Sifat tersembunyi My Husban

Sifat tersembunyi My Husban
Bab 13 kantor


__ADS_3

Zahra yang bosan memilih untuk jalan-jalan hari ini. Tidak lupa ia meminta izin pada Sofian.


"*M*as, Zahra boleh jalan-jalan? Zahra pengen beli bahan makanan dan beli sesuatu" pesan Zahra pada Sofian dan menunggu balasan Sofian kalau tidak ada balasan Zahra tidak mau ambil resiko sampai Sofian marah.


dret dret HP Zahra bergetar tanda telpon masuk. Siapa lagi kalau bukan Sofian..


"Assalamualaikum. Mas"


"Waalaikum salam. kamu mau pergi kemana?"


"Cuma ke supermakert mas. Mas izinin engga?"


"Emm.. Oke. Baiklah. Tapi jangan lupa bawa Doni dan sopir."


" Emm. Ia mas.Terimakasih" jawab Zahra pasrah.


######


Zahra pergi


Doni dan beberapa temannya naik mobil yang ikut dari belakang.


Tiba-tiba duar suara ledakan mengagetkan Zahra. Mobil menjadi oleng.


"Ada apa pak?" tanya Zahra.


"Tidak tau nyonya. Mungkin ban mobil yang meledak" jawab Adrian sopir Zahra dan menepikan mobilnya.


Setelah Adrian memeriksa. Zahra membuka kaca mobil.


"Ada apa pak?"


" Ban mobilnya yang meledak nyonya. "


Zahra turun.


"Bagaimana ini pak?"


"Tidak usah hawatir nyonya. Di depan itu kantor tuan, nyonya bisa istirahat di sana" jawab Doni. Doni dan teman-temannya memakai pakaian biasa bukan seperti bodyguard biasanya yang pakai kemeja dan jas. mereka memakai kaos..Karena pinta Zahra.


"Benarkah? "tanya Zahra senang namun ia takut "Apakah aku boleh ke kantornya?" lanjut Zahra.


Doni mengangguk. "Tentu nyonya"


"Tidak usah aku akan menunggu mobil saja" Zahra takut jika ia ke kantor Sofian, maka Sofian akan marah. Walaupun hubungan mereka cukup baik akhir-akhir ini, namun tidak bisa Zahra pungkiri pernikahannya terjadi karena apa?


"Nyonya, tidak perlu kawatir. Kami akan mengurusnya. Setelah selesai. Kami akan menghubungi nyonya kembali. Disini panas nyonya" balas Doni.


"Tidak apa-apa."


"Toong nyonya. Tuan nanti marah jika tau nyonya kepanasan" Doni memelas.


"Baiklah aku akan coba ke kantornya"


"Mari saya antar."


"Kalian urus mobil. Tukang bangkel akan datang sebentar lagi" perintah Doni pada kawannya


Doni melangkah di ikuti Zahra. Doni yang membuka pintu untuk zahra.


HP Doni berbunyi..


"maaf nyonya. saya mengangkat telpon dulu" minta izin Doni sopan untuk mengangkat HP-nya.


"Ya. silahkan"


"...."


"..Apa?"


"......"


"Baiklah aku akan kesana"


"Maaf nyonya. Saya hanya mengantar anda sampai sini"


"Apa ada tugas mendesak?" tanya Zahra


"Iya. Nyonya" jawab doni gelisah.


"Baiklah. Aku akan masuk sendiri"


"Terima kasih, nyonya" Doni menunduk dan pergi.


"Aduh aku lupa ruangannya yang mana?" Zahra melangkahkan kaki dan menuju lift. di dalam lift Zahra binggung harus menuju lantai berapa?


"Gedung ini ada 35. karena aku suka angka 33 maka aku pilih lantai ini saja" kata zahra dan menekan tombol 33.


Lift sampai di lantai 33 Zahra celinggak celingguk dan masih binggung. Apalagi dilantai ini sepi hanya ada sofa dan ada seseorang yang duduk di belakang meja setengah lingkaran


"Ash. Aku telpon saja orang nya"Zahra menelpon Sofian.


Dret dret HP Sofian di ruanganya berbunyi namun Sofian ada diruang rapat dia lupa membawa HP-nya


"*N*omor yang anda hubungi sedang sibuk. cobalah beberapa saat lagi..."


"Apa dia sibuk, ya?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.


" Apa aku tanya mba itu ya?" Zahra "Sepertinya itu repsonis"


Zahra mendekati meja itu.


"Maaf saya mau tanya"


"Iya . ada yang bisa saya bantu" kata wanda Alisyah... Tertuli di bajunya.


"Aduh jabatanya apa ya? Ceo? Pemilik? apa cuma menejer? ah sebut nama saja"


" Ruangan Sofian Albarnista ada dimana ya?" tanya sopan Zahra.


"Apa anda sudah buat janji?"


"Apa perlu buat njanji?"


"Iya. Tuan orangnya sibuk. Beliau tidak akan menerima orang tanpa janji terlebih dahulu" ucapan wanita itu.


"Apakah anda bisa tunjukan ruangannya saja"


"Maaf?" tersirat kaget diwajah Wanda yang terlihat jelas oleh Zahra.


"Aku hanya berteduh. Nanti aku yang akan mengatakannya pada Sofian" jelas Zahra.


"Apa yang membuat anda yakin saya akan mengijinkan ada berteduh diruangan tuan?" tanya Wanda meninggi.


"Kenapa?" tanya Zahra polos.


"Sebaiknya anda pulang. Siapkan janji ketemu lalu datang kesini lagi" perintah Wanda


"*U*ntuk apa buat janji? Aku hanya sebentar kok" batin Zahra.


"Tidak perlu. Tunjukkan saja dimana ruanganya" kata Zahra.


"Maaf. Sepertinya anda tidak mengerti kata saya tadi" Wanda marah.

__ADS_1


"Tunjukkan saja. Jikka Sofian marah. Aku akan mengurusnya. Aku istrinya"


Wanda melihat zahra dari atas kebawah yang tertutup. Pakaiannya sederhana... Walau Sofian membelikan pakaian mewah bermerek namun Zahra lebih suka pakaian yang ia beli .. Wanda tersenyum meledek. Ia tau tuannya sudah menikah walau hanya lewat isu.


Karena pernikahan sofian dan Zahra juga hanya kecil-lecilan.


"Apa anda bermimpi?" tanya ketus Wanda.


"Aku memang seperti mimpi menikah dengan Sofian. Tapi kenapa ia bertanya itu?" batin Zahra.


"Ada apa? kau tidak ingin tunjukkan aku akan mencarinnya sendiri" katanya Zahra.


Wanda mencekal tangan Zahra dan


Olak. tamparan keras di pipi Zahra. Zahra memengang pipinya yang panas.


"Apa apa? Apa aku melakukan kesalahan?"


"Kau gila makanya aku menamparmu biar sadar. Kau istri tuan? Tuanku pemilik Albarnista grup tidak mungkin istrinya sepertimu. Sudah tidak cantik. Lihat pakaianmu. Cih miskin. Tuanku itu cocok dengan Agnes (Model yang dekat dengan Sofian). Memakai jilbab besar tapi tidak tau malu" ketus waynda


Plak Zahra menampar Wanda.


"Kau boleh hina aku. Tapi kau tidak bisa menyalahkan hijabku. Lagipula aku tidak merasa bersalah. Seterah kau saja mau percaya atau tidak percaya. Ingat aku bukan bodoh aku bisa melaporkanmu karena kau menamparku ini termasuk kekerasan. Pasti ada cctv kan?" acam Zahra.


Wanda sedikit takut mendengar polisi


"Segitu saja takut. Tenang aku tidak laporkanmu. Dan aku tidak berniat keruangannya lagi. Lagipula kita impas"


Zahra melangkah kaki untuk pergi menuju lift. Doni datang dan berlari ke arah Zahra.


"Nyonya?" tanya Doni melihat Zahra memengang pipi.


Flasback


Doni memelpon tuannya untuk memberi tau bahwa Zahra ke kantornya Sofian dan dia lupa mengatakan ruangannya. Namun HP Sofian tidak aktif. Jadi dia menelpon Badrun sekertaris Sofian.


"Ada apa dong?" tanya Badrun


"Tuan, Dimana?"


"Rapat"


"Bisa berikan kepada tuan. Penting!"


"Kau gila Don?:


"Ini soal nyonya"


"Tapi aku tidak yakin. Kau..."


"Tolong"


"Baiklah aku akan tanya"


"Tuan ada telpon" bisik badrun


" Sudah mengangkat HP di rapat dan sekarang mengangguku. Apa kau ingin dipecat. HA?" bentak Sofian.


Semua mata tertuju pada Badrun karena marah merusak mod Sofian yang baik tadi. Doni mendengar dari hp hanya meringis. Ia tersenyum " Untung bukan dia."


"*A*duh aku bisa mati dengan tatapan mereka"


"Maaf tuan. Aku akan nyuruh doni telpon lagi"


"APA? Berikan padaku"


Sofian mengambil HP di tangan Badrun dan keluar dari ruangan membuat semua orang binggung.


"Ada apa? Kau dengan Zahra kan?" tanya Sofian langsung.


"Kau menelponku hanya memberi tau ban mobil nyonya meledak. HA? Tinggal ganti ban nya"


Sofian ingin mematikan HP dan memikirkan hukuman Doni.


"Tunggu tuan. Ban nya meledak karena peluru tuan. Sedang aku selidiki"


"APA? DIMANA NYONYA SEKARANG?"


"Nyonya aman tuan. Karena didekat kantor maka saya mengantar nyonya ke kantor tuan. dan maaf tuan saya lupa beri tau ruangan tuan pada nyonya. Tapi saya sudah menyuruh Asran menyusul"


"BODOH! kapan kau pintar Doni? susul nyonya sekarang" Sofian mulai kesal.


####


Doni langsung menelpon Asran dimana nyonya dan tau nyonya di lantai 33. Pas ruangan tuannya.


Doni langsung menyerahkan tugas ke yang lain...


Dilantai 33 Doni kaget melihat nyonya memengang pipi terdapat memar yang keluar dari jari Zahra.


flasback off


"Tolong carikan aku batu es. Tuanmu bisa membunuhku" kata Zahra.


"mana mungkin tuan membunuh nyonya. Yang ada aku yang mati. Tolong selamatkan aku nyonya" ucap Badrun dalam hati.


"Baik nyonya. Nyonya tunggu di sofa dulu saja. Aku ke dapur sebentar"


wanda langsung ke dapur untuk minum dan mengompres pipi.


Doni ke kulkas mengambil beberapa batu es.


"Apa yang terjadi? bisa gawat ini" gerutu Doni.


Karena lama Zahra ingin ke bawah saja. ia jalan ke depan lift.


Tring pintu lift terbuka. Terlihat pria tampan keluar dengan elegan di balut dengan kemeja dan jasnya. Zahra melihat itu langsung memalingkan wajahnya.


Sofian setelah menutup telpon Doni ia kembali masuk dan mencoba melanjutkan rapatnya. Namun, ia tidak tenang akhirnya Sofianian memberhentikan rapatnya.


Sofian tersenyum ternyata Zahra sudah di lantainya.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa" Jawab Zahra tanpa menoleh


Sofian curiga dan memutar tubuh Zahra. Zahra langsung menutup pipinya berharap memarnya tidak terlihat. Namun merah di pipi yang putih dan tangan yang mungil tidak bisa menutupinya.


"Lepaskan tanganmu dari pipi" Sofian menarik tangan Zahra dari pipi. Terlihat jelas memar di pipi Zahra.


"Siapa?" rahang Sofian mengeras dan sangat marah. Dia sebagai suami tidak penah menampar ataupun memukul Zahra.


"SIAPA ZAHRA?" tanya Sofian lagi. Zahra tetap bungkam.


"Baiklah jika kau tidak memberi tau. Maka aku cari tau sendiri."


"Yonya ini..." kata Doni berhenti melihat tuanya yang sudah melotot padanya. Asran keluar


"Maaf tuan" sapa Asran.


Plak plak pipi Asran di tampar kanan kiri oleh Sofian.


Zahra menunduk

__ADS_1


"Katakan siapa orangnya? Berani-beraninya di kantorku sendiri"


"Resepsionis Wanda, tuan.."


Plak tamparan kena lagi dipipi kiri Asran


"Kau benar-benar bodoh. Kenapa tidak membantunya. HA?"


Zahra merangkul tangan Sofian.


"Sudah. Aku sudah membalasnya" Zahra mencoba menenangkan Sofian.


Wanda yang mendengar ribut-ribut keluar.


"Ada apa ini? "tanya Wanda..


"Wanita ini lagi?" batin Wanda melihat Zahra. tapi kemudian takut melihat ada Sofian ada di sana.


Sofian akan mendatangi Wanda. Namun rangkulan Zahra makin mengerat.


"Kau di pecat" kata Sofian menunjuk Wanda.


"A..pa salah saya tuan?"


"Salah? kau menampar istriku dan tanya salahmu? untung hanya aku pecah jika tidak rumah sakit menunggumu" pandangan Sofian penuh amarah.


"Istri? dia benar istri tuan?"batin Wanda menyesal tidak mendengarkan Zahra tadi. Jika tidak ia tidak kehilangan perkerjaan.


"Apa yang kau tunggu keluar dari kantorku" Sofian


Wanda menunduk dan masuk ke lift. ia tidak mau mati...


Sofian mengambil batu es di tangan Doni dan menarik Zahra keruanganya.


Menarik Zahra duduk dipangkuan nya dan mulai mengompes lembam di wajah Zahra.


"Kau sadis juga, Zahra. Lihat lembam di pipi wanda karena tamparanmu"


"Ia, menghina jilbabku dan aku tidak terima" balas Zahra.


"Kenapa bisa terjadi?" tanya Sofian.


"Ban mobilku pecah...."


"Ceritakan dengan wanda saja" potong Sofian.


"Ya. Aku memaksa untuk menunjuk keruanganmu. Tapi ia tidak mau dan menyuruhku membuat janji. Tapi aku memaksa dan mengatakan aku istrimu. Ia menamparku biar aku sadar."


"Hahaa yang gila siapa? Yang disuruh sadar siapa?" tawa Sofian pecah.


Zahra memajukan bibirnya kesal.


Sofian mencium bibir manjun Zahra.


zyahra mundur dan lihat kanan kiri.


"Tidak ada siapa-siapa zahra ini ruangan ku"


"Waw ruanganmu seluas ini?" Zahra takjub ruangan yang luas dan mewah.


"Ya. Lantai ini hanya ada ruang tunggu tempat tadi, ruang sekertarisku depan kecil tadi. dan sisannya ruanganku."


"Kau serakah mas. Luas sekali dan hanya kau sendiri"


Sofian hanya tersenyum.


Cup ia mencium Zahra kembali. Zahra coba lepas. Tapi Sofian menarik tekuknya Zahra untuk memperdalam ciuman. ******* bibir bawah dan atas Zahra oleh Sofian. Zahra pasrah. Tangan sofian udah melepas jilbab dan meraba-raba didalam baju.


"ahh.. mas. ah jangan. ahhh jangan disini...


mas nanti ada yang liat ah" racau Zahra


disisi lain


Badrun binggung kenapa tuannya memberhentikan rapat dan keluar begitu saja. Dia harus merapihkan barang-barang Sofian terlebih dahulu dan mengambil beberapa catatan dan berkas yang harus ia bawa kelantai 33. Keruangannya terlebih dulu untuk di bawa keruangan Sofian.


Badrun menaruh barang-barang dimejanya. mengambil laptop, berkas, barang-barang dan buku Sofian yang tertinggal di ruang rapat.


Krek Badrun mencoba membuka pintu ruangan Sofian.


"Apa tuan tidak ada di ruangan?"


"Ish orang itu. Suka-sukannya saja" gumam Badrun.


"Tuan" teriak Badrun.


Didalam ruangan


Zahra yang sedang dicumbu Sofian.


"Mas. Ada yang memanggilmu."


"Emm" sofian mencumbu leher Zahra yang tidur di sofa panjang dan berada dibawahnya


Tok tok tok


"Tuan" panggil Badrun lagi.


"Mas" Zahra menarik rambut Sofian.


"Ada apa?"


"Ada yang memanggilmu mas?"


"Biarkan. Aku sudah mengunci pintu."


Sofian mulai mencium Zahra namun diberhentikan Zahra.


"Ada apa?"


tok tok


"Tuan" panggil badrun lagi


"Ada apa?" teriak Sofian yang tidak beranjak dari tempatnya.


"Tuan laptop dan barang-barang tuan..."


" Taruh saja di ruanganmu. Akan kuambil nanti. Aku masih ada kerjaan penting"


"Baik tuan."


Badrun kembali duduk di kursinya.


"Apa sih yang di kerjakan tuan. Yang lebih penting hingga mengunci ruangan".


Sofian beranjak dari tubuh Zahra dan langsung mengendong zahra.


"Ada apa?" tanya Zahra gugup.


"Aku tidak suka main di sofa sempit enak di ranjang saja"


Sofian membawa zahra keruangan yang disebelahnya. Ruangan pribadi jika ngantuk. dan menaruh Zahra diranjangnya. dan melanjutkan aksinya.

__ADS_1


see you next time


__ADS_2