
khusus 21++ autor tidak tanggung jawab ok 👌👌
Sebulan pernikahan berlalu.
Hubungan Zahra dan sofian semakin dekat. Zahra akan menyiapakan sarapan, makan siang dan malam. Sofian akan pulang makan siang dan tidak pulang larut malam, sehingga ia bisa makan malam bersama Zahra.
Tidak sekalipun Zahra keluar rumah. Ia takut pada Sofian. Dia takut Sofian akan melukai keluarganya.
Sofian tidur hanya memeluk Zahra dengan menahannya sekuat mungkin hasratnya.
Zahra bosan dan membaca artikel di hpnya. Tanpa sadar terbuka link dokter. Zahra teringat mimpinya menjadi dokter dan tersadar dirinya bahkan tidak bisa keluar dari rumah ini. Raut sedih Zahra tampakkan
"Aku lulusan dokter harvard univerity namun terkurung di rumah tanpa bisa berbuat apa-apa? " terlintas dipikiran Zahra.
"Apa aku melamar perkerjaan saja? tapi bagaimana? Ya. Aku akan cari perkerjaan diinternet saja. Bagaimana jika aku keterima? Apa..? Akh tidak perlu dipikirkan asal sudah keterima dulu."
Zahra membuka mencari lowongan.
3 hari kemudian
Dikantor Sofian. sof Effendiian sibuk dengan berkasnya dan merasa kesal karena ada yang membuka pintunya. Sedangkan ia sudah bilang pada sekertarisnya untuk tidak mengijinkan siapapun masuk.
Sofian mendongak dan kaget.
"Kapan kau kembali kesini?" tanya Sofian pada orang itu.
"Aku baru sampai. Aku dari bandara langsung kesini" kata orang itu lalu duduk di sofa.
"Aku belum mengijinkan kamu duduk" sarkas Sofiaan dan berdiri mengambil minuman dingin di kulkas.
"Ish kau ini. Aku lelah"
"Emang kau kira aku peduli" kata Sofian dan melempar minuman dingin kepada orang itu.
Sofian membuka minuman dinginnya dan meminumnya.
"Lalu kenapa kau kesini. Bukannya pulang?" tanya Sofian seakan mengusirnya dan duduk di depan orang itu.
Orang itu membuka kaleng minumannya dan meminumnya. "Ah segar sekali. Aku kesini mau meminta penjelasanmu"
"Penjelasan?"
"Ya. Karena kamu tidak mengangapku. Bagaimana bisa kau tidak mengundangku dipernikahanmu?"
"Ah. itu pernikahan mendadak"
"Tetap saja. Brengsek. Aku temanmu"
"Emm. ya elah diundang juga kau tak datang" jawab Sofian.
"Ehehehe kau selalu mengerti diriku" jawab Dani sambil cengengesan. Dani adalah teman dari sofian SD-SMA namun mereka harus berpisah di universitas. Sama-sama di Harvard university namun beda jurusan dani kedokteran sedangkan Sofian manajemen akutansi. Namun mereka sangat dekat.
"Ya. kau pasti tau setelah hari pernikahanku. nyatanya kau baru datang sekarang. Bahkan jarak kita tidak berbeda jauh. Pernikahanku juga sederhana" jelas Sofian
Dani berjalan mendekati Sofian dan merangkulnya.
"Apa kau sudah membobolnya?" tanya Dani cengengesan
"Ya..tentu"
"Wish. Selamat bro akhirnya..."
"Apa ada lagi? Aku banyak kerjaan" potong Sofian dan menghepas rangkulan Dani.
"Ist. bro tunggu dulu. Vagaimana istrimu? cantik?"
sofian menatap tanjam ke Dani. Dani yang tertatap terasa terintimidasi
"Santai bro. Kamu masih sama saja seram"
"Apa sudah gol?" lanjut dani.
"Baru sekali." jawab singkat Sofian.
"Apa baru sekali? ini sudah sebulan bro. Aku mungkin sudah ratusan kali" jawab Dani bangga.
"Diam kau! berisik"
"Tapi yang aku tau kau memaksanya untuk menikah?"
"Emm"
"Kau mencintainya?" tanya Dani penuh harap
"Mungkin" jawab Sofian. Sebenarnya Sofian tidak ingin menjawab
"Aku juga dengar awalnya kau menculiknya dan dia berencana kabur?"
"Sepertinya mata-matamu banyak, Dan?"
__ADS_1
"Ish. Kau mau tau agar dia tidak berniat kabur" jawab dani bangga
"Apa?" jawab sofian
"Buat dia mengandung anakmu. Dia akan bertahan demi anaknya"
"Aku tidak berminat. Istriku berbeda. Aku sudah menyentuhnyan aku jamin dia tidak berani kabur"
"Kau..."
Ring ring (hp Dani). Dani mengankat hp nya
"...."
"Ya. Ada apa?"
"....."
"Aku sedang diluar kota. Kirimkan saja ke e-mail aku akan memeriksanya. Lusa aku akan kembali"
"..."
Dani menutup telpon.
"Sebaiknya kau pergi. Aku banyak kerjaan" usir Sofian.
"Ish kau" Dani berjalan ke meja kerja Sofian dan duduk di kursi kebesaran Sofian.
"Apa-apaan kau!" bentak Sofian.
"Ku pinjam sebentar laptop mu. Aku mau memeriksa kiriman e-mail. Sebentar. Tidak akan lama"
Sofian berjalan mendekati Dani.
"Rumah sakitmu mencari orang?" tanya Sofian melihat data diri lamaran yang dibuka Dani.
"Ya. aku hanya mendownloanya dan memasukan ke hp. Aku lebih suka mendownload di laptop" jelas Dani dan mendownload.
Sofian hanya melihat. Saat Dani membuka hasil download mata Sofian melihat nama salah satu file.
"Tunggu" kata sofian memberhentikan mouse Dani.
"Ada apa?"
"Naikan ke atas sedikit" perintah Sofian dan dani menaikan mousenya.
"*M*ungkin namanya saja" batin Sofian.
"Coba kau buka file ini" kata Sofian menunjuk file Zahra..
Terpampang semua dari CV, nama lengkap dan poto Zahra.
"Kapan file ini di kirim ke rumah sakit?" tanya sofian tetap terus melihat CV itu
"Kami membuka pendaftaran 2 minggu lalu dan tutup kemarin" jawab Dani dan melihat nama di CV yang ada di leptop "Zahra Sholeha Trustanian?" baca Dani di dalam hati.
"BRENGSEK!" teriak Sofian dan menarik semua yang ada di sebelah kiri tangannya. berkas yang ada semua berserakan.
Dani hanya menatap Sofian dan kembali ke laptop. "Siapa wanita ini? apa istri Sofian"
"Jangan bilang, ini istrimu?" tanya Dani takut. dia tau temannya ini berubah jadi iblis jika marah.
"DIAM!" bentak Sofian.
"Aku akan keluar. Jika kau selesai tutup saja ruangan ini" kata Sofian keluar ruanganya dengan amarahnya.
Sofian keluar tanpa melihat kanan dan kiri langsung ke parkiran. Pikirannya telah membuncak . "Apa uang uangku belum cukup? beraninya wanita ini. Aku beri kesempatan ia malah menghinaku"
Sebelum sampai rumah. Hp Sofian berdering tanda pesan masuk. Sofian membaca pesan itu rahangan nambah meneras melihat pesan yang masuk. "Kurang ajar!"bentak Sofian sambil memukul kemudi dan mempercepat laju mobilnya.
Zahra di dalam rumah sedang menonton lalu tiba-tiba bunyi bel. "Siapa? mas Sofian? ah tidak ia akan langsung masuk tanpa salam"
2 menit berlalu namun tidak ada yang mebuka pintu bunyi bel terus berbunyi. "Kemana semua?" Zahra melihat sekeliling tidak ada orang.
Jadi zahra membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Zahra pada lelaki bertopi itu. Zahra yakin ini kurir paket.
"Saya mengantarkan paket atas nama tuan Sofian" jawab kurir itu
"Baiklah. Aku istrinya" Zahra mengambil paket itu dan menanda tangani bagian yang ditunjuk kurir itu.
Sampai di depan Sofian nambah marah karena melihat zahra di depan rumah sedang mengobrol dengan seseorang.
Sofian turun cepat dari mobil
Zahra melihat sofian. "*D*ia sudah pulang ini masih jam 9.00. Apa ada yang tertinggal?" kata Zahra sebelumnya ia melihat jam 8.50 sebelum keluar.
Setelah kurir itu selesai ia langsung pergi.
__ADS_1
Sofian menarik tangan Zahra masuk.
Zahra meringis sakit dan mencoba melepaskannya namun kekuatan Sofian lebih kuat dibandingkan Zahra. Zahra mencoba mengimbangi langkah Sofian agar tidak jatuh dan diseret.
Sofian langsung melempar Zahra ke kasur dan menindihnya.
"A..da apa?" tanya Zahra takut.
"Kau suka sekali ya Zahra menentangku. Apa kau tidak ingat perintahku jangan keluar rumah" kata Sofian dengan wajah yang menakutkan bagi Zahra.
"*J*adi dia marah karen aku keluar tadi?"
"Kenapa kau diam? Apa kau berniat kabur?" tanya sofian lagi
"Aku han..ya....emm" ucap zahra terpotong karena sofian telah menciumnya.
Zahra memberontak ia memukul dada Sofian dan mendorong Sofian kuat. Sofian sedikit terdorong dan terlepas ciumannya.
"Apa kau marah karena kau diam didepan pintu? aku.. hmp"lagi lagi sofian menciumnya
Zahra memukul-mukul dada Sofian. Sofian mengambil kedua tangan Zahra dan menguncinya dikepala Zahra.
Sofian mencium zahra dengan kasar.
Saat nafasnya habis Sofian melepaskan pautanya.
"Aku mohon... ada apa denganmu?" tanya zahra sambil menangis.
Sofian kembali mencium Zahra. Amarah telah memenuhi Sofian lagi. Tangan satunya Sofian telah masuk ke baju Zahra dan mengelus ngelus perut Zahra. Bibirnya terus ******* bibir zahra.
Tanganya melepaskan tangan Zahra. Zahra membali memukul-mukul Sofian. Sofian kembali mengunci tangan Zahra diatas kepala Zahra.
"Sepertinya kau memang suka dikasar Zahra" sarkas Sofian.
"Sof... emm" sofian kembali mencium zahra.
Tangan sofian membuka laci dan mengambil borgol. Ia memborgol tanggan Zahra keranjang tanpa melepas pautanya. Zahra hanya menangis."*Ra*sanya tidak sama. Ini sakit bibirku serasa pecah"
setelah sofian memborgol. sofian menarik kerudung zahra
Zahra ia turun mencium leher zahra.
"Ku mohon sofian...." kata zahra terpotong karena Sofian memasukaan lain kemulut (itu jilbab Zahra) Zahra agar tidak menganggunya.
jadilah kejadian panas kasar Sofian pada Zahra. Sofian tidak mempedulikan tangisan Zahra
"Kau menghancurkan kepercayaanku mas"
Zahra kemudian tersungkur. Sofian kaget melihat Zahra meringkul tak sadari diri.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Sofian pada dirinya seakan baru sadar.
"Zahra" panggil Sofian pada Zahra. Zahra hanya diam.
Sofian melihat tubuh zahra yang penuh luka dari kissmarknya. "Aku yang melakukan ini semua?"
"Zahra. bangun Zahra" panggil Sofian lagi dan menepuk pipi Zahra. Zahra tetap diam.
Sofian mengambil handpone ya dan menelpon dokter Ariela untuk kerumahnya.
Setelah itu, ia mengenakan baju dan membantu Zahra mengenakan baju dan hujan sebelum dr. datang.
Aokter datang
"Ada apa ini, sof?" tanya Ariela dokter pribadi teman Sofian.
"Periksa dia" perintah Sofian dingin. Jujur dia takut dang kawatir
"Kau apakan dia sof? dia kelelahan. Dia menangis? Kau memaksanya?" tanya Ariela pada sofi.an
"Kau tau kan? kalau aku marah aku kadang lupa" jawab Sofian sedih.
Ariela memasang infus dan menyuntikan beberapa suntikan di botol infus Zahra.
"Kau harus bisa menahan emosimu. Jika kau tak ingin ini terjadi lagi" kata ariela
"Bagaimana keadanya?"
"Dia shok dan sangat lelah. Dia perlu istirahat. aku menyuntikan obat tidur. Mungkin besok dia sadar"-jelas ariela
"Amarahmu akan membunuhnya. Jadi kau harus belajar mengendalikannya" ujar Ariela
"Ini obat yang perlu kau tebus. Biarkan dia istirahat 2-3 hari. Aku pergi" kata Ariela dan memberikan kertas resep ke pada Sofian.
Ariela menepuk pundak Sofian "jaga dia. Dia wanita baik-baik" ujarnya sebelum keluar.
"Dia memang wanita baik-baik, Ariela"lirih Sofian.
Sofian mendekati zahra mengecup keningnya. Sofian memilih tidur disamping Zahra dan memeluknya.
__ADS_1