Sifat tersembunyi My Husban

Sifat tersembunyi My Husban
Bab 29 awal pertemuan sebenarnya


__ADS_3

Melihat Zahra yang menangis Sofian mendekati Zahra. Saat ini Sofian kakak kelas Zahra yang artinya kelas 3 SD.


"Hai adik kecil kenapa menangis?" tanya Sofian.


"Hiks hiks ayah tidak menjemput"


"Memang ayahnya kemana?"


"Aku tidak tau hiks hiks"


"Jangan nangis ya. Kakak anter pulang ya?" ucap Sofian lembut dengan wajah yang datar.


"Rumah saya jauh kak hiks hiks"


"Tidak apa-apa kakak anter. Kakak naik mobil"


"Tidak mau. Kata ayah jangan mau kalau diajak naik kendaraan. Kata ayah banyak culik"


"Ok. Adik maunya kekmana?"


"Jalan saja. Saya mau jalan saja. Kata ayah kalau tidak ada angkot Zahra jalan saja dan hati-hati. Namun zahra takut sendiri hiks hiks"


"Oke" Sofian mendekati supirnya dan mengatakan sesuatu dan kembali kearah Zahra.


"Ayo kita jalan"


"Lah kita jalan kaki?" tanya Dani yang baru engeh.


"Kenapa? biar sehatkan" jawab Sofian ketus.


"Kalau kau takut hitam naik mobil saja sana?"


"Hehe memang lumahnya dimana?"


"Diarah sana" kata Zahra sambil menujuk ke suatu arah.


"Hehhe aku ikut kalian saja"


Dani mendekat ke supirnya dan berkata. Saat menengok Zahra dan Sofian telah jalan dengan mengandeng tangan Zahra.


Dani belari menyusul.


"Kak kakak gembul" panggil Zahra pada Dani.


"Kakak enggak gembul" protes Dani.


"Tidak gembul tapi gendut" balas Sofian.


"Ish."


"akh kakak baik hati namannya siapa?" tanya Zahra pada sofiyan


"Aku Zah...ra"


"Kau zahla?" tanya Dani karena tidak bisa r.


"Zahra kak gembul" ucap Zahra.

__ADS_1


"Zah...la"


"Zahra kak Zahra.. Zahra Sholeha Trustania.." ucap Zahra kesal.


"Ok sholeha saja"


"Tidak mau jelek" Zahra tidak mau dipanggil Soleha


"Maunya dipanggil apa. Zahra?"


"Zahra kak Zahra"


Mendengar keributan itu Sofian pusing.


"Bagimana tania aja kan namannya Zahra Sholeha Trustania"


"Zahra suka. Tania? Trustania Tania" ucap Zahra suka.


"Aku dani blamathio" Dani memperkenalkan diri


"Jadi Thio kan kakak baik?" ujar Zahra ke Sofian.


"Aku bukan kakak baik aku Sofian Albarnista"


"Oh. Jadi kak nista" Zahra polos.


"Aku tidak suka dengan Nista, Ian saja dari Sofian"


"Oke. Kakak Ian"


Mereka ber dua bercanda. Sofian hanya diam.


"Kak Thio sama kakak ian mau mampir?" tawar Zahra.


"Tidak usah" ucap Sofian singkat dengan wajah tanpa espresi.


"Baiklah. Terima kasih kak"


Zahra ke pintu rumahnya namun terkunci. tangis Zahra pecah hiks hiks.


Dani dan Sofian yang belum beranjak kembali menghampiri gadis kecil itu.


"Kenapa?" tanya Dani


"Hiks hiks pintunya dikunci. Hiks hiks ayah" ujar Zahra.


Sofian ingat saat dia menangisi ayahnya. tanpa sadar air mata lolos dipipi Sofian . Sofian menagis.


Sofian memeluk Zahra.


"Jangan nangis Tania. Kakak disini. Kakak dan Kak Thio nya tunggu sampai ayahnya datang ya"


Dani melihat Sofian menangis ia merasa baru tau bahwa wajah dingin Sofian bisa menangis juga.


Ayah Zahra bergegas ke sekolah namun Zahra tidak ada. Ayah Zahra langsung ke rumah betapa leganya melihat Zahra ada disana.


Zahra tertidur dipangkuan Sofian. Sofian dan Dani menunggu kedatangan ayah Zahra

__ADS_1


Ayah Zahra memakirkan motornya.


"Kalian teman zahra?"


"Iya om" jawab dani


"Terima kasih ya sudah menjaga Zahra"


Ramli mengangkat tubuh Zahra.


Dan membuka kunci rumah


"Kalian mau masuk?" tawar Ramli.


"Terima kasih om. Supir saya sudah menunggu dari tadi" jawab Sofian.


"Sopil? Mobilmu ada di sini? Belum pulang?" tanya Dani.


"Ia. Tadi aku bilang untuk mengikuti kami. karena aku mau antar dia dulu"


"Bapak ikuti saja ya. Saya mau antar gadis kecil itu kerumahnya ia tidak mau naik mobil" kata Sofian sopirnya.


Sedangkan dani bilang pada sopirnya untuk pulang.


" Eh tadi aku suruh supir pulang"


Sofian menjengol Dani


"Bareng aku"


"Oke" ucap Dani senang.


"Kami pulang saja om" ujar Sofian.


"Sekali lagi terima kasih ya. Hati hati dijalan"


"Terima kasih om" ujar Dani sambil melambai kan tangan.


Ramli masuk mengendong Zahra.


Saat kejadian itu Zahra, Dani, dan Sofian atau Tania, Thio dan Ian. Selalu bersama untuk makan siang. Masuk gerbang bareng. Dani dan Sofian akan menungu Zahra datang atau Zahra yang menunggu.


Jika ibu zahra jadwal cuci darah. Zahra tidak pulang dengan angkot karena memilih jalan kaki dengan Sofian dan Dani walau jalan kaki cukup lama 20 menit namun canda tawa mempercepat semuanya.


2 tahun berlalu. Keakraban mereka sangat dekat.


Zahra telah kelas 4. Kondisi sang ibu semakin menurun sehingga sering sekali minap dirumah sakit. Melihat ibunya yang lemas. Zahra ingin menjadi dokter agar bisa merawat ibunya dan bisa sembuh.


Sehingga Zahra tidak pernah meninggalkan sekolahnya.


Ramli yang tau kedekatan Zahra dengan Sofian dan Dani. Tidak segan-segan menitipi anak gadis kecilnya kepada mereka. Mereka dengan senang hati menjaga Zahra.


Zahra diberi kunci rumah. Sehinga sambil menunggu Ramli pulang mereka bisa makan dan istirahat di dalam tidak duduk ngegembel diluar.


Saat sore Ramli pulang dan menjemput Zahra kerumah sakit.


Ramli pun mulai terbiasa memangil Zahra Tania jika bersama Sofian dan Dani.

__ADS_1


Sehinga Zahra hanya ingat Sofian Ian dan Dani Thio. Sedangkan Sofian dan Dani mengingat Zahra Tania.


__ADS_2