
Di tempat lain...
Amira menghela napas panjang dengan masih duduk di dalam mobil.
'Yang benar saja, kenapa aku datang ke rumahnya? Bagaimana jika dia melihatku? Aku harus pergi.' ucap Amira dalam hati.
"Amiraaa...." Teriak Ariel dari balkon kamarnya.
Amira menghela napas dan keluar dari dalam mobil. Ariel terpesona melihat Amira yang keluar dari dalam mobil dengan cara yang terlihat keren.
'Dasar bodoh, aku bisa melihatmu merona.' ucap Amira dalam hati.
Ariel bergegas keluar dari dalam rumah dengan cepat.
"Kau datang kemari untuk melihatku?" Tanya Ariel pada Amira.
"Tidak." Balas Amira.
Amira menyeka poninya dan berkata, "ayo kita pergi jalan-jalan."
Ariel menjadi begitu kegirangan dan mengangguk. Amira tertawa kecil melihat tingkah Ariel.
'Sangat menggemaskan.' ucap Amira dalam hati.
"Mobil yang bagus." Ucap Ariel.
"Terima kasih." Balas Amira seraya mengemudikan mobilnya.
Amira berkendara menuju pantai dan berkata kepada Ariel untuk keluar dari dalam mobil. Ariel pun keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh Amira juga.
"Ayo kita diam di sini untuk beberapa saat." Ucap Amira dan berjalan menyusuri pantai.
Ariel mengikuti Amira dan berkata, "apakah kau mencoba untuk meminta maaf kepada ku atas kejadian tadi pagi itu?"
Amira berhenti berjalan.
"Apakah aku terlihat seperti aku ingin meminta maaf?" Tanya Amira kepada Ariel.
"Tidak." Balas Ariel.
"Kenapa kau menyukai aku Ariel?" Tanya Amira dengan suara yang lembut.
Ariel memegang pundak Amira, lalu merebahkan kepalanya di pundak Amira.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Amira dengan marah.
"Ini pertama kalinya sejak begitu lama kau kembali memanggil namaku." Ucap Ariel.
'Aku bisa melihat pipimu yang mulai memerah. Kau begitu bodoh, aku tidak pantas untukmu. Kenapa kau tidak mengerti.' pikir Amira.
"Aku menyukaimu." Ucap Ariel perlahan.
Amira pun merona dan berkata, "sial. Jangan lihat aku sekarang." Ucap Amira kepada Ariel.
Mereka berdiri dengan posisi seperti itu untuk beberapa menit.
"Terima kasih sudah membawaku kemari. Aku merasa lebih santai sekarang." Ucap Ariel.
Mereka berdua duduk di pantai melihat sunset bersama. Amira merasa sedikit kedinginan, Ariel lalu memeluknya dan berkata, "ini semua sangat indah."
Amira pun tidak keberatan dengan perlakuan yang diberikan Ariel.
__ADS_1
'Aku sudah mencari tahu tentang pertunangan mu itu. Kau bisa membatalkan pertunangan itu dan kembali bersama denganku. Aku tidak bisa menemukan apapun fakta yang terjadi tentang 3 tahun yang lalu. Tapi aku akan mencoba sebisa mungkin untuk menemukan tentang semua yang telah terjadi.' ucap Ariel dalam hati.
Ariel lalu mencium kening Amira dengan lembut dan berkata, "tunggulah aku."
Amira tidak dapat mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Ariel. Dia pun bertanya kepadanya.
"Apa kau mau pergi ke suatu tempat?"
Ariel tersenyum dan berkata, "aku tidak akan pergi ke manapun. Hanya saja, tunggulah aku untuk membatalkan pertunangan mu itu."
Amira merasa terkejut dan bertanya kepada Ariel.
"Bagaimana kau tahu tentang hal itu?" Tanya Amira.
Ariel tertawa kecil dan berkata, "aku adalah Tuan Muda dari keluarga Pratama. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."
Amira memicingkan matanya dan berkata, "terserah kamu saja."
Setelah itu Amira mengantar Ariel pulang ke rumahnya. Hari sudah larut dan daya ponsel amira sudah habis. Amira takut bahwa kakaknya akan marah kepadanya.
Tiba di rumah, Amira masuk ke dalam rumahnya dengan mengendap-endap.
"Selamat datang Tuan Putri." Ucap Dafa dengan marah.
Dafa tengah duduk di sofa ruang tamu dengan kakinya yang berada diatas meja dan menatap kearah Amira. Dia sudah menunggu Amira sejak tadi.
Amira pun menelan ludah dan meminta maaf kepada Dafa karena pulang larut malam.
"Kau lebih baik menjelaskan semuanya kepadaku." Ucap Dafa.
"Itu... itu.. itu semua karena aku sangat bahagia karena mendapatkan mobil baru. Jadi aku pergi ke pantai." Ucap Amira gugup.
Dafa menghela napas lalu bangun. Dia kemudian berjalan mendekat kearah Amira dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Amira tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu, kelinci, ayo kita makan." Ucap Dafa.
"Ah... Jangan panggil aku seperti itu." Teriak Amira kesal.
"Mama dan Papa akan tiba dalam waktu satu minggu." Ucap Dafa saat makan malam.
Amira tersedak dan berkata, "mama juga akan pulang?"
Dafa tertawa kecil dan berkata,"yap, jadi kau harus bisa bersikap dengan baik."
Amira menyelesaikan makan malamnya dan pergi ke kamarnya, setelah mengatakan selamat malam kepada kakaknya dan juga pelayan.
Hari berikutnya, Amira pergi ke kampus menggunakan mobilnya sendiri. Dia memarkirkan mobilnya jauh dari kampus untuk menghindari gosip. Dia tidak pernah memperlihatkan kekayaannya, itulah alasan kenapa semua orang menyukai dirinya.
Meski sebenarnya semua orang sangat jelas mengetahui bahwa dia adalah adik dari Dafa Wijaya, mahasiswa paling tajir, terkenal dan tampan di kampus. Tapi Amira tetap berpenampilan sederhana.
"Selamat pagi Amira." Ucap Cindy yang baru tiba di dalam kelas.
"Selamat pagi." Balas Amira. "Kenapa kau datang terlambat?" Tanya Amira.
"Bus yang biasa aku tumpangi datang terlambat." Balas Cindy.
"Mulai besok, aku akan menjemputmu dan juga mengantar mu pulang." Ucap Amira.
"Jangan bilang kalau kau sudah mempunyai mobilmu sendiri?" Tanya Cindy dengan ekspresi yang kegirangan.
__ADS_1
"Ayolah, jangan berteriak seperti itu." Ucap Amira.
Cindy pun langsung lebih tenang sedikit dan kemudian berkata, "Amira kelinciku, terima kasih."
Amira melihat kearah Cindy dengan tatapan marah karena memanggilnya kelinci.
Cindy malah menyeringai dan berkata, "bayi kelinci, jam berapa aku harus menunggumu?" Ucap Cindy dengan gaya yang menggemaskan.
Amira tertawa dan berkata, "telepon saja aku."
Cindy pun menganggukkan kepalanya.
Ariel masuk kedalam kelas. Ada banyak mahasiswi yang sejak tadi terus mengikuti dirinya dan mengucapkan selamat pagi kepadanya. Ada juga yang memberikannya hadiah berupa coklat. Ariel pun selalu mengambil pemberian para mahasiswa itu dan memberikan senyuman kepada mereka.
Amira melihat ke arah mereka semua dan kemudian menggebrak buku di atas meja yang membuat semua orang terkejut.
"Duduklah di bangku kalian semua." Ucap Amira kepada para mahasiswi itu.
Ariel menyeringai dan mendekat kearah Amira. Dia memberikan semua coklat yang diberikan para mahasiswi itu kepada Amira.
"Bukankah kau menyukai coklat. Ini makanlah semuanya." Ucap Ariel.
Amira melihat kearah Ariel dengan sebentar. Ariel semakin mendekat kearah amira dan berkata, "aku tahu kalau aku ini sangat tampan."
Rahang Amira mengeras dan berkata, "bawa semua ini pergi atau aku akan membuangnya."
Cindy mengambil semua coklat itu dan berkata, "kenapa harus dibuang begitu saja. Biarkan aku saja yang mengambilnya."
Ariel menatap kearah Cindy. Cindy pun berpindah tempat duduk ke bangku belakang dan kemudian duduk disana. Sedangkan Ariel, dia langsung duduk di bangku tempat Cindy duduk tadi, dan kemudian memiringkan bangkunya untuk menatap kearah Amira.
"Apa?" Ucap Amira.
"Tidak bisa kah aku melihat kekasihku sendiri?" Ucap Ariel dengan tersenyum.
Amira menjadi begitu terkejut. Semua orang mulai membicarakan hal itu. Amira hendak mengatakan sesuatu, tapi dosen kemudian tiba.
"Aku minta maaf karena datang sedikit terlambat." Ucap Calvin yang masuk ke dalam kelas dengan cepat.
Calvin masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Cindy.
"Selamat pagi Amira." Ucap Calvin.
Amira membalas ucapan Calvin, "selamat pagi juga."
"Hei, apakah aku ini tidak terlihat bagimu?" Ucap Cindy kepada calvin.
Amira pun tertawa.
'Cindy selalu terlihat menggemaskan saat dia bertingkah seperti itu. Ah, aku akan mengajak dia pergi berbelanja bersamaku hari ini. Kak Dafa bilang aku boleh pergi berbelanja. Jadi aku akan membawa dia bersamaku. Pasti akan sangat menyenangkan.' ucap Amira dalam hati.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apakah kau memikirkan tentang aku?" Ucap Ariel.
Amira menunjukkan tinju nya ke wajah Ariel dan Ariel pun berbalik dengan matanya yang menatap ke lantai dengan ekspresi wajahnya yang sedih.
'Arghh, aku benci saat dia bertingkah seperti itu. Itu hanya membuatku merasa, bahwa aku orang yang jahat.' ucap Amira dalam hati.
"Apa kau mau pergi shopping?" Tanya Amira kepada Ariel dengan pelan.
'Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau menjadi orang yang jahat dan pasti akan menyenangkan jika dia juga ikut.' pikir Amira.
Ariel mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah Amira dengan wajahnya yang begitu sumringah dan menganggukkan kepalanya. Dia kemudian kembali berbalik.
__ADS_1
'Bodoh, seorang laki-laki itu tidak seharusnya bertingkah menggemaskan bukan?' ucap Amira dalam hati.
Bersambung.....