SISTEM

SISTEM
CHAPTER 46


__ADS_3

Pesawat terbang mengangkasa meningalkan kota Jakarta, Steve beserta adiknya duduk


di kursi VIP, dia tidak inggin adiknya berdesakan di bangku ekonomi class


Hana dan lara berbincang dan tertawa gembira, hati Steve senang melihat kondisi mereka


walau jauh direlung hatinya ada sedikit perasaan terluka meningalkan Tiara, tapi biarlah


demi kebahagian adik adiknya.


Mata Steve mulai terpejam antara mengantuk dan sadar, perjalanan kali ini cukup panjang


sekitar delapan jam menuju Beijing. pesawat yang semula tenang mengalami turbulensi,


pesawat memasuki awan comulus.


Teriakan para penumpang dan suara pramugari yang berusah menenangkan tumpang


tindih jadi satu, setelah dua puluh menit keadaan kembali normal, tapi di bagian depan


ruangan VIP seorang gadis cantik mengeluh dan sambi meremas dadanya jatuh tak


sadarkan diri.


Asisten si gadis cantik kelihatan panik dan meminta pertolongan pada pramugari, tetapi


pramugari juga bingung dengan kondisi gadis tersebut, mungkin jika sakit kepala atau flu


biasa pramugari bisa mengatasiny dan merawatnya, tapi jika penyakit seperti sudah di


luar pengetahuan pramugari.


Wajah gadis cantik semakin pucat dan tubuhnya mulai dingin, asisten menjerit dengan


pilu, dia takut terjadi hal yang tidak diiginkan, bagaimana nanti dia harus bertanggung


jawab pada keluarga nonanya ini.


Dengan cepat pramugari mengumumkan kepada penumpang agar yang berprofesi


sebagai dokter bisa tolong membantu ke ruang VIP.


Seorang pria sudah berumur mendatangi ruang VIP dan segera memperkenalkan diri


sebagai seorang dokter ahli.


Kebetulan saya seorang dokter, saya bisa membantu anda menangani pasien " ujar si


dokter tanpa membuang waktu lagi, dia bisa menilai keadaan nona muda ini sudah masuk


gejala tanda kegagalan jantung.


Pramugari dan asisten segera memberikan tempat agar si dokter bisa mengobati, dokter


memeriksa denyut tangan si nona muda dan memperhatikan pada bagian jantung, dia


berkata pada pramugari kita harus segera mengoperasinya kalau tidak nona muda tidak


bisa diselamatkan.


Asisten nona muda menangis dan memohon kepada dokter agar bisa melakukan


pencegahan dini sampai mereka landing di bandara


'Maafkan saya kondisinya sudah sangat kritis, kita hanya bisa berdoa semoga dia bisa


bertahan " pun jika dilakukan operasi di pesawar mereka tidak memiliki alat untuk operasi.


'Mohon maaf, saya rasa bisa mengatasi keadaan pasien' dia melihat dengan iba kondisi


pasien yang sudah tidak berdaya dan menungu maut datang menjemput

__ADS_1


Apakah anda seorang dokter tanya si dokter heran bagaimana tanpa peralatan bisa


mengobati sigadis, dia saja termasuk dokter ternama di Beijing dan internasional tidak


mampu dan berdaya apalagi pemuda ini


Saya bukan seorang dokter, tapi saya termasuk ahli pengobatan tradisional, jika anda


tidak mampu dan tidak punya cara mengobati pasien bukan berarti saya sama dengan


anda tatap Steve dengan tajam ke arah sidokter, dia tahu dokter ini meremehkan dan dan


merendahkannya


Dokter dan pramugari akhirnya berdiri dan memberi tempat kepada Steve, toh tak ada


salahnya dicoba pasien juga sudah memasuki tanda kematian.


Steve melakukan diagnosis dan melihat pembengkakan pada jantung nona muda, dengan


segera dia mengeluarkan jarum perak dengan menusuk bagian jantung, kaki dan kepala,


setelah dirasa cukup dia melepaskan jarum dari tubuh pasien


"Ahhh, kenapa aku." desah nona muda yang kembali berangsur angsur pulih dan sadar


kembali


Dokter, pramugari serta penumpang memandang takjub apa yang sudah dilakukan oleh


Steve mereka memuji dan bertepuk tangan, sementara Steve menunduk dan tersenyum


ramah.


" Nona anda mengalami sesak nafas dan sempat tidak sadarkan diri " ujar si asisten yang


Sudah merasa tenang


anda terasa dingin, dia mengobati anda dengan jarum perak" pramugari juga ikut


menjelaskan kronologisnya


Nona muda kemudian menatap Steve, dia melihat sosok permuda tampan yang menawan,


tersenyum dengan lembut kepadanya, tanpa sadar dia juga tersenyum ke arah Steve


" Terima kasih atas pertolongan tuan, saya Shu qian " dia mengulurkan tanganya


" Sama sama nona, cuma kebetulan saja, saya Steve, nona mengalami pembengkakan


jantung yang dipicu oleb turbulenci serta tekanan udara di pesawat, seharusnya untuk


kondisi nona tidak bisa melakukan perjalanan jauh" papar Steve menerangkan kondisi


Shu gian.


Shu qian takjub dengan analisis dari Steve memang dia mengalami penyakit jantung


bawaan, dia baru saja pulang dari Bali dan mau balik ke Beijing, dia takjub dengan cara


pengobatan yang dilakukan oleh pemuda tsb.


Apapun itu saya berterima kasih kepada tuan, bagaimana saya harus membalas tuan


Tidak apa apa, lupakan saja" ujar Steve sambil kembali ke kursinya dan melihat kedua


adiknya yang masih tertidur, sambil membetulkan selimut mereka Steve berusaha tidur


kembali.


Pesawat mendarat dengan sukses di bandara Beijing, Jennet sudah menungu kedatangan

__ADS_1


mereka, Hana dan lara berlarian memeluk Jannet mereka rindu setelah hampir satu bulan


berpisah, Steve tersenyum melihat tingkah mereka seperti anak anak.


Selamat datang di Beijing bos, semoga perjalanan anda menyenangkan, semua sudah


diatur disini " terang Jannet sambil membawa koper Steve.


" Kerja yang bagus Jannet" suasana hari Steve sangat senang, tidak salah dia menjadikan


Jannet sebagai sekretarisnya, Jannet sangat cekatan dan bisa diandalkan


Mereka segera masuk ke mobil yang sudah disediakan dan meluncur pulang ke rumah


yang sudah dibeli oleh jannet.


Di dalam mobil Jannet sudah menyelaskan semua yang sudah dilakukan termasuk


mendaftarkan Hana dan lara ke sekolah dan kampus elit di Beijing, Jannet memilih


kampus dan sekolah internasional yang mengunakan bahasa inggris sebagai bahasa


utama belajar dan mengajar.


Akhirnya mereka sampai, mereka memasuki kawasan elit, dan berhenti disebuah vila yang


luas dan megah


"Kakak jannet apakah ini rumah kita" tanya Hana dan lara serempak, mereka sangat


senang melihat kondisi vila bagaikan istana yang terdapat dalam novel romance


Jannet tersenyum dan membelai rambut Hana dan lara, dia mengangukan kepalanya


sejak tinggal di Jakarta Jannet sudah mengangap Hana dan lara seperti adiknya sendiri,


demikian juga sebaliknya, tak ada perlakuan berbeda mereka seperti tiga saudari


perempuan bagi Steve.


Turun dari mobil tiga anak gadis berlarian ke halaman yang penuh dengan bunga yang


cantik, mereka berputar putar bagai seorang putri.


Dalam hati Steve pun takjub dengan pemandangan dan vil ini dia tidak menyangka Jannet


bisa membeli villa yang kelihatannya terawat dengan baik.


"Ayo masuk dulu ke dalam tuan putri yang cantik" canda Steve kepada mereka bertiga.


Villa ini cukup luas, terdiri dari lima kamar tidur, ruangan kerja, ruangan pustaka, ruang


pertemuan, dan ruangan penyimpanan, Hana dan lara mendapatkan kamar yang sudah di


hias oleh Jannet sesuai selera mereka


Pelukan dan ciuman tak henti mereka berikan pada Jannet, Steve terbahak bahak melihat


Jannet cemberut karena wajahnya ternoda oleh lipstik, tapi sebenarnya Jannet sangat


bahagia


Belum cukup kejutan dengan kondisi kamar yang luar biasa, Jannet membawa mereka ke


garasi mobil, di dalam garasi mobil empat mobil sport terpampang dengan megah dan


angkuh


Hana dan lara menjerit kecil dan menutup mulut mereka, kejutan dari Jannet diluar


ekspatasi pikiran mereka, dua bocah ini kembali menodai wajah Jannet dengan ciuman

__ADS_1


lipstik mereka..


__ADS_2