Siblings Love Story

Siblings Love Story
8. Mobil Amira


__ADS_3

"Ini semua salahmu....!!!" Ucap Dafa dan Sheila bersamaan.


"Kau lah orang yang datang mendekatiku dan menyentuhku." Pekik Sheila.


"Kau juga orang yang memprovokasi aku." Lanjut Sheila lagi.


"Hmmmpphhh...." Ujar Dafa.


'Bagaimana mungkin ini menjadi kesalahanku? Dialah yang memprovokasi aku, dia tidak boleh menyalahkan aku!' ucap Sheila dalam hati.


Mereka berdiri di koridor kampus di samping pintu ruang kelas mereka. Sheila duduk di lantai dan Dafa tengah bersandar di tembok.


'Menyebalkan!' umpat Dafa dalam hati.


Sheila tengah memikirkan, apa yang akan dimasak oleh sang kakak untuk makan malam nanti saat seseorang memukul kepalanya.


"Auu...."


Sheila melihat ke atas dan itu tampak Dafa yang menyeringai padanya.


"Kenapa kau mendesah begitu?" Ucap Dafa


Sheila belum sempat berucap karena Dafa kembali memukulinya. Kali ini Dafa mencubit hidung Sheila. Sheila lantas mengusap hidungnya kemudian dia meninju betis Dafa.


"Hei..." Teriak Dafa.


Mereka berdua mulai saling memukuli satu sama lain. Mereka tidak memukul dengan keras, hanya saling memukul dengan cepat. Tidak ada diantara keduanya yang kesakitan.


"Apakah kau itu laki-laki? Kau memukul perempuan." Ucap Sheila


"Aku memukuli mu karena aku tidak berpikir bahwa kau itu seorang perempuan. Kau begitu kasar." Balas Dafa.


Sheila berkata sambil berpikir.


"Apakah kau tidak mengingat pelukan yang kau lakukan kemarin? Kau seharusnya tahu lebih baik dari aku bahwa aku ini seorang wanita!" Ucap Sheila.


'Oh ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku mengingatkannya tentang hal memalukan itu?' pikir Sheila.


Sheila langsung menutup mulutnya dan melihat ke arah yang lain. Dengan sudut matanya, Sheila dapat melihat bahwa Dafa tengah merona. Kemudian saat itu, Sheila menyadari bahwa Dafa sangat tampan. Dengan rambutnya yang berwarna hitam, hidungnya yang mancung. Segala ketampanannya itu diwarisi dari sang Papa, Arka.


'Dia sangat tampan. Pantas saja para wanita tergila-gila padanya! Dia pasti punya tubuh yang bagus juga.' pikir Sheila.


'Tunggu dulu, apa yang sedang aku pikirkan? Malulah kau Sheila! Kau berpikiran mesum!' lagi-lagi Sheila bergumam dalam hati.


Keheningan membuat suasananya menjadi canggung. Jadi Sheila memutuskan untuk bicara.


"Berapa lama lagi waktu yang tersisa?" Tanya Sheila.


"Lima menit lagi." Balas Dafa.


Dafa duduk di lantai bersama Sheila. Sheila memegang sebuah mainan kecil. Itu adalah mainan kucing kecil. Saat ditekan, mainan itu akan mengeong seperti kucing asli. Mama Sheila memberikan mainan itu saat Sheila masih sangat kecil. Bahkan Sheila tak dapat mengingat pasti, kapan waktu dia diberikan mainan itu. Sheila selalu membawanya kemanapun ia pergi.


"Isshh... Dasar kekanakan!"


Sheila tidak mengatakan apapun pada Dafa. Dia tengah memikirkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


'Kapan aku akan bertemu dengan mereka?' pikir Sheila.


Sheila lalu memasukkan mainan itu ke sakunya. Dia lalu melihat kearah Dafa yang tengah memainkan rambutnya.


Sheila menarik rambut Dafa dengan sangat keras, merusak tatanan rambutnya.


"Aauhh...." Teriak Dafa.


"Pffffttt.... Kau terlihat seperti anak kucing sekarang." Ucap Sheila tertawa.


"Kau....!!!!"


Dafa langsung menarik rambut Sheila seperti yang Sheila lakukan padanya.


"Sekarang, kau juga tampak seperti anak kucing!" Ucap Dafa yang terlihat begitu puas.


Dafa melihat ke arah jam tangannya.


"Sudah waktunya kita kembali ke kelas." Ucap Dafa.


Saat keduanya masuk ke dalam kelas, semua orang melihat ke arah mereka.


'Ya Tuhan! Tidak perduli dengan siapapun aku disini, mereka semua akan selalu menatapku!' ucap Sheila dalam hati.


Melihat mereka berdua, seisi kelas mulai tertawa.


'Tentu saja mereka menertawai aku. Mereka tidak akan mungkin menertawai Dafa. Sangat bodoh!' ucap Sheila dalam hati.


Dosen itu menatap mereka dan berkata, "apa yang terjadi kepada kalian berdua? Apa kalian diterpa ****** beliung di luar sana?"


"Emmhh tidak, ehh..." Ucap Dafa gugup.


Mereka berdua ditertawakan dan diejek seperti anak kecil. Tapi situasi yang ada tampak sedikit lucu.


"Pffttt...."


"Pffttt...."


"Apa yang kalian berdua ter tawakan?" Tanya dosen itu pada Dafa dan Sheila yang tampak menahan tawanya.


Keduanya saling tatap sebentar lalu bergegas menuju bangku mereka dengan masih tertawa kecil.


'Aku rasa aku tidak akan pernah bersenang-senang dengan pria itu.' pikir Sheila.


***************


"Amira... Bisakah kau kemari?" Ucap Dafa.


Keduanya sudah pulang dari kampus. Amira pulang sendirian dari kampus karena Dafa sudah lebih dulu pulang. Sementara Amira harus pulang dengan taksi, karena Ariel entah kenapa langsung menghilang.


'Kenapa dia tidak mengantarku? Yah, memang benar bahwa aku tidak bisa menerima dia karena aku sudah bertunangan.' ucap Amira dalam hati.


Amira keluar dari dalam kamarnya lalu turun ke lantai bawah.


"Aku dengar dari pelayan, kau pulang dengan taksi hari ini." Ucap Dafa.

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus aku lakukan Kak? Kakak kan harus pulang lebih dulu karena ada urusan penting di kantor. Jadi aku harus pakai taksi." Ucap Amira.


'Bagaimana dengan Ariel? Apakah mereka bertengkar. Dengan melihat wajah Amira, bisa disimpulkan bahwa mereka bertengkar.' ucap Dafa dalam hati lalu menghela napasnya.


"Kau tahu cara untuk mengemudi bukan?" Tanya Dafa.


Amira mengangguk. Dia sudah diajar semuanya oleh Papa dan kakaknya sejak ia masih kecil.


"Keluarlah sebentar." Ucap Dafa pada Amira lalu mengajaknya keluar rumah.


'Wow, mobil ini sangat keren. Modelnya begitu sporty dan warnanya sangat berani. Aku sangat ingin mengendarainya, ini sudah sangat lama sejak terakhir kali aku mengendarai mobil.' ucap Amira dalam hati.


"Apa kau suka?" Tanya Dafa.


"Ya Tuhan! Apakah ini untukku Kak?" Tanya Amira pada Dafa dengan penuh kegirangan.


Dafa mengangguk dan memberikan kuncinya pada Amira.


Amira langsung memeluk Dafa dengan erat dan berterima kasih padanya.


"Ini bahkan bukan hari ulang tahunku, jadi kenapa memberiku hadiah?" Tanya Amira pada Dafa.


"Ini hadiah dari Papa untukmu. Mengingat selama ini kau belum pernah punya mobil." Balas Dafa.


Amira lalu masuk ke dalam mobil.


"Ini sangat keren Kak." Teriak Amira dari dalam mobil.


Dafa tersenyum dan berkata, "apa kau tidak mau mencobanya dan membawaku berjalan-jalan?"


"Apa kakak tidak ke kantor?" Tanya Amira pada Dafa.


Dafa langsung masuk ke dalam mobil dan berkata pada Amira.


"Ayo kita pergi kelinci ku."


Amira merasa kesal karena dipanggil kelinci.


"Dari sudut mana aku terlihat seperti kelinci?" Tanya Amira marah.


"Mata dan gigimu." Balas Dafa.


Amira hanya memanyunkan bibirnya. Dia lalu mulai menyalakan mesin mobil dan mengendarai dengan penuh kecepatan.


"Apa kau sudah gila? Itulah kenapa Papa tidak mau memberikanmu mobil selama ini." Teriak Dafa.


"Baik, baik, lihatlah. Aku sudah pelan sekarang." Ucap Amira.


Amira hampir melewati batas kecepatan yang ditentukan tapi Dafa menghentikan nya agar tidak berkendara dengan cepat.


Setelah berkendara, Amira mengantar Dafa ke kantor dan berkata, "Kakak bisa pulang dengan taksi nanti." Ucap Amira lalu tancap gas.


"Dasar gadis nakal." Teriak Dafa.


"Bos, apakah Nona Amira kita sudah mendapatkan mobil baru? Itu sangat keren." Ucap asisten Dafa padanya.

__ADS_1


"Kita? Dia adalah adikku, sekarang kembali bekerja." Ucap Dafa dengan marah.


Bersambung....


__ADS_2