
Jam 14. Zahra tebangun rasanya tubuhnya remuk tidak berbentuk sakit dan perih yang ia rasakan. Saat dia sadar dia tidur bukan dibantal namun didada seseorang yang telanjang. Zahra langsung mengerakkan tubuhnya.
"Auw"ringis Zahra. Sakit itu yang dia rasakan.
Melihat Sofian, Zahra mengingat kejadian tadi. Zahra berharap itu semua mimpi. Segera ia melihat tubuhnya yang tertutup selimut miris tidak seperti yang ia inginkan ia tidak mengunakan apapun bahkan ia melihat tubuh Sofian sama sepertinya tanpa mengenakan apapun. Air mata lolos mengalir membasahi pipinya.
Haruskah dia sedih? tapi ini suaminya. Tapi apakah dia harus senang? apa Zahra sudah benar menyerahkan 'itu' kepada lelaki yang secara hukum dan agama adalah suaminnya.
Zahra melihat jam di dinding jam 14. pantas dia lapar dia belum makan siang. Jangankan itu ia bahkan belum sarapan. Perutnya lapar, badannya lemas dan sakit.
Zahra hendak bangun, mandi, dan sholat zuhur. Jika ada kesempatan dia akan makan. Zahra menutup bagian depanya dengan selimut.
Saat Zahra hendak berdiri sambil menahan rasa sakitnya. Ada yang menahan tangannya.
Zahra cepat mengusap air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan manusia kejam ini.
Sofian bangun saat ada pergerakan. Saat dia membuka mata ia melihat belakang Zahra yang telanjang yang sedang duduk hendak bangun. Ada suara isakan samar-samar Sofian dengar. "*Ap*akah masih sakit?" tanyanya dalam hati.
Sofian menahan tangan Zahra. Zahra melihat Sofian. Ingin rasanya Zahra menangis berderu-deru. Sofian melihat wajah sedih Zahra, rasa bersalah timbul dihatinya.
"Apa masih sakit?" tanya sofian.
"Dia tanya masih sakit? ini tidak seberapa tapi sakit dihatiku lebih parah" jawab zahra dihati.
Sofian beranyak dan Zahra hanya melihat ke wajah sofian. Sofian berdiri dihadapan Zahra. Zahra menyadari sofian tidak mengunakan sehelai benangpun. Zahra langsung memalingkan wajahnya.
Sofian tanpa ba bi bu langsung mengendong Zahra dengan masih selimut menutupi bagian tubuh zahtlra
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya zahra yang terkejut dan menatap wajah Sofian ia melotot.
Sofian tidak menjawab ia melangkah ke kamar mandi. Sofian meletakannya di bak mandi.
"Mandilah! aku akan keluar"
Zahra hanya diam dan memalingkan wajahnya.
"Apa dia tidak malu telanjang seperti itu didepan wanita?"
Sofian melangkah keluar namun kembali menoleh. Melihat Zahra kesusahan ia bermasud membantu
"Apa perlu ku bantu?"
"Tidak! tidak perlu aku bisa sendiri" jawab Zahra tanpa memalingkan wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu bawa sini" kata sofian mengulurkan tangannya
"Ku bilang aku bisa sendiri. Kau tak perlu repot-repot"
"Bukan, itu maksudku selimutnya. Kau tak akan mandi dengan selimut kan?".
Zahra sadar bahwa tubuhnya yang ertutup selimut.
"Eh ia" Zahra melihat Sofian namun cepat berpaling.
"Kau balik badan dahulu."
"Balik badan? untuk apa?"
"Aku ..aku telanjang" jawab Zahra malu.
"Aku juga telanjang" kata sofian santai "Apa kau malu?" lanjutnya
Zahra hanya diam. Sofian tertawa.
"Hahaha. Aku sudah melihatnya Zahra bahkan seluruh tubuhmu sudah aku nikmati. Bahkan mungkin tiada bagian sesentipun belum ku sentuh. Dan sebagian besar bahkan sudah ku kecup"
Zahra malu mukannya merah. Bukan hanya malu namun juga marah.
"Berikan!" zahra hanya diam.
"Apa perlu aku yang bantu buka? dan kita lakukan sekali lagi di sini" ancam Sofian.
Zahra cepat melepas selimutnya dan memberikan pada Sofian.
"Kau cepat sekali. Padahal aku ingin sekali lagi"
"Ku mohon jangan. Aku harus mandi karena zuhur sudah mau habis" kata Zahra memohon.
"Baiklah-baiklah" Sofian pasrah dan langsung keluar kamar mandi dan menutupnya.
Zahra langsung mengambil wudhu mandi wajibnya dan mandi membersihkan diri dan berendam untuk mengilangkan rasa perihnya. tidak sekali-kali ia menangis jika mengingat kejadian itu. Setengah jam Zahra menyelesaikan. Zahra mencoba bangkit namun bagian 'itu masih perih" Zahra mencoba tetap tegar. Zahra membersihkan diri di bawah sower sebentar lalu mengambil handuk dan menutup tubuhnya. Kemudian ia mengambil wudhu.
Zahra bingung ia tidak membawa baju. Jika ia pakai handuk dia takut pada Sofian. Namun waktu terus berjalan dan zuhur akan habis. Zahra memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Ia bersyukur tidak ada Sofian di sana.
__ADS_1
"Alhamdulillah. dia tidak ada. tapi kemana dia?"
Zahra keluar mengenakan pakakian walau jalannya tertatih. Lalu ia menunaikan sholatnya.
Disisi lain.
Sofian setelah keluar kamar mandi ia langsung mengenakan pakaian yang berserak, mengambil pakaian bersih di lemari dan sebuah handuk. Ia turun kebawah dan mandi di ruangan biasa. Sofian merasa sangat senang namun juga ia merasa bersalah.
"*A*pa aku sudah kelewatan? namun setidaknya aku tidak melecehkannya hanya memaksa. Haha namun aku sangat senang"
selesai mandi. Sofian mengerjakan tugasnya.
Setelah selesai ia kembali ke kamar melihat keadaan Zahra. Ternyata zahrya masih sholat.
zahra menangis dalam doanya.
"Menangis? kenapa? apa yang ia minta pada Tuhannya?"
Tidak mau menganggu zahra. Sofian ke bawah meninggalkan zahra.
Sofian ke dapur. Makanan masih tersaji dan masih tertutup rapat.
"Maaf tuan, itu makanan yang nyonya buat tadi pagi untuk sarapan. Akan kami nganti..."
"Tidak perlu" potong Sofian.
"Hangatkan saja yang ini. Saya dan nyonya akan makan di kamar. Bawa juga makanan yang kalian buat. Oh ya nanti pisahkan antar makanan yang nyonya buat dengan kalian. aku ingin makan makanan nyonya saja. Bawa meja juga"
"Baik tuan" ucap pelayan mengerti.
Sofian melangkah naik kembali.
"makanan masih utuh. Apa dia belum makan.? akh tidak dia belum sarapan? namun aku sudah memangsanya. akh aku memang kejam**" gerutu Sofian.
Sampai di atas.
Sofian melihat Zahra melangkah ke ranjang dengan tertatih. sofian langsung mengendong Zahra.
"A..pa.." Zahra terkejut namun berhenti karena melihat wajah Sofian.
"Ia ganteng juga dilihat-lihat" Zahra langsung membuang fikiran itu mengingat kekejaman Sofian dan memalingkan wajahnya. Sofian hanya tersenyum melihat tingkah Zahra.
"Aku bisa jalan sendiri.. tuan" kata Zahra membuat rahang Sofian mengeras dan melangkah cepat. Sofian meletakkan Zahra di kasur cukup keras dan mengukuhnya.
"Ke..kanapa? a..pakah aku salah?" tanya Zahra terbata takut. Bagaimana itu terjadi lagi dan ia lapar sekarang.
Dengan amarah sofian mencium Zahra melumatnya. Zahra memukul dada sofian.
Sofian melepaskan ciumanya.
"Aku tidak suka pangilamu, Sayang. Panggil aku mas atau sayang".
"Baiklah mas" jawab Zahra canggung.
"Jika sekali lagi kau memanggilku dengan tuan, kau dan lainnya. Aku langsung ******* bibirmu sampai berdarah" acam Sofian.
"Iya. mas" zahra pasrah.
Sofian duduk disamping zahra. Zahra juga duduk.
"Mas. Aku ijin ke dapur. Aku belum sarapan?" kata zahra lemas.
" *Ka*n sudah aku tebak. Wanita ini. Salah siapa dia lezat" gumam Sofian.
"Boleh kan, mas?"
"Tidak perlu"
"*A*ku lapar . Apa dia ingin membunuhku secara perlahan?" pikir negatif Zahra.
tok tok tok
"Tuan..ma"
"Tunggu sebentar" potong Sofian.
Sofian berjalan ke lemari mengambi jaketnya dan juga jilbab untuk Zahra. Untuk bawahan Zahra sudah mengenakan androk panjang. Karena dia takut yang masuk ada laki-laki.
"Pakai ini" suruh Sofian dan memberi jilbab dan jaket.
Setelah selesai Zahra mengenakan jilbab dan jaket. Sofian baru mengijinkan masuk.
"Masuk!" suruh sofian pada pelayan di depan.
__ADS_1
Pelanyan membuka pintu.
Paling depan membawa meja dan di belakang ada beberapa pelayan membawa makanan.
"Oh. pantas disuruh pakai jilbab karena ada laki-lakinnya. Dia tau agama juga. Tapi untuk apa meja itu?" pikir Zahra.
"Letakan dekat sini" perintan sofian
"Baik tuan"
Meja telah diletakan. Pelayan yang membawa makanan langsung meletakan makanan dan merapihkannya di meja. Zahra bengong.
"Sudah tuan nyonya. Selamat menikmati. sebelah sini makanan nyonya."-Pelayan sambil menunjukan bagian masakan Zahra.
"Kalian boleh keluar"
"Baik tuan"
Pelayan keluar dan menutup pintu.
Zahra benar-benar lapar ingin rasanya ia langsung menyerbu makanan di depannya namun di urungkannya.
"Kenapa bengong? Mari makan"
"Eh. Apa aku boleh memakannya?"
"Aku membawanya kesini karena memang untuk kau makan"
Zahra mengambil piring namun langsung diambil Sofian dari tangannya
"*B*enarkan dia hanya memaikanku"
Sofian mengambil nasi.
"Kau mau makan pakai apa? "tanya sofian.
"Apa?" tanya Zahra tidak percaya.
"Lauk dan sayur mu?" tanya Sofian lagi.
"Tidak perlu. Tuan aku bisa sendiri"
Cup.
Sofian langsung mencium bibir Zahra singkat.
Zahra bengong.
"Kau memang suka mengodaku Zahra. Kalau bukan mau makan aku sudah melahapmu"
"A...aku minta maaf"
"Sudah, sebutkan yang ingin kau makan?"
"Tidak perlu mas. aku bisa sendiri" tolak Zahra.
"aku tidak suka penolakan Zahra"
"Tapi.. Aku yang seharusnya menyiapkan untukmu".
"Tidak ada tapi-tapian."
"Baiklah. Aku sama ayam goreng dan sayur kangkung saja" jawab Zahra pasrah.
Sofian mengambil ayam goreng namun sayurnya bukan hanya sayur kangkung, namun hampir semua dan langsung meletakan di depan zahra.
"*U*ntuk apa bertanya padaku bila tidak sesuai" kata Zahra dalam hati.
sofian telah mengambil makanan untuknya..
"Kenapa?" tanya Sofian karena Zahra belum makan makanannya.
"Eh. "
Zahra langsung mememakan makanannya. Sofian tersenyum dan juga memakan makananya.
"Masakanmu enak" kata Sofian setelah mencicipi masakan Zahra.
"Eh?"
"Ini masakanmu tadi pagi. Pelayan memanaskannya" jelas Sofian.
"Enak.ulai besok kau yang bertugas memasak." lanjut sofian
__ADS_1
"Terima kasih. Baiklah"
Mereka melanjutkan makan mereka.