
3 hari kemudian
Pagi ini, Zahra ingin ke supermarker. Zahra iZin terlebih dahulu pada sofian.
Zahra SMS Sofian yang di kantor
"Assalamualaikum. Mas, saya izin mau ke supermakert " izin Zahra.
sudah setengah jam namun tidak ada balasan dari Sofian. Jadi Zahra langsung berangkat saja.
Sofian yang baru selesai rapat satu jam yang lalu dari jam 08.00-09.00 Langsung marah membaca pesan dari salah satu anak buahnya bahwa Zahra berada di supermarkert.
Sofian mengambil hapenya dan menelpon seseorang.
"DIMANA NYONYA"
"Supermakert A tuan"
"BODOH! KENAPA TIDAK DILARANG, HA?"
" Nyo..nya bilang sudah izin ke tuan"
" DENGAN SIAPA KAU MENJAGA NYONYA?"
"Sendiri tuan"
Prang suara sofian menghempaskan berkas-berkas diatas meja
"KAU FIKIR KAU HEBAH, HA? cepat kau panggil beberapa lagi. Lindungi nyonya kalian. Jika sampai dia kenapa-kenapa kalian yang tanggung jawab" teriak Sofian.
Sofian langsung menutup telponnya.
dan mengenakan jasnya..
dia akan menyusul Zahra.
"*Ji*ka terjadi sesuatu pada mu Zahra aku tidak akan memaafkanmu. Akan ku bunuh semua bodyguard bodoh itu..." Omelnya sambil melangkah
"Tuan" pangil sekertaris Sofian (Badrun).
" Batalkan rapat hari ini dan besok" kata sofian dan langsung melangkah meningalkan Badrun.
"*B*erani-beraninya kau tidak meminta izin padaku. Sial! Apa kau berniat kabur dariku. Lihat saja hukumanmu karena berniat pergi dariku. Aku tidak akan memaafkanmu" lanjut omelan Sofian.
Zahra yang memilih bahan makanan. Ia sangat senang setidaknya ia bisa keluar walau hanya ke supermakert. Dia sangat berantusias namun sedikit sedih karena harus memerima uang sofian.
Tiba-tiba ada yang menabrak Zahra dari belakang. Zahra terjatuh dan barang Zahra jatuh berserakan.
"Maafkan saya mba. Saya tadi berjalan mundur mencari sesuatu" kata pemuda itu.
Pemuda itu menjulurkan tangan nya berniat membantu Zahra. Namun Zahra berdiri sendiri.
"Sekali lagi saya minta maaf mba"
"Tidak apa-apa " jawab Zahra sambil membersikan debu di bajunya. dan sialnya bajunya terkena saos yang mungkin pecah saat Zahra duduk.
" Mba lebih baik mba ke toliet membersikan pakaian mba. Biar saya yang membersikan ini" tawar pemuda itu.
"Tidak usah. Terima kasih" tolak Zahra. Zahra membersikan saos itu dengan tisu.
Zahra duduk dan memunguti barang belanjaanya. Pemuda itu membantu.
Setelah selesai.
"Mba sebaiknya ketoilet dulu bersihkan baju mba" tawar pemuda itu lagi.
"Tidak apa-apa"
"Mba saya tidak enak jika mba pulang dengan baju kotor. Bagaimana kalau kita cari baju saja di lantai atas.? saja yang membelinya"
"Terima kasih. Saya langsung pulang saja"
Zahra berniat melangkah namun pemuda itu menghalaginya.
"Saya mohon mba..Saya tidak enak"
"Tidak usah. Terima kasih" namun pemuda itu tetap berusaha agar Zahra mau.
Sofian yang melihat zahra berbincang dengan seorang laki-laki membuatnya marah. Ia langsung menarik tangan Zahr dan membawanya ke pelukannya.
"Eh? " pekik Zahra kaget.
" Mas?" tanyanya melihat siapa yang menariknya
"Kenapa? Aku menganggu kalian?" tanya
Sofian sinis. Sofian melirik pemuda itu namun pemuda itu malah menutup wajahnya dengan kepala topinya " Cih"
Tidak menungu jawaban Zahra, Sofian mengambil belanjaan Zahra dan menarik tangan Zahra menjauh. Dipertengahan jalan Sofian memberi belanjaan Zahra kepada anak buahnya. Matanya menatap anak buahnya ingin membunuh dan memberikan beberapa kode. Anak buahnya mengerti dan menunduk.
Sofian menarik Zahra ke mobil.
__ADS_1
Sofian dan Zahra hanya diam tidak ada yang mau memulai percakapan.
Sofian terlalu marah
Zahra terlalu takut.
Sampai di rumah Sofian kembali menarik Zahra masuk.
Menarik Zahra kuat. Tak peduli zayhra sakit
Zahra yang takut tidak menolak ataupun protes.
Sofian melempar zahra ke kasur. Zahra meringkuk kakut.
Sofian melepaskan jasnya dan melemparkan kesembarang tempat. Melonggarkan dasi dan melepaskan sedikit kancing kemejanya.
"Mas?" pangil lirih zahra.
Sofian tidak mempedulikan pangilan Zahra dan mengukuhnya.
Zahra bisa melihat manik-manik biru mata Sofian yang terbakar amarah.
"Mas?" panggilnya lagi.
"Apakah kau senang zahra sekarang?"
"Aku tidak ingin menyakitimu Zahra. .amun kau selalu membuatku Zahra dengan sangat kasar, mengigit, mengecap.
Tangan Sofian menarik dan melepaskan baju Zahrah dan banjunya. Zahra hanya pasrah dan menutup matanya.
Sebagai lulusan dokter ia tau Sofian sekarang bukalah Sofian. Sofian masih tersulut amaranya. Zahra bisa menebak jika Sofian ada gangguan kepribadian atau intermittent explosive disorder (IED). Penderita yang memiliki IED sulit mengontor emosinya. Jadi melawan bukan solusi yang baik.
Entah sejak kapan mereka telah telanjang. Zahra tidak peduli ia hanya memejamkam mata dan membiarkan Sofian meredakan amarahnya.
"aw.. sakit. mas.. kumohon pelan.. sa...kit" rintih zahra
Seakan sadar Sofian langsung berdiri melihat Keringat dan wajah pucat Zahra yang takut. Tubuh Zahra yang merah-merah yang pasti itu luka akibatnya
"*Ap*a yang aku lakukan? aku membuatnya takut. Kenapa dia tidak menolak? bodohnya aku" batin Sofian meninggalkan Zahra yang masih memutup mata.
Sofian mengambil minun di meja.
Prang suara botol di lemparkan sofian.
Zahra terkejut dan membuka matanya.
Prang Sofian membalikan meja dan hancur berantakan. Zahra yang takut hanya diam di tempat dan menutup tubuhnya dengan selimut
Sofian minum air di gelas sampai habis. Sofian mengengam gelas itu kuat-kuat.
Melihat itu Zahra menghampir Sofian cepat. Tidak mempedulikan dirinya telanjang.
"Mas, lepaskan" kara Zahra sambil mencoba membuka ngengaman Sofian.
Sofian seperti larut dalam pikiran sendiri.
"Mas" panggil Zahra. Namun Sofian tidak bergeming.
Zahra memeluk Sofian.
"Hiks hiks aku mohon mas lepaskan. Aku takut"
Pelukan Zahra membuat Sofian sadar. Dan mengusap kepala Zahra. Namun tangan bagian satunya masih mengengam namun sudah longgar.
Zahra menongak dan melihat wajah Sofian. Sofian tersenyum.
Zahra langsung mengambil tangan yang berdarah.
Sofian baru sadar tangannya berdarah. Dan membuka tangannya. Zahra melihat kaca yang menancap.
Zahra menarik sofian duduk di sofa. Ia langsung mencari kotak obat dan kembali duduk di samping Sofian. Meraih tangan Sofian.
"Ini akan sakit" kata Zahra.
"Emm lakukan saja" jawab Sofian.
Sofian melihat Zahra yang kawatir membuat sudut bibirnya terangkat. "Jika kamu yang melakukannya maka tidak akan sakit"
Zahra mencabut belingnya. Dan membersihkan dengan antiseptik.
"Au" rintih Sofian pelan.
"Pus pus" tiup Zahra pada luka Sofian. Kembali Sofian tersenyum. Tatapan Sofian tidak lepas dari Zahra "*Ka*u memang dari dulu malaikatku Zahra"
Zahra dengan telaten memberi obat dan menutupnya dengan perban
"Selesai" kata Zahra dan melihat Sofian.
Mata Sofian yang masih tertuju pada Zahra. Sofian yang masih telanjang.
Zahra langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Sofian terkekeh. "Ku masih malu sayang?" goda nya.
Muka Zahra memerah.
Sofian mengambil kotak obat. Dan menarik tibuh Zahra mendekat.
"Mas?" panggil Zahra takut.
"Aku hanya mengoles ini ke lukamu"jelas Sofian menunjukkan obat luka.
Sofian mengoleskannya dan meniupnya seperti Zahra tadi. Zahra pasrah.
"Sudah..Aku mau mandi saja" kata Sofian dan mengusap kepala Zahra.
Sofian menutup kamar mandi. Sofian memengan jantungnya yang berdengup kencang "*A*ku bisa gila" kata Sofian menghembuskan nafas yang kuat. Kemudian Sofian ke sower untuk mandi.
zahra yang ditinggal Sofian langsung mengambil pakaian dan mengenakannya dan menyiapkan pakaian untuk Sofian ada 2 pakaian kantor dan pakaian rumah. Karena Zahra tidak tau Sofian mau kantor lagi atau tidak. Setelah Sofian keluar kamar mandi gantian Zahra yang masuk.
Setelah mengenakan pakaian, HP Sofian berbunyi.
"..."
"Bodoh! bisa kalian kehilangan jejak...Cari dia. atau aku bunuh kalian."
Sofian menutup sepihak
"*D*isuruh menjaga satu wanita saja tidak bisa. cih" gerutu Sofian.
Zahra yang selesai mandi memilih duduk di samping Sofian.
"Mas. Zahra minta maaf" kata Zahra memulai percakapan. Zahra tidak tau salahnya dimana namun lebih baik ia minta maaf.
"Mas, Yang harusnya minta maaf, Zahra" jawab Sofian dan mengusap kepala Zahra.
"Namun lain kali minta ijin dulu sama mas, kalau mau pergi" lanjut Sofian.
"Eh. Mas Zahra SMS mas kok. Malah Zahra tunggu sampai 30 menit. Mungkin mas lagi rapat. Jadi Zahra pergi saja".
"Tidak ada SMS masuk darimu, Zahra"
"Masak sih" Zahra mengambil HP nya dan mengecek. Raut sedih tercetak diwajah cantiknya.
"Ada apa?" tanya Sofian.
"Hiks hiks ini salah Zahra. Zahra tidak engecek jika pulsa Zahra habis. Hiks hiks." Zahra menangis. Zahra sendiri tidak tau Kenapa dia jadi cengeng sekali?"
Sofian mengambil hp Zahra dan melihat pesan untuknya yang tidak terkirim.
"*A*kh bodohnya aku yang mengira dia mau kabur" batin Sofian.
Sofian menarik Zahra yang menangis ke pelukannya.
"Cup cup cup jangan nangis. Ini mas yang salah tidak bertanya dulu. Tapi lain kali jangan ulangi ya. Kalau tidak ada pulsa maka WA saja. Atau suruh yang lain untuk memberi tau ku"
"*Ta*pi kamu tidak tau Zahra, aku sangat menghawatirkanmu. Asal kau tau, jika aku terlambat datang apa yang akan tejadi padamu?. Mungkin aku akan kehilanganmu" batin Sofian.
"Hiks hiks tapi ini tetap salah Zahra harusnya Zahra mengecek lagi dan menunggu jawaban"
"Oke Tidak apa-apa. Lain kali jangan ulangi ya" kata Sofian lembut.
Kruk suara perut Zahra.
Sofian melihat jam masih jam 11.
" Kamu belum sarapan Zahra?" tanya Sofian.
"Yang sarapan bareng kamu siapa, mas?" tanya balik Zahra.
Sofian ingat namun ia tau Zahra makan banyak tadi pagi.
"Baiklah mungkin tenangamu habis karena tadi. Ayo kita makan".
"Hiks hiks tapi Zahra belum masak. Barang belanjaan Zahra tadi di supermarkert...Hiks hiks" tangis Zahra yang masih di pelukan Sofian.
"Belanjaan tadi sudah di bawah. Doni (bodygard) yang membawanya"
"Benarkah?" tanya Zahra mengusap air matanya.
"Aku akan suruh bi Mila (pelanyan) untuk memasak"
"Tidak..tidak kita saja yang masak"
"Kita?.."
"Iya. Mas juga bantu, ya?" potong Zahra dengan wajah imutnya.
"Baiklah" Sofian pasrah.
Mereka memasak.
Sesekali sofian mengambil tepung meletakan diwajah Zahra. Memeluknya dari belakang. mengecup pipi dan bibirnya. Zahra yang terganggu mengusir Sofian. Namun Sofian tidak mau. Sofian terus menganggu Zahra.
__ADS_1
"*A*ish lain kali aku tidak akan mengajaknya masak lagi".
see you next time