Sistem Kecantikan [Pendamping]

Sistem Kecantikan [Pendamping]
CHAPTER 01


__ADS_3

China merupakan negara dengan jumlah angka kelahiran terbesar didunia. Karena ini juga sangat sulit untuk seseorang memiliki pekerjaan kecuali mereka yang berbakat dalam bidang yang menonjolkan karakter atau bakat dan sifat mereka.


Di salah satu kampus paling bergengsi di negara China, tepatnya dikota B.


Pemuda tampan itu membereskan barang-barang yang ada dalam kamar yang berisi untuk empat orang. Kamar ini dipinjam oleh kampus untuk anak-anak yang mendapat beasiswa, atau orang yang sekedar ingin tinggal di kampus.


Nama pemuda itu Lou Yan.


Setelah membereskan barang-barangnya. Lou Yan menyapa kedua teman yang masih berbaring di kasur bertingkat.


"Juan, aku akan pulang sekarang untuk menjenguk panti di desa. Dekan telah menyuruhku untuk mengerjakan beberapa tugas padaku. Aku tidak akan kesana, kau membawakan tugas itu pada Dekan. Aku telah mengerjakannya." Dia menunjuk kearah meja belajar di samping kasurnya.


"Oke. Hati-hati dijalan."


Juan, teman sekamarnya mengangguk dengan raut mengantuk.


"Kalau begitu aku pergi." Dia melambai santai.


"Em." Juan kembali menutup selimut ketubuhnya. Detik berikutnya suara gerutuan datang dari mulutnya yang terbuka.


Lou Yan berjalan di sekitar mini market yang tidak jauh dari sekolah. Tempat ini cukup ramai karena tidak jauh dari sana sebuah taman hiburan besar sedang dibangun.


Terlebih kota B merupakan salah satu kota terbesar dengan penduduk rata-rata kebanyakan orang kaya.


Jadi tidak mengejutkan jika bahkan jalan kecil akan sering ditemui banyak mobil-mobil mewah dan mahal. Walau terbiasa melihat, namun Lou Yan mau tidak mau merasa sangat iri.


Kehidupan orang kaya memang membuatnya sangat cemburu.


Namun Lou Yan tidak putusasa. Justru karena ini dia menjadi lebih ingin bekerja keras.


Dengan nilainya dibidang komputer dan mendapat ranking satu di sekolah maupun negeri, dia akan mendaftar di salah satu perusahaan terbesar China. Seharusnya tidak akan sulit.


Memikirkan ini sudut mulut Lou Yan mau tidak mau terhubung.


Tidak sengaja Lou Yan melirik kearah belakang, dan dia tertegun.


Seorang anak kecil berusia lima tahun bermain bola ditengah jalan. Sedangkan Lou Yan melihat sebuah mobil sport mewah melaju kencang dengan cara ugal-ugalan menuju arah anak itu.


Jalan yang akan dilewati termasuk kecil, hanya akan muat dua mobil jenis mini. Namun ada belokan tidak jauh dari mobil sport itu, jika secara paksa menginjak rem, maka pasti akan menabrak pembatas dan menuju arah jalan raya. Itu lebih berbahaya.


Orang kaya itu egois.


Jika mobil itu lurus maka akan menuju jalan raya yang penuh truk-truk dan mobil muatan besar. Jika belok akan menabrak anak kecil.


Berdasarkan sifat anak orang kaya.


Lou Yan berlari kencang menuju anak kecil itu.


Ciiiitttttt!


Suara rem membuat Lou Yan lebih tegang. Benar saja, mobil sport memilih untuk berbelok kearah anak tersebut.


Sampai disana, Lou Yan mendorong anak kecil yang masih kebingungan melihatnya. Anak itu jatuh disisi rerumputan dipinggir jalan.


Ketika Lou Yan hendak menyingkir, suara tabrakan keras membuat pikirannya berdengung kesakitan.


Darah merah mengalir seperti sungai kecil.


Disisi lain mobil sport tetap melaju meninggalkan debu yang beterbangan.


Ibu anak itu yang memegang belanjaan ditanganinya langsung berteriak kaget. Membuat orang-orang sekitar nya panik.


....


Dirumah sakit terbaik di kota S.


Ruangan itu penuh dengan warna putih. Terdapat banyak alat-alat canggih yang tidak diketahui. Beberapa kabel terhubung ke tubuh seorang anak yang tampak kurus diatas ranjang rumah sakit.


Cairan terus menerus dialirkan pada pergelangan tangan dan hidung anak itu.


"Ugh." Anak yang menutup matanya tampak bulu matanya bergetar.


Dan dengusan terendam membuat anak itu membuka matanya linglung.


Lou Yan merasakan kepalanya berdengung. Itu sangat menyakitkan sehingga dia mau tidak mau membuka matanya.


Walau dia bingung, namun dia berusaha untuk tetap tenang.


Selama beberapa menit kilasan ingatan demi ingatan memenuhi pikirannya.


Tawa bahagia, kehidupan yang penuh kasih sayang.


Diikuti kenangan-kenangan yang menyakitkan.


Kematian ibu, lalu anak kecil yang menangis. Seorang ayah yang lembut dan penuh kasih.


Lou Yan mengangkat sebelah alisnya.


Menunggu sakit kepala mereda sebelum dia melihat sekeliling. Ada pandangan aneh dimatanya. Ragu-ragu sebelum dia mulai ingin bangkit.


Tapi tubuhnya yang telah koma tiga tahun membuatnya sangat lemas dan tidak memiliki tenaga. Terlebih tenggorokannya sangat sakit.


"A-ir..." dia berusaha untuk mengucapkan satu kata yang hampir menghabiskan energinya.


Clek.


Pintu didorong terbuka, seorang perawat mengenakan pakaian putih mendongak dengan beberapa botol kecil yang tergeletak disebuah gerobak (gk tau namanya), didorong menuju kedalam ruangan.


Ketika matanya menuju pasien VVIP mereka, dia melotot terkejut. Secara reflek berteriak pelan.


"Ahh..."


Lou Yan yang menyadari adanya seseorang yang masuk malah mengabaikan. Tenggorokannya sangat sakit dan dia berusaha untuk menggapai air putih tidak jauh dari meja.


Dia langsung ambruk ketika tubuhnya hanya terangkat sedikit.


"A-ir..." Dia bergumam serak.


Perawat itu buru-buru tersadar, dan dia menenangkan emosinya yang penuh kejutan.


"Ah, ah, baik. Tunggu sebentar tuan muda." Dia berjalan menuju teko air dan mengisi cangkir kosong dan memberikannya pada anak diatas ranjang.


Gerakannya sangat cepat dan profesional.


Bagaimanapun perawat itu tahu bahwa pasien yang ada di kamar ini bukan sembarang orang. Dia ditugaskan untuk menjaga pasien VVIP menunjukan bahwa perawat ini jauh lebih berkualitas dan unggul.


"Tuan muda, kamu tunggu disini, aku akan memanggil dokter." Perawat pertama-tama menyentuh tombol panggil. Kemudian dia mengambil cairan botol dan mengganti yang baru.


Beberapa saat, selusin dokter dan perawat datang dengan tergesa-gesa dan masuk kedalam ruangan tersebut.


Ketika beberapa pasang mata itu melihat anak diatas ranjang ternyata telah membuka matanya, mereka semua tercengang.


"I-ini..." dokter yang memakai kacamata berbingkai emas membuka mulutnya, namun dia dengan cepat menenangkan emosinya.


Dia berjalan menuju sisi ranjang, menatap dalam-dalam pada anak yang melihatnya dengan bingung. Matanya yang berbentuk rubah nampak polos dan imut. Membuat dokter merasa tak tega melihatnya.


"Keberuntungan..." dokter berkaca mata itu bergumam dengan perasaan lega.


"Tuan muda, anda rupanya sudah sadar. Ini berita yang bagus, pertama-tama aku akan memeriksa anda terlebih dahulu. Sebelum menghubungi keluarga anda. Tuan muda, apakah anda mengerti?" Suara dokter sengaja dilembutkan supaya tidak membuat takut pasien VVIP mereka.


"Kamu... siapa?" Lou Yan memiringkan kepalanya dengan pandangan polos.


Tapi bagi dokter pertanyaan itu sangat normal.


"Namaku Remo Ji, anda bisa memanggil saya Dr. Remo. Saya yang telah memeriksa dan merawat anda selama anda koma. Jadi tuan muda sekarang jangan khawatir. Ini hanya pemeriksaan kecil dan tidak akan terasa sakit." Dr.Remo berkata dengan nada membujuk anak-anak.


"Aku... Tuan muda?" Lou Yan menatap Dr.Remo dengan bingung.


Dr.Remo yang mendapatkan pertanyaan aneh itu memiliki firasat buruk.


"Tuan muda... anda... tidak tahu nama anda sendiri?" Dr.Remo bertanya ragu-ragu. Jantungnya berdebar kencang.


Lou Yan menggelengkan kepalanya polos.

__ADS_1


Semua orang dalam ruangan menghirup napas dingin.


"I-ini..." tubuh beberapa orang dalam ruangan bergetar.


"Dokter..." perawat yang pertama kali datang menatap dokter dengan ekspresi panik.


Bagaimana mungkin mereka tidak panik. Anak ini adalah pasien VVIP mereka. Selain latar belakangnya yang mengerikan, ada banyak orang kuat yang memegangnya ditanyanya.


Jika sampai anak ini mengalami masalah, mereka mungkin tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab. Itu sangat baik jika mereka hanya kehilangan pekerjaan mereka, namun jika hidup mereka yang dipertaruhkan, semua orang merasa kedinginan.


"Diam, kalian semua tenang." Orang yang pertama kali tenang adalah Dr.Remo.


Dia memeriksa beberapa bagian tubuh pada anak itu. Sambil menjelaskan identitasnya.


"Tuan muda, anda adalah tuan muda kedua dari keluarga Lou. Keluarga Lou merupakan keluarga nomor satu di kota S. Ayah anda merupakan tuan besar Lou Jian, anda memiliki dua saudara kandung. Lou Ren, kakak anda berusia 22 tahun. Tuan muda Lou Jin, adik anda berusia 16 tahun."


Dr.Remo berhenti sejenak.


Kemudia dia mengambil suntikan dan menyuntikkannya pada lengan kiri Lou Yan.


"Tuan muda, sekarang pemeriksaan telah selesai. Anda baik-baik saja, tubuh anda akan mulai baik setelah perawatan beberapa kali. Saya akan pergi untuk menghubungi orang tua dan keluarga anda." Dr.Remo memberi isyarat pada dokter lainnya.


Sekarang hanya satu perawat yang pertama kali datang yang ada diruangan bersama dengannya.


"Saudari suster, bisakah kamu ambilkan cermin?" Lou Yan bertanya pada perawat wanita dengan tatapan mohon.


Matanya yang seperti rubah dan sedikit lebih besar membuatnya tampak lebih imut dan polos.


Perawat itu tertegun sebelum buru-buru mengangguk. Tampa mengatakan sepatah katapun dia berbalik dan berjalan cepat untuk mencari cermin. Bagaimanapun pasien ini merupakan VVIP yang tidak bisa disinggung.


Latar belakangnya sangat kuat dan ada banyak orang besar yang memegangnya di tangan mereka.


Mata Lou Yan berkedip, dan dia melihat sekeliling dengan aneh.


Pada awalnya dia sangat terkejut dengan kelahiran kembali seperti di novel-novel yang ia baca. Dia bahkan menertawakan temannya dulu yang merupakan seorang penggila komik-komik atau novel yang menceritakan tentang kelahiran kembali.


Baginya hal seperti itu terdengar seperti lelucon.


Siapa yang menyangka kejadian yang ia anggap lelucon justru malah meninpanya sekarang.


Setelah mendapatkan ingatan pemilik tubuh asli, dia tidak tahu apakah dia harus sedih atau bahagia.


Karena dia tahu bahwa dia dilahirkan kembali pada seorang anak yang terlahir dalam keluarga kaya.


Dulu dia sangat ingin menjadi kaya, sekarang dia menjadi seorang generasi kedua yang kaya tanpa usaha membuatnya sedikit merasa aneh.


Namun lebih menyedihkan adalah pemilik tubuh asli ternyata seorang piatu, ibunya meninggal sejak dia masih berusia 3 tahun. Walau dia lahir dari keluarga kaya dan keluarganya sangat menyayanginya, tapi ayahnya maupun saudaranya sibuk dengan urusannya masing-masing.


Jadi mereka jarang ada dirumah.


Namun itu lebih baik karena ayahnya maupun keluarganya sangat menyayanginya, mungkin karna dia dianggap 'lemah, polos, dan rapuh', selain itu dia sangat mirip dengan ibunya membuat ayahnya semakin memanjakannya dan keluarganya melindunginya sangat ketat.


"Tuan muda, ini cerminnya." Perawat kembali membawa cermin kecil ditangannya.


Lou Yan mengembangkan senyumnya dan memberikan senyum paling manis menurutnya.


"Terima kasih saudari." Katanya dengan tatapan tulus.


Melihat wajahnya yang putih dan mata rubah besar yang polos membuat hati perempuan dalam diri perawat berdetak kencang.


'Ah, tuan muda kedua sangat imut. Dia belum pernah melihat anak seimut dan secantik tuan muda kedua Lou ini.' Perawat berpikir dengan tangannya yang menutup hidungnya, takut darah akan keluar dari sana.


Perawat buru-buru mengangguk dengan senyum lembut dan sopan.


"Tuan muda jangan sopan. Ini adalah tugas saya merawat tuan muda kedua."


Setelah mengatakan itu perawat berbalik dan sibuk dengan berbagai mesin dan cairan dalam ruangan.


Lou Yan mengangkat cermin dan dia penasaran dengan penampilannya sekarang.


Setelah pandangannya jatuh pada cermin tubuh Lou Yan membeku.


Dan dia menatap tak percaya pada apa yang dia lihat.


Peri macam apa ini?


Dia tidak terlahir dalam tubuh wanita kan?!


Jantung Lou Yan berdegup kencang.


Dia tanpa sadar menyentuh bagian hartanya di bawah sana. Memastikan dia masih punya adik, yah... walau ukurannya sangat mungil tapi itu lebih baik dari pada berganti jenis kelamin. Dia mungkin akan pingsan dan menganggap kelahiran kembalinya sebagai 'kutukan'.


"Hah... masih aman." Lou Yan bergumam dengan lega.


"Ngomong-ngomong, seorang pria tapi masih begitu cantik?" Dia menyentuh dagunya dengan pandangan kagum karena penampilannya.


"Heh, aku hampir mabuk karena penampilanku sendiri." Lou Yan mengalihkan perhatiannya karena malu.


....


Disisi lain.


Sebuah perusahaan terbesar kota S.


Lantai 76, kantor presiden.


Seorang pria paruh baya membalik beberapa kertas yang berisi banyak informasi penting perusahaan. Aroma kopi dengan jendela besar kaca disisi lawan membuat ruangan lebih cerah dan santai.


Namun semua orang tidak akan berpikir bahwa orang yang tinggal di lantai ini memiliki sifat hangat seperti ruang kerjanya.


Faktanya memang benar.


Udara dingin dan suram keluar dari tubuh pria paruh baya yang sibuk. Dia memiliki rupa yang tampan dengan mata tajam. Bahkan diusia kepala lima puluhan, dia masih tidak bisa menyembunyikan kharisma dan ketegasan dimatanya.


Rambut hitam dengan beberapa warna putih menunjukan usianya yang tidak muda. Tapi dia tampak sepuluh tahun lebih muda dan enerjik. Hanya saja wajahnya kaku dan dingin sehingga orang takut mendekatinya.


Criinngggg...~


Suara dering telepon mengganggu konsentrasi pria paruh baya yang sekarang menjabat sebagai presiden perusahaan terbesar di kota S dengan nilai ratusan miliar seluruh perusahaannya.


Namanya Lou Jian, kepala keluarga Lou. Keluarga terkaya kota S.


Lou Jian mengerutkan keningnya ketika mendengar dering ponsel.


Dia dengan acuh tak acuh mengangkat telepon dan bertanya dengan nada dingin.


"Ada apa?"


Setelah beberapa saat pihak lain berbicara, serentak Lou Jian bangkit dari kursinya. Dia bergegas keluar dari ruangan dan mengabaikan asistennya yang memegang kopi dengan tatapan bingung.


"Ada apa dengan tuan besar Lou, begitu terburu-buru?" Wanita cantik dibelakang asisten pria itu bertanya dengan bingung.


Asisten Emo menyipitkan matanya yang tajam, dan dengan tenang berkata tanpa perubahan diwajahnya.


"Kembali ke pekerjaanmu." Dia berjalan anggun menuju ruang presiden untuk memenuhi tugasnya.


Wanita cantik itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mengangkat bahunya dengan kesal.


....


Salah satu club terbaik di Ibu kota.


Suara musik dan dj bergema keras disebuah klub mewah dan terkenal di Ibu kota.


Dan seorang pria yang sangat tampan dengan mata tajam tengah memegang anggur terbaik dalam klub terkenal tersebut dan meminum semuanya dengan anggun.


"Lou Ren, apakah kau akan kembali ke kampus besok pagi?" Tanya pria berambut hitam panjang, wajah nya tampan dan sedikit nakal.


"Tidak, aku akan ke perusahaan ayahku." Lou Ren berkata singkat.


Pria itu bertanya penuh minat.


"Sebentar lagi kau akan lulus, bukankah kau akan mengambil alih perusahaan ayahmu? Kalau begitu jangan lupa menghubungiku jika ada proyek yang bagus."

__ADS_1


Lou Ren mengerutkan keningnya, dengan acuh tak acuh bertanya dengan curiga.


"Proyek? Memangnya kau akan menjalankan perusahaan ayahmu? Bukankah kakakmu Jia yang akan memimpin perusahaan?"


Pria berambut panjang mengangkat bahunya dengan pandangan tak berdaya.


"Kau tahu, ayahku orang yang berambisi. Dia tidak akan mau membesarkan seorang yang tidak berguna. Aku dipaksa untuk masuk ke perusahaan dan menjadi menejer keuangan."


Pfffttt—


"Hahaha.... menejer keuangan? Kau? Ayahmu benar-benar ingin perusahannya bangkrut." Pria lain dalam ruangan tertawa terbahak-bahak.


Pria berambut panjang tidak marah, dia hanya melirik santai tampa memperhatikan.


"Heh." Lou Ren hanya mendengus.


Sebenarnya dia juga ragu dengan kemampuan temannya.


Criinngggg...~


Suara dering ponsel membuat Lou Ren mengangkat sebelah aslinya. Yang lain dalam kotak ruangan terdiam.


"Ayah...-"


"Lou Yan bangun."


Hanya tiga kata namun langsung membuat Lou Ren tersentak berdiri, mengabaikan tatapan bertanya orang lain, dia meninggalkan kotak ruangan dan sebuah mobil mewah melaju kencang menuju bandara Ibu Kota.


....


Jalan menuju gunung, Kota S.


Deretan mobil mewah dari berbagai merek berkumpul pada satu tempat. Kemudian suara tawa bebarapa anak dengan mengenakan pakaian mahal yang jelas menunjukan identitas mereka sebagai anak orang kaya saling berkomunikasi satu sama lain.


"Menurutmu, siapa yang akan memenangkan pertandingan balapan kali ini?" Tanya salah satu anak orang kaya yang mengenakan anting putih.


"Bukankah sudah jelas? Lou Jin pasti yang akan menjadi juaranya. Lagipula ini sudah setahun sejak Lou Jin bertahan di urutan pertama." Yang lain menanggapi.


"Yah... siapa tahu? Kudengar Hwang Jun membeli mobil baru untuk bertandingan kali ini. Dia benar benar mencoba mengalahkan Lou Jin."


Brumm- Brumm- Brumm-


Suara keras menarik perhatian semua orang.


Kemudian sebuah mobil sport merah yang telah di modifikasi ditampilkan didepan semua orang.


"Wow~ itu Lou Jin! Kali ini dia menggunakan mobil kesayangannya."


"Tindakan yang berani." Orang lain berkata kagum.


Seorang pria tampan dengan mata agresif keluar dari mobil sport merah. Dia mengunakan pakaian hitam polos dengan celana hitam dan sepatu booth setinggi setengah lutut. Anting hitam berbentuk salib dan mata tajam dingin membuat semua orang terintimidasi.


"Lou Jin, lama tak berjumpa. Kemana saja kau selama seminggu ini?" Salah satu teman bermain Lou Jin bertanya, namanya Jiamin.


Lou Jin meliriknya dengan dingin, dengan tenang menjawab.


"Basket."


Jiamin terbiasa dengan sikap temannya yang memang sangat dingin dari kecil. Dia hanya mengangguk.


Brumm- Brumm- Brumm-


Suara keras lain membuat orang melihatnya.


Mobil lamborghini warna emas yang dimodifikasi datang dari arah berlawanan, sangat kencang dan membuat gesekan tajam.


"Sial, itu pasti Hwang Jun. Dia benar-benar membeli mobil baru."


"Kau benar, lamborghini ini setidaknya lebih dari sepuluh juta, tidak kalah dengan sport milik Lou Ren!"


"Pertandingan kali ini jauh lebih seru."


"Hei, aku jadi penasaran siapa yang akan memenangkan pertandingan."


Pria tampan dengan rambut merah keluar dari mobil lamborghini emas, dia melirik semua orang dengan senyum menawan.


Ketika semua orang saling berbisik membicarakan pertandingan balapan yang akan datang, disisi lain ponsel Lou Jin berdering.


Dia mengerutkan keningnya kesal.


Melihat kata 'Ayah' di layar ponsel, dia hanya mendengus ringan.


"Ada ap-"


"Lou Yan bangun."


Dia tertegun, diam-diam mengembalikan ponsel yang diam disakunya.


Berbalik dan masuk ke mobil, segera suara keras membuat semua orang terkejut.


"Ey? Begitu cepat akan berlangsung. Bukankah waktunya masih setengah jam?"


"Sepertinya Lou Jin sangat tidak sabar untuk memberi tamparan pada Hwang Jun." Yang lain menanggapi.


Namun detik berikutnya semua orang disana terdiam. Karena mereka melihat mobil sport merah melaju kearah menuruni gunung, menuju jalan besar kota S.


Semua orang: "...." apa yang terjadi?


Semua orang saling menyandang dengan ragu.


Hwang Jun disisi lain mengerutkan kening, namun segera menjadi santai. Bersandar di sisi mobil dan merokok.


....


Lou Jian membuka ruangan VVIP milik anaknya. Napasnya stabil namun dimatanya yang dingin, ada gejolak emosi aneh yang sangat langka.


Ada kekhawatiran, panik dan bahagia.


Lou Yan yang kini tengah menonton TV yang ditampilkan berita tentang kaisar Aktor Yuan yang kembali ke China sangat terkejut mendengar suara bantingan pintu.


Dia mendongak dan melihat sosok pria paruh baya yang tampan dan familiar, tiba-tiba sebuah kilasan ingatan tentang seorang pria dan wanita saling memeluk dengan bahagia, serta pria yang menangis di pemakaman muncul dalam ingatannya.


'Ayah.' Suara lembut seseorang terdengar di pikiran Lou Yan.


"Xiao Yan!"


Lou Jian tak bisa manahan air mata ketika dia melihat anaknya yang telah koma selama tiga tahun bangun dari tidur panjangnya.


Dia, yang dikenal presiden yang dingin dan kejam kini menumpahkan air matanya ketika salah satu sosok yang menjadi bagian jiwanya menatapnya dengan suhu yang jelas dimatanya.


Bukan seperti sebelumnya dimana anak keduanya yang tidur seperti mayat hidup.


Dia bergegas keranjang rumah sakit, dengan hati-hati untuk tidak menyentuh bagian yang terdapat cairan infus.


"Xiao Yan, apakah kamu baik-baik saja nak? Apakah ada yang sakit. Katakan pada ayah, ayah akan menyembuhkannya." Lou Jian bertanya dengan suara lembut dan serak. Nadanya membujuk anak kecil.


Matanya yang tajam kini membekas air mata namun tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.


Mata Lou Yan berkedip polos.


"Kamu... siapa?" Dia memiringkan matanya dengan bingung.


Gerakan tangan Lou Jian yang mengelus kepalanya berhenti. Matanya menatap putranya dengan kosong, dia tercengang.


Tiba-tiba beberapa tebakan muncul dihatinya. Namun itu masih sulit ia terima.


"Yan... apakah kamu tidak mengingat ayah?" Dia bertanya dengan nada yang masih tenang. Namun hatinya panik.


Lou Yan menggelengkan kepalanya polos.


Lou Jian tersenyum pahit. Benar saja.


Clek—

__ADS_1


"Ayah."


__ADS_2