Sifat tersembunyi My Husban

Sifat tersembunyi My Husban
lBab 31


__ADS_3

Zahra terbangun. Ia merasa lapar.


Ia pelan-pelan melepaskan pelukan Sofian. setelah lepas ia keluar ruangan.


"Nyonya sudah bangun?"


"Nyonya mau kemana?"


"Apa ada yang mau nyonya kerjakan"


tanya bodyguard yang ada diluar


"Aku lapar" jawab Zahra.


"Nyonya masuk saja. Nanti kami yang membelikannya."


"Tapi aku ingin makan disana langsung"


"Tapi nyonya..."


"Aku ingin soto jika di bawa kesini rasanya berubah" potong Zahra.


"Baiklah"


Zahra berjalan. Ambri mengikuti dari belakang


Zahra kekantin makan sotonya.


Setelah itu ia membungkuskan nasi rendang untuk Sofian.


Sofian terbangun. Kaget ada wanita paruh baya yang duduk disampingnya. Dan ada Agnes juga.


"Mami? Kenapa mami ada disini?"


"Mami marah sama kamu Sofian. Saat sakit dan terluka kau seperti hidup sendiri. Ingat mami masih hidup. Kenapa tidak pernah telpon mami? mami juga ingin tau keadaan anak mami. Kalau Agnes tidak memberi tau mami mungkin mami pasti mengira kau baik-baik saja. Karena pesanmu bilang kau sehat dan sedang sibuk" ujar Nawal mami Sofian yang sudah sembab matanya karena menangis


Jadi yang sms Nawal adalah bodyguard Parel setiap 2 hari sekali. Akan selalu bilang baik-baik saja dan sibuk jika disuruh pulang.


"Aku baik-baik saja, mi"


"Baik? Di rumah sakit? Tujuh hari tidak sadar? Kau bilang baik. Bahkan bukan hanya itu kau menikah juga tidak mengundang mami. Mami punya salah sama kamu? " tangis Nawal pecah.


Anak satu-satunya tidak memberi tau keadaanya dan menikah pun tidak mengundangnya.


"Mami tidak ada salah dengan Sofian. Pernikahan itu dadakan, mi. Sofian akan buat pesta besar nantinya bersama kami"


" Marahi saja, mi. Marahin" kompor Agnes.


"Diam kau!" marah Sofian pada Agnes.


"Kau yang salah" pelotot Nawal pada Sofian.


"Mami tetap kecewa. Mana istrimu kenapa dia juga tidak mengundang mami? kalian memang kejam sama mami"


Didepan ruangan Sofian. Zahra hanya mendengarkan percakapan Sofian dengan seorang yang dipangil mami. Air mata Zahra mengalir. Jikka dia jadi seorang ibu seperti mami Sofian pasti marah.


"Zahra tidak salah, mi. Sofian yang memaksanya. Zahra bahkan tidak tau mami ada"


"Kau. Kau tidak pernah membicarakan mami pada istrimu. Apa mami kau angap telah meninggal. Ingat mami masih hidup. "


"Mi. Panjang ceritanya. Sofian akan menceritakannya. Jika waktunya tepat. Istri Sofian juga pasti mau tau" ujar Sofian.


"Mana istrimu. Diruangan mana? Mami kasih pelajaran dia"


"Jangan mi. Zahra belum sembuh mi dia juga sedang mengandung_


Agnes mendengar itu langsung menutup mulutnya yang menganga.


Ia hampir saya membunuh temanya, istri dan anak dalam kandunganya. Jika mulut tidak lebos maka ini tidak terjadi masalah ini.


"Apa istrimu mengandung? Ini juga tidak kau beri tau mamimu ini" Nawal menjewer telinga Sofian.


"Aw aw mi, Sakit" Sofian meronta minta dilepaskan.


"Biarin. Hidup sendiri aja kamu. Lupain aja mamimu ini. Buang kelaut"


"Buka begitu, mi. Sofian juga baru tau. Sakit loh mi sakit."

__ADS_1


Nawal melepaskan jewera nya.


Agnes mendekati Sofian.


"Gua minta maaf ya, Sof. Kalau waktu itu gua engga lebos. Mungkin loe tidak disini" Agnes merasa bersalah.


"Semua baik-baik aja, Nes. Ada hikmah dibalik semua kejadian. Setidaknya aku bisa jujur dengan istriku setelah ini"


"Mami itu tanya dimana ruangan istri kamu?"


"Mi, tadi dia tidur samping Sofian. Sofian tidak tau. mungkin cari angin"


Krek.


Zahra masuk "Aku disini, mas"


"Sini sayang"suruh Sofian duduk disampingnya "Kamu dari mana?"


Zahra hanya diam dan menunduk.


Nawal memandang Sofian dan Zahra bergantian.


Agnes melihati Zahra dari atas sampai bawah


"Tadi katanya mau tau istri Sofian. Setelah disini malah bengong" sindir Sofian pada maminya.


Nawal mendekati Zahra. Zahra hanya menunduk.


"Sini sayang" Nawal membimbing Zahra duduk di Sofa.


"Kok disana sih mi. Kenapa tidak disini aja." protes Sofian.


"Kenapa? kamu bukan anak mami. Anak mami yang ini"


"Mi. ish ah sudahlah"


"Siapa namamu nak?"


"Zahra tante. Zahra Sholeha Trustania"


Namun Zahra dan Nawal tidak mempedulikan protes Sofian.


"Ok. Zahra panggilnya jangan tante ya tapi mami. Mami kan maminya Sofian. Zahra mantu tante jadi panggilnya mami sama kek Sofian"


" Iya. mi"


"Bagaimana keadaanmu nak dan kabar cucu mami?" tanya Najwa pada Zahra.


"Alhamdulillah baik mi. Mereka kuat" ucap Zahra mengelus perutnya.


"Syukur deh. Kamu tidak disiksa kan dengan Sofian?"


"Mana ada mi. Sofian yang selalu disiksa sama Zahra. Dia kejam, mi" Sofian yang menjawab.


"Benar, nak?"


"Iya mi. Sofian tidak pernah menyiksa Zahra kok"


"Dengar tuh mi. Dengar mantu mami itu yang ngomong"


Nawal tidak mendengarkan ocehan Sofian.


"Mami boleh pengang perut kamu?"


"Silahkan mi"


Nawal mengelus perut Zahra.


"Sudah besar ya? berapa bulan?"


"Jalan 3 bulan mi."


"Lah, mami kira sudah 4-5 bulan"


"Anak Sofian kembar mi" jawab Sofian


"Kembar?"

__ADS_1


"Iya mi"


Agnes mendekati Zahra "gua minta maaf ya. Kalau gua tidak..."


"Diam loe, Nes. Biar gua yang cerita. Engga usah lebos loe" potong Sofian.


"Ya udah cerita" Nawal


"Nanti setelah Sofian sembuh. Ayah Ramli juga mau dengar."


"Ayah?" Zahra jadi kangen ayahnya.


"Iya. Dia ayahku kan?" ujar Sofian.


"Baiklah. Setelah sehat kamu harus cerita semua sama, mami dan juga istrimu"


"Baiklah mi"


"Kamu tadi dari mana?" tanya Nawal


"Dari kantin tadi mi. hehhhe laper"


Tring tring. HP Agnes berbunyi.


"Aku pamit ya dari tadi sudah dicariin" pamit Agnes.


"Pergi aja loe. Sana" usir Sofian.


Agnes salim dengan nawal dann memeluk Zahra.


"Gua dulu memang suka Sofian tapi cinta Sofian bukan untuk gua. Gua sudah rela kok. Selalu bahagia dan maaf" bisik Agnes ke Zahra sebelum pergi.


"Cepet sehat loe" ucap Agnes dan pergi.


"Oh, ya mas aku bawa nasi rendang. Kamu belum makan kan? Aku siapinya?"


Zahra hendak bangun. Namun di cekal oleh Nawal.


"Sini biar mami aja. Kamu istirahat" Nawal mengambil bungkusan di tangan Zahra.


"Mi. Zahra mau disini"


"Siapa yang nyuruh kamu pergi?"


"Eh?"


"Sini sayang tidur samping, mas" tawar Sofian.


Klak Nawal menepeleng kepala Sofian pelan. Sofian mengusap kepalanya pelan.


"Engga disitu juga kali disitu sempit. Mantu dan cucu mami bisa jatuh nanti"


"Jadi mami suruh Zahra tidur di sofa?" ucap Sofian kesal.


"Aduh anak mami ini ternyata kurang pinter. Suruh seseorang bawa kasur kesini."


Zahra keluar dan menyuruh seseorang membawakan tempat tidur dan masuk kembali.


"Tapi mi. Sofian mau meluk Zahra"


"Makan" Nawal memberikan piring berisi makanan yang dibawa Zahra


"Yang, suapin dong" rengek Sofian.


"Cih.. Kek anak bayi" ejek Nawal m


Zahra mengambil piring itu dan mulai menyuapi Sofian.


"Dih. kek anak kecil"


"Biarin"


"*A*ku tidak tau kamu dari mana? yang aku tau anakku bahagia bersamamu. aku bisa melihatnya tersenyum itu cukup bagiku. aku bahkan terasa dekat sekali dengan anakku. aku tidak menyangka wajah dinginnya bisa menjadi begitu lucu didekakmu Zahra. Selalu bahagia ya" batin Nawal.


see you next time.


tinggalkan jejak anda dengan like dan komen

__ADS_1


__ADS_2