
Sebelumnya....
"Pak, tolong pergi dan buka ikatan pada tangan dan kaki Febby. Dan juga oleskan obat ini pada tangan dan kakinya." Ucap Amira pada bodyguardnya saat orang lainnya tengah sibuk mencari keberadaan Febby.
'Terima kasih Tuhan, telah membuatku menjadi begitu pintar. Dan terima kasih juga pada Calvin yang mempunyai obat ini. Bekas ikatan tali itu akan hilang setelah mengoleskan obat ini. Dia pasti membawa obat ini dari Amerika.' ucap Amira dalam hati.
"Kau memalukan, kau yang membuka ikatan di tanganku." Teriak Febby pada Amira.
Pak Kim tidak bisa menahan emosinya dan langsung menampar Febby.
"Kau jangan melewati batas mu. Aku memang paman mu, tapi itu semua tidak berarti aku akan mengabaikan segala kesalahan yang kau perbuat. Karena ulah mu Amira tersesat di hutan dan sekarang kau menyalahkannya. Dengarkan aku Febby, ini semua disebut dengan KARMA." Ucap Pak Kim pada Febby.
'Hmmpphh... Aku pikir bahwa Pak Kim akan melepaskan Febby dan memaafkannya, tapi dia malah menamparnya.' ucap Amira dalam hati.
"Aku minta maaf Amira." Ucap Pak Kim seraya mengatupkan tangannya dihadapan Amira dan meminta maaf padanya.
"Ini bukan salah anda Pak, dia sudah mendapatkan hukumannya dari Tuhan, jadi biarkan saja dia." Ucap Amira pada Pak Kim.
"Amira sangat baik. Dia tidak akan pernah melakukan hal seperti yang dituduhkan Febby." Ucap mahasiswa lainnya membicarakan tentang Amira.
'Tetap saja, aku tidak puas. Amira menjadi terluka karena dia dan bahkan Amira harus berada di dalam hutan sepanjang malam. Aku berada disana bersamanya, tapi aku datang terlambat. Aku tidak akan memaafkan perbuatan Febby dengan begitu mudah.' ucap Ariel.
Semua orang mulai mengemasi barang-barang mereka sejak perkemahan berakhir. Dosen berpikir bahwa mereka bisa menghabiskan waktu satu hari lebih lama lagi tapi karena perbuatan Febby, mereka memutuskan untuk kembali pulang hari ini.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka tiba di kampus. Dan hari sudah mulai petang. Amira meminta kepada Dafa untuk mengirimkan mobilnya ke kampus.
Ariel dan Calvin menjadi teman setelah beberapa lama terus bersama. Calvin mendekat ke arah Amira.
"Aku minta maaf jika kau merasa tidak nyaman saat aku berada didekat mu beberapa hari yang lalu." Ucap Calvin.
Amira tersenyum dan berkata, "aku tidak pernah merasa terganggu atau pun tidak nyaman. Lagipula kita ini adalah teman,jadi tidak masalah."
Calvin tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Amira.
Ariel mendekat ke arah mereka berdua dan berdiri ditengah-tengah mereka.
"Bro, ini sudah clear sekarang. Jadi kenapa kau masih mau berjabat tangan dengan Amira." Ucap Ariel.
Amira langsung menjewer telinga Ariel dan berkata, "minggir lah."
Ariel tampak kesal dan berkata, "hmmmpphh..."
Amira tertawa kecil, begitu juga dengan Calvin dan Cindy.
Setelah beberapa saat, bodyguard Amira datang membawa mobil Amira dan memberikan kunci mobil padanya.
__ADS_1
Ariel langsung berjalan dengan cepat dan duduk di kursi depan.
"Dasar..." Ucap Cindy pada Ariel.
Cindy dan Calvin lalu duduk di kursi belakang.
Ariel memutar radio di mobil. Mereka semua menikmati musik saat mobil mulai berjalan. Ariel terus menatap wajah Amira dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Amira hanya menghela napas dan tidak mengatakan apapun padanya. Amira lalu melihat ke arah cermin untuk melihat ke kursi belakang. Terlihat Cindy dan Calvin duduk dengan canggung dan menatap ke arah lainnya. Amira tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.
'Mereka berdua tampak cocok untuk bersama.' ucap Amira dalam hati.
************
Amira mengantar Calvin dan Ariel ke rumah mereka. Cindy bergegas duduk di kursi depan saat Ariel sudah keluar.
Cindy terdiam, Amira menatap ke arahnya dan bertanya padanya.
"Ada apa?"
"Mmm tidak ada." Balas Cindy.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Amira lagi.
Amira lantas mengantar Cindy ke rumahnya dan berkata sebelum pergi.
"Hei bodoh, aku selalu bersama mu." Ucap Amira pada Cindy.
'Aku tidak tahu apakah Calvin menyukai ku atau tidak. Sama seperti diriku sendiri, aku tidak tahu perasaan ku padanya. Si Febby itu sudah kelewatan kali ini. Aku akan memberikannya pelajaran yang sangat buruk kali ini. Febby... Tunggulah.' ucap Cindy dalam hati saat masuk ke dalam rumahnya.
Setelah mengantar mereka bertiga, Amira tiba di rumahnya. Malam pun sudah sangat larut. Ponsel Amira sudah mati total karena kehabisan daya.
'Aku harap Kak Dafa tidak memarahiku.' ucap Amira dalam hati.
Dafa tengah berdiri di dekat sebuah meja seraya meminum segelas jus.
"Hai Kak, kakak belum tidur ya?" Tanya Amira.
"Kemari lah." Ucap Amira pada Dafa.
Amira mendekat ke arah Dafa dan duduk di kursi. Dafa memegang luka Amira dan rahangnya tampak mengeras.
"Aku tidak akan memaafkannya." Ucap Dafa dengan penuh amarah.
"Tenanglah Kak, dia sudah mendapatkan hukumannya." Ucap Amira.
__ADS_1
"Hukuman kecil itu tidak ada apa-apanya. Andre (bodyguard Amira) sudah memberitahukan kepadaku semuanya lewat telepon." Ucap Dafa.
Amira menghela napas dan berkata, "kalau begitu berjanjilah padaku bahwa kakak tidak akan melakukan sesuatu pada orang yang tidak bersalah."
'Ini semua ulah Febby, bukan keluarganya. Dan aku tahu apa yang akan dilakukan Kak Dafa jika aku tidak membuatnya berjanji padaku.' ucap Amira dalam hati.
"Besok kau harus pergi ke bandara, apa kau ingat itu?" Ucap Dafa mengganti topik pembicaraan mereka.
"Ya Tuhan, Mama dan Papa akan tiba besok dan aku benar-benar lupa akan hal itu. Bye Kak, aku akan tidur. Jadi aku tidak akan mendapatkan mata panda nantinya, atau kakak tahu sendiri apa yang akan dilakukan Mama padaku." Ucap Amira bergegas pergi ke kamarnya.
Dafa menghela napas.
'Gadis ini...
Febby, aku sudah merawat adikku dan menjaganya sejak hari dimana dia dilahirkan dan kau berani untuk menyakitinya. Dia bahkan tidak pernah tergores sedikitpun seumur hidupnya dan kau malah memberikan luka yang begitu dalam padanya.' ucap Dafa dalam hati dengan ekspresi penuh kemarahan.
**********
Pagi berikutnya...
Amira bangun setelah mendengarkan suara siulan burung.
"Arghh ini sudah pagi." Ucap Amira seraya bangun dari tempat tidur.
Dia lalu berdiri di depan cermin untuk melihat wajahnya.
"Oh ya Tuhan!!!" Teriak Amira dari dalam kamarnya setelah melihat kantung dibawah matanya yang menghitam.
Dafa dan pelayan berlari masuk ke dalam kamar Amira setelah mendengarkan teriakannya.
"Ada apa?" Tanya Dafa pada Amira dengan begitu khawatir.
"Kak, mata panda." Ucap Amira dengan terisak.
Dafa menggelengkan kepalanya. Sementara pelayan turun ke lantai bawah untuk mengambil es batu.
"Ini, taruh ini di mata Nona dan cobalah untuk bersantai sebentar." Ucap pelayan.
"Terima kasih Bi." Ucap Amira begitu senang.
Amira tetap menaruh es batu dimatanya. Sementara Dafa dan pelayan turun ke lantai bawah.
"Kenapa aku selalu merasa takut, kapanpun aku memikirkan Mama yang akan pulang. Aku harap Mama sudah berubah. Dia benar-benar bersikap seperti seorang putri kerajaan." Ucap Amira pada dirinya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1