
"Apa... apa kau ian?" tanya Zahra pada orang itu.
Irang itu terteguh "Ian? ah sepertinya aku salah orang. Malunya" batin dokter itu.
"Maaf sepertinya aku salah orang dan aku bukan Ian" ujar dokter itu.
"*A*hk Zahra kau punya suami dan berani-beraninya kamu memikirkan lelaki lain" batin zahra.
"Kau seorang pasien? Kembalilah ke kamar dan istirahat" ujar dokter itu. Zahra hanya menunduk.
"Maaf yang tadi. Aku mau pergi memeriksa pasien dulu" lanjutnya pamit dan hendak meninggalkan Zahra.
Beberapa langkah dokter itu berhenti. ia teringat sesuatu."*Ia*n? shit. Kau bangaimana bisa lupa itu panggilannya. Ya benar aku ternyata tidak salah orang"
Zahra akan memutar kursi rodanya untuk pergi ke kamar.
"Tunggu" kata dokter itu.
mengurungkan Zahra memutar kursi rodanya dan kembali melihat dokter itu.
"Ada apa lagi, dok? Saya akan ke ruangan saya" jawab Zahra.
Dokter itu mendekati Zahra dengan tatapan tidak bisa ditebak.
"*Do*kter yang aneh. Jangan jangan orang jahat lagi" pikir Zahra.
"Ada apa, dok?" tanya Zahra.
"Tanya tidak ya? Takut salah orang. Yang penting tanya aja deh" batin dokter
"Kau..kau Tania?" tanya dokter itu pada Zahra
"Kau benar-benar, Ian?" tanya Zahra. Mata zahra mulai berkaca-kaca.
Zahra mengusap matanya.
"*Ke*napa denganmu Zahra ingat kau sudah bersuami" Zahra menguatkan hatinya.
"Bukan. bukan.. Aku bukan Uan. Aku thio" ujar dokter itu.
"Thio? kau Thio?" ujar Zahra kaget.
"Jadi kau benar-benar Tania?" ucap Thio sangat senang.
"Iya aku tania. Bagaimana kabarmu Thio. Kau semakin hebat saja. Mana tubuhmu yang gembul dan gendut itu? Sampai aku tidak percaya kau Thio"
"Ish kau suka sekali memberiku julukan si gembul. Sekarang aku sudah kurus dan yang pasti tampan" ujar Thio sombong.
"Kau sama seperti dulu Thio tidak ada yang berubah tetap sombong dan percaya diri"
Zahra dan Thio dan tertawa.
"Kamu kenapa bisa seperti ini Tania?"
__ADS_1
"Tuhan hanya mengujiku. Memberiku sedikit cobaan"
"Kau kecelakaan?"
"Ya begitulah" ujar Zahra sedih.
"Mari kita cari tempat duduk" Thio mendorong kursi roda dan berhenti di tempat duduk yang tidak jauh.
Thio mendudukan tubunya di kursi depan zahra.
"Ada apa? Bagaimana bisa terjadi kecelakaan?" tanya Thio khawatir.
"Sebenarnya bukan kecelakaan hanya ada tragedi penculikan"
"APA? Kau diculik?"
"Ya begitulah dan Alhamdulillah aku selamat" jawab Zahra " Bagaimana kabarmu Thio? sudah lama tidak bertemu"
"Bisa kau lihat sendiri Tania. Aku baik" jawab Thio merentangkan tangannya.
"Ya kau terlihat baik. Bagaimana bisa anak gembul dulu jadi kurus apa kau tidak dikasih makan?" ejek Zahra.
"Aku gemuk salah dan aku sekarang kurus salah juga " ucap Thio sedih "Salahkan saja terus aku, bang"
Zahra tertawa atas kelakuan Thio.
"Hahaha kau masih sama seperti dulu Thio sangat menyengkelkan"
"Tapi lucu kan?" tanya Thio sambil tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah.
"Belajar di sekolah lah. dlDengan siapa kau disini Tania?"
"Dengan suamiku" jawab Zahra singkat.
"Eh kau sudah menikah?" Zahra hanya menjawab dengan anggukan.
"Tidak ku sangka kau sudah menikah. Siapa suamimu Tania?" tanya Thio penasaran.
"Tania? Sudah lama orang tidak memanggilku Tania ya karena hanya Thio dan Ian yang memanggil ku itu."
Mengingat ian Zahra sedih. Zahra menegok ke Thio "*A*pa aku boleh tanya keadaan Ian? Tapi aku sudah bersuami. Cuma tanya kabar boleh kan?" tanya Zahra dalam hati.
Thio yang dilihati Zahra hanya bingung. Suasana menjadi sepi. Zahra larut dalam lamunan dan Thio juga.
"Tania sudah bersuami? Tarnyata janji anak kecil hanyalah sebuah janji saja. Zahra bahkan sudah menikah. Ish ternyata hanya Ian yang mengangapnya janji itu serius.
Tidakkah tania mengingat Ian? Ia ingat kok tadi ia menyebut Ian? Dosa tidak ya menceritakan Ian pada Tania. Tapi ian sudah bahagia sekarang dengan istrinya, kemarin saja aku sengaja tidak membahas Tania. Ayolah cuma cerita, setidaknya ian tau Tania nya masih hidup dan mungkin tau Tania sudah menikah dia jadi bisa membuka hati untuk istrinya dan melupakan Tania"
Zahra mau membuka mulut namun Thio duluan.
"Kau bahagia menikah dengan suamimu, Tania?"
"Ia aku sangat bahagia Thio?" jawab Zahra.
__ADS_1
"Syukurlah" Thio lega "Tania, masih ingat Ian?" tanya Thio hati-hati.
Zahra melotot seakan tidak percaya. namun Kemudian sendu.
"*M*ana mungkin aku melupakan Ian dan janji aku dan Ian. Ya itu hanya janji anak kecil. maafkan aku Ian. Aku telah mengingkari janji kita" ujar Zahra dalam hati.
"Kau tau Zahra dulu saat kau pindah keluar kota. Ian adalah orang yang seperti hilang arah. Saat kelas 9 SMP dengan uang tabunganya ia mencarimu di tempat yang kau sebut sebelum pindah"
"Eh dia Kesana?" tanya Zahra tidak percaya. Namun kelas 9 SMP Zahra telah pindah ketempat yang sekarang ia tinggali. Selain untuk menjauh dari Alex juga ayah Zahra dapat kerjaan di sana.
"Iya. Namun kau tidak ada"
"Aku sudah pindah. Saat itu ayah dipindahkan ke Bogor" ucap Zahra merasa bersalah.
"Dari situ ian menyewa beberapa orang untuk mencarimu dan saat ia memengang perusahaan dan kuliah ia tidak henti-hentinya mencari keberadaanmu"
"Kenapa?"
"Janji yang kalian buat. Untuk selalu bersama dan menikah"
"Bukankah itu hanya janji anak kecil. Aku saja tidak mengerti arti pernikahan" jawab Zahra padahal sampai sekarang ia tetap mengingat janji itu. Kalau bukan karena terpaksa ia tidak akan menikah.
"Ia Tania. Aku sudah mengatakan padanya. namun jawabanya janji harus ditepati".
"Jadi sampai sekarang Ian masih mencariku?"
"Mungkin. Tapi tenang Ian telah menikah sekarang. Mungkin ia lelah atau sudah tau kau menikah" jawab Thio membuat Zahra sedih dan senang.
"Oh. syukurlah. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia ada dirumah sakit ini?"
"APA? Ian sakit apa Thio?"
"Dia mengalami kecelakaan. keadaannya kritis"
"Inalillahi. Semoga cepat sembuh ya" doa Zahra.
"Kau ingin menengoknya, Tan?"
"Eh. Apa boleh?"
"Tentu. Ian pasti senang bisa melihatmu lagi" Zahra hanya diam.
"Kau mau menyeguknya?"
"Baiklah. Ayo" jawab Zahra
Thio mendorong kursi zahrya
"Kenapa kesini?" tanya Zahra dalam hati.
Besok antara update dan tidak update. Kalau tidak update maka harus bersabar untuk besoknya. Besoknya tidak lagi update ya sabar aja.. wwkwk
__ADS_1
Jangan lupa like, komennya.. dan dukungannya selalu.
see you next time