Sifat tersembunyi My Husban

Sifat tersembunyi My Husban
Bab 10 kesepakatan


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Zahra kembali pulih. Selama seminggu Sofian menjaga Zahra dengan hati-hati. Mereka tidak membicarakan masalah kemarin, karena Sofian tidak mau dan Zahra terlalu sakit untuk mengingatanya.


Seperti biasa Sofian ke kantor hari ini. 3 hari full dia tidak ke kantor. Kerjaannya menumpuk hingga saat ini. Sofian masih menyempatkan pulang untuk makan siang dan malam bersama Zahra walau bukan Zahra yang memasaknya.


Malam tiba.


Sofian dan Zahra sedang makan. Mereka makan dalam sunyi hanya bunyi piring dan sendok yang saling bertautan.


Setelah makan. Zahra mau membereskan.


"Biarkan pelayan saja" kata Sofian sambil memengang tangan Zahra yang telah mengambil piring. Tangan satu Sofian mengambil piring di tangan Zahra.


"Duduk! aku ingin bicara" perintah Sofian. Zahra kembali duduk.


Pelanyan membersihkan meja. Setelah bersih.


"Aku mau buat kesepakatan, Zahra"


"Kesepakatan?"


"Ya. Aku ingin seorang anak" kata Sofian santai.


"A...PA? anak?" tanya Zahra tidak percaya


"Apa-apa tadi anak?"


"Ia. seorang anak. Kenapa?"


"Kenapa? karena aku ingin menjadi ayah" jawab Sofian singkat.


"Lalu?"


"Lalu aku ingin dapat jatahku untuk membuatnya."


"*I*ni bukan lelucon kan? Apa yang terjadi setelah aku melahirkan seorang anak? Apa aku langsung di buang?" tanya Zahra dalam hati.


"Lalu?" tanya Zahra


"Aku mau setiap malam"


"APA? "


"Bagaimana bisa ia minta seperti itu dengan wajah seperti ini tanpa dosa" batin Zahra.


"Ah tidak...Apa yang terjadi setelah aku melahirkan?" jawab Zahra.


"Memang apa yang akan terjadi?"

__ADS_1


"Apa setelah itu kau membuangku?"


"*A*pa dia mau aku melepakannya? dia kejam juga .. Apa mau melepaskan anaknya?" tanya Sofian dalam hati.


"A..aku tidak mau pisah dengan anak ku" lanjut Zahra tegas.


"Aku juga tidak mau memisahkamu dengan anak mu" jawab Sofian lega.


"Baiklah" jawab Zahra "Apa ini pilihan terbaik. apa aku bisa menolah? itu tidak mungkin"


"Jika setiap malam..Aku tidak sanggup.. ji...jika seperti itu" lanjut zahra.


"Kau sanggup berapa kali?"


"2 kali seminggu."


"Itu terlalu sedikit. 6x seminggu"


"Kita ambil tengahnya saja 4x"


"Baiklah"


"Lalu?."


"Apa lagi zahra?" tanya Sofian.


"Emm. Baiklah aku tidak masalah itu. Jika kau sudah lelah bilang saja"


"Oke" jawab Zahra.


"Baiklah. Kita sepakat?" tanya Sofian sambil mengulurkan tangannya.


"Apa aku boleh keluar dari rumah ini?" tanya Zahra takut penuh harap.


"TIDAK!" jawab tegas Sofian.


"Namun..."


"Tidak ada namun namun Zahra. Tidak ada untuk keluar dari rumah ini baik hanya di teras rumah" lanjut Sofian.


"Aku bosan" jelas Zahra sedih.


"Ok. Kau boleh keluar"


"Namun bukan untuk berkerja" lanjut sofian


"Ta..tapi"


"Tidak ada tapi tapian Zahra. Jika kau keluar kau juga harus bawa bodyguard"

__ADS_1


"Apa? bodyguard. Sama saja dong kalau kek gitu"


"Berarti dirumah saja"


"Baiklah. bawa bodyguard."


"Untuk apa bodyguard coba?" Gumam Zahra kecil namun sofian dengar. Sofian tersenyum.


"Kau lulusan kedokteran Harvard University, namun kau tak tau guna bodyguard?" ejek Sofian.


"Eh dia tau aku luluasan kedokteran Harvard. ah orang kek dia pasti banyak koneksi**" batin zahra.


"Aku tau. Tapi jika aku tidak berkerja..."


"Kau tak punya uang?" potong Sofian.


"*Ap*a orang ini bisa baca pikiran?" tanya Zahra dalam hati.


"Nanti di kamar ambil di dompetku kartu warna gold Di jasku atau di meja nakas. Jau bisa gunakan semaumu"


"Aku tidak mau" jawab Zahra.


"Seterah kau saja. Namun aku tidak mengijinkan kau untuk berkerja"


"Kenapa? Apa kau takut di omongin orang bahwa istri dari pemilik Albarnista berkerja? aku lulusan kedokteran itu cita-citaku..."


"Cukup Zahra sekali tidak tetap tidak. Jangan buat aku marah."


"Ayo ke atas! kita istirahat"


"Aku belum mengantuk"


"Baiklah"


Sofian langsung mengendong Zahra.


"A..ku belum mengantuk, mas" Zahra terkejut dan sontak mengalungkan tangannya. Sofian tidak menpedulikan dan melangkah.


"Apa ia minta 'itu'" pikir Zahra takut.


"Aku hanya ingin tidur memelukmu Zahra" jawab Sofian tanpa melihat Zahra seakan tau pikiran Zahra.


"*A*lhamdulilah" zahra senang


"*M*aafkan aku zahra." batin Sofian


######


see you next time

__ADS_1


__ADS_2