Sifat tersembunyi My Husban

Sifat tersembunyi My Husban
Bab 27


__ADS_3

"Kenapa ke sini?" tanya Zahra dalam hati.


Didepan ruangan Zahra ada Sholeh, Kiki dan Danang. Ambri berada agak jauh dari Zahra karena dia mengikuti Zahra untuk memastikan Zahra baik-baik saja.


Yang lain entah kemana karena sekarang waktunya makan siang.


Thio mendorong kursi roda Zahra.


Kiki mendekat.


Dan brak


Kiki itu menonjok perut Thio sampai Thio mundur beberapa langkah.


"Apa yang terjadi?" tanya Zahra dalam hati


Zahra memutar kursi roda.


Thio merentang tangannya dan Kiki langsung memeluk Thio.


"Eh ada apa ini?" zahra bingung


Mereka melepas pelukan


brak. Kiki memukul perut Thio lagi.


"Aku benci kamu dok. Kemana saja saat ini?"


Kiki dengan mode gambek nya.


Kiki adalah bodyguard paling kecil, umurnya dan juga kelakuannya. Dia bodyguard yang baru masuk dan sebelumnya ditolong Sofian dan dirawat dulu dengan Thio alias dani. sehinga dekat dengan Dani. Setelah sehat mengabdi pada Sofian.


"Aku ada. Bukankah tuanmu aku yang mengoprasinya?"


"Jadi thio yang mengopradi mas Sofian?"


Zahra hanya menjadi pendengar yang baik.


"Iya. Tapi tuanku belum sadar"


"Ei aku dokter bukan tuhan"


"atetap saja. Setidaknya engkau disini" ujar Kiki tidak mau kalah.


" Aku setiap hari datang kesini kok. Melihat tuanmu itu"


"Eh benarkah?"


"Iya cuma sebentar. Cuma kamumya saja tidak ada "


Ambri, Sholeh dan Danang mendekat


Danang menepeleng kepala Kiki.


"Dokter kesini setiap hari. Kau nya saja banyak pergi" ujar danang


"Kemana saja dokter selama ini?" tanya Ambri


"Ya bagaimana lagi ini bukan rumah sakit saya. Namun terpaksa kerja disini. Saya juga harus memperhatikan rumah sakit sayakan?"


"Eh Mbri bagaimana keadaan nyonyamu. Aku dengar kamu yang menjaganya dan aku tidak bisa melihatnya selama ini?" tanya Thio alias Dani.


"*B*ukannya tadi dokter bertemu nyonya. Yang ia dorong tadi siapa?"


"Kenapa bengong?" Dani memepuk bahu Ambri.


"Nyonya sudah sadar, dok" jawab Ambri


"Syukurlah"


Dani melihat Zahra "*Ai*s kan aku lupa?"


"It..."


"Entar Am. Saya mau mengantar seseorang dulu" potong Dani.


Dani mendekat ke Zahra.


"Maaf ketemu teman lama. Ayo saya antar"


Zahra hanya menunduk.


Dani membuka pintu.


"Kenapa kita kesini?" tanya Zahra.


Dani mendorong Zahra masuk dan membawanya mendekati Sofian yang terbaring.


"KENAPA KITA KESINI THIO?" tanya Zahra yang bingung.


"Bukan kah kita mau ketempat Ian?"


Zahra menatap Sofian


"*Ja*di selama ini mas Sofian adalah Ian ku"


"Kamu sedang tidak bercanda kan Thio?" tanya Zahra menyakinkan.


"Eh. Kenapa aku harus berbohong" jawab Dani.


"Nanti dulu kau sudah bertemu dengan Ian?"


"Jangan bilang kalian telah bertemu?"


"Emm aku telah bertemu dengan nya. Dia suamiku" jawab Zahra teduh.


"Tunggu tunggu kalau dia (menunjuk Sofian) suamimu (menunjuk Zahra) berarti kau (menunjuk Zahra) istrinya (menunjuk Sofian)"


Zahra hanya diam.


"Hahahah jadi...Jadi Sofian menikahi Tania nya.. Hahahahahaa" tawa Dani pecah sungguh tidak dapat dipercaya.


Zahra bersedih dia hanya menunduk air matanya kembali menetes.


"Kau tau tania. Ternyata perjalanannya terhenti hanya untuk Tania. Pencarian bertahun-tahun berbuah hasil. Memang pria satu ini jika bilang A maka A tidak mungkin berubah jadi yang lain hahaha"


"Yo" tegur Zahra


"Ups sorry. Aku sungguh takjub dengan Sofian tidak pantang mundur "


"Yo bisa kau ceritakan tentang mas denganku?"


"Seperti yang aku ceritakan tadi. Dia tidak henti-henti mencarimu. Bahkan dia terkenal cowok importen karena menjauh dari cewek" jawab Dani.


"Jika kau ingin tau semuanya tanyakan saja padanya. Dia pasti jujur" lanjut Dani


"Yo"


"Emm"


"Kalau katamu yang tadi. Kenapa ia melakukan ONS?" tanya Zahra ragu.


Mendengar pertanyaan itu tawa Dani kembali pecah. "Hahahaha apa tadi Sofian melakukan apa? ONS?"


"Yo. Ini rumah sakit" tegur Zahra.


"Hahah kau lucu Tania. Apa itu Sofian yang mengatakannya?"


"Yo. bukan. Yo aku ingin tau semuanya tentangnya" ujar Zahra mengengam tangan Sofian mata Zahra tertuju pada Sofian yang masih terlelap.


"*Ke*napa kau tidak mengatakannya mas kalau kau Ian?"

__ADS_1


"Ok. Karena sering di bilang impoten dia pura-pura memilih ******" jawab Dani.


Zahra melihat Dani.


"Eh. Cuma berpura-pura. Semua jalangnya pasti disuruh tutup mata. Karena yang melakukanya bukan Sofian tapi orang lain. Aku kasian dengan ******-****** itu mengira di jelajah oleh seorang tuan Albarnista malah di jelajah orang lain. Bahkan walaupun orang lain tidak pernah keluar dalam takut merepotkan"


"Memang kalangan kami khususnya teman Sofian banyak yang suka melakukan itu. Aku bersyukur mereka tidak tau aku sama dengan Sofian yang memengang teguh wanita pertama adalah istri. Ya karena aku punya pacar sih. Jadi mereka suka mengajak Sofian namun Sofian selalu menolak. Namun akhirnya Sofian tersulut emosi dan menerima tawaran. Kukira memang terjadi. Namun paginya saat aku tanya. kau tau ia jawab apa Tania?"


Zahra tidak tau ia hanya menggelengkan kepala.


"Haahahaha.eh eh" Dani membuat ancang ancang


"Mana ada aku melakukan hal mejijikan itu (dengan wajah jijik) saya malah menutup mata dan pergi cepat jangankan melihat mendengar suara ceweknya mendesah saja aku jijik. Kau harus catat Dani dalam kamusmu Aku Sofian Albarnista hanya milik Tania seorang. Baik otak (menunjuk kepala) , hati ( menunjuk ke dada) , dan seluruh tubuhku (merentangkan tangan) semua yang aku miliki hanya milik Tania. seorang. Hahaha" ucap Dani menirukan Sofian


Sofian yang dingin ternyata bucin. Untung yang tau cuma 3 orang.


"Cuma itu yang bisa aku ceritain. Selebihnya kamu tanya saya Sofian dia akan jawab dengan jujur. Dia tau agama tidak akan melakukan itu"


"Tau agama?"


"Ya. Sofian adalah orang yang tidak pernah meninggalkan sholat. Bahkan saat meeting jika azan dia akan langsung mengaja sholat dulu"


"Benarkah?"


"Ya begitulah. Aku bingung kenapa kau tidak tau? terserah deh urusan rumah tangga kalian. Aku cuma cerita sampai sini saja"


"Baiklah terima kasih"


"Aku periksa Sofian dulu" Dani mulai memeriksa.


"Nama aslimu siapa Thio? Aku ingat nama pangilan kita diambil dari nama belakang karena kau tidak bisa er'


"Ei ia. Sekarang aku sudah bisa. Karena latihan setiap hari. Thio dari Dani Bramanthio. kalau kau Tania?"


"Tania dari Zahra Sholeha Trustania"


"Kalau Ian dari Sofian Albarnista. Karena mas Sofian tidak mau diambil ujung Albarnista yang akan jadinya biaya. Haha aku baru ingat itu sekarang" ujar Zahra.


Mendengar nama itu Dani ingat yang melamar menjadi dokter. Namum karena sebelum Sofian pergi menghapus file Zahra dan mengancamnya untuk tidak menerima. maka Dani tidak membukanya lagi


"Kau lulusan kedokteran? Aku harus pangil Tania apa Zahra?"


"Panggil Zahra saja cuma kalian yang panggil aku Tania. Iya aku lulusan dokter di Harvard. dari mana kau tau Yo?"


"Panggil Dani aja. Aku tau kau melamar menjadi dokter dirumah sakitku"


"Oh. Sofian tau?"


"Iya. Kalau tidak salah tangal 18 september deh. Pas aku dinkantor Sofian"


"Eh"


"*J*adi mas marah bukan karena keluar nerima paket tapi juga karena tau aku malamar perkerjaan"


"Bagaimana perkembangannya?"


"Berkembang cukup baik?"


"Dia pasti sembuhkan, Dan?"


"Pasti!" jawab Dani mantap.


"Kau juga masih sakit, Ra. Mari aku antar ke kamar"


Dani akan mendorong kursi roda Zahra. Namun terhenti.


"Mas, kamu sudah sadar?" tanya Zahra melihat tangannya digengam dan beralih ke mata Sofian yang masih tertutup.


"Dan, dia pengang tangan aku, Dan".


Dani melihat tangan Zahra yang masih dipengang dan dia muter ke bagian sebelahnya.


"Sof, kamu sudah sadar?"


"Mas" ucapnya lirih.


Kening Sofian mengkerut. Tangannya terangkat dan memijat kepalanya. Perlahan-lahan mata Sofian terbuka.


Sofian merasakan tengorokannya sakit dan kering.


"Apa yang sakit, mas?" tanya Zahra


Mata Sofian ke Zahra "Air"


"Kau haus ? Aku ambil dulu ya.?"


Karena panik Zahra tidak tau ada yang air di nakas disebelah Dani. Zahra berlari keluar dengam mengengam impusnya


Saat di luar ia menutup pintu dan bersender di pintu. Ia menarik nafas cepat. Kelakuan Zahra dilihat oleh anak buah yang ada di depan. Dan sekarang banyak orang.


"Nyonya ada apa?"


"Kenapa berjalan? Dimana kursi rodannya?"


"Nyonya kenapa?"


"Ada yang sakit nyonya?"


Zahra menyadarkan dirinya.


"Aku baik-baik saja. Tuan kalian sudah siuman" ujar Zahra. Semua mengucapkan syukur dan Alhamdulillah


"Lalu. Kenapa nyonya keluar?" tanya Ambri.


"Itu..Itu tuan kalian mau minum"


"Loe bukannya minum ada di nakas?" kata Kiki.


Zahra kaget dan malu.


"Kalian tidak ingin masuk?"


"Iya nyonya."


"Ayo masuk bareng"


Saat pintu dibuka Zahra malah mundur.


"Kenapa nyonya malah mundur?"


"Eh. Itu. Kalian duluan saja. Aku dibelakang"


"Kenapa? Nyonya saja didepan?" tanya Kiki.


"Em. Itu."


Ambri menepeleng kepala Kiki "Kita masukkan deluan saja"


Saat zahra keluar sudah diberhentikan Dani karena minum ada di ruangan tidak perlu keluar. Namun Zahra tidak mendengar dan lari keluar. Jujur Zahra masih merasa bersalah.


Dani memberikan minum.


"Dani. Berapa lama aku tidur? " tanya Sofian saat tenggorokan sudah mendingan.


"8 hari"


"Selama itu? Bagaimana keadaan Zahra?"


"Hehehe Aku tadi belum sempat memeriksanya" ujar Dani cengengesan.


"Selama itu kau tidak memeriksanya?"

__ADS_1


"Rumah sakitku ada masalah. Aku hanya bisa datang sebentar kesini"


"Lalu bagaimana keadaan kandungannya?" tanya Sofian lagi.


"Zahra hamil?" Dani kaget.


"Aku tidak yakin"


"Kau ya, Sof. Menemukan Tania tidak memberi tau ku. Dan menikah tidak mengundangku" omel Dani.


"Kau tau dia Tania?"


"Iya. Tadi cukup ragu"


"Kau tidak cerita macam-macam kan?"


"Macam-macam? Cuma satu macam kok"


"KAU"


Dani hanya cegengesan.


Pintu terbuka tidak lama masuk semua.


"Kalian?" tanya Sofian.


"Tuan sudah sadar?"


"Apa yang masih sakit?"


"Bagaimana keadaan tuan?"


"Emm. Sudah mendingan. Terima kasih?" jawab Sofian.


"asyukur deh. Alhamdulilah" jawab mereka kompak


"Dimana nyonya kalian?" tanya Sofian karena tidak melihat Zahra.


Zahra masuk dan bersembunyi balik tubuh besar-besar bodyguard itu.


Semua minggir tinggal Zahra dengan Ambri yang bajunya ditarik Zahra.


"Jangan minggir please tetap disini" ujar Zahra agar Ambri tidak bergerak.


"Ada apa nyonya?"


"Tidak apa-apa kau diam saja" ujar Zahra.


Ambri hanya menurut.


Melihat itu, sofian tersenyum.


"Kenapa bersembunyi? Kesini sayang" ujar Sofian.


Zahra masih diam. Apa yang harus dia lakukan pura-pura tidak merasa bersalah apa bagaimana?


"Ada apa sayang? Kau tak senang aku sadar?"


"Apak kau takut? Kau merasa bersalah sekarang?"


Zahra bergerak kesamping Ambri


"Hiks hiks aku benci kamu mas hiks hiks" ujar Zahra sambil menghapus air matanya yang mengalir.


Sofian melirik Dani "Ini gara-gara kau?" bisik Sofian


Dani hanya mengankat dua bahunya


sofian memejamkan matanya. "Kalian bisa tinggalkan kami berdua?"


Semua keluar tinggal Zahra dan Sofian. Zahra yang masih memangis dan mematung ditempat.


"Kau kenapa? Ayo kesini?"


"Zahra"


Zahra menurut dan mendekat. Sofian menepuk kasur disampingnya


Zahra duduk disitu.


"Ada apa?" tanya Sofian lembut.


"Hiks hiks aku minta maaf mas. Karena tidak mendengarkanmu dan pergi tanpa izin. Hiks hiks akhirnya kau jadi seperti ini"


Sofian melingkari kedua tangannya di pinggang Zahra yang duduk dan tidur dipangkuan Zahra.


"Itu sudah kewajiaban, mas. Untuk menjagamu. Setidaknya kamu baik-baik saja kan?"


Zahra mengusap rambut Sofian.


"Aku juga marah sama kamu, mas. Kenapa tidak jujur kalau kamu Ian kecilku" ujar Zahra yang tidak menangis lagi.


Sofian menogak melihat wajah istrinya.


"*I*ni pasti ulah Dani? kau lihat saja, Dan"


"Aku tidak berbohong denganmu cuma tidak mengatakannya"


" Tetap saja"


Sofian memendamkan wajahnya diperut istrinya. Zahra membelai rambut Sofian lembut.


"Aku senang, Mas. Kamu sadar."


"Em. Bagaimana dengan anak yang kamu katakan sebelum pingsan?" tanya Sofian dengan posisi yang tidak berubah.


"Mereka baik, mas. Mereka pasti senang ayah mereka sudah sadar"


"Benarkah? Aku tidak salah dengar kan?" Sofian melihat wajah Zahra tidak ada kebohongan disana.


"Benar. mereka hebat"


"Mereka?"


"Iya kembar" Zahra mengusap perutnya.


"Ayah sudah sadar sayang"


"Kembar? Aku akan jadi ayah anak kembar?"


"Iya sayang. Kau akan jadi ayah anak kembar"


Zahra menusap rambut Sofian.


Sofian kembali memeluk Zahra dan memendamkan wajahnya ke perut Zahra sesekali menciuminya.


"Yang sehat ya nak. Ayah tunggu di sini" ujar Sofian.


Sofian mengeser tubuhnya dan menepuk-nepuk bantalnya.


"Sini. Kau juga butuh istirahat?"


"Tapi mas ini rumah sakit"


"Biarin. Kau juga butuh istirahat. Tidurlah. Aku rindu kamu"


Zahra menurut dan tidur membenarkan 2 infus ditangannya dan Sofian agar tidak berbahaya. Untuk bagian yang lain yang melekat pada Sofian sudah dilepas oleh Dani saat Sofian sadar.


Sofian memeluk Zahra tangan infusnya diatas. Mencium pipi istrinya lalu mencium singkat bibir zahra.


"Kau semakin cantik saja" ujar Sofian dan memenamkan wajahnya di tekuk leher Zahra

__ADS_1


Lemudian mereka lelap ke dunia kapuk mereka.


Dani yang mau masuk diurungkan melihat sejoli yang sedang tidur dengan berpelukan.


__ADS_2