Sistem Kecantikan [Pendamping]

Sistem Kecantikan [Pendamping]
CHAPTER 24


__ADS_3

Lou Yan membuka kancing celana dan resletingnya.


Fu Shichen tertegun, dia tahu apa yang akan terjadi nantinya, namun dia tidak bisa menolak godaan yang begitu besar.


Ini adalah kesempatan yang lanka, bahkan mungkin dia sendiri tidak akan menemukannya dimasa depan. Dia tidak bisa melewatkannya begitu saja. Tangan pria itu terkepal dengan keringat yang menetes.


Setelah menurunkan celananya, Lou Yan melihat ****** ***** hitam milik Fu Shichen yang terlihat jelas membengkak, dia agak tersipu. Astaga, ini pertama kalinya dia akan melakukan foreplay seperti ini. Sebelumnya Donald lah yang melakukan itu padanya.


Dia mulai mengambil kekerasannya dan bola matanya hampir keluar.


Besar sekali...


Untuk pertama kalinya, Fu Shichen dipegang oleh seorang di akar hidupnya, dan dia mendengus, merasa sedikit tidak terkendali.


"Tuan muda... apakah kamu yakin..." kata Fu Shichen dengan sedikit menahan haśrat ditubuhnya. Suaranya lembut dan bodoh, sedikit serak.


"Aku ... aku akan ..." Lou Yan dengan berani memegang benda itu ditangannya.


Tangannya yang berada di kekerasannya. Perlahan menggerakkannya lembut kedepan dan kebelakang.


"Huh... mm..." Fu Shichen bersenandung lembut. Tangannya tampa sadar mengelus rambut lembut pemuda dibawahnya.


Matanya memancarkan obsesi dan belaian.


Bagus jika tuan muda menyukainya.


Pemuda ini adalah orang yang dicintainya, tidak peduli betapa besarnya perbedaan mereka dalam kehidupan. Selama pemuda itu menginginkannya... bahkan walaupun nantinya pemuda ini hanya menganggapnya sebagai mainan, dia tidak keberatan.


Lou Yan sedikit memerah, menundukkan kepalanya dan berkata dengan lembut.


"Saudara Fu, apakah ini nyaman?"


Mata Fu Shichen berkedip dan obsesi dimatanya langsung menghilang digantikan mata lembut penuh kasih seperti biasa.


Dia tidak bisa membiarkan tuan muda melihat pikirannya...


"Sangat bagus." Dia berbicara dengan lembut, tangannya tidak berhenti untuk mengelus kepala pemuda cantik itu.


Pertama-tama gerakan Lou Yan kaku, namun tidak butuh waktu lama baginya untuk menguasai dasar-dasar.


Ini adalah pertama kalinya mengalami pengalaman seseorang membantunya.


Emosi Fu Shichen sangat rumit, dengan kegembiraan dalam kegugupannya, dan sentuhan kegembiraan dalam kegembiraannya.


Kurang dari tiga menit namun cairan itu masih belum keluar, Lou Yan merasa pegal ditangannya.


Tiba-tiba dia memikirkan gerakan Donald pada saat menggunakan dengan mulutnya.


Dia ragu-ragu, namun akhirnya dia membuka mulutnya dan menelan kekerasannya dengan gugup. Dia meluncur kedepan dan belakang, air liurnya keluar dari mulutnya dan jatuh ke lantai.


"Ahh..." Fu Shichen tersentak dan tubuhnya menggigil merasakan kelembaban dan gigi yang menggigit kepala batang.


Kekerasannya terasa hangat dan mulut kecil itu licin dan lembut.


Perasaan ini... terasa hebat, membuatnya ingin bertahan didalam sana.


Fu Shichen menunduk dan melihat pemandangan cábul dibawahnya...


"Lou Yan...." dia berbisik dengan suara rendah dan serak karena náfsu, matanya semakin kuat mengunci pemuda yang bekerja keras di bawah sana.


Sangat bagus, pemandangan ini terlihat sangat mengagumkan. Andai waktu berhenti...


"...hah...lebih cepathh..." dia terus mengèrang dengan lembut.


Lou Yan mendengar permintaannya, tampa sadar mempercepat.


Lima menit kemudian.


"Datang..... ahh!" Fu Shichen mengèrang keras. Dia menembak dimulut Lou Yan.


Terlalu banyak cairan ditembak dan beberapa cairan putih keluar dari mulutnya dan meluncur ke dagunya dan jatuh. Meninggalkan jalan berair.


Lou Yan menelan cairan itu dan dia memiliki keinginan ingin muntah.


Ini... terlalu asin, sial!


Fu Shichen menarik napas dalam-dalam dan dia menghembuskannya. Akhirnya sisa kesadaran terakhir dibenaknya terputus.


Dia menarik lembut pemuda yang masih berjongkok dibawahnya.


Memeluknya erat.


"Tuan muda... bolehkah...?" Suara Fu Shichen serak dan lembut, matanya menatap penuh kasih pada pemuda dipelukannya.


Lou Yan tersenyum tipis.


"Apakah kamu masih bertanya?" Dia menatapnya dengan geli.


Fu Shichen tidak mengatakan apa-apa, namun mulutnya langsung menerjang dan menghisap mulut kecil Lou Yan. Sangat manis, ah.


Lidahnya memaksa masuk dan Lou Yan dengan murah hati membuka mulutnya, membiarkan lidah pihak lain mengobrak-abrik mulutnya.


Dengan sedikit kehijauan, lidah pria itu mulai bergelut dengan lidah kecil Lou Yan, tidak lupa mengabsen deretan gigi putih yang rapi dengan air liur yang mulai menetes dan keluar dari mulut yang penuh.


"Mmp... mmm... huh..." Lou Yan menarik napas dan mengeràng samar melalui giginya.


Sampai Lou Yan merasa kehabisan napas, baru Fu Shichen menjauhkan bibirnya dari bibir Lou Yan. Bibir mereka menjauh dan meninggalkan garis keperakan dari air liur yang tersisa.


"Saudara Fu... lakukanlah..." Lou Yan mengundang Fu Shichen secara langsung.


Mata Fu Shichen yang tadinya lembut menjadi gelap.


"Tuan muda..." suaranya serak dan sexy.


"Panggil aku Yanyan." dia memintanya.


Fu Shichen menatap pemuda yang menatapnya dengan antusias yang tidak disembunyikan, dan tawa samar keluar dari bibirnya.


"Yanyan..." panggilnya.


Lou Yan mengangguk puas.


"Yan, kamu tidak akan menyesal?" Fu Shichen masih bertanya dengan ekspresi serius yang jarang dia tunjukkan.


"Itu tidak akan terjadi." Lou Yan menjawab ringan.


Senyum lembut merekah di bibir Fu Shichen.


Sekalipun dia orang yang baik, dia masih pria normal. Jika dia bahkan tidak bisa bereaksi ketika orang yang dicintainya begitu menggoda dan memintanya melakukan sesuatu, maka dia benar-benar bukan seorang pria.


Dia sedikit menatap Lou Yan dengan tatapan lembut. Suaranya lembut dan anggun. "Yanyan, jangan menyesal."


Dan lelaki yang lembut dan tenang ini, seorang lelaki yang terlihat seperti malaikat, yang menatapnya dengan mata yang fokus. Tarik pakaiannya keatas, dan ****** ***** putih di tarik kebawah dengan pantàt putih dan bulat yang terlihat indah, mulai memasukkan jari-jarinya satu per satu ke dalam dirinya.


Menariknya dan memasukkannya lagi, membalik dan menjentikkannya ke dalam dirinya tanpa urutan.


Dia bahkan memiliki keberanian untuk terlihat naif, elegan bahkan, sementara jari-jarinya yang seperti giok bergerak seperti setan di dalam dirinya.


Lou Yan menatap penuh semangat kearah pria lembut didepannya. Orang ini... bagaimana bisa terlihat begitu tenang dan naif disaat binatang buas dibawahnya terlihat begitu menantang.


"Emmhh..." Lou Yan melenguh.


Jari-jari giok pria itu keluar masuk dengan setiap jari dilapisi air yang keluar semakin banyak. Pada akhirnya tiga jari memenuhi lubang sempit milik Lou Yan.


Dirasa sudah selesai, Fu Shichen mengambil kembali ketiga jarinya.


Dia memeluk tubuh rapuh dibawahnya dengan erat.


Dia menggunakan tangannya dan dengan lembut menarik dagunya dengan menoleh kebelakang. Biarkan dia mencicipi rasa manis bibirnya yang merah.


Saat dia menatap, tenggelam dalam pikiran, bibirnya yang hangat menyentuh bibirnya, dengan lembut.


Dia menjilat dan lidahnya dengan lancar memasuki celah diantara gigi dan menggoda lidah pihak lain. Dia bisa merasakan kehangatan di bibirnya, menjentikkan lidahnya di dalam mulutnya. Dia menggigit bibirnya, tidak membiarkannya lolos.


Air liur menetes perlahan, saling bertukar saliva dan dia mendorong benda dibawahnya perlahan dengan lembut.


Dia menutup matanya, diam-diam merasakan sensasi detak jantungnya yang berdegup kencang.


Napas Fu Shichen berangsur-angsur menjadi cepat. Tubuhnya gelisah namun dia menahannya.


Dia sedikit menatap Lou Yan dengan tatapan lembut. Suaranya lembut dan anggun.


"Yanyan, biarkan aku memasukimu." Katanya dengan tangan membelai wajah cantik pemuda itu.


Mata Lou Yan berkedip, dia menjawab dengan senang hati. "Oke."


....


Bersama dengan eràngannya, dan kadang-kadang jeritan tajam, memenuhi seluruh dapur yang cukup besar.


Mata Fu Shichen panas, dia terus menghentak kekerasannya lebih cepat, lebih keras, memastikan pemuda yang ia cintai merasakan betapa bahagianya miliknya untuk menyetubuhinya.


Suara teriakan dan jeritan pemuda itu bagaikan lagu terindah yang membuatnya semakin bersemangat, jantungnya berpacu cepat. Matanya merah penuh kegembiraan dan obsesi. Dan wajahnya memiliki senyum yang hampir terdistorsi.


Dia bahkan memiliki keinginan untuk mati didalamnya.


....


Diluar dapur, seorang pria dengan wajah tampan berdiri dengan kaku dan raut wajahnya tidak bisa dijelaskan karena tidak ada emosi dimatanya yang gelap.


Tangan pria itu mencengkram erat kusen pintu dan dia dengan dingin melihat adegan panas didapur yang pintunya separuh tertutup.


Jia Yu tidak menyangka bahwa dia hanya ingin mengerjakan pekerjaannya diruang tamu namun karena haus dia ingin pergi ke dapur. Namun siapa yang menyangka dapur yang dikira sepi rupanya terdapat dua orang yang saling bergelut dengan panas.


Dan dua orang itu adalah kenalannya.


Yang satu adalah tuan mudanya dan yang lain pria yang dikenalkan tuan muda padanya beberapa jam sebelumnya.


Bukankah tuan muda mengatakan ini pertama kalinya mereka bertemu didunia nyata? Bagaimana bisa perkembangannya bisa menjadi seperti ini.


Rasa asam dan kemarahan muncul dihati Jia Yu.


Rasanya seolah-olah sang istri terpegok sedang melakuan hal buruk dengan selingkuhannya.


Perasaan ketidakadilan di hatinya meningkat.


Jelas bahwa mereka berdua sama-sama bertemu dengan tuan muda untuk pertama kali, namun kenapa perbedaan perlakuan begitu jauh.


Dari segi penampilan, dia jelas tidak lebih buruk dari pria itu. Dibandingkan dengan seorang pembawa acara live streaming yang tidak terkenal, statusnya yang seorang aktor B-list terbaik bukankah lebih layak?


Fu Shichen ini pandai bernyanyi, tapi bukankah dia juga dapat bernyanyi? Dia bisa menari, dia juga bisa bermain film, memiliki penggemar yang cukup banyak.


Dari segi manapun dia pasti lebih baik dari pria lembut Fu Shichen itu.


Tapi kenapa pemuda itu hanya memperlakukan Fu Shichen dengan baik?


Bahkan mereka juga bercinta dengan begitu panas. Mereka tampak begitu menikmati waktu kebersamaan mereka. Apakah mereka berdua tahu suara mereka sangat keras?


Apakah tuan muda tidak takut ada orang lain yang melihatnya?


Atau pria lembut Fu Shichen itu yang melakukannya dengan sengaja. Jelas-jelas dia tahu bahwa mereka akan berkembang sampai sejauh ini, namun pintu dapur dibiarkan setengah terbuka.


Bukankah dia hanya ingin memberi tahu orang lain bahwa dia berhasil bercinta dengan tuan muda?


Sangat bangga?


Mata Jia Yu berkilat dengan dingin. Dan dia merasa aneh dihatinya.


Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia merasa marah karena melihat tuan muda bercinta dengan orang lain. Bukankah mereka baru saja bertemu?


Apakah dia benar-benar tertarik pada tuan muda hanya karena dia membantunya menghilangkan masalah yang diperbuat wanita itu? Tapi... sejak kapan dia mulai memiliki perasaan pada tuan muda.


Mereka bertemu kurang dari enam jam! Namun dia sudah tertarik pada tuan muda sampai sejauh ini. Bahkan dia merasakan api dihatinya.


Mata gelap pria itu menatap aneh pada dua orang yang masih belum berhenti bergulat. Dan hatinya kembali tenang.

__ADS_1


Karena pemuda itu sudah memutuskan bahwa dia akan menjadi ayah gulanya, maka dirinya harus memenuhi kebutuhannya kan? Tuan muda tampaknya memiliki selera makan yang besar.


Kalau begitu lain kali... dia akan memberi makan tuan muda. Dan dia memastikan makanan itu akan lebih enak dari si Fu Shichen ini.


Senyum jahat bangkit dari bibirnya. Wajahnya yang tampan sekarang di penuh dengan kecerobohan namun memikat. Matanya berkilau dingin seolah memikirkan sesuatu yang menarik.


Dia akan memilih postur yang bagus nanti. Tidak tahu apakah tubuh tuan muda sefleksibel itu atau tidak. Mungkin ketika mereka melakukannya dia dapat memimpin untuk membuat postur yang bagus.


....


Di ruang pribadi lantai empat.


Dua orang duduk dengan tenang dan suasana di keduanya tampak aneh.


Di depan mereka sebuah layar besar menampilkan adegan panas dua orang didapur. Dari sudut yang ditentukan, jelas adalah cctv tersembunyi.


Pria cantik dan pria tampan di layar tidak lain adalah Lou Yan dan Fu Shichen.


Tak tak tak


Salah satu dari mereka di kursi, meletakkan kepalanya di lengannya ketika dia menyaksikan aksi langsung dari proyeksi dengan penuh minat.


Dia adalah pria yang tampak lembut, dengan sikap elegan dan tenang di sekelilingnya. Wajahnya tanpa ekspresi dan dia terlihat agak bosan, atau begitulah tampaknya, jika bukan karena benjolan besar di antara kedua kakinya. Orang ini jelas sedang hôrny.


Sedangkan pemuda satunya duduk di sofa lembut dan berbaring dengan santai, kemeja putih sederhana dengan kancing rapi, namun pada bagian lengan digulung sampai siku.


Dia adalah pria yang tenang dengan aura bangsawan, matanya lembut namun terasing, ada perasaan bahwa dia adalah makhluk abadi, matanya yang gelap juga tengah menatap langsung layar besar didepannya. Melihat pemandangan yang begitu càbul, keduanya tidak memiliki ekspresi lain selain dipenuhi minat.


Dan orang satunya adalah seorang pria dengan kacamata emas mewah, tubuhnya penuh dengan keagungan dan dia dengan tenang menonton dalam diam tampa emosi dimatanya. Hanya sesekali cahaya aneh berkilat dimatanya yang dalam dan dingin.


Ketiganya tidak lain adalah Ye Qifeng, Nangong Ryuji dan Tn.Ennma.


Jika Lou Yan tahu bahwa ada banyak orang yang menonton dirinya dan Fu Shichen bercinta, tidak tahu apa yang dia pikirkan. Mungkin dia akan mencari lubang untuk bersembunyi.


Ye Qifeng menatap layar penuh minat. Dia bertanya pada temannya yang berbaring dengan santai.


"Ayuji, apakah itu tuan muda kedua dari keluarga Lou?" Tatapannya mendarat pada pemuda yang memiliki penampilan berantakan dan dipeluk dengan pelukan puteri oleh pria tampan yang tampak lembut.


Nangong Ryuji mengangguk tenang. "Ya."


"Dia orang yang menarik." Sudut mulut Ye Qifeng terangkat malas.


"Apakah kau yakin dia memiliki mental anak berusia 14 tahun?" Dia berbicara dengan lembut, namun tatapannya jelas menunjukkan bahwa dia tak percaya.


Adakah anak berusia 14 tahun yang memiliki keberanian sebesar ini. Dan cara pemuda cantik ini menggoda pria itu tidak tampak canggung seolah itu hal yang biasa.


Nangong Ryuji tidak menjawab.


Ye Qifeng juga tidak peduli. Dia datang kesini hanya karena mendengar temannya pindah rumah. Dia juga mendengar bawahannya mengatakan bahwa temannya tinggal di villa bersama Tn.Ennma.


Sudah sangat lama dia mendengar nama Tn.Ennma ini, dan ayahnya adalah salah satu pengagumnya, adiknya Ye Jianzheng adalah orang yang pendiam, dia juga tidak tertarik pada dunia bisnis dan lebih memilik terjun ke dunia seni seperti melukis dan bermain musik, contohnya: kecapi, biola dan piano.


Jadi sebagai anak kedua, dia hanya bisa membantu kakaknya yang pertama mengelola perusahaan sebelum ayah mereka memilih pensiun dini.


Ketika Ye Qifeng masih duduk dengan santai. Suara dering telepon datang dari sakunya. Ternyata seseorang menelponnya yang tidak lain adalah adik ketiga, Ye Jianzheng.


"Ada apa Azheng?" Ye Qifeng bertanya lembut pada adiknya.


"Saudaraku, apakah kamu ada di Villa puncak gunung Soyu distrik D?" Ye Jianzheng berbicara dengan kakaknya.


Ye Qifeng mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut. Dia menyipitkan matanya dengan curiga. Tapi masih menjawab dengan lembut.


"A zheng, menyelidiki kakakmu bukanlah tindakan yang baik. Dari mana kamu belajar untuk memata-matai saudara?" Ye Qifeng tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya, sebaliknya, itu berbahaya dan berbahaya.


Suara Ye Jianzheng tenang: "Saudaraku, ayah memintaku untuk datang menemui orang yang membeli rumah England yang dimiliki leluhur keluarga Ye. Dan Fuyi telah menemukan orang yang membeli rumah England, ini adalah tuan muda kedua keluarga Lou. Saat penyelidikan, aku menemukanmu secara tidak sengaja berada di villa tuan muda kedua Lou."


Bahaya dimata Ye Qifeng mereda mendengar penjelasannya, namun dia masih bertanya dengan tenang, tidak melepas kewaspadaan.


"Begitukah? Maka ini benar-benar kebetulan. Aku datang menemui teman yang sekarang tinggal di villa tuan muda kedua Lou."


"Kalau begitu aku tidak akan menganggu kakakku untuk bersenang-senang. Aku tutup dulu saudaraku." Suara lembut itu tidak memiliki banyak emosi. Begitu tenang.


"Em." Ye Qifeng bergumam samar.


Tep! Telepon dimatikan.


Ye Qifeng menatap dalam pada ponsel yang kembali diam. Cahaya aneh melintas dimatanya yang gelap.


Dia menyentuh dagunya dengan bingung.


Ada apa dengan Azheng? Dia jarang berinisiatif untuk menelpon padanya. Bahkan dalam satu tahun, telpon dari adik ketiga bisa dihitung dengan jari.


Dan lagi, cara dia berbicara, sepertinya adik ketiga akan datang kesini untuk bisnis?


Yang lebih mengejutkan adalah apakah tuan muda kedua Lou ini yang membeli rumah England di Ibukota?


Tapi... Bukankah dia sudah memiliki villa ini? Untuk apa dia membeli rumah England?


Ye Qifeng melirik temannya dan akhirnya mau tak mau bertanya dengan penasaran.


"Ayuji, apakah kau tahu bahwa Lou Yan ini membeli rumah England di Ibukota?"


Gerakan Nangong Ryuji yang membelai gelas berisi anggur berhenti. Ada kejutan dan keheranan dimatanya yang dalam.


"Tidak." Jawabnya ringan.


Ye Qifeng terkejut dan dia menatap temannya tak percaya.


"Kau benar-benar tidak tahu? Yang aku tahu, rumah England terjual beberapa hari yang lalu. Dan tuan muda kedua Lou adalah orangnya. Ayuji, kau tinggal bersama pemuda itu sejak orang itu datang ke ibukota, dan kau bahkan tidak tahu pemuda itu bergerak sebesar ini?"


Nangong Ryuji terdiam.


Dia benar-benar tidak tahu.


Dia sudah mengawasi pemuda itu sejak bertemu pertama kali, dan dia tidak melihat pemuda itu melakukan sesuatu yang istimewa.


Yah... selain makan makanan ratusan juta yang masih mengejutkannya.


Dan sekarang temannya mengatakan bahwa tuan muda kedua Lou membeli rumah England di Ibukota yang terkenal itu tampa dideteksi olehnya.


Seharusnya jika pemuda itu membeli rumah England, gerakan sebesar itu tidak bisa disembunyikan darinya. Namun dia benar-benar tidak tahu. Semua bawahannya tidak melihat atau menyadari pemuda itu melakukan gerakan besar tampa dideteksi olehnya. Bahkan mungkin orang lain juga tidak tahu.


Jika bukan Ye Qifeng yang mengatakannya, dia tidak akan percaya pemuda itu membeli salah satu rumah termahal di Ibukota.


Mungkinkah...


"Mungkin tuan pertama keluarga Lou yang membeli rumah itu atas nama Lou Yan?" Nangong Ryuji berbicara dengan ekspresi tenang.


Ye Qifeng mengerutkan kening.


"Dia? Yah, itu memang bukan mustahil. Lagipula bagaimana mungkin anak yang baru bangun dari koma selama beberapa bulan memiliki uang begitu banyak untuk membeli rumah England." Dia merasa itu masuk akal, jadi dia hanya mengangguk tanpa pertimbangan.


Nangong Ryuji juga merasa sama, tidak mungkin bagi Lou Yan memiliki uang sebanyak itu jika bukan tuan pertama yang memberinya.


Namun Nangong Ryuji masih merasa ada yang janggal. Apakah ini hanya perasaannya?


Nangong Ryuji memijat kepalanya pusing. Orang yang mampu melakukan gerakan besar seperti itu tanpa diketahui kekuatan keluarga Nangong hanya bisa tuan pertama. Jadi ini masuk akal. Jadi dia berhenti memikirkannya. Dia kembali fokus pada layar yang menampilkan pemandangan mèsum didepannya.


....


Fu Shichen mengelus rambut lembut Lou Yan. Matanya yang penuh kasih menatap erat pada wajah cantik yang membuatnya memikirkannya sepanjang malam tampa tidur.


Cahaya pagi memasuki celah-celah gorden di jendela kaca yang tertutup.


Fu Shichen tidak tidur setelah aktivitas yang mereka lakukan semalam. Lebih tepatnya dia tidak bisa tidur dan tidak mau tidur, karena dia takut bahwa semalam hanyalah mimpi dan esoknya dia bangun untuk melakukan aktivitas yang biasa. Kehidupan yang membosankan di sekolah.


"Yan— tuan muda." Fu Shichen ingat statusnya di villa ini, jadi dia memanggil pemuda itu dengan panggilan pertama. Agak enggan jika dipikirkan.


Mengingat semalam mereka begitu mesra dan terhubung, namun sekarang dia harus memenuhi tugasnya sebagai seorang 'bawahan'. Fu Shichen harus mengakui kenyataan itu memang kejam.


Semalam tuan muda tidak mengatakan apapun selain memintanya untuk melakukan One Night Stand. Sudah jelas sekarang dia bukan pacar tuan muda ataupun favorit tuan muda.


Dia hanya.... semacam alat atau mainan bagi tuan muda.


Mara Fu Shichen menjadi merah, ada keengganan dan obsesi kedalaman matanya.


Kenapa tuan muda semalam tidak mengatakan apapun? Apakah penampilannya begitu buruk? Bahkan jika tidak bisa menjadi pacar, bukankah setidaknya berikan dia pujian setelah terhubung bersama?


"Tuan muda... bangun. Anda harus berangkat ke sekolah." Dia dengan lemah memanggil.


"Em..." Lou Yan merentangkan kedua tangannya dengan mulut menguap malas.


"Hah, jam berapa sekarang?" Tanyanya tanpa membuka matanya.


"Ini sudah jam setengah tujuh." Fu Shichen menjawab dengan lembut, tatapannya masih dengan erat menatapnya.


"Oh?" Lou Yan membuka matanya agak terkejut. Dia bangun setengah tujuh?


Dia mulai bangkit dan Lou Yan merasakan seluruh tubuhnya sakit. Dia mengerutkan kening dengan tak nyaman.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Fu Shichen memperhatikannya mengerutkan kening. Jadi dia mengira pemuda ini kesakitan.


"Um." Lou Yan mengangguk samar, berusaha untuk berdiri dari ranjang besar itu.


"Aku bantu tuan muda." Fu Shichen buru-buru berdiri dan ingin menopang pemuda itu. Melihatnya merasa tak nyaman membuat hatinya merasa tertekan dan sedih.


Salahkan dirinya yang kehilangan kendali dan membuat orang yang dicintainya kesakitan semalam. Fu Shichen menyalahkan diri sendiri.


Lou Yan tidak menolak, namun dia menatap Fu Shichen dengan tatapan tak berdaya.


"Saudara Fu, setelah kejadian semalam, apakah kamu masih memanggilku tuan muda? Panggil aku Yanyan." Lou Yan tampak tidak puas.


"Itu..." Fu Shichen ragu-ragu. Tatapannya yang lembut bertabrakan dengan mata tegas pemuda itu.


Hatinya tergerak.


Senyum lembut yang penuh kasih datang dari sudut mulutnya, tampak bahagia.


Dia mengangguk, "Baik... yan."


Lou Yan mengangguk puas dengan jawaban pihak lain.


"Saudara Fu, kakiku sakit dan aku tidak bisa berdiri. Mau peluk~" Dia merentangkan tangannya dengan mata besar tampak cerah. Menatap pria itu penuh harap.


Fu Shichen tak berdaya, hatinya manis. Ah, Yanyan seperti ini sangat imut!


Dengan wajah berseri dan mata penuh memanjakan, dia datang ke pemuda cantik itu. Mengulurkan tangannya dan membawanya dalam pelukan puteri.


Merasakan kelembutan ditangannya, wajahnya memerah. Kulit yanyan sangat halus seperti bayi, dan tadi malam dia...


Semakin Fu Shichen memikirkannya semakin dia merasa malu dan bahagia. Ada harapan dihatinya bahwa dimasa depan dia akan sering melakukan hal-hal romantis bersama Yanyan.


Tubuh telańjang Lou Yan terekspor diudara, dipeluk dengan pelukan puteri oleh pria itu. Lou Yan tidak merasa malu. Toh, semuanya sudah dilihat apa yang perlu dipermalukan?


"Saudara Fu, ayo mandi bersama." Kedua lengan putih itu melingkari leher Fu Shichen. Kepalanya bersandar pada bahu pihak lain yang membawa kehangatan dan kenyamanan untuk Lou Yan.


"Ah?" Fu Shichen sedikit terkejut. Tapi dia tidak menolak. "Baik."


Hubungan mereka sudah lebih dari seorang atasan dan bawahan. Tadi malam mereka bahkan melakukan sesuatu yang hanya akan dilakukan pasangan. Dan Fu Shichen juga berharap hubungan mereka lebih erat dan lebih mesra.


Keduanya memasuki kamar mandi.


Setelah selesai.


Fu Shichen dan Lou Yan keluar kamar mandi dan melihat dua setelan set seragam sekolah SMA Elit Young Lan dengan yang satu warna hitam sedikit lebih besar dan satu warna putih. Keduanya memiliki pola diagram bintang lima disisi kanan.


Lou Yan menatap terkejut pada seragam mereka yang sama. Alisnya mengerut dengan bingung, seolah-olah dia tidak mengerti kenapa seragam mereka sama.


Mata Lou Yan berkedip seolah menyadari sesuatu. "Saudara Fu, apakah kamu bersekolah di SMA Elit Young Lan?" Dia menatap Fu Shichen yang berpiyama hitam dengan heran.


Fu Shichen menegang, matanya yang tadinya lembut menjadi gugup. Tangannya meremas dan kepalanya menunduk. Tapi dia masih menjawab dengan patuh.


"Ya." Bisiknya lemah.


Mata Lou Yan cerah, dan dia bertanya dengan penuh semangat. "Jadi saudara, dimana kelasmu itu? Aku akan menemuimu di kelas dan kita akan beristirahat siang dan makan bersama."

__ADS_1


Pria itu menatap Lou Yan dengan ragu. Kemudian dia mengangguk. "Tidak masalah. Kelasku adalah kelas khusus."


Lou Yan mendengar kata kelas khusus dengan terkejut, cahaya aneh melintas dibenaknya seolah-olah dia menemukan rahasia aneh yang membuatnya tertarik.


Bukankah Fu Shichen ini yatim piatu dan hanya memiliki dua adik sekolah dasar serta seorang kakek yang sakit?


Bagaimana cara dia dapat memasuki kelas khusus yang penuh dengan siswa dengan latarbelakang yang kuat dan berkuasa?


Lou Yan bingung, namun dia tidak bertanya. Pasti tidak nyaman bagi saudara Fu untuk berbicara. Semua orang punya rahasianya sendiri.


"Baiklah, itu bagus. Kemudian kita akan bertemu di kelas dan setelah istirahat siang, kita bisa makan bersama." Lou Yan berbicara sambil memeluk lengan Fu Shichen manis.


Fu Shichen juga merasa lega. Untungnya tuan muda tidak bertanya, dia tidak tahu harus berbicara dari mana untuk menjelaskan.


Dia mengangguk untuk menanggapi antusias pemuda itu. "Oke."


....


"Ugh, saudara Fu. Penampilanmu ini sungguh...." Lou Yan tidak bisa berkata apa-apa. Tatapannya yang takjub menatap pria kutu buku didepannya.


Wajah Fu Shichen memanas.


Dalam sekejap penyesalan dan rasa malu datang dari hatinya.


Bodoh, apa yang dia lakukan sekarang. Bagaimana, bagaimana bisa dia berdandan seperti ini dihadapan tuan muda?


Bagaimana jika tuan muda merasa jijik dan merendahkannya karena penampilannya yang seperti ini. Bukankah itu terlihat jelek?


Fu Shichen sekarang mengenakan pakaian khas SMA Elit Young Lan, jas hitam dan kemeja didalamnya dikancing rapi, ada dasi yang dibentuk segitiga dan diluruskan. Sepatu hitam mengkilap yang dibeli oleh pelayan villa ini.


Seluruh orang tampak rapi dan bersih.


Hanya saja yang membuat semuanya tertutup adalah sepasang kacamata hitam tua yang dipakai oleh pria itu. Rambutnya yang disisir miring sekarang dimajukan dengan bentuk poni sampai menutupi alisnya dan menyentuh bulu mata.


Membuatnya tampak pemalu dan terasing, walaupun tidak terasa suram seperti sebelumnya, namun masih tampak tertutup. Suasana kutu buku cukup kental disekelilingnya.


"Tu— yanyan, apakah itu jelek?" Fu Shichen terbata-bata dan menatap pemuda dengan penampilan luarbiasa didepannya dengan gugup.


Mata besar Lou Yan berkedip. Dia kemudian tersenyum dan menatap pemuda yang pemalu dan gugup didepannya ini dengan senyuman geli.


"Tidak, apapun yang dipakai saudara Fu. Kamu akan tetap yang paling tampan." Lou Yan membual dengan cara yang berlebihan.


Namun walau begitu itu masih berhasil membuat kegugupan dihati Fu Shichen menghilang. Dia menatap pemuda cantik yang berusaha menghiburnya dengan enggan dan malu. "Um." Dia hanya menunduk dengan wajah merah.


"Saudara Fu, ayo pergi ke bawah." Lou Yan buru-buru menggandeng tangan besar Fu Shichen dan memasuki lift.


....


Sesampainya lift sampai dilantai satu, lift terbuka dan mereka berdua keluar.


Lou Yan melihat sosok pria tampan dengan penampilan elit dan aura agung disekelilingnya yang familiar.


Itu adalah kepala pelayan, Tn.Ennma.


Dia menyapa dengan manis.


"Paman Ennma." Lou Yan melambai dengan riang.


Tn.Ennma membuka matanya yang tertutup kacamata emas mewah. Dia mengangguk ringan dengan sikap tidak dingin atau hangat. Tampak acuh tak acuh seolah-olah tidak ada hal menarik didunia ini.


Lou Yan sudah mulai terbiasa. Namun Fu Shichen baru pertama kali, karena itu dia menundukkan kepalanya dengan hormat dan menyapa.


"Tn.Ennma." panggilnya dengan hormat dan menunduk.


Tn.Ennma hanya meliriknya ringan dan mengangguk acuh tak acuh. Ini dianggap sebagai jenis kesopanan.


"Saudara Fu, ayo makan." Lou Yan langsung menyeret Fu Shichen ke ruang makan dekat dapur.


Ketika Lou Yan sampai disana, dia menemukan sosok familiar yang tidak lain adalah Nangong Ryuji dan asistennya.


Namun ada sosok lain yang membuat Lou Yan bingung dan dia tidak mengenalnya. Mungkin dia teman saudara Ryuji, Lou Yan tidak peduli.


Dia masih menyapa mereka dengan nada ceria dan mata polos yang jernih.


"Saudara Ryuji..." nada pemuda itu manis dan wajahnya yang sangat cantik bersinar.


Nangong Ryuji melihat pemuda cantik antusias didepannya dengan tatapan aneh. Dan senyum lembut muncul dibibirnya. "Xiao Yan..." panggilnya dengan suara dalam dan lembut.


Mata Fu Shichen yang awalnya lembut dan tenang sedikit membeku. Sedikit kecemburuan muncul dihatinya, pria ini memanggil Yanyan dengan sangat intim.


Dan lebih membuat Fu Shichen tak nyaman adalah mereka bisa memanggil Yanyan didepan orang lain tampa masalah, tapi dia masih harus menyembunyikan hubungan dirinya dengan Yanyan supaya tidak diketahui orang lain.


Dia merasa masam dihatinya.


Nangong Ryuji melihat ekspresi gelap pemuda kutu buku di belakang punggung Lou Yan. Cahaya berbahaya melintas dimatanya.


Seekor katak ingin makan daging angsa.


Kemudian senyum Nangong Ryuji tidak berubah, dia melirik temannya yang malah menonton mereka dengan penuh minat. Menggelengkan kepalanya tampa daya. Bajîngan kecil ini...


"Xiao Yan, duduk dan makanlah." Nangong Ryuji menepuk kursi disebelahnya.


Asisten Nangong juga tersenyum sopan dan hormat, menyapa mereka.


Lou Yan melihat sekeliling dengan ekspresi bingung. "Saudara Ryuji, apakah saudara Jia Yu dan tuan Ming tidak datang untuk makan?"


Mata tenang Nangong Ryuji berkedip dan dia berbicara dengan tangan yang perlahan memotong steak. "Tidak."


Asisten dibelakangnya dengan cerdik menjelaskan alasannya.


"Tadi pagi tuan Jia dan tuan Ming mengatakan akan pergi ke perusahaan. Karena masalah tentang skandal dirinya di internet telah selesai dan opini publik telah mereda, dia kembali memulai syuting."


Lou Yan mengerti. Seorang idola memang harus profesional, terlepas skandal di internet, dia tetap harus syuting film.


Lou Yan berjalan menggandeng Fu Shichen yang pemalu, dia duduk disebelah Nangong Ryuji dibawah tatapan cemburu Fu Shichen.


Karena bangku di samping Lou Yan hanya di sisi kanan yang sekarang ditempati oleh Nangong Ryuji, Fu Shichen hanya bisa duduk didepan Lou Yan.


Ketika pelayan mulai menyajikan sarapan untuk mereka. Lou Yan kembali melihat pria disamping Nangong Ryuji. Karena tak dapat menahan rasa penasaran, dia bertanya pada Nangong Ryuji.


"Saudara Ryuji, siapa dia?"


Pisau yang digunakan untuk memotong itu berhenti diudara, Nangong Ryuji melirik temannya dan kemudian memperkenalkan dengan cara yang sederhana.


"Ye Qifeng, anak kedua keluarga tersembunyi Ye, dan satu kelas dengan kita, dia salah satu dari 25 anggota siswa di kelas khusus."


Lou Yan paham. Dia menyapa dengan manis. "Saudara Qi, halo. Namaku Lou Yan, kamu bisa memanggilku Yanyan atau Xiao Yan."


Ye Qifeng yang merasakan tatapan mereka dan menyimak dengan cepat membalas senyum ramah Lou Yan.


"Aku Ye Qifeng, senang bertemu denganmu." Senyum pria itu malas dan elegan. Ada pesona genit yang tidak bisa dijelaskan diantara alisnya yang melengkung indah.


....


Lou Yan dan Fu Shichen mengendarai mobil Roll-royce hitam menuju sekolah.


Karena ini hari kedua Lou Yan masuk dan kemarin dia juga tidak memasuki kelas karena masih hari pertama. Lou Yan berencana untuk masuk ke kelas musik.


Karena kelas khusus hanya akan masuk pada hari senin, sedangkan sekarang adalah hari sabtu dan kemarin jumat, dia akan mencoba belajar piano dan mengembalikan bakat asli pemilik tubuh ini.


"Saudara Fu, di kelas mana kamu ingin masuk?" Lou Yan bertanya ketika mereka masih di mobil.


"Matematika." Fu Shichen membalas denga senyum lembut.


Lou Yan mengangguk, "Kalau begitu kita hanya berpisah. Aku akan pergi ke kelas musik untuk belajar piano. Ketika istirahat makan siang, mari kita bertemu di alun-alun sekolah."


"Baik." Fu Shichen tidak masalah, walau dia enggan untuk pergi meninggalkan pemuda cantik ini, namun dia memang harus masuk kelas Matematika karena masih ada ulangan bulanan beberapa hari kedepan.


Tidak akan sempat belajar pada saat itu.


Mereka akhirnya sampai di sekolah, Fu Shichen meminta untuk turun lebih dulu, dia mengatakan dia tidak ingin orang lain bergosip tentang mereka.


Bagaimanapun Fu Shichen tahu reputasinya yang sebagai kutu-buku sangat dipandang rendah orang lain apalagi untuk anak orang kaya dan lahir keluarga besar.


Dia tidak ingin menyeret Yanyan kedalam masalah.


Setelah beberapa menit membiarkan Fu Shichen keluar mobil, Lou Yan juga keluar. Dia sangat tidak berdaya dengan sifat kehati-hatian dan kewaspadaan saudara Fu-nya.


Orang ini tampak lembut namun juga pemalu.


Beberapa saat Lou Yan telah menemukan gedung dimana didalam ada banyak ruangan kelas dari kelas akting dan drama, kelas musik, kelas bernyanyi, dan kelas menari.


Lou Yan masuk ke kelas musik.


Di auditorium yang besar itu terdapat banyak orang, Lou Yan cukup terkejut melihat ribuan orang yang duduk dibangku mengitari sebuah panggung megah di tengah-tengah.


Panggung itu memiliki lantai putih bersih, beberapa kaca membentuk sebuah kristal besar dibeberapa tempat dan memancarkan cahaya ungu dan biru ketika seseorang mulai tampil diatas panggung.


Karena ini hari pertama Lou Yan datang ke kelas musik, dia bingung harus pergi kemana di antara ribuan siswa ini.


Dimana dia harus duduk sekarang? Dan lagi, apakah ini sebuah acara? Ini tidak tampak seperti sedang memulai kelas, lebih cocok disebut pertunjukan.


Salah satu guru yang mengawasi semua orang didalam melihat kedatangan pemuda dengan paras sangat cantik seperti peri.


Dia tertegun dan menatap terkejut pada Lou Yan.


Tapi kemudian dia mendatangi Lou Yan dengan ramah. "Apakah kamu disini untuk melakukan pertunjukan atau menonton? Perlu guru bantu?" Dia bertanya dengan lembut.


Mata Lou Yan melihat guru didepannya dengan senyum sopan dan manis. Menjawab:


"Guru, nama saya Lou Yan. Dan saya murid baru disekolah ini. Ini pertama kalinya saya ingin datang ke kelas, namun saya tidak tahu apakah disini kelas musik? Dan apa hari ini ada acara disini?" Dia menunjuk pada lautan ribuan orang.


Guru lelaki itu tak bisa menahan untuk tersenyum lembut. Dia mulai menjelaskan.


"Ah, ternyata kamu murid baru itu. Biar guru menjelaskan, memang benar bahwa kelas ini merupakan kelas musik. Dan kebetulan hari ini adalah hari dimana semua siswa kelas musik akan memulai ulangan bulanan di setiap akhir bulan yang diadakan oleh sekolah. Tidak hanya kelas musik, tapi kelas lain juga mengadakan ujian bulanan." Guru berhenti sejenak, menunggu Lou Yan untuk mencerna penjelasannya.


Berkat kemampuan otak jenius, Lou Yan langsung paham hanya dengan beberapa kalimat. Ternyata ini adalah ulangan bulanan, ah.


"Lou Yan, mari ikut guru untuk mencari tempat dudukmu. Katakan, kelas mana yang kamu miliki?" Guru itu bertanya sambil menunjuk kearah bangku yang masih kosong.


Dia kembali berbicara dan menjelaskan dengan rinci:


"Perhatikan! Ada tujuh bangku dengan warna berbeda dilantai bawah. Warna merah adalah untuk para siswa dari kelas Elit, warna biru untuk kelas bangsawan, warna putih untuk kelas utama, warna ungu untuk kelas bisnis. Dan dibarisan terdepan adalah bangku warna emas untuk siswa yang merupakan anggota OSIS. Warna abu-abu untuk para siswa yang mendapat bantuan pemerintah. Dan yang terakhir adalah bangku warna hitam dilantai dua, itu adalah tempat dimana semua anggota kelas khusus berada."


Guru berhenti dan menatap Lou Yan dengan lembut dan ramah. "Jadi siswa Lou Yan, dimana kelasmu?"


Lou Yan mengangguk penuh pengertian, dia menjawab tampa beban.


"Guru, saya anggota kelas khusus."


Mendengar jawaban Lou Yan membuat guru itu tidak siap dan terperangah. Menatap Lou Yan terkejut dan tidak percaya.


"Kelas khusus?" Dia terkejut.


"Ya." Lou Yan mengangguk tenang.


Guru itu melihat Lou Yan tidak tampak seperti berbohong pun menghela nafas dengan keberuntungannya.


Guru itu berpikir dengan statusnya sebagai guru musik tingkat menengah bahkan tidak memenuhi syarat untuk mengenal angota dari kelas khusus. Apalagi mereka sangat jarang terlihat didunia luar. Hampir transparan dan misterius.


Namun keberuntungannya masih berpihak dengannya. Hari ini dia bertemu dengan murid baru yang merupakan anggota kelas khusus dan lagi sifatnya jauh berbeda dengan anggota kelas khusus lainnnya. Peri kecil ini sangat lembut dan manis. Sungguh peri kecil yang imut.


"Baiklah, guru akan membawamu ke lantai dua. Ayo!" Guru lelaki itu melambai dengan gembira.


"Baik guru." Lou Yan menjawab sopan.


Ketika mereka berjalan menuju lantai dua, di tangga terbawah, dua pengawal dengan otot kuat, tinggi dan garang menghentikan jalan mereka.


Suara mereka dingin dan tampak kejam, membuat guru itu tampak sedikit ketakutan dan gelisah.


"Pergi! Apa yang kalian berdua lakukan disini. Tempat lantai dua hanya bisa dimasuki oleh VVIP. Kucing dan tikus dilarang untuk mendatanginya!" Salah satu pengawal itu mengusir dengan gerakan cukup keras. Tangannya menjulur seolah ingin menangkap mereka.


Lou Yan menghindari ke belakang dengan cepat.


Namun guru itu kurang beruntung, sebelum dia bereaksi, dia ditarik ke samping dan hampir jatuh kebawah. Dia berteriak pelan karena tidak siap, "Ahh..."

__ADS_1


Lou Yan juga terkejut dengan keganasan pengawal itu.


__ADS_2