Sistem Kecantikan [Pendamping]

Sistem Kecantikan [Pendamping]
CHAPTER 12


__ADS_3

Sekolah Elit Young Lan.


[Villa pribadi no.17]


Suara decitan ranjang menggema disebuah kamar mewah yang sekarang tampak berantakan.


Sepasang pria tampan dan pria cantik tengah melakukan kegiatan panas dengan pria yang lebih tinggi menekan pria cantik yang sekarang ini dalam keadaan kacau di ranjang yang mungkin muat untuk sembilan orang.


"Enghh... pelan sedikit!" Pria cantik itu berkata dengan keluhan.


Matanya yang besar dan merah menatap marah dan sedih pada pria tampan yang sekarang tengah mencoba menekannya lebih keras.


Plak!


"Ouuhh..." pria cantik itu mengangkat kepalanya keatas dengan memperlihatkan lehernya yang ramping seperti angsa dan melenguh ketika pria tampan yang berada diatasnya memukul pant*tnya.


"Pelan? Siapa yang diam-diam menyalakan api ketika kelas tengah di mulai, hm? Bukankah aku sudah mengatakan untuk berhenti merayuku, rubah kecil?"


Pria tampan dengan mata tajam itu menatap menggoda pada kekasihnya yang kini tengah menatapnya semakin kesal.


"Murong Hao!" Pria cantik yang dipanggil rubah kecil itu sangat marah. Baj*ngan ini!


Hentak!


"Ghaakkhhhh... hahh... hahh..." Pria cantik itu terengah-engah ketika Murong Hao yang menjadi kekasihnya menekan bagian bawahnya dengan keras.


Murong Hao tidak peduli dengan kemarahan pacarnya, dia memajukan dan memundurkan badannya dengan keras bersamaan suara lenguhan yang keluar dari bibir merah kekasihnya seiring kecepatan memacu mereka semakin cepat.


Seringai aneh membentuk di sudut mulut Murong Hao.


"Umphhh... huhh..."


Murong Hao mencengkram rahang pria cantik itu, ******* bibirnya rakus. Lidahnya menyelusup ke dalam celah mulut hingga air liurnya tumpah dan meluncur menuruni dagu halus menuju leher ramping pria cantik itu.


Tangannya dengan lembut memilin bola merah kecil di dada kekasihnya. Sesekali menekannya dengan pelan dan kasar.


"Sayang... kamu milikku, mengerti?!" Murong Hao berkata dengan lembut namun dominan.


Tangannya meremas pipi pria dibawahnya dan mengecup leher jenjang yang tampak penuh dengan tanda kemerahan di banyak bagian. Tangannya yang kokoh menggosok tubuh indah dibawahnya, dari perut menuju pusar lalu kebawahnya.


Tangan itu memegang benda milik pria cantik itu yang tampak lebih mungil ditangannya, sehingga mau tidak mau pria itu mendengus ringan.


"Uhh... t-tidak... kamu l-lepas... hah..."


"Hm? Kamu mengatakan sesuatu? Aku tidak mendengarnya." Murong Hao menyipitkan matanya dengan tenang, tangan yang memegang benda dibawah itu menggosoknya ke atas kebawah pelan dan penyatuan mereka dibawah masih belum berhenti berguncang.


"Huh... hmphh... uhh... pelannhh... ahh... hah... b-berhenti..."


"Huh, berhenti? Itu tidak mungkin, bukankah kita berdua sudah terbiasa bermain? Aku akan membuatmu puas hari ini." Dia tersenyum tipis dan sedikit bersemangat melihat kekasihnya tampak bekerja keras menahan untuk tidak meledak.


Jika seseorang melihatnya lebih dekat, mata tajam Murong Hao menatap pria cantik dibawahnya lebih lembut dan memanjakan, tapi juga ada rasa sakit yang amat dalam dan kesusahan samar.


Bahkan kesedihan yang tak dapat dijelaskan.


Murong Hao berbisik pelan dengan suara serak namun penuh kelembutan: "Duan Yi, kamu milikku. Tubuhmu, hatimu, jiwamu dan semua yang kau miliki sekarang, semuanya milikku!" Matanya yang tajam perlahan mendingin.


"Ingat itu." Gumamnya dengan tangan membelai wajah cantik kekasihnya.


"Uh... kamu berisik!"


Pria cantik itu sangat kesal dengan ucapan kekasihnya karena ini yang 17 kalinya dia mengatakan hal yang sama.


Tidak, lebih tepatnya setiap kali mereka berhubungan diatas ranjang, pria ini selalu mengatakan hal yang sama berulang kali.


Seolah-olah dia ingin menghipnotisnya dan mengingatkannya bahwa dia telah menjadi milik pria ini.


Huh, keparat yang suka membual!


Dia pikir dia ini siapa?


Hubungan mereka terjalin karena dua keluarga mereka menjodohkan mereka melalui pernikahan bisnis.


Dia, Duan Yi adalah tuan muda kedua dari keluarga Duan, salah satu 10 keluarga teratas China.


Dan yang sekarang ini berada diatasnya adalah Murong Hao. Tuan muda kelima keluarga Murong, salah satu keluarga tersembunyi.


Ayahnya, Duan Ji merupakan seorang pebisnis yang kuat. Dan keluarga Duan juga sangat kaya, namun kaya saja tidak cukup, karena banyak keluarga besar lain telah meningkatkan kekuatan mereka secara finansial melalui segala cara.


Hal ini membuat ayahnya Duan Ji merasa khawatir jika keluarga Duan-nya akan segera tersingkir dari daftar 10 keluarga teratas.


Karena itu, demi mengamankan kedudukannya dia menggunakan segala cara untuk menghubungi salah satu keluarga tersembunyi yang memang sangat terkenal akan kekuatan mereka yang mengerikan.


Keluarga Murong adalah yang paling mudah dihubungi di antara beberapa keluarga tersembunyi, walaupun tidak sekuat keluarga Nangong, namun mereka setidaknya mampu bersaing dengan kekuatan keluarga Jiang yang mengendalikan kekuatan militer negara.


Namun setelah melakukan pendekatan, ayahnya menyadari bahwa keluarga Murong tidak mau menjodohkan anak perempuan di keluarga mereka.


Hanya Murong Hao dan Murong Hu yang menjadi pilihan ayahnya.


Karena keduanya adalah anak haram keluarga Murong. Semua orang dalam keluarga Murong menolaknya.


Namun kepala keluarga Murong sangat menyayangi Murong Hao karena dia jenius.


Tapi karena khawatir cucunya tidak menemukan pasangan yang baik dan umurnya juga sudah tua dan takut masa depan cucunya terhalang oleh keluarga Murong, makanya kepala keluarga Murong menggunakan syarat ini yaitu membiarkan salah satu anak keluarga Duan dijodohkan dengan cucu kesayangannya ini.


Ayahnya merasa ragu.


Dia bukan orang bodoh, dia juga ingin mengetahui manfaatnya, karena tahu umur kepala keluarga Murong tidak lama, dukungan untuk keluarga Duan juga hanya akan bertahan sebentar.


Karena Murong Hao tidak memiliki pengaruh terhadap keluarga Murong. Anggota keluarga Murong pasti akan mengabaikan mereka dikemudian hari.


Kepala Keluarga Murong juga membuat janji bahwa 20% kekuatan yang di miliki keluarga Murong akan diberikan pada Murong Hao.


Jadi ayahnya langsung menyetujuinya.


Keluarga Duan tidak memiliki seorang puteri, dan dia memiliki paras yang cantik, ditambah Murong Hao tidak langsung menolaknya dan malah selalu mengucapkan omong kosong dengan mengatakan dia miliknya.


Jadi begitulah awal mula perjodohan mereka berdua yang menurut Duan Yi sangat menyebalkan.


Duan Yi mau tidak mau menatap pria yang sangat tampan diatasnya, pandangannya merendah dengan wajah memerah.


Bahkan penghinaan samar.


"Heh." Murong Hao mencibir ketika matanya menangkap jejak penghinaan yang terlihat dimata pria yang ia tiduri itu.


Tangannya yang tengah memilin bola merah didadanya dikencangkan.


"Aahhh... sialan!" Duan Yi melenguh kesakitan karena cubitannya, tempat itu sangat sensitif ditambah pria ini yang mencubitnya keras membuat Duan Yi sangat marah dan ingin meledakkan kepalanya.


Dia tidak dapat membalas dengan memukulnya karena sekarang tubuhnya sangat lemah, tenaganya habis karena pertarungan mereka yang sudah memulai 5 putaran dalam waktu dua jam setengah.


Jadi dia dengan kejam mengencangkan area lubang dibelakangnya yang kini masih diisi benda milik pria itu. Ugh, sangat penuh.


Alis Murong Hao merapat ketika dia merasakan rasa sakit samar pada benda miliknya di bawah.


Dia menatap pria cantik yang kini menatapnya dengan tatapan marah, menantang, dan yang paling ia benci dari pandangan orang lain.


Yaitu pandangan merendahkan dan penghinaan yang diarahkan padanya.


Wajah Murong Hao menggelap.


Dia tiba-tiba teringat pada tanggapan semua orang padanya.


Mereka selalu mengatakan dia hanyalah anak haram, anak yang tidak diinginkan, anak pembawa sial, anak desa, dan berbagai macam penghinaan orang lain padanya membuat wajah Murong Hao semakin suram.


Tatapannya pada Duan Yi semakin dalam.


Apakah pria ini juga masih memandang rendah dirinya?


Apakah dia, Murong Hao, sangat memalukan hanya untuk menjadi kekasihnya? Dia masih menolaknya walau mereka berdua telah melakukan hubungan diatas ranjang selama dua tahun?


Apakah begitu sulit untuk menerimanya setelah begitu banyak perjuangan keras yang ia lakukan untuk memperbaiki diri.


Dia... hanya lelucon dimatanya?


Tidak, Murong Hao, kau seharusnya telah menyadari hal itu sejak lama.


Orang ini...tidak pernah mencintaimu, tidak pernah menghargai kebaikan dan ketulusanmu.


Baginya, kamu hanyalah anak haram yang bisa dibuang kapan saja oleh keluarga Murong.

__ADS_1


Anak haram...


Status rendahan ini akan tetap menempel di tubuhmu seumur hidupmu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat suasana canggung dan kesadaran dua orang yang tengah berpikir langsung mengalihkan perhatiannya pada pintu.


"Tuan muda Murong, ketua OSIS meminta saya menemui anda untuk mengatakan bahwa akan ada rapat penting yang dilakukan dalam waktu setengah jam. Anda harus menghadiri rapat ini di gedung OSIS, kalau begitu saya pergi dulu."


Tanpa menunggu dua orang dalam ruangan merespon, di luar kamar kembali hening dengan langkah kaki yang mulai menjauh.


Murong Hao mengerutkan keningnya dengan curiga.


'Rapat penting? Ini pertama kalinya rubah licik itu akan mengadakan rapat selama beberapa tahun terakhir.'


Murong Hao bangkit dan melepas benda yang masih nyaman didalam lubang kekasihnya, walau rasanya sedikit nyeri akibat tekanan tadi, namun dia tidak peduli.


Dia berjalan menuju kearah kamar mandi meninggalkan tubuh telanjang Duan Yi yang merengut kesal.


"Huh, baj*ngan." Gumam Duan Yi mencibir.


.....


Lou Yan membuka pintu kamar VVIP No.1 milik ayahnya.


Beberapa orang dalam ruangan melihat kearahnya.


Lou Yan tersenyum malu dan berjalan menuju ayahnya tampa memperhatikan orang-orang disekitarnya.


"Ayah, maaf Yan Yan lama. Tadi Yan Yan memiliki sedikit masalah dijalan, jadi Yan Yan harus menundanya sebentar." Dia duduk disebelah ayahnya dan memegang lengan kokoh ayahnya dengan mata rubah yang besar dan polos.


Nadanya penuh permintaan maaf dan tampak menyedihkan.


Lou Jian tiba-tiba tegang.


"Apakah Xiao Yan mendapat masalah, apakah seseorang menindas Xiao Yan? Katakan pada ayah, baj*ngan mana yang berani membuat masalah pada Xiao Yan?! Ayah pasti tidak akan membunuhnya!"


Walau dia mengatakan 'tidak' seperti itu namun niat membunuh dimatanya malah semakin kuat.


Sudut mulut Lou Yan bergetar, dia hampir ingin berkata 'Ayah, kamu sangat buruk dalam berbohong.'


Lou Yan mengerucutkan bibirnya imut, dia menatap ayahnya tidak setuju.


"Ayah, tadi Yan Yan habis dari toilet, namun ketika ingin kembali tiba-tiba di belokkan Yan Yan menabrak tembok, dan Yan Yan menghalangi jalan seseorang, Yan Yan pikir orang itu mau ke toilet bersama orang-orang dibelakangnya dan Yan Yan minta maaf, ternyata orang itu malah bilang dia tidak ingin ke toilet, dan sekelompok orang itu pergi ke ruang kotak disekitar sini."


"Hei, itu benar-benar..." Lou Yan berhenti dan mengehela nafas.


Sangat memalukan!


Lou Jian menatap putranya aneh, dia dengan ragu bertanya pada Lou Yan.


"Xiao Yan, bagaimana rupa orang itu?" Dia menyipitkan matanya curiga.


Lou Yan memiringkan kepalanya dan menatap ayahnya waspada.


"Ayah, Yan Yan bilang orang-orang itu tidak punya hubungan dengan Yan Yan. Ayah jangan melakukan apapun pada mereka." Dia menggenggam erat ayahnya seolah untuk mencegahnya berdiri.


Lou Jian menatap putranya dengan tatapan tak berdaya.


"Ayah tidak ingin mencari masalah, ayah hanya ingin tahu orang seperti apa yang bisa membuat putra ayah menundukkan kepalanya untuk minta maaf." Dia mengangkat tangannya dan mengelus rambut lembut putranya.


"Ah, begitu ya."


"Em... orang itu tampan, dia memakai kemeja putih dan celana hitam yang sederhana. Ada pria berkacamata disampingnya yang sepertinya seorang asisten, dan lima pengawal yang mengikuti mereka berdua." Lou Yan tiba-tiba berhenti ketika merasakan ada yang aneh dengan suasana dalam ruangan.


Dia menatap ayahnya dan melihat ayahnya menonton ke belakang. Bukan hanya dia, namun asisten ayahnya Zhang, Dr.Michel, dan no.45 juga ikut menatap ke arah belakang.


Lou Yan membalikkan tubuhnya dengan curiga.


Kemudian seluruh orang tampak diam.


Pria itu duduk dengan tenang di pojok ruangan, wajahnya yang sangat tampan dengan mata lembut mengenakan kemeja putih dipadukan celana hitam membuat kakinya tampak lebih panjang dan ramping. Kedua kakinya saling bertumpu dengan santai.


Kemeja pria itu di kancing rapi hingga menyisakan satu di paling atas yang terbuka.


Rambut hitam lembut disisir ke belakang dengan rapi, membuat wajah tampannya lebih menonjol dan tajam.


Pria itu tampaknya masih muda, mungkin sekitar 18 tahun.


Mata yang gelap dan dalam itu menatapnya dengan penuh arti.


"....." Lou Yan.


Ugh, kenapa pria ini ada disini?


Lou Yan berpura-pura tetap tenang, namun hatinya merasa aneh, dia sebenarnya cukup malu, namun hanya sebentar karena dia juga menjelaskan apa yang terjadi sesuai dengan kebenaran.


Tentu saja, tidak dengan kejadian di mana dia menabrak pria itu. Karena dia mengatakan bahwa yang ia tabrak adalah tembok.


"Apakah pria itu?" Lou Jian menatap tenang putranya.


"Um." Lou Yan berpura-pura merasa malu.


Dia melirik pria tampan yang sekarang ini masih menatapnya dalam diam, ketenangan orang ini membuat Lou Yan cukup takjub. Namun dia lebih penasaran hubungan macam apa pria ini dengan calon kepala pelayan pribadinya.


Tn.Ennma.


Ya, duduk diseberang pria itu adalah kepala pelayan pribadinya.


Tn.Ennma duduk didepan pria itu dengan temperamen tenang dan dingin, matanya terpejam seperti biasanya, seolah-olah seluruh dunia tidak layak untuk dia perhatikan sehingga dia tidak mau menatap bahkan hanya sebentar.


Lou Yan memperhatikan mereka berdua, entah kenapa dia merasa dua orang ini memiliki suatu kesamaan.


Yaitu mata mereka.


Mata pria itu dan pelayan pribadinya memiliki kesamaan, yaitu tajam dan membuat orang tidak berani menatapnya secara langsung.


Hanya saja sedikit perbedaan dengan temperamen.


Mata pria itu masih mengandung kelembutan dan keterasingan. Sedangkan milik Tn.Ennma benar-benar dingin dan kejam. Orang akan merasakan penindasan secara langsung ketika berhadapan dengannya.


"Xiao Yan, pria itu adalah Nangong Ryuji, cucu pria tua dari keluarga Nangong. Dia berusia 18 tahun dan bersekolah di SMA Elit Young Lan."


"Dia akan menjadi teman sekolah mu, kalian bisa berteman baik dimasa depan. Dia juga akan menjagamu di sana. Jangan khawatir, ayah sudah menghubungi kepala sekolah, jika Yan Yan memiliki kesehatan yang buruk, jangan masuk ke sekolah dulu. Ngomong-ngomong Nangong Ryuji juga akan tinggal di Villa Yan Yan karena ayah takut Yan Yan akan kesepian." Dia berkata dengan lembut.


"Itu... baik." Lou Yan pasrah. Walau dia lebih terkejut bahwa pria tampan itu akan tinggal di rumahnya.


"Kalau begitu ayah, apakah sekarang kita akan ke Villa Yan Yan?" Mata Lou Yan bersinar penuh harap.


"Oke." Lou Jian hanya tersenyum tak berdaya dengan sifat putranya yang selalu manis.


"Ayo pergi."


Lou Jian melirik semua orang dengan tenang.


"Baik tuan." Semua orang membungkuk kecuali Nangong Ryuji dan Tn.Ennma.


Rombongan itu berjalan ke lantai bawah dan dengan aura yang luar biasa banyak orang memperhatikannya, namun Lou Yan dan yang lain tidak peduli.


Mereka memasuki mobil-mobil mewah yang dibawa Nangong bersama pasukan elit yang menjaganya.


....


Deretan mobil mewah melaju menuju salah satu gunung kecil di posisi pusat ibukota, walau gunung itu lebih cocok disebut bukit karena terlalu kecil namun masih cukup tinggi.


Dan disalah satu tempat di puncak gunung yang tidak jauh dari sekolah Elit Young Lan, mereka berhenti didepan sebuah gerbang tinggi.


Gerbang terbuka otomatis karena salah satu pengawal elit menggunakan identitas yang dimiliki oleh keluarga Lou melalui pemindaian.


Setelah mereka berhenti didepan kolam renang besar.


Lou Yan keluar dari mobil dan matanya yang besar menatap deretan bangunan megah didepannya.


Merasa takjub dan tak percaya. Dia meminta izin ayahnya untuk mengelilingi Villa. Ayahnya menyetujuinya, lagipula ini wilayah keluarga Lou dan sangat aman, dia tidak akan cemas walau area Villa ini memang sangat besar.


Didepan sana terdapat lima Villa besar yang saling terhubung membuat bangunan itu tampak sangat megah.


Ada kolam renang membentuk lingkaran panjang di depan lima Villa dengan tengahnya air mancur besar berbentuk patung rubah ekor sembilan warna putih yang tampak cantik dan hidup.

__ADS_1


Lou Yan juga melihat taman besar tidak jauh dari Villa yang semuanya warna merah dari kejauhan, dia menebak seharusnya itu mawar dalam jumlah besar.


Pasalnya Mansion Utama Keluarga Lou di gunung tempat tinggalnya juga tamannya penuh dengan bunga mawar, ayahnya mengatakan ibunya yang merancangnya.


Ada juga lapangan golf, lapangan Voli dan juga kebun buah serta kebun binatang yang berjauhan. Lou Yan melihat ada sebuah bandara pribadi di bawah lereng gunung yang cukup besar dan lima helikopter diparkir disana.


Lou Yan berjalan mengelilingi lima Villa, ketika dia berada dibelakang lima Villa, dia menatap kearah tertentu dengan tatapan tercengang.


Lou Yan melihat sebuah air terjun kecil dengan sungai yang membentuk lingkaran yang cukup kecil dibawahnya. Ada pohon beringin tidak jauh dari air terjun.


Dia juga melihat sebuah rumah kaca kecil didepan kolam air terjun. Rumah kaca itu memiliki dua lantai, dan Lou Yan bahkan bisa melihat rancangan besi yang menyangga rumah kaca.


Lou Yan langsung menuju rumah kaca itu.


Di dalamnya cukup kecil, lantai satu tampak seperti ruang bersantai atau tamu.


Lou Yan menatap aneh pada ruangan itu.


Karena dia melihat tidak ada sofa atau kursi yang biasanya di tempatkan di ruang santai, malah yang terlihat hanya empat bantal persegi dengan satu meja kayu yang ada di lantai satu itu.


Tempat ini mengingatkan Lou Yan tentang film kuno yang dimainkan dimasa lalu, bantal itu digunakan untuk duduk dan meja untuk menjamu tamu.


Lou Yan mencoba untuk duduk diatas bantal itu, kedua kakinya ditekuk ke belakang, dia menduduki kedua kakinya, dan kedua pahanya merapat.


Cara ini memang membuat Lou Yan merasa aneh, kakinya agak sakit, namun dia mungkin mencoba belajar dimasa depan untuk duduk dengan seperti ini dan menahannya selama mungkin agar terbiasa dan tidak kram.


"Yah... kita lihat lantai dua seperti apa." Lou Yan bergumam dengan penuh semangat.


Dia berjalan melewati tangga kaca yang terdapat besi yang menyangga. Hal ini membuat Lou Yan merasa tertantang, ini cukup menakutkan jika dipikirkan.


Untungnya jiwanya adalah pria straight berumur 22 tahun yang terbiasa mengalami kesulitan, dibandingkan dengan berjalan diatas kaca, lebih menakutkan ketika dia dikejar puluhan renternir dengan masing-masing orang itu berotot dan wajahnya menakutkan.


Lou Yan sampai di lantai dua, dia terpana melihat ke depan.


Ternyata lantai dua itu semacam kamar tidur yang bernuansa transparan. Karena semua dinding di empat sisi terbuat dari kaca yang kuat tentunya, namun lantainya terbuat dari tripleks yang sangat halus dan berbau kayu.


Melihat sekeliling, kasur putih dan selimutnya, lemari kayu kecil, meja kaca hitam bundar, dua kursi yang terbuat dari kayu dengan dua bantal untuk diduduki supaya empuk. Dia juga melihat jam kotak yang dirancang indah diatas sana, warnanya emas dan berkilau.


Lou Yan mengangguk puas.


"Sangat bagus." ucapnya dengan perlahan kembali menuruni tangga.


....


Gedung OSIS.


Ruang Serikat Mahasiswa.


Didalam sebuah ruangan yang mewah, deretan orang berjas hitam dan putih tampak rapi duduk di tempatnya masing-masing. Terdapat logo yang khas dari sekolah SMA Elit Young Lan di pakaian mereka, yaitu diagram bintang lima.


Beberapa orang memiliki ekspresi serius, beberapa tampak tenang dan dingin.


Orang-orang itu tampak masih muda, umurnya sekitar 17-20 tahun diantaranya.


Seorang gadis yang tampak cantik yang duduk di kursi no.27 berbisik pada temannya disebelahnya yang juga gadis berkacamata tebal, tampak kutu buku.


"Yao Wen, apa kau tahu kenapa kita semua di panggil untuk berkumpul disini. Ini pertama kalinya ketua akan mengadakan rapat dan mengumpulkan hampir seluruh orang penting di serikat mahasiswa." Bisiknya pada gadis kutu buku itu.


Gadis kutu buku yang tampak pendiam dan dipanggil Yao Wen itu mengerutkan bibirnya. Dia menggelengkan kepalanya pelan, dan juga berbisik lembut.


"Aku tidak tahu, belum ada kabar sampai sekarang."


Gadis cantik itu mendesah tak berdaya.


"Hei, rapat ini membuat orang merasa cemas." Gumamnya dengan lirih.


Bergetar~


Pintu masuk ruangan terbuka otomatis dan membunyikan suara 'ting' samar.


Semua orang dalam ruangan serentak duduk dengan tegak. Karena mereka tahu orang yang memasuki ruangan itu adalah ketua dan beberapa orang penting di serikat mahasiswa (OSIS).


Deretan orang muda berpakaian elit berjalan tenang ke arah podium.


Berjalan didepan, pria elit yang tampan memakai setelan jas hitam yang pas di tubuhnya yang tampak kurus namun tinggi. Terdapat jubah hitam tanpa lengan yang dia seret anggun sampai ke lantai dan terlilit di tangan kanan kirinya.


Dasi hitam dengan giok merah dijadikan aksesoris yang menempel di tengah-tengah dasinya. Menambah warna yang elegan namun menawan.


Pria di depan itu sampai di podium dan dia berbalik kearah kerumunan yang rapi.


Sepasang kacamata emas itu diangkat keatas untuk menutupi cahaya tajam di matanya yang tenang tampa emosi.


Beberapa orang yang mengikuti antara lain adalah pria elit berjas putih bersih yaitu Fang Qu Yi, pria tampan yang memakai setelan hitam dan jas hitam Murong Hao, pria tampan dengan wajah blasteran Jack Son, pria tampan dengan rambut panjang pirang di kepang Alexin Rins, wanita yang sangat cantik dengan ekspresi dingin Chu Yerin, dll.


"Apakah semuanya sudah datang?" Fang Qu Yi berjalan maju dengan tenang dan bertanya pada salah satu orang yang duduk dibarisan depan.


"Wakil ketua, semua anggota telah tiba." Orang itu segera melapor.


Fang Qu Yi mengangguk tenang kemudian dia melirik saudaranya yang merupakan pria elit berjas hitam tadi dan merupakan ketua OSIS, Fang Xuaeyi.


"Ketua, anda bisa memulai." Katanya dengan perlahan mundur kebarisan dibelakang saudaranya.


Fang Xuaeyi maju dan berdiri di tengah-tengah podium.


Ekspresinya yang tenang dan matanya yang tajam memindai semua orang, tubuh orang-orang yang duduk tampak dingin dan gelisah. Mereka merasa ada seekor ular yang menatap mereka dengan tatapan tajam, membuat orang merasa takut dan berkeringat.


Kecuali orang-orang dibarisan terdepan yang masih tenang dan dingin, yang lain panik.


Fang Xuaeyi menarik tatapannya yang membuat semua anggota serikat mahasiswa menghela nafas lega.


Ketua sangat menakutkan seperti rumor!


"Aku mengadakan rapat sekarang karena ini perintah dari yang diatas."


Suara terasing dan tenang terdengar di telinga semua orang.


Semua orang langsung mengerti apa artinya 'yang diatas'. Itu seharusnya 10 kepala keluarga teratas China.


Karena bagi ketua mereka, kepala sekolah dan guru-guru tidak memenuhi syarat untuk disebut 'yang diatas'.


"Beliau meminta serikat mahasiswa untuk memajukan acara pertandingan antar kelas dalam waktu satu bulan."


Ucapan ketua OSIS membuat semua orang terkejut.


Acara dimajukan?!


Bukankah satu bulan lagi adalah hari ulang tahun sekolah SMA Elit Young Lan?


"Ketua, apakah acara pertandingan ini harus dilaksanakan pada hari ulang tahun sekolah?" Salah satu anggota OSIS di kursi no.7 bertanya dengan tenang.


"Ya." Fang Xuaeyi mengangguk tenang, seolah-olah hal seperti itu sudah biasa.


Fang Qu Yi di belakang saudaranya mengangkat sebelah alisnya.


"Ketua, apakah masalah tentang pertandingan antar kelas dimajukan ada hubungannya dengan murid khusus itu?" Dia bertanya pada saudaranya.


Sejujurnya Fang Qu Yi tidak yakin seberapa besar pengaruh murid khusus itu pada para kepala keluarga besar teratas.


Dia hanya tahu murid khusus itu diperlakukan secara berbeda oleh para kepala keluarga.


"Mungkin." Jawab Fang Xuaeyi singkat.


"Murid khusus?" Murong Hao menatap temannya yang blasteran dipanggil Jack Son dengan tanya.


Jack Son melirik Murong Hao aneh.


"Kau belum tahu?" Dia bertanya heran.


"Tidak." Murong Hao menggelengkan kepalanya tenang.


Sudut mulut Jack Son berkedut. "Jangan terlalu bersemangat untuk berolahraga bersama kekasihmu yang bertempramen tinggi itu." Dia berkata dengan cara menasehati itu.


Murong Hao meliriknya tajam, dia peling tidak menyukai seseorang membahas kekasihnya yang ia cintai. Sekalipun dia tahu tahu yang dikatakan temannya memang kebenaran.


Duan Yi memang memiliki temperamen yang tinggi.


Jack Son bergerak mendekat pada Murong Hao dan berbisik dengan suara rendah.


"Aku mendengar perkataan ketua ketika dia berbicara pada wakil ketua. Katanya akan ada murid yang melalui jalur khusus, semua kepala keluarga sendiri yang menandatangani surat izin murid itu. Murid baru itu juga mendapat perlakuan yang istimewa dari para direktur tertinggi sekolah, katanya keluarga murid itu juga membeli tiga gedung termegah di sekolah kita untuk membiarkan para pemimpin sekolah menjaga murid itu."

__ADS_1


Kemudian mata Jack Son berkedip dengan cahaya aneh.


__ADS_2