
Zahra Sholeha Trustania putri tunggal Ramli Soleh Trustania dengan Amelia Sholeha Trustania. Zahra adalah gadis kecil yang masih menginjak bangku kelas 2 SD. Dulu keluarga zahra kecukupan namun karena sang ibu menderita sakit gagal ginjal dan harus cuci darah rutin. Keluarga itu bisa dibilang miskin.
Saat pulang jika sang ibu jadwal cuci darah anak kelas 2 itu akan diberi uang lebih untuk naik angkot karena jaraknya cukup jauh dan ayah tidak dapat menyemput.
Anak kecil itu dijauhkan teman-temannya karena Zahra yang diajak main selalu bilang tidak mau ia ingin pulang. Gadis kecil itu memilih menjadi dewasa belum waktunya dengan membantu sang ayah dan ibu bersih-bersih rumah tanpa pengeluhan.
Entah terlalu pintar apa karena anak satu-satunya ia mencoba mengerti keadaan sang ibu yang tidak sehat.
Suatu hari ibunya ngedrop dan Zahra telah pergi ke sekolah. Sang ayah panik membawa ibunya pergi dan lupa bahwa waktu anaknya pulang, karena biasanya Zahra sudah diberi uang angkot.
Zahra menunggu sang ayah di depan gerbang.
30 menit berlalu namun sang ayah tidak datang. Zahra bingung jika naik angkot ia tidak punya uang oleh sebab itu ia menangis.
Disisi lain
Sofian Albarnista .
putra tungga Dedy Albarnista dengan Nawal Albarnista. Memiliki masa yang kelam sang ayah mati di pukuli di depan matanya.
Saat sedang jalan jalan. Kira kira sofian kelas 1 SD. Penculik berhasil menculik Sofian. Sofian diikat dan disekap diruangan gelap.
Saat ayahnya datang menolong ternyata penculiknya lebih banyak dibandingkan orang-orang ayah. Sehingga sang ayah kalah. anak kecil yang sudah memar dan tak berdaya itu harus melihat ayahnya terpental dan mengeluarkan darah dari seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Anal kecil yang belum bisa apa-apa hanya memangis sambil berteriak memangil ayahnya.
Beruntung polisi datang. Dan bisa membebaskan ikatan Sofian. Setelah telepas Sofian berhambur kepelukan sang ayah yang sudah tidak berdaya.
"Ayah" lirih Sofian.
Anak kecil itu hanya bisa menangis.
Sang ayah di gotong ke mobil ambulan.
Sofian menemani sang ayah. Ayahnya sadar dan melihat Sofian.
"Anak ayah laki-laki tidak boleh cengen " ucap ayahnya menahan sakit.
"Sayang titip mami ya. Janji sama ayah kalau Sofian akan selalu menjadi anak yang sholeh dan menjadi orang yang berguna"
"Hiks hiks ayah Sofian janji hiks hiks" itu yang keluar dari mulut Sofian.
Ayah Sofian mengusap air mata dipipi anaknya dan tersenyum
"Kamu harus kuat sayang. Ingat anak ayah harus selalu menepati janjinya"
Mungkin itu akhir dari percakapan antara anak dan ayah itu. Karena sang ayah langsung tak sadarkan diri dan saat itu juga sang ayah diambil oleh sang kuasa.
__ADS_1
Kejadian itu menjadi trauma dan luka yang sangat mendalam untuk seorang anak kecil. Sehingga sofian sampai sekarang tidak dapat menahan emosinya. Cara satu satunya ia menyakiti dirinya agar tidak menyakiti diri orang lain.
Setahun Sofian tidak sekolah sehingga harus tertingal kelas. Homesholing bukanlah pilihan tepat bagi ibunya, karena akan membuat Sofian menjadi anak yang tertutup.
Senyum saat masih kecil itu sirna dengan adanya kejadian saat itu. Sikap yang dingin, tatapan yang tajam tidak suka bergaul kini adalah ciri ciri khas baru dari Sofian Albarnista.
Dani Bramanthio adalah anak dari Bagas Bramanthio dan Sari Bramanthio. Anak yang gendut dan juga gembul. Orang yang aktif mudah bergaul dan juga ceria kadang bisa jadi pelawak yang sangat lucu.
Dani adalah adik kelas Sofian yang sekarang menjadi teman sekelas.
Kedatang Sofian di kelasnya membuat ketertarikan pada Dani. Sofian yang dingin tidak tertawa. Jangankan tertawa tersenyum juga sulit, seakan senyumnya harganya sangat mahal. Sehingga Dani sering sengaja membuat lelucon yang berharap membuat Sofian tersenyum namun nihil.
Mulai dari situ Dani sering mengikuti Sofian kemana-mana walau sering dapat penolakan dan tatapan tajam. Anak gembul itu tidak peduli.
Hal yang membiatnya takjub. Anak kecil yang baru kelas 2 sd itu sudah pandai sholat bahkan tidak pernah meningalkan sholatnya. Walau bacaanya cuma bismilah dan al-fateha untuk bacaan lainnya hanya bismilah hanya tuhan yang tau, karena sang ayah dan sang ibu selalu mengajarkan tentang agama pada Sofian. Janji dengan sang ayah selalu dilakukannya menjadi anak yang sholeh dan menjadi berguna bagi orang lain.
Anak kelas 2 SD itu rela tidak jajan untuk memberi seorang pengemis makan.
Kadang sang mami akan bingung karena banyak barang-barang Sofian hilang karena ia sumbangkan. Katanya jika ia berbuat baik maka dia melihat ayahnya di sana.
Demi kebaikan anaknya sang mami tidak melarangnya. Sang mami malah bangga pada Sofian.
#####
__ADS_1