
Setelah selesai waktunya makan siang.
"Dengan Albarnista grup?" sapa Badrun pada HP kantornya.
"Drun. Tolong belikan saya makan siang 3 seperti biasa"
"3 tuan?" Badrun memastikan.
"Iya. Jangan lama aku sudah lapar" perintah Sofian.
"Baik tuan."
Dengan binggung badrun memesan makanan online. Tumen tuanya itu tidak pulang makan siang ada kerjaan apa di dalam ruangannya itu sampai tidak pulang? Apalagi 3 porsi untuk siapa saja coba? iya biasanya tuannya itu tidak pernah membeli makanan untuk dirinya sendiri tapi Badrun juga dibelikan tapi kan hanya 2 orang. Siapa lagi satunya?
Badrun belum tau kalau ada Zahra. Karena saat ia sampai di lantai 33 kekacauan tadi telah di bereskan. Hanya ia sedikit bingung tidak ada Wanda.
Beberapa menit kemudian
tok tok tok
"Tuan makanan sudah sampai" kata Badrun dari balik pintu ruangan bosnya itu.
Sofian berdiri akan mengambil makanan
"Biar aku saja, mas" kata Zahra.
"Tidak usah. Aku saja Zahra" Sofian membuka pintu sedikit hanya cukup dirinya saja. Badrun hendak masuk namun di berhentikan oleh Sofian.
"Bawa sini makananya" Sofian mengulurkan tangan.
"Baik tuan"
"Satunya punyamu"
"Terima kasih tuan" Badrun mengambil satu kotak makanan.
"Satu lagi kumpulkan semua karyawan di bawah 1 jam lagi. Aku ada penggumuman penting"
Sofian kembali masuk dan menutup pintu. tidak lupa menguncinya dan tidak lupa Badrun yang ditinggalkan binggung.
Sofian meletakan makanan di meja. Zahra langsung merapihkan dan menyiapkannya.
Zahra langsung melahap makananya dia benar-benar lapar. Zahra berhenti makan karena melihat Sofian belum menyentuh makanannya.
"Ada apa?" tanya Zahra.
"Tidak ada apa-apa" ucap Sofian cuek.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa tidak makan?"
"Soalnya istriku makan sendiri."
"Ayolah mas. Aku lapar"
"Males. Makan sendiri saja sana" Sofian menampakan wajah kesalnya. Namun bagi Zahra, Sofian seperti anak kecil yang minta permen.
"Baiklah mas. Kau mau apa sekarang?"
"*Pe*ka kek zahra aku mau disuapin"
"Tidak ada"
"Apa aku melakukan kesalahan mas? Jika iya aku minta maaf"
Sofian tersenyum melihat Zahra yang mulai bingung.
"Sepertinya mobil sudah selesai. Sepertinya aku pulang saja" ujar Zahra dan mau pergi namun tangan Zahra diraih Sofian. Sofian menarik tangan Zahra hingga Zahra duduk dipangkuan Sofian.
__ADS_1
Zahra takut yang tadi terulang. Jujur Zahra belum mencintai suaminya ia hanya menjalankan tugas sebagai istri yang tidak bisa ia tolak.
"*A*ku tau zahra, aku belum ada di hatimu. Aku akan membuatnya ada. Hanya aku yang berhak atas dirimu. Zahra" batin Sofian.
"Ada apa, mas?" tanya Zahra senetral mungkin.
"Kau mulai nakal, Zahra"
"Maaf?"
"Kau mau meninggalkan suamimu tanpa izin? dan suamimu ini belum makan dan punyamu juga belum habis"
"Jadi mas mau apa sekarang?"
"Makan"
"Baiklah ayok kita makan"
"Aku mau kau suapi"
"Baiklah"
Zahra hendak bangun namun dipeluk Sofian erat. Tangan Sofian erat memeluk pingang Zahra.
"Suapinya di pangkuan ku saja Zahra"
Zahra kesal namun hanya pasrah.
"Seterah kau saja" jawab pasrah Zahra.
Zahra menyendok makanan
"Aaa" Zahra menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Sofian. Sofian tersenyum dan memakanan makanannya.
Sampai makanan habis.
"Kau bareng aku saja"
"Mas tidak lanjut kerja"
"Tidak. Aku ingin pergi ke supermakert saja bersama mu"
"*K*enapa rasanya tidak rela kau keluar dari kantor ini. Aku ingin kau bersamaku di rumah dan di kantor"
"Zahra besok kau mulai kerja"
"Kerja? Dimana?"
"Disini bersama ku"
"Tidak. " tolak zahra
"jika bersama Sofian sepanjang hari aku bisa mati kelelahan"
"Kenapa? Kau tidak ingin kerja bersama ku?" tanya Sofian tidak suka
"Apa aku melakukan kesalahan? bagaimana kalau dia ? matilah aku" batin Zahra.
"Mas aku kan tidak melamar kesini. Lagipula aku lulusan kedokteran bukan manajeman dan apa kantormu ada bagian yang kosong?"
"Memang kenapa kalau kedokteran? Dan bagian yang kosong aku bisa membuatnya."
"Mas. aku tidak mau mengambil punya orang"
"Memang siapa yang akan kau ambil?"
"Kau jadi sekertaris pribadiku."
__ADS_1
"Kau belum ada sekertaris?"
"Ada Badrun." jawab Sofian santai
"Kau akan memecat Badrun?"
"Ha? Tidak aku tidak akan memecat Badrun dia seperti adikku"
"Lalu?"
"Ya. kau kerja sebagai sekertaris sekaligus istri dan juga bos. Kau akan membantuku dalam semua hal. Bagaimana?" jelas Sofian tersenyum.
Zahra hanya diam.
"Kau harus mau, sayang" tegas Sofian.
"Baiklah. Kapan aku kerja?"
"Mulai besok."
"Iya" jawab Zahra pasrah.
Sofian memarik tangan zahra "Ayok keluar"
Crek. Pintu terbuka Zahra dan Sofian keluar. terlihat Badrun yang sedang duduk langsung berdiri.
"Jadi ini pekerjaan pentingnya. Nyonya ada di dalam pantas saja di kunci. Tidak mau diganggu nih?" gumam Badrun sambil tersenyum melihat tuannya
"Sudah kau kumpulkan?" tanya Sofian
"Sudah tuan mereka ada diluar."
Badrun membukakan pintu dan mempersilahkan bos dan istri bos keluar.
Zahra keluar dengan masih di gandeng Sofian.
Zahra bingung "Kenapa banyak orang?"
"Mas. Ada apa?" bisik Zahra.
Para karyawan berbisik ada yang bingung, suka dan tidak suka. Mereka berbisik pelan namun Zahra masih bisa dengar
"Bos selalu ganteng"
"Siapa wanita itu?"
" Mungkin adiknya bos?"
"Eh. Bukannya bos anak tunggal"
"Jangan..Jangan keponakannya. Bisa jadi kan? Jika istri engga mungkin banget deh"
"Aku juga yakin bukan istrinya bos"
"Tapi kenapa digandeng bos?"
"Lalu kemana Wanda? Kok aku engga lihat?"
"Aku nyakin bukan istri bos. lihat aja penampilannya"
"Kalian bisa diam. Ribut sekali" bentak Sofian
semua langsung menutup mulut rapat-rapat.
"Aku mau memperkenalkan dia Zahra Soleha Albarnista istriku. Dan ia akan kerja dikantorku. Mulai besok"
Sofian menarik tangan Zahra keluar kantor. meninggalkan karyawannya yang bingung ada yang komentar tidak suka dan ada yang suka.
__ADS_1