
"Beberapa hari kemudian. Kenapa perutku jadi sedikit buncit ya? Apa aku salah makan. Tapi aku gendutan deh" kata Zahra melihat pantulannya dicermin.
"Apa yang kau lakukan, zahra?" ujar Sofian melihat Zahra memutar-mutar sambil bercermin.
"Mas. Aku gendutan ya? Sedikit buncit juga"
"Masak sih?" Sofian mendekati Zahra dan melihat memutari tubuh Zahra "Emm. lumayan berisi. Tidak terlihat juga. Kau kan pakai baju besar-besar terus."
Sofian menarik tangan Zahra. "Yuk tidur"
"Entar mas. aku mau naruh ini dulu" Zahra mengambil tas kantornya yang ia tinggal di meja karena kebelet dan jalan ke lemari.
Saat Zahra mau menutup lemari Zahra melihat sesuatu dan mengambilnya. "Pembalut?"
Zahra ingat dia terakhir dia datang bulan hampir 2 bulan yang lalu. Pembalut ini yang dibelinya bersama Sofian.
"Apa aku hamil?" tanya Zahra yang tidak percaya mencoba mengelus perutnya "Tidak mungkin? aku tidak ngidam tuh.. Apa aku punya penyakit?"
"Zahra" teriak Sofian yang sudah menunggu Zahra di atas ranjang.
"Ia mas" zahra meletakkan kembali pembalut itu ke lemari dan menutup lemari tersebut.
"Ada apa mas?" tanya Zahra yang sudah berdiri di samping ranjang
"Lama banget cuma naruh tas aja" Sofian menarik tangan Zahra pelan dan menepuk tempat tidur di sebelahnya "Sini tidur, Mas udah ngantuk"
Zahra masuk selimut Sofian langsung memeluk Zahra.
Paginya Zahra yang sedang memasak berfikir sebenarnya apa yang salah dengan tubuhnya. "Aku harus ke dokter"
"Ada apa?" tanya Sofian yang berdiri di pintu dapur dan mengagetkan Zahra.
"Emm. Mas boleh engga Zahra ke rumah sakit?"
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Sofian menghampiri Zahra.
"Emm tidak mas. Teman aku ada yang jadi dokter di sebuah rumah sakit. Aku ingin menemuinya. Sudah lama tidak ketemu"
"Cewek apa cowok?"
"Cewek. Boleh ya mas?" mohon Zahra memelas.
"Ok baiklah. Tapi jangan pulang sore-sore." Zahra menjawab dengan oke dan terima kasih. "Kapan kau akan pergi?"
"Janjian jam 8, mas" jawab Zahra.
Zahra sudah melihat jadwal dokter kandungan rumah sakit ditempat yang akan di datangi prakteknya jam 8-10.
"Mas tunggu ini sebentar aku mau mengambil hp untuk mengatakan padanya aku bisa datang"
"Emm pergilah" Zahra naik ke kamar menelpon dokter untuk janjian. dan syukur dokter itu bilang dia bisa jam 08.
"Maaf kan aku mas"
Zahra kembali kedapur melanjutkan masaknya. Setelah Zahra kembali Sofian duduk di meja makan.
Makanan telah tersaji. Sofian dan Zahra sarapan.
Sofian mengantar Zahra ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Terima kasih, mas" ujar Zahra setelah keluar mobil.
"Hati-hati."
Tidak lupa bodyguad zahra ikut zahra masuk ke dalam rumah sakit namun dengan jarak.
Zahra langsung masuk karena memang ia dapet nomor antrian 2 pas nelpon tadi dan yang pertama pas keluar dengan kedatangan Zahra.
"Ibu zahra. Ada keluhan apa?" tanya dokter itu
"Saya tidak haid dok sudah 2 bulan. Apa saya hamil?"
"Mari bu saya periksa"
Setelah periksa zahra
"Bagaimana dok?"
"Suami ibu zahra tidak ikut?" tanya dokter itu
"Suami saya sedang ke kantor, bu?"
"Oooh. selamat ya bu. Ibu positif hamil. sudah 7 minggu ujar dokter itu.
Sontak Zahra memengang perutnya bahagia bukan main.
__ADS_1
"Beneran dok? Tapi saya tidak merasakan ngidam, dok?"
"Itu tidak masalah bu. Sebagian ibu hamil juga bisa tidak merasakan ngidam seperti ibu hamil biasanya"
"Oooh gitu ya dok. Tapi bagaimana keadaan kandungan saya dok?"
"kandungan ibu sehat"
"Alhamdulillah"
"Tapi ibu harus lebih hati-hati sekarang. Bukan hanya satu tapi 2"
"Kembar, dok?" Zahra sangat senang senyumnya semakin melebar
"Iya bu. Selamat ya. Saya sudah meresepkan obat dan jangan lupa susunya Bu. Jangan terlalu lelah dan makan yang teratur"
"Baik dok"
Doni melihat Zahra keluar menghampir bosnya itu.
"Nyonya sudah selesai?"
"Iya. kita kekantor."
"Bukannya nyonya bertemu teman lama dan hari ini cuti?"
"Em sudah. Aku cuma ingin menyapa. bukankah kau lihat paseinya banyak?" jelas Zahra."
"Ada yang tidak beres" batin Doni
Zahra ke kantor
Dia senang sekali.
Saat zahra membuka pintu ruangan Badrun, Zahra kaget karena badrun berdiri didepan pintu karena mau ke lantai 3 ada yang ini ia kerjakan.
"Selamat datang nyonya. " sapa Badrun gugup melihat zahyra "Bukankah nyonya cuti hari ini?"
"Aku hanya ingin mampir sebentar. Lanjutkan kerjaanmu, Drun"
"Baiklah nyonya saya permisi. Saya ada kerjaan di lantai 3" pamit Badrun dan mendapat anggukan Zahra.
Zahra melangkah ingin membuka pintu ruangan Sofian. Namun terhenti ada suara wanita.
"Selamat ya. Terrnyata satu misi mu behasil" kata wanita itu
Flasback
Saat Sofian sampai kantor.
"Dimana nyonya, tuan?" tanya Badrun karena tidak melihat Zahra.
"Hari ini dia cuti. pesta!"ujar Sofian mukanya kusut karena jujur dia tidak setuju Zahra pergi untuk pestanya.
Sofian masuk keruangannya.
Tidak lama wanita cantik dengan pakaian terbuka..Wanita ini adalah model cantik teman Sofian. Wanita ini mencintai Sofian namun Sofian hanya mengangapnya teman
"Sofian ada?" tanyanya pada Badrun.
Badrun yang tau wanita itu memang sering ke kantor namun sudah hampir 6 bulan tidak datang karena sibuk. Wanita itu adalah Agnes model yang sedang naik daun "Ada di dalam
bu" jawab Badrun.
Wanita itu masuk tanpa mengetuk pintu. Sofian senang mengira Zahra yang datang ternyata bukan. Sofian kembali sedih.
"Bisa tidak kau ketuk pintu" ujar sofian "Dan kapan kau datang ke Indo?" lanjutnya dan berdiri
"Tadi barusan. Aku baru turun dari pesawat aku langsung kesini" Agnes duduk di sofa.
"Aku dengar kau berhasil menikah dengannya Sof?" tanya Agnes langsung saat Sofian duduk di depanya. Agnes mengulurkan tangan " selamat ya. Terrnyata satu misimu mu berhasil"
"Terima kasih" jawab Sofian menjawab uluran tangan Agnes.
"Kapan kau ceraikan dia?"
Zahra mengerti yang diomongin itu tentang dia. Zahra berhenti tidak membuka pintu dan memilih mendengarkan
Sofian tidak menjawab
"Kau tidat berniat hidup selamanya dengan dia kan?" tanya Agnes lagi.
"Sof? Kamu tidak lupa kan rencanamu. menikah, membuatnya jatuh cinta, punya anak dan mencampakkanya" Lanjut wanita itu
Zahra yang mendengar itu menutup mulutnya tidak percaya. Air mata sudah mengalir.
__ADS_1
"Sof. kamu lupa ya? "
"Aku mengingatnya Agnes mana mungkin aku melupakan itu. Kau tau otakku kan?" jawab Sofian.
Air mata Zahra mengalir dengan deras. Ia tidak sanggup mendengarnya lagi. Zahra mengusap air matanya dan keluar. Ia tidak boleh terlihat lemah.
"*b*odoh kamu zahra. Sudah terlena. Dari awal juga memang sudah tidak baik-baik saja maka akan berakhir dengan tidak baik-baik saja. Sekarang aku bertiga 2 anakku butuh aku. Lagi pula rencananya sudah selesai. menikah, aku jatuh cinta? mungkin walau aku belum yakin. Akh tidak cinta itu sudah hilang. Anak sudah ada dirahim ku. Tinggal mencampakkanku? Sebelum kau mencampakkanku lebih baik aku tau diri. (zahra mengelus perutnya) Sayang yang kuat ya. Mama janji, mama akan selalu ada untuk kalian sebagai ayah dan juga mama"
Zahra keluar. Doni menghampiri Zahra
"Nyonya sudah selesai?" tanya Doni.
"Emm" jawab Zahra dengan deheman.
"Ada apa dengan nyonya keluar dari rumah sakit dia senang sekali, namun sekarang wajahnya sedih"
"Nyonya mau kemana?" tanya Badrun.
"Aku mau ke bank sebentar"
"Kenapa tidak ke atm saja, nyonya?" tanya doni
"Aku mau mencairkan jumlah besar"
"Baiklah nyonya."
"*U*ntuk apa nyonya mencairkan uang jumlah besar. Benar-benar aneh nyonya hari ini"
Zahra mau mengambil semua uang yang ada di buku tabungan yang Zahra kumpulkan dari berian sofian dan gajihnya hampir 250 juta lumayan. Jika ia mengunakan kartu Sofian bisa di lacak dan jika ia sudah pergi dan ke bank takut anak buah Sofian telah berjaga. Takutnya sofyian memblokir kartu. Bukanya matre tapi hidupnya butuh uang untuk buah hatinya.
Sampai bank doni berjaga 2 meter dari
kalau di kantor maka doni menjaga diluar karena kantor pengamannya ketat lagipula ada Sofian. Jika di mall atau supermarkert akan menjaga 2 meter saja. Atau zahra ada di dalam pandangan.
sambil menunggu pangilan Zahra keluar berfikir.
"Bagaimana keluar dari sini dan bebas dari Doni dan teman-temannya"
Zahra telah selesai.
Zahra menghampiri doni.
"Aku mau ke toilet sebentar" ujar Zahra. Doni mengikuti Zahra. Tenang doni berpakaian santai semua hanya mengira Doni teman Zahra. Karena memang kaku tidak seperti kekasih.
"Kau ingin masuk?" tanya Zahra di depan toilet
"Tidak nyonya. Saya tunggu disini"
Di dalam toilet. Zahra berfikir bagaimana caranya?
Tidak lama masuk seorang wanita bercadar dengan pakaian berwarna hitam seperti Zahra hitam dari atas sampai bawah. Zahra ingat dia bawa gamis hitam dan jilbab besar hitam. cadar dari mana cadar ia dapatkan.
Wanita itu berkaca. Zahra melihatnya dan tangan Zahra menutup. Separuh mukannya. terasa diperhatikan wanita itu risih.
"Wda apa?" tanya sopan
"Hehe aku suka orang memakan cadar." bohong Zahra.
"Maafkan aku ya Allah. Memang ke bohongan 1 akan tumbuh kebohongan baru. Eekali kita berbohong maka lain kali akan pintar berbohong"
"Benarkah?" tanya wanita itu antusias. "Kenapa kau tidak coba?"
zahra hanya diam
Wanita itu membuka tasnya dan mengambil kain warna hitam yaitu cadar.
"Kau beruntung aku membelinya tadi dengan gamis namun setelah semua barang dibawa supir yang ini tertinggal maka aku masukkan ke tas. Ini untukmu"ujar wanita itu dan menyodorkannya pada Zahra "Ambilah untuk memulai yang baru untuk lebih baik"
Zahra mengambilnya. "Terima kasih"
"Aduh. Sepertinya pangilan alam tidak dapat dihindari. aku dona" wanita itu menperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.
"Aku Zahra" jawab Zahra menerima uluran tangan Dona?
"Senang bertemu denganmu Zahra. Maaf perutku sakit" dia berlalu dan masuk ke salah satu kamar mandi.
Zahra tidak mau menyiakan waktu ia nganti baju dan mengunakan cadar.
Zahra keluar dengan takut. Tas zahra tutup dengan jilbab basarnya. Zahra mencoba jalan biasa agar tidak ada yang merasa jangal.
Doni terkecoh. Zahra berhasil keluar.
Zahra langsung naik taksi.
"Maaaf. Biarlah aku masuk neraka. pergi tanpa ijin suami namun lebih baik dari anaku dalam bahaya"
__ADS_1
sorry bab 15 yang dobel autor tidak tau cara menghapusnya jadi autor mohon maaf dengan aploud satu lagi*.
see you next time