
7 hari Kemudian..
Zahra dan sofian kembali ke rumah Mereka
"Ayah" teriak zahra melihat Ramli bersama Nawal sudah duduk diruang tamu.
Ramli merentangkan tangannya. Zahra mempercepat jalannya dan langsung memeluk ramli.
"Zahra kangen, yah"
Zahra melepaskan pelukan dan duduk disamping Ramli.
"Ayah juga kangen. Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Ramli sambil mengusap kepala Zahra.
"Baik yah baik" jawab Zahra senang.
"Cucu ayah?"
"Mereka sehat yah"
"Alhamdulillah"
Sofian duduk di samping Zahra.
"Mami dan ayah sudah datang saja"
"Mami pingin tau aja"
"Sekarang cepet ceritain mami sudah tidak sabar"
"Begini mi yah. Zahra dan Sofian sebenarnya teman dari SD. Namun pas Sofian naik kelas 6 dan Zahra naik kelas 5. Zahra dan ayah pindah. Sofian dan Zahra pernah buat janji untuk menikah dan hidup selamanya"
Ramli mangut mangut mengiyakan karena ia sudah tau. Sebelum pernikahan Sofian meminta restu dulu dan sudah menceritakan siapa dirinya.
"Ingat engga mi saya kenaikan kelas 9 sofian bilang jalan-jalan ke kalimantan?"
" Iya mami ingat untuk merayakan sebelum badai kan?"
"Itu bukan untuk merayakan sebelum ujian, tapi untuk mencari Zahra. Sofian mau SMA bareng Zahra. Namun nihil Zahra sudah pindah. "
"Zahra kenaikan kelas 8 itu kita pindah karena kamun diganguin Alex terus dan ayah dapet kerjaan di bogor. Kenapa ya Zat nak Alex bisa seopsesi itu sama kamu?" tanya Ramli
"Kurang tau sih yah. Dulu Alex dan Zahra tidak sedekat itu. Dulu Alex tidak ada teman selalu sendirian. Karena dia itu sering marah-marah emang sifatnya agak gila sih. Kalau tidak salah saat dia kena hukuman karena ribut dengan kakak kelas dia di hukum lari. Karena dia keliatan lelah dan sepertinya haus Zahra kasih minum Zahra. Eh malah dari situ dia selalu ngejar Zahra dan seenak jidatnya gakuin Zahra pacarnya, kasih kado dih engga jelas banget deh, yah"
"Mungkin dia karena tidak ada yang peduli sama dia, sayang. Kepedulian kecil kamu itu dikiranya kamu tertarik sama dia"
"Dih amit-amit dah. Kalau tau begitu aku tidak mau deh deket deket dia"
"Lah kan sudah terjadi sayang."
"Lalu setelah kamu tidak ketemu Zahra di kalimantan kamu ngelakuin apa?"
"Sofian nyewa detektif mi dengan uang tabungan sisa ke kalimantan lumayan bisa nyewa 2 orang. Tapi sayangnya selalu gagal mereka hilang tanpa jejak ya karena nyarinya di kalimantan. Saat mulai SMA aku mulai menjalani bisnis ayah ya mulai terbagi. Namun Sofian makin banyak uang. Sofian makin bisa nambah orang pencari. Setiap minggu juga Sofian biasanya nolong nyari dan tanya perkembangan ya walaupun nihil. Dan anehnya lagi setiap orang yang Sofian tolong dijalan entah itu gembel, orang berantem dan lainnya hampir semua ujung-ujungnya jadi anak buah. Sofian seneng dong makin banyak orang semakin cepat"
"Namun tetap aja gagal. Ya akhirnya sofian lulus SMA dan kuliah berat rasanya meninggalkan Indo untuk ke Amrik, tapi apalah daya, aku harus pergi. Tapi ternyata tidak sia-sia akhirnya Sofian ketemu Zahra"
"Lalu bagaimana kamu bisa tau itu aku, mas?"
"Ini berawal dari taruhan sama Agnes. Agnes itu teman aku SMA ya lumayan dekat. Dia sering banget tanya pacar sama aku, tapi selalu aku bilang lagi dicari. Mulut lebosnya Dani menceritakan semua pada Agnes. Sehinga dia buat permainan konyol untuk membuatmu jatuh cinta dan melepakamu jika aku bisa melepaskanmu maka cintaku pada gadis kecilku memang luar biasa namun jika tidak maka cinta itu karena janji semata dan untungnya orang itu kamu. Kamu baru masuk restoran menjadi sasaran Agnes"
"Lalu cintamu itu cuma janji semata apa memang cinta beneran?"
"Cinta beneranlah, sayang" Sofian mencium kening Zahra.
"Kalau bukan cinta beneran, Lalu kenapa aku menikahimu?"
"Lalu kenapa kamu setuju? Kalau buka aku kamu akan menyakiti orang itu karena kamu permainin hatinya."
"Aku hilaf"
"Jadi karena sebab itu kamu tiba-tiba nembak aku?"
"Tidak semudah itu Zahra. Semua butuh keberanian. Aku juga cari tau kamu. Zahra Sholeha Trustania mahasiswa kedokteran Harvard dengan beasiswa penuh, pintar dan alim. Aku juga mengikutimu selama 3 bulan. Tapi yang aku dapatkan kamu wanita hebat selain sekolah kamu juga kerja sambilan, yang paling penting aku tau kamu ada stelker yang selalu ikutin kamu. Saat aku cari tau adalah Alex orang yang kehilangan kedua orang tua dan meninggal kecelakaan. Semenjak itu punya kelain jiwa, tidak bisa mengontrol emosi. Saat kamu ditaman sendiri. Alex mau deketin kamu. Karena taman itu sepi. Tanpa mikir panjang aku dateng. Bingung mau ngomong apa aku ngomong itu aja. Jujur sampai saat itu aku belum tau kamu Tania ku"
"Lalu?"
"Setelah kamu tolak mentah-mentah aku mencari tau lebih dalam dan ternyata kamu adalah Tania ku. Aku tau saat tau nama papah Ramli Sholeh Trustan. Aku menemui ayah dan mulai saat itu aku berjanji melindungimu. Saat aku tidak bisa disamping kamu aku Selalu menaruh penjaga. Aku juga mencari tau rencana Alex dengan menyusupkan 1 anak buah diantara anak buah Alex"
"Rencana besar Alex saat kamu pulang ke indonesia dia akan mengambil kamu dijalan. Ingat tempat aku nyulik kamu. Tidak jauh dari situ Alex sudah siap-siapa menyemput paksa kamu. Aku tau rencananya karena penyusup yang aku susupkan"
"3 bulan ya yah? Aku minta izin sama ayah untuk membawa bawa Zahra ke rumah demi ngelindungi dari Alex"
"Keknya sekitar itu deh. Ayah kurang inget"
"Dan akhirnya ayah setuju dengan berbagai syarat"
"Syarat? Syarat apa?"tanya Zahra penasaran
"Dih. Pengen tau. Rahasia dong. Ini rahasia laki-laki"
"udah pakek rahasia-rahasian ya sekarang" ucap Zahra ngambek.
Ramli mengelus kepala Zahra lembut
"Janji untuk tidak nyakitin kamu dan benar-benar jaga kamu sayang. Mana ada ayah yang mau anaknya terluka"
"Akhirnya mas nyulik kamu dan ngagalin rencana Alex. Dengan alasan kamu untuk mengingatku"
"Mas. Zahra kesel sama mas kenapa sih engga bilang kamu Ian. Harus aku banget yang ingat"
"lah mas aja cari tau sendiri. Mas juga sudah bilang kamu harus ingat. Dikurung itu hukumanmya"
"Tetap saja mas."
"Kalian jangan berantem. Masih panjang ceritanya" ucap Nawalm
"Gini mi. Sebelumnya Sofian tidak mau menikahi Zahra sebelum Zahra ingat. Tapi Zahra berani kabur"
"Ye. Kan dikasih kesempatan. Kenapa tidak. biar bebas. Siapa yang mau dikurung ya mi ya?"
Nawal hanya mangut mangut setuju
Parel melihat Zahra. Kemudian mengelus lembut kepala Zahra dan tersenyum.
"Tapi kan akhirnya mas. Hampir buat dosa"
"Lah itu aja karena mas tidak ada iman?"
"Yayaya. Kamu tau Zahra karena kesalahan mas itu. Mas datengin ayah Ramli minta restu nikah. Eh mas dapet bogeman di perut beberapa kali. Beruntung bukan muka. 3 hari mas dihukum ayah kamu tuh dengan ngangkat air dari kali kerumah. Katanya air sumur habis ternyata banyak airnya. Mas percaya aja kan musim kemarau. Eh ternyata sumur bor"
"Ye. Salah siapa mau melecehkan anak gadis orang. Itu hukuman kecil ya" protes Ramli.
__ADS_1
"Tapi kan akhirnya ayah setuju. Dan kita nikah"
"Lah itu terpaksa. Kamunya cinta mati sama anak saya"
"Cih katanya ayah dateng karena di ancem" ledek Zahra.
"Ya biar kamu percaya aja"
"Kenapa mas tidak pernah sholat?"
"Ye. masak penculik sholat. Penculik alim? Berperan harus total dong"
"Jadi mas sholatnya kek mana?"
" Zuhur asar dikantor. Magrib di kamar tamu , Isya nunggu kamu tidur. Kalau subuh nunggu kamu ke dapur"
"Pates ya, mas setiap bangun seperti sudah mandi"
"Hehehehe" Sofian cegengesan dan mengarut kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Maafin ya, sayang."
"Kenapa tidak cerita mami? " protes Nawal seperti tidak dipedulikan.
"Biar tidak nambah orang yang diancem. banyak pelayan dan anak buah Parel pengen dekat Zahra tapi sebelum itu Parel ancem. berabe dong jika ada yang lebos. Tebongkar. Makin banyak orang rahasia makin mudah terbongkar"
"Zahra kesini hp kamu nak"
"Untuk apa mi?" Zahra memberikan hpnya.
"Kamu tidak perlu nyuruh orang sms mami. Mami mau zahra yang sms mami. Berabekan jika mantu dan cucu mami kurang sehat dibilang baik baik saja" ucap Nawal mengikuti gaya Sofian.
Semua tertawa
"Sekarang kapan kalian nikah?" tanya Nawal serius.
"Lah kita sudah nikah, mi" jawab Zahra dengan wajah tanpa dosa.
"Resepsinya. Mami belum ada. Kata suamimu akan buat pesta ada maminya. Bahkan mami malu anak nikah maminya tidak tau"
"Bulan depan. Mami yang atur. Semua sesuai dengan keinginan mami" jawab Sofian
"Bener ya?"
"Bener mi"
"Mi, pada laper engga? Makan yuk."
"Ndah dah" teriak Sofian.
Datang Endah dari dapur.
"Ada apa tuan?"
"Makan siang udah siap ndah?"
"Sudah siap tuan"
"Oke"
Endah menunduk dan kembali kedapur
"Mas, Zahra mau sate"
"Sate udang"
"Sate udang? Beli dimana Zahra? Mas baru denger" Parel melihat Nawal dan Ramli mereka kompak angkat bahu.
"Mi"
"Mana mami tau penjual sate udang" ujar Nawal
"Yah?"
"Ayah juga tidak tau. Bukan daerah ayah. Di tempat ayah juga tidak tau yang jual sate udang"
"Is mas. Beli udang aja. Entar Endah yang masak"
"Ndah.."
"Ish. Kenapa panggil endah sih? kamu aja yang beli"
Sofian kaget permintaan aneh Zahra. Seorang Sofian Albarnista pergi ke supermarket beli udang.
"Mas mau tidak?"
"Iya iya mas pergi"
Zahra mengecup pipi Sofian.
"Semangat suamiku" senyum Zahra mengembang.
"Dih. Ada maunya aja baik" gumam Sofian
"Sofian" tegur Nawal.
######
Setelah makan
Ramli pamit ada kerjaan. Sedangkan Nawal pulang karena sudah sore.
"Mas. Aku penasaran deh kemana cara mas nyakinin papah kalau mas adalah Ian. Kan mas beda yang kecil sama sekarang"
"Mudah itu. Entar-entar"
Sofian mengeluarkan dompet.
"Ok ini dia. jreng jreng"
Sofian meneluarkan kalung dengan tulisan Best.
"Mas, kamu masih simpan? "
" Iya dong. Surat nya juga" Sofian mencari dalam dompet " Ini dia" ia memberikan secarik kertas.
"Itu dua benda yang wajib dibawa" ucap Sofian bangga.
Zahra membaca surat itu. Tidak percaya bahwa surat itu masih ada. Surat yang ditulis secara buru-buru. Karena berangkat terlalu pagi Sofian belum dateng. Zahra tidak mau pergi. Ramli bilang kasih surat aja dan kasih alamat biar ian yang dateng. barulah zahra mau
__ADS_1
"Nanti mas tunggu sini" Zahra meninggalkan Sofian dan masuk ke kamar
"Ini dia mas. Pasangannya" Zahra menujukkan sebuah kalung dan mengabungkan dengan kalung Sofian. Tulisan tempat Zahra friends.
"Jadi bentuknya apa sayang?"
"Tidak jadi mas. Tidak ada punya Dani"
"Dani kemana sih, mas?"
"Aku disini" teriak seseorang yang baru datang.
"Lah. kek jin loe. Dipanggil dateng"
"Biarrin dipanggil sahabat pasti dateng lah. Ya engga Zahra" Dani tersenyum dan mengedipkan matanya.
"Dih jangan genit loe sama istri orang"
"Bagaimana keadaan kalian? Gua ke rumah sakit ternyata udah pulang"
"Baik. Pergi loe ganggu aja"
"Jangan begitu, mas"
Dani malah masuk dan duduk.
"Biasa tuh, Ra. Memang kalau Sofian marah artinya sayang"
"Dih ogah banget sayang sama loe. Lebih baik saya sayang sama Zahra"
Sofian memeluk Zahra dan mencium keningnya.
"Em em. Gua masih ada woy"
"Siapa suruh masuk."
"Oh yarl Ra, ini kalung gua" Dani memberikan kalung bertulisan forever
Zahra mengambil nya dan mengabungnya dengan punyanya.
"Ye jadi deh. Akhirnya terbentuk lagi, mas" ucap Zahra senang.
"Oh. Jadi bentuk hati" Sofian dan Dani barengan.
Zahra mematahkan lagi dann mengembalikan keorangnya.
"Ini punya Dani"
"Ini punya kamu, mas"
"dan ini punya aku"
"Kenapa dikembalikan lagi?" tanya Dani.
"Masak zahra ambil lagi. Busuk siku nanti. Lagi pula untuk dipakai"
"Mas pakaikan dong"
"Sini sayang" Sofian mengambil kalung itu zahra berbalik.
Sofian memakaikan 2 kalung tapi bukan kalung itu.
"Loe mas kok kok kalung ini" protes Zahra.
"Iyu kalung lama. Kamu bukan teman doni. tapi teman hidupku. Aku tidak mau kamu pakai kalung itu. Ada cowok lainnya"
"Dih posesif" ejek Dani.
"Biarin istri sendiri. Dari pada kamu jomblo. nikah gih"
"Mas"
Zahra ngambek
"gambekan ya?" Zahra hanya diam.
"Aku mau kamu pakai kalung ini aja. Mas berharap kami selalu dilindungi Allah"
"Ye engga dua juga kamu mau aku dirampok"
"Kan kamu pakek kerudung. Tinggal masukin kerudung aja kalau tidak mau"
"Kenapa harus dua. Kan uangnya banyak mas"
" Cuma 2 sayang. Lagipula semua miliku juga milik kamu"
"Tetap aja mas. Kan sayang duitnya"
"Anggap aja diskon beli satu dapet 2"
"Mana ada, Sof beli kalung diskon. Apalagi kalung satunya itu kalung limitid edision salah satu kalung termahal didunia dengan emas dan berlian mana ada diskon" Sangah Dani.
" Kan aku bilang anggap" Sofian melotot pada Dani karena mulut tidak dijaga.
"Bener, mas?"
"hehehe" Sofian mengaruk tekuknya yang tiba-tiba gatal.
"Sayang angap aja ini hadiah pernikahan. Mas kan belum beli apa-apa?"
"Belum beli apa-apa? Mas diatas itu sudah banyak baju, tas"
"Tapi kalung belum ada" ucap Sofian lupa.
"Kalung? mas kamu udah beliin aku beberapa set perhiasan. Itu juga jarang aku pakek"
"Kamu terima aja ya. Tanda mas sayang sama istri mas satu-satunya ini" Sofian memeluk Zahra.
"Em. Terima kasih ya sayang" Zahra memengang 2 kalung itu
"I love you"
" I love you too" balas Zahra
Dani beranjak. Dia kesal melihat 2 sejoli yang kasmaran.
"Mau kemana loe?"
"Cari istri" teriak Dani dan berlalu
__ADS_1