnya kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya.
Dafa tidak menolak pelukan Sheila, dia juga memeluk Sheila dengan erat. Mereka berpelukan erat di tepian pantai di tengah malam.
Dafa kehilangan sosok sahabatnya sejak kecil beberapa hari yang lalu karena kecelakaan. Hal itu benar-benar membuat Dafa terpuruk.
Entah sudah berapa lama mereka seperti itu, hingga Dafa akhirnya melepaskan pelukannya pada Sheila. Dafa tampak lebih baik.
"Ini memang waktu yang sangat sulit, tapi kau harus kuat untuk melewati semua ini." Ucap Sheila. "Apa kau masih mengingat taruhan kita? Jika kau tetap seperti ini, kau sudah pasti akan kalah! Jika kau kalah, aku akan membuatmu bekerja di rumahku dengan menggunakan pakaian pelayan. Kau pasti akan terlihat keren mengenakannya. Hahaha!" Ucap Sheila tertawa mencoba mencairkan suasana.
"Jangan bermimpi. Aku sudah pasti akan menang dan kau lah orang yang akan mengenakan pakaian pelayan yang seksi!" Balas Dafa.
"Dasar mesum!" Balas Sheila.
"Kau juga yang ingin aku memakai pakaian pelayan. Bukankah kau juga mesum?"
Mereka berdua saling menatap dan kemudian tertawa. Sheila melihat jam tangannya dan sudah hampir tengah malam. Itu sudah jam 11 malam.
"Apa? Aku tidak bawa mobil, dan rumahku cukup jauh dari sini. Aku tidak akan menemukan bus atau taksi disekitar sini. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Dafa.
"Kenapa kau tidak menginap di rumahku malam ini." Kata Sheila.
"Apa? Rasanya tidak pantas untuk membawa seorang pria masuk ke dalam rumah mu saat malam hari bukan?"
"Rumahku besar. Jangan khawatir." Ucap Sheila.
Keduanya pun bergegas menuju ke rumah Sheila. Keduanya begitu dekat sampai tangan mereka bersentuhan.
"Jangan berpikir bahwa kita berteman sekarang. Kita tetap bermusuhan, dan sekarang kita hanya sedang genjatan senjata." Ucap Dafa.
"Aku tahu." Balas Sheila.
Saat mereka tiba di rumah Sheila, Dafa lebih dulu menatap Sheila kemudian rumahnya.
"Apa kau benar-benar tinggal disini?" Tanya Dafa.
__ADS_1
"Iya." Balas Sheila.
Dafa tampak terkejut mengetahui bahwa Sheila juga berasal dari keluarga kaya. Saat Sheila membuka pintu, seorang pelayan yang selama ini mengasuh Sheila sejak kecil langsung memeluk Sheila. Dia sudah seperti Ibu bagi Sheila.
"Dasar gadis nakal. Dari mana saja?" Ucapnya.
"Tapi, aku kan sudah memberitahu Bibi kalau aku akan pulang terlambat." Balas Sheila.
"Tapi bagaimana mungkin Bibi tidak khawatir. Sangat berbahaya bagi seorang gadis berjalan sendirian saat malam hari."
Pelayan itu menyadari kehadiran Dafa yang berdiri disamping Sheila. Saat pertama melihat Dafa, dia tampak terkejut. Namun setelah itu, bibirnya mulai menyeringai.
"Dimana kakak?" Tanya Sheila mengalihkan perhatian pelayan itu.
"Nona Sara tiba-tiba harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Ngomong-ngomong, Nona akhirnya punya pacar. Kapan kalian menikah? Saya sudah tidak sabar menimang cucu. Apa ya nama yang cocok untuk cucu nanti? Kiano atau Marvel? Tunggu dulu, bagaimana kalau dia perempuan?"
Pelayan itu mulai bicara tak jelas tentang kehidupan suami istri.
"Bi, dia hanya teman sekelas ku. Dia hanya akan menginap semalam saja. Lagi pula Kakak saja belum menikah, kenapa malah menanyakan hal yang tidak tidak padaku. Lagi pula dia dan aku.... Ah sudahlah, lupakan saja. Tidak ada gunanya menjelaskan semuanya pada Bibi." Ucap Sheila.
Sheila menarik tangan Dafa dan menariknya naik ke lantai atas.
"Tolong maafkan Bibi ku. Mimpinya ingin menjadi mak comblang tapi dia tidak menyadari semuanya. Dia bahkan sering membuat jadwal kencan buta untukku." Ucap Sheila.
"Jangan khawatir, Mama ku juga seperti itu. Dimana aku akan tidur?" Tanya Dafa.
Sheila mengajak Dafa menuju kamar tamu. Dia mencoba untuk membuka pintunya tapi terkunci. Sheila kembali mencoba untuk membuka pintu kamar lainnya tapi pintunya juga terkunci. Semua pintu kamar terkunci.
'Ini pasti ulah Bibi.' pikir Sheila.
"Apa semua ini hanya sandiwara?" Tanya Dafa dengan menatap Sheila
Hanya kamar Sheila yang tidak terkunci.
"Hanya kamarku yang tak terkunci." Ucap Sheila.
"Ja.... Jangan bilang kalau kita akan tidur bersama!" Ucap Dafa gugup.
"Siapa yang bilang begitu? Aku akan tidur diatas ranjang, dan kau bisa tidur di lantai atau sofa." Balas Sheila.
"Tidak, aku adalah tamu. Jadi aku akan tidur di atas ranjang."
Keduanya saling menatap.
__ADS_1
"1... 2... 3... GO!!!!"
Bersambung....