Sistem Kecantikan [Pendamping]

Sistem Kecantikan [Pendamping]
CHAPTER 26


__ADS_3

Lou Yan duduk di sofa panjang terbuat dari kain khusus yang di impor dari prancis, dengan Nangong Ryuji dan Ye Qifeng juga duduk didepan dan sampingnya.


Meja panjang ditempatkan dikedua sisi, dan ada hidangan lezat, kue kering, dan berbagai anggur, yang dapat digunakan sesuka hati. Ada juga poci yang terbuat dari kaca yang berisi anggur yang telah di jus dengan beberapa batu es.


Ada banyak tatapan yang mengarah pada mereka, terutama Lou Yan. Tapi pada saat ini mereka bertiga tidak mood untuk memperhatikan masalah ini. Nampaknya kejadian tadi masih mengejutkan banyak siswa didalam ruangan.


Lou Yan menatap Nangong Ryuji dan bertanya dengan penasaran :


"Saudara Ryuji, bukankah kamu mengatakan hanya ada 25 siswa dikelas khusus. Kenapa ada banyak siswa diruangan ini? Setidaknya ada lebih dari 30 orang diruangan."


Lou Yan merasa bingung, jumlah anggota kelas khusus yang dia tahu hanya ada 25 menurut saudara Wang dan Long Seyin. Namun diruangan ini, ada lebih dari 30 siswa yang semuanya tampak elit.


Selain itu ada beberapa orang yang dia kenal berasal dari kelas khusus yang tidak terlihat diruangan ini. Yang tidak lain adalah teman barunya, Mo Zhiyang, Grace Vouche Adelo, dan Michel Ellesmer. Sedangkan Donald Phantom sendiri masih ada di negara asalnya.


Nangong Ryuji melirik Lou Yan ringan, dia menatap temannya, Ye Qifeng.


Ye Qifeng merasa tak berdaya, dia kemudian mengambil alih untuk menjelaskan.


"Jumlah seluruh siswa di kelas khusus yang paling terkenal memang hanya ada 25 siswa. Namun itu dihitung dari segi 'kasta', 25 siswa ini berasal dari keluarga Phantaminum. Tapi jika ditotalkan jumlah siswa dikelas khusus, itu ada 43 siswa."


"Selain 25 siswa tadi, yang lain merupakan siswa kelas khusus yang memiliki latarbelakang lebih rendah dari keluarga kami, dan beberapa tidak memiliki latarbelakang seperti Fu Shichen 'temanmu' itu. Namun ada juga mereka yang menjadi siswa kelas khusus direkomendasikan oleh siswa dari keluarga Phantaminum. Orang-orang ini biasanya menggunakan pintu belakang." Tatapan pria itu menjadi berarti.


"Kau harus tahu para murid disekolah ini sangat sombong dan bangga, mereka hanya akan mengakui siswa yang memiliki latarbelakang kuat seperti kami. Jadi begitulah, hanya ada 25 siswa kelas kami yang paling dikenal semua orang disekolah." Ye Qifeng berhenti dan meminum anggur yang telah di jus oleh pelayan dengan anggun.


Lou Yan langsung mengerti.


Ternyata jumlah siswa dikelas khusus ada 43 siswa, namun karena latarbelakang mereka, hanya 25 siswa yang diakui oleh para murid di seluruh sekolah.


.....


Kelompok lima orang itu masing-masing mengeluarkan aura yang luarbiasa. Mereka duduk di masing-masing sofa kulit yang dilapisi selimut berbulu yang tampak lembut.


Salah satu diantara lima pria itu mulai berbicara.


Matanya yang cokelat terang di penuhi minat yang kuat, saat tatapannya jatuh pada seorang pemuda yang sangat cantik diujung sana.


Suara lembut pria itu tampak penasaran, "Apakah si cantik itu adalah murid baru yang kemarin membuat forum sekolah meledak?"


Pria yang berbicara itu memiliki sepasang mata phoenix yang indah, warna matanya cokelat tampak bersih dan dipenuhi rasa ingin tahu. Wajahnya tampan dan halus, sedikit lebih cantik. Bibirnya merah alami dengan fitur wajah yang lebih lembut. Rambut hitamnya sedikit lebih panjang sampai bahu, dia mengikatnya dengan cara yang sederhana dan santai.


Duduk disebelahnya adalah saudaranya, dia melihat adiknya penasaran. Bibirnya mengerucut dengan dingin. Tangannya menekan kepala adiknya yang terus menghadap kelompok Lou Yan.


Dia berbicara dengan suara dingin dan sedikit kecemburuan dalam nadanya.


"Apa itu sangat menarik? Lebih terlihat bagus daripada saudara?" Dia memeluk kepala adiknya dengan tak puas.


Pria yang tampak dingin itu memiliki wajah yang tampan, dengan mata, alis yang tajam, dia mengeluarkan udara dingin disekelilingnya. Hidungnya tinggi dengan bibir merah yang sedikit tebal. Ada sedikit kemiripan dengan pria sebelumnya.


Hanya yang membedakan antara keduanya adalah pria yang pertama tampak lembut dan cantik, sedangkan pria itu tampak dingin dan tajam.


Matanya yang suram melirik Lou Yan dan mendengus. Apa itu terlihat bagus? Jelas dia lebih bagus dan menarik.


Menyadari ada yang salah dalam nada saudaranya, Jin Yucen merasa tak berdaya. Bagaimana rasanya saudaranya begitu mudah makan cuka (cemburu), eh?


"Saudaraku, apa yang kau pikirkan hm? Aku hanya penasaran. Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya tertarik padamu."


Jin Yucen memeluk leher saudaranya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang, tak lupa dia bangkit dan duduk dipangkuannya, pàntatnya dengan sengaja bergesekan dan dia merasakan sesuatu yang keras bangkit dan menekan pàntatnya.


Sudut mulut Jin Yucen terangkat malas, penuh roh jahat. Matanya yang cokelat tampak murni dan tidak berbahaya. Namun hanya mereka berdua yang tahu betapa mengerikan pikiran dibenak pria yang tampak lembut itu.


Jin Fuchi menatap adiknya tertekan, rubah kecil ini. Apakah menyenangkan menyiksanya seperti ini. Jika bukan karena hari ini adalah ujian bulanan dikelas musik, dia akan membawanya dan menekannya diatas ranjang dan menghukumnya dengan keras.


Dia merasakan benda miliknya menjadi lebih keras dibawah godaan adiknya. Dia hanya bisa menahannya dengan kerja keras, keringat dingin mengalir lewat pelipisnya.


Menahannya sangatlah menyakitkan. Dia berpikir dengan gigi terkatup, menatap adiknya yang masih tersenyum polos dengan marah.


Tiga teman yang satu meja dengan mereka berdua saling memandang dengan ekspresi bosan.


Seorang pria duduk di sisi kanan tampak pemarah, dia menatap kedua saudara kandung yang memiliki hubungan ambigu dan selalu melemparkan makanan anjing disemua tempat tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya.


Bibirnya mengerucut kesal, matanya yang biru tua tampak dipenuhi ketidaksabaran, yang sangat kontras dengan wajah tampan dengan sedikit lemak bayi.


"Apakah kalian berdua sudah cukup?! Berhentilah membuat mataku sakit! Jika kalian ingin melakukan kontak, lakukan ditempat lain!" Suara pria itu dipenuhi amarah dan tekanan. Tatapannya tajam menatap kedua orang yang masih tenggelam didunia mereka.


Jin Fuchi dan Jin Yucen terkejut mendengar raungan marah dari teman mereka.


Walaupun keduanya tahu bahwa teman mereka ini sangatlah pemarah dan sombong, namun ini pertama kalinya temannya ini berteriak pada keduanya.


Jin Fuchi mengerutkan keningnya tidak senang.


Dia juga bukan orang yang baik, dia tidak akan peduli jika orang yang dimarahi pria ini adalah dirinya, dia hanya akan menganggapnya udara. Namun pria ini berani memarahi adiknya yang dia jaga sepenuh hati? Bagaimana mungkin dia tidak marah?


"Kamu—"


"Saudaraku. Aku lelah, ayo pergi keluar, masih ada banyak waktu sebelum penampilan kita." Jin Yucen menyela ucapan saudaranya dan kepalanya dengan genit menggosok dagunya, dengan tatapan memelas.


Dia juga tahu temperamen saudaranya yang panas dan dingin. Untuk mencegah keduanya bertengkar, dia harus turun tangan.


Jin Fuchi tertegun.


Dia menatap sisi imut adiknya itu dan akhirnya menyerah. Dia dengan enggan mengangguk setuju. Apalagi yang bisa di lakukan? Siapa yang membuatnya begitu mencintai adiknya ini?


Walaupun hubungan mereka mungkin bisa membuat orang merasa jijik, namun keduanya tidak peduli. Dia dan adiknya telah bersama sejak mereka masih kecil.


Ayah dan ibu mereka telah meninggal akibat kecelakaan mobil, mereka tidak memiliki kerabat ataupun seorang teman. Sebagai seorang kakak, dia harus mengambil tanggung jawab dan mulai tumbuh dewasa melebihi usianya. Saat itu dia hanya berusia delapan tahun, dan adiknya satu tahun lebih muda.


Untungnya ketika orangtuanya mengalami kecelakaan, masih ada beberapa sisa warisan berupa toko yang dibuka oleh ibunya. Karena dia tumbuh dengan ibunya, dia sudah bisa memasak ketika dia berusia enam tahun dan keterampilan memasaknya tidak buruk.


Jadi untuk menghidupi dirinya sendiri dan adiknya, dia mulai membuka toko dengan modal seadanya. Awalnya dia berencana untuk putus sekolah, namun adiknya menolak dan mengatakan bahwa dia yang akan putus sekolah jika uangnya tidak cukup. Memikirkannya dia cukup ketakutan. Akhirnya dia menyerah untuk menutup sekolah, jadi dia hanya bisa membuka toko setelah pulang dari sekolah.


Untungnya sekolah cukup pengertian dan beberapa kali memberikan bantuan pada mereka. Seperti akomodasi sekolah yang gratis, dan buku-buku mata pelajaran yang dipinjam. Jadi beban berat yang harus ditanggung olehnya juga lebih ringan.


Namun itu masih membuat Jin Fuchi tertekan. Karena uang mereka hanya cukup membeli makanan dan untuk modal toko juga, mereka jarang membeli pakaian. Dia tidak peduli jika bahkan hanya mengenakan lapisan tipis pakaian, namun berbeda dengan adiknya.


Mengingat setiap malam yang dingin adiknya yang memiliki tubuh kurus hanya mengenakan pakaian tipis yang telah dijahit berulang, dan hanya selimut tipis yang telah ditambal, ditambah rumah mereka sangat sempit dan lantainya masih tanah yang dingin. Dalam ruangan hanya ada satu tempat tidur lantai, dan kamar mandi, tidak ada ruang tamu ataupun dapur.


Ketika mereka tertidur, jendela ruangan masih memiliki lubang akan menghembuskan angin dan memasuki ruangan, sehingga suhu didalamnya pun sangat rendah. Hampir membekukan mereka berdua.


Hati Jin Fuchi terasa sakit, dan sejak itu dia berkerja keras beberapa kalilipat dari biasanya.


Saat pagi dia berangkat sekolah, siang dia membuka toko dan menghasilkan uang, sekalian dia memperkuat kemampuan memasaknya, malamnya dia belajar sampai pukul sebelas malam. Melihat adiknya yang tertidur, dia tidak menemani, melainkan kembali belajar, kali ini dia belajar bisnis, tentang ekonomi, saham dan beberapa merek mewah.


Dia bertekat untuk masuk ke sekolah ternama SMA Elit Young Lan, dimana semua anak-anak bangsawan, keluarga raksasa, dan keluarga berpengaruh semuanya berkumpul.


Alasannya hanya satu, itu adalah untuk adiknya, Jin Yucen. Kedua, untuk kehidupan yang lebih baik. Tiga, yaitu menghasilkan uang.


Pertama mencari teman dari keluarga kaya, membuat kontak dan mencari koneksi, jika ada bisnis yang dapat dipekerjakan, dia akan langsung mengambilnya dan mencoba menghasilkan uang. Pendidikan di sekolah ini mungkin tidak sekuat sekolah lain karena terlalu banyak ikut campur tangan dari keluarga besar, namun semua anak-anak disini adalah anak orang kaya.


Pada hari pertama sekolah, dia menghubungi pihak yang membuka restoran di sekolah ini, dia mengajukan untuk menjadi seorang koki. Setelah melewati banyak pemeriksaan fisik dan keterampilan memasaknya, dia akhirnya lulus.


Selain itu dia menyewa sebuah rumah kontrakan yang lumayan besar untuk keduanya.


Karena rumah sebelumnya memiliki kondisi yang cukup rusak dan tidak layak ditinggali, apalagi karena suhu diruangan yang rendah pada malam hari, adalah kebiasaan untuk dia dan adiknya saling memeluk untuk menghangatkan satu sama lain. Setiap malam dia juga akan mencium dahi saudaranya untuk mengucapkan selamat malam.


Namun perlahan mereka juga menjadi semakin dewasa, fisik mereka semakin sensitif ketika bersentuhan, dan itu membawa perasaan yang akrab.


Bahkan suatu kali dia mengalami mimpi basàh, dia memimpikan adegan càbul antara dirinya dan adiknya.


Ketika dia bangun, dia ketakutan dengan pikirannya sendiri, dia mengingatkan pada dirinya sendiri berulang kali bahwa mereka adalah saudara kandung, bagaimana mungkin dia memimpikan adiknya dan melakukan hal-hal seperti itu dalam mimpinya.


Merasakan perasaan bersalah ketika dia melihat mata polos dan murni adiknya yang memintanya untuk makan, dia akhirnya mengurung diri sendiri dalam kamar selama tiga hari. Rumah mereka sekarang adalah rumah sewa di lingkungan yang bobrok dan termurah. Tapi itu lebih baik dari pada rumah sebelumnya.


Karena bujukan dan ancaman adiknya, dia akhirnya keluar dari kamar, tapi dia tidak berani melihat adiknya dan kabur setelah makan.


Selama waktu berpikir dan merasa frustasi karena ketakutan akan mimpinya, dia akhirnya memutuskan untuk mencari pacar untuk mengalihkan pergantiannya. Dia akhirnya menemukan seorang wanita dengan penampilan biasa, mereka mulai berkencan. Dia mengabaikan adiknya selama hampir seminggu, dia terus menerus bersama pacarnya.


Namun itu masih belum membuatnya merasa tenang, akhirnya di bawah desakan teman-teman sekolahnya, dia memutuskan untuk melakukan sèxs untuk pertama kalinya bersama pacarnya.


Dia menyewa sebuah hotel yang cukup murah, dan mengajak pacarnya kesana pada malam hari. Pacarnya mungkin tahu apa yang dia inginkan, jadi pada malam itu dia mengenakan pakaian minim yang sangat sexy.


Mereka berdua datang ke hotel bersama.


Berada dikamar, pacarnya memutuskan untuk mandi lebih dulu. Dan dia menunggu dikamar dengan tenang. Ketika dia melihat pacarnya keluar hanya mengenakan handuk mandi, dia tidak merasakan apa-apa.


Dia meragukan apa yang dikatakan teman-temannya, api yang menyala atau rasa kering di tenggorokan. Dia benar-benar tidak merasakan perasaan seperti itu, melainkan hanya perasaan tidak nyaman dan mual. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


Dia bingung dengan perasaan jijik yang datang dari perutnya, itu benar-benar mual menonton wanita itu mendekatinya, ada naluri untuk melarikan diri dan mendorong wanita itu pergi. Tapi dia tidak bisa melakukannya, dan dia tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Mereka berdua sepasang kekasih dan merupakan hal wajar melakukan gerakan intim bersama.

__ADS_1


Jadi, dia menekan naluri untuk melarikan diri dan berencana melepas pakaiannya.


Namun ketika dia akan memulai, tiba-tiba teleponnya berdering, dia mungkin bisa mengabaikan orang lain yang menelpon, namun nada dering ini dikhususkan untuk adiknya, jadi dia berhenti dan langsung menjawab panggilan itu bahkan tampa memikirkannya.


Hal pertama yang dia dengar adalah suara batuk yang keras dan cukup menakutkan untuk didengar, dan pada saat itu napas Jin Fuchi tertahan ditenggorokannya.


Itu adalah suara batuk adiknya.


Apa yang terjadi? Dia bertanya dengan panik pada adiknya yang tampak kesakitan. Ada kerutan yang dalam di antara alis tajam pria itu.


Dia kemudian mendengar suara lemah dan serak adiknya yang kesulitan untuk berbicara, "Saudaraku...uh, huh... aku... batuk, batuk, tolong... pulang... batuk, sakit kakak..."


Jin Fuchi terkejut, dia mendengarkan adiknya yang berbicara pelan disertai batuk keras.


Adiknya mengatakan dia sakit dan sekarang masih ada dirumah, dia juga mengatakan ada darah yang keluar dari mulutnya. Perutnya terasa dipukul dan dia mendengar tangisan menyakitkan adiknya yang merengek untuk pulang.


Ini pertama kalinya dia mendengar adiknya tampak begitu rapuh, seolah-olah angin bertiup itu akan langsung menghancurkan porselen yang lembut.


Saat itu pikir Jin Fuchi kosong.


Tiba-tiba rasa panik, khawatir dan amarah muncul dihatinya. Dia panik dengan kondisi adiknya yang tampak kesakitan, khawatir tentang sesuatu terjadi pada adiknya dirumah. Bahkan amarah pada dirinya sendiri karena meninggalkan adiknya sendirian dirumah dan bahkan mengabaikan kondisi kesehatan adiknya.


Saat itu pikiran Jin Fuchi dipenuhi tangisan menyakitkan adiknya. Dia hampir dengan gila bergegas pergi tampa merapikan pakaiannya, dia mengendarai motornya dan mengendarainya seperti orang kesetanan. Beberapa polisi lalu lintas mencoba menghentikannya, namun dia tidak memedulikannya.


Pikirannya sekarang berkecamuk, hatinya terus berdegup kencang seperti menaiki roller coster. Dia hampir kehilangan kendali, seluruh hatinya di penuhi penyesalan, rasa sakit dan kegilaan.


Dia menyesal mengabaikan adiknya, rasa sakit karena pikirannya terus menerus mengulang suara batuk menyakitkan adiknya dan tangisannya yang terlihat sangat sedih.


Pada saat di jalan kecil menuju rumah sewaannya, ban motor meledak dan dia tidak bisa menahan kutukan karena marah.


Namun karena khawatir tentang kondisi adiknya, dia hanya bisa menyeret motornya ke belakang pohon besar dan menaruhnya disana. Dengan frustasi dan panik dia berlari ke arah rumahnya dengan gila. Berusaha menjangkau waktu secepat mungkin.


Sesampainya dia dirumah, dia langsung mendobrak pintu kamar sehingga pintu itu bergetar kencang. Matanya yang dipenuhi kekhawatiran dengan panik memindai ruangan kecil itu. Dan tatapannya jatuh pada seorang pemuda yang tidur dengan punggung menghadapnya.


Dia meraung pada adiknya dengan panik.


"Cencen!!" Dia bergegas pada pemuda yang tertidur memunggunginya.


Dia memeluk erat dari belakang pemuda itu, memanggilnya dengan lembut dan khawatir, dia mencoba untuk berbicara dengan tenang, namun suaranya masih bergetar karena ketakutan yang muncul dihatinya.


"Cencen, kakak disini. Apakah kamu baik-baik saja. Katakan pada saudara, dimana yang sakit?! Cencen... bangun..."


"Hmm..."


Jin Yucen mengèrang lembut, dia mendengar suara akrab saudaranya dan mendengar kepanikan pria itu. Dari sudut yang tidak terlihat oleh Jin Fuchi, sudut mulut pemuda itu terangkat lembut. Sedikit kelicikan melintas dimatanya yang penuh air dan jernih. Nadanya lembut dan serak, seolah-olah dia baru saja bangun dari tidurnya.


"Saudaraku..."


Pemuda itu membalik punggungnya dan menerima pelukan kakaknya secara langsung, bahkan tidak membiarkan wajahnya terlihat karena kecepatannya merespon, kepalanya yang berbulu menggesek dada kokoh milik pria yang dipenuhi kekhawatiran itu.


Segera dia merasakan bau akrab kakaknya, namun senyum Jin Yucen membeku ketika dia mencium bau parfum wanita yang menyengat di pakaian milik kakaknya. Tangannya yang memeluk saudaranya mengepal erat. Jejak kekejaman melintas dimatanya yang damai dan lembut.


Melihat adiknya bangun dan memeluknya, mata Jin Fuchi memerah karena ketakutan. Dia takut sesuatu terjadi pada adiknya, melihat adiknya merespon, dia segera membalas pelukan adiknya. Dia berbicara dengan suara lembut yang dipenuhi kekhawatiran. Sebelumnya dia mengira adiknya pingsan.


"Cencen, katakan pada saudara. Dimana yang sakit, apakah kamu baik-baik saja. Saudara mendengar kamu batuk darah, kita pergi ke rumah sakit oke? Dan lihat kondisinya." Jin Fuchi membujuk adiknya dengan mata penuh kelembutan, dan hatinya yang menggantung belum bisa membuatnya merasa tenang.


Dia harus membawa adiknya ke rumah sakit dan melihat penyakit apa yang diderita oleh adiknya sehingga adiknya mengalami batuk darah.


Jin Yucen yang masih memeluk saudaranya terdiam, dia dengan erat memegang pinggang saudaranya. Matanya yang lembut tampak tenang dan damai. Wajahnya yang cantik masih menggesek dada saudaranya. Jejak rasa bersalah melintas dimata phoenix yang tenang.


Dia membuka mulutnya dan ragu-ragu, sedikit takut. "Saudaraku, aku... aku baik-baik saja."


Jin Fuchi masih tidak yakin dengan perkataan adiknya. Dia pikir adiknya hanya berusaha menenangkannya. Mengingat kondisi rumah tangga mereka yang sekarang. Wajar jika adiknya mengira biaya rumah sakit sangat mahal dan dia tidak punya uang.


Namun dia masih bersikeras untuk pergi kerumah sakit, bagaimana bisa dia membiarkan adiknya yang tercinta memiliki tubuh yang sakit dan tidak segera di rawat. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada adiknya?


Memikirkan ini membuat jantung Jin Fuchi berdetak kencang. Dia bahkan tidak menyadari kepanikan yang berlebihan dan keengganannya untuk berpisah dengan adiknya.


"Cencen, jangan takut. Saudara akan membawa kamu pergi kerumah sakit. Jangan berpikir yang aneh-aneh, saudara masih punya uang untuk pengobatan. Kamu sakit sekarang, kamu harus dirawat supaya cepat sembuh. Kita pergi sekarang oke?" Dia mengelus rambut lembut milik adiknya, membujuknya dengan nada khawatir dan memanjakan.


Matanya begitu lembut sehingga hampir memiliki keinginan untuk menenggelamkan pemuda yang masih berada dipelukannya. Dan Jin Fuchi masih tidak menyadari bahwa tatapannya sekarang tidak akan dimiliki oleh seorang saudara kandung. Mata itu terlalu intim, yang sangat berlebihan.


Kepala Jin Yucen bersembunyi dibalik pelukan saudaranya. Mendengar nada saudaranya yang di penuhi kekhawatiran dan memanjakan. Senyum lembut melintas dimatanya yang tenang. Namun badai dalam hatinya mampu memporak-porandakan segala hal didunia kecilnya.


"Saudaraku, apakah kamu baru saja pergi menemui pacarmu? Apakah aku mengganggu kencanmu?" Jin Yucen mencoba mengalihkan perhatian saudaranya dengan bertanya tentang pacarnya. Dia juga ingin menguji seberapa perhatian saudara pada pacarnya itu.


Namun bagaimana bisa saudara yang protektif dan posesif ini memikirkan orang lain sekarang disaat adiknya yang tercinta penyakitnya masih belum diketahui tanpa pemeriksaan fisik.


Jadi tanpa memikirkannya, Jin Fuchi masih membujuk adiknya untuk pergi ke rumah sakit.


"Tidak, Cencen. Jangan pedulikan tentang wanita itu, sekarang yang terpenting kita memikirkan cara untuk pergi kerumah sakit. Motor saudara mengalami masalah dijalan tadi, kita gunakan taxi atau pergi menyewa mobil sebentar, benar?"


Jin Fuchi merasa karena saudaranya sedang sakit jadi mereka harus mengenakan mobil untuk pergi kerumah sakit. Lagipula malam ini dingin dan dengan kondisi tubuh adiknya yang masih rentan terhadap penyakit, apalagi ada kemungkinan penyakit adiknya berkaitan dengan fisiknya yang lemah. Jika menggunakan motor, takutnya angin malam akan memengaruhi kesehatan sang adik.


Jin Yucen merasa tak berdaya dengan sifat kakaknya yang keras kepala. Tapi dia juga merasa manis di hatinya.


Saudaraku hanya peduli padaku, dia mengabaikan pacar palsunya dan hanya mementingkan kondisi dirinya. Memikirkan ini, sudut mulut Jin Yucen terhubung menjadi lengkungan yang menarik. Ditambah wajahnya yang tampan dan cantik, seluruh orang tampak mekar.


Pada saat itu juga Jin Fuchi mengangkat kepala adiknya untuk melihat kondisinya lebih teliti, dan ketika dia mengangkatnya, dia tertegun.


Senyum pemuda itu tulus dan lembut, dengan sembilan poin kebahagiaan dan satu poin harapan. Ditambah wajahnya yang halus, putih dan lembut, itu membuatnya lebih menawan. Kecantikan itu berasal dari tulang, mata phoenix yang cerah dan lembut, membuat orang merasakan kedamaian dan ketenangan. Bibirnya yang merah melengkung bahkan lebih menarik. Membuat orang memiliki keinginan untuk mencicipinya.


Dan tatapan Jin Fuchi jatuh pada bibirnya, dia merasakan tenggorokannya kering dan memiliki keinginan untuk mencicipi bibir centil milik pemuda cantik dipelukannya itu. Dia terkejut dengan pemikirannya yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia memiliki pemikiran seperti itu. Apalagi ini adalah adiknya.


Jin Fuchi mengalihkan perhatiannya dengan canggung, pipinya merah karena malu dan bersalah, menoleh ke samping, itu sangat tidak nyaman berpikir dia memiliki keinginan untuk mencium adiknya.


Apa semua yang dia lakukan selama seminggu ini masih belum bisa berhasil? Kenapa dia masih memiliki keinginan tak bermoral pada adiknya? Mimpi terkutuk itu benar-benar memiliki pengaruh yang sangat kuat pada dirinya. Sekarang dia harus khawatir tentang perasaannya sendiri.


Jin Fuchi bertanya-tanya dalam hati. Dia juga merasakan perasaan dalam hatinya menjadi tidak terkendali, dan dia tidak menyukai perasaan tidak terkendali ini. Rasanya dia tidak bisa melakukan sesuatu yang dia inginkan sesuka hati.


"Saudaraku..." suara lembut pemuda itu membangunkan lamunan Jin Fuchi. Dia menatap adiknya yang masih dengan lembut menatapnya.


Melihat tatapan lembut dan rapuh adiknya, jantung Jin Fuchi bergetar seperti riak air.


"Aku baik-baik saja. Sebenarnya aku berbohong pada saudara ditelepon tadi." Dia berbicara dengan ekspresi bersalah diwajahnya. Kepalanya menunduk seolah untuk mengakui kesalahannya.


Jin Fuchi terkejut mendengar pengakuan adiknya. Dia mengerutkan kening. Adiknya berbohong?


Dia ragu-ragu untuk bertanya, tapi masih khawatir.


"Cencen! Apa kamu bercanda? Jangan berbicara omong kosong. Katakan pada saudara dengan jujur, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu benar-benar tidak sakit?!" Dia bertanya dengan nada tegas dan wajahnya lebih dingin namun sulit menyembunyikan kekhawatiran di matanya yang tajam.


Jin Fuchi merasa adiknya menyembunyikan sesuatu. Bagaimanapun mereka tumbuh besar bersama dan sekarang usia mereka sudah 16 tahun. Dia masih tahu banyak kebiasaan adiknya.


Jin Yucen dengan tenang menatap saudaranya yang masih khawatir, melihat kerutan dikeningnya karena ketidakpuasan. Tangannya terangkat dan mengelus alis pria tampan didepannya.


"Saudaraku..." suaranya lembut dan penuh kasih. Matanya masih menatapnya erat, tidak ada lagi keragu-raguan diawal.


Jin Fuchi terdiam melihat adiknya masih memanggilnya dengan ekspresi lembut.


Akhirnya nadanya melunak. Dia masih bertanya pada adiknya, "Cencen... katakan pada saudara. Ada apa?"


Pemuda itu tidak menjawab.


Tangan itu menyentuh wajah saudaranya, jari giok menelusuri alis saudaranya yang tajam, perlahan bergerak menuju bulu mata yang seperti bulu gagak, melihat mata phoenix yang sama dengan miliknya, hanya saja milik saudara jauh lebih tajam. Kemudian hidung tinggi dan terakhir adalah bibir merah milik kakaknya.


Menatap bibir panas pria tampan didepannya, matanya yang awalnya cerah menjadi lebih gelap, ada kasih sayang di matanya yang damai dan tenang.


Jin Yucen dengan tenang berbicara. Menatap erat-erat pada saudaranya yang tampan.


"Saudara... aku menyukaimu."


"...."


Hening.


Mata pria itu menatap pemuda menawan dipelukannya dengan mata luarbiasa. Dia membuka lebar matanya seolah-olah ingin memastikan dia tidak salah membaca ucapannya.


"Cen, kamu—"


"Ya, saudara, aku menyukaimu, tidak... aku mencintaimu." Jin Yucen mengulang kalimatnya dan mengganti kata-katanya dengan ekspresi lembut penuh cinta.


Jin Fuchi terdiam. Dia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut adiknya.


Dia memandang pemuda dipelukannya yang masih menatapnya erat. Matanya yang phoenix menatap erat padanya, seolah seluruh dunia adalah dirinya. Mata pemuda itu jernih dan lembut, penuh kasih sayang. Ada cinta dan kedamaian di kedalaman mata itu.


Wajahnya yang tampan dan cantik memiliki rona merah samar di pipi dan telinganya, anehnya itu berhasil menggelitik hati Jin Fuchi.

__ADS_1


Ini adalah adiknya, adik yang dia jaga dengan sepenuh hati. Orang yang paling dia percaya, satu-satunya keluarga, dan satu-satunya orang yang ingin dia jaga. Dia memegangnya ditangannya sebagai harta karun. Setiap hari dia merawatnya dengan hati-hati, memeluknya dan menjaganya di wilayahnya, dan membelainya di telapak tangannya.


Setelah malam itu, dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk menghapus pikiran buruk tentang adiknya.


Dia merasa sebagai seorang kakak dia perlu bertanggung jawab. Jadi dia menggunakan segala cara untuk mengalihkan perhatiannya selama satu minggu ini. Dia mencoba melarikan diri dari perasaan yang mengganggu hatinya. Dan dia menggantung perasaan nya yang sebenarnya selama berhari-hari.


Dia ingin menghapus fakta bahwa dia memiliki pikiran tentang adiknya.


Tapi sekarang...


Melihat kepala pemuda itu menunduk dan tampak menyedihkan. Rambutnya yang halus bergoyang lembut, dan seluruh orang tampak lesu.


Tangan Jin Fuchi yang terkepal akhirnya mengendur.


Dia tidak berbicara namun tangannya secara langsung mengangkat kepala pemuda itu dan langsung menyerangnya.


WARNING‼ [18+]


....


"Um..." Seruan pemuda itu ditelan oleh ciuman yang panas. Bulu mata Jin Yucen bergetar ringan dan tampak rapuh, ada kejutan dan kegembiraan dimatanya yang phoenix, perlahan dia menutup matanya dan membalas ciuman saudaranya.


Jin Fuchi menjilat bibir Jin Yucen dengan cermat, ujung lidahnya menguraikan garis yang indah, dan dengan sabar menjilat bibirnya hingga mengkilap. Kemudian dia mulai menggigit bibir merah pemuda itu dan Jin Yucen reflek membuka mulutnya karena merasakan nyeri dibibirnya akibat gigitan.


Jin Fuchi mulai masuk ke wilayah lawan di sepanjang gigi yang sedikit terbuka, bibir dan lidahnya terjalin, kuat dan lembut, yang dengan cepat membuat Jin Yucen dikalahkan. Respon bawah sadar Jin Yucen ketika dia sedang jatuh cinta membuat Jin Fuchi mabuk. Pria kecil ini membalas ciumannya. Sangat bagus.


Jantung Jin Fuchi berdetak kencang. Dia memeluk adiknya dengan erat, matanya yang dalam dan tajam menggelap.


Dia melepas bibirnya dengan enggan, aliran perak terjalin begitu sepasang bibir merah mengkilap mulai menjauh.


Jin Fuchi mengelus pinggang ramping adiknya.


"Cen, biarkan aku memilikimu sepenuhnya..." dia berkata dengan suara serak dan magnetis. Matanya yang gelap dan tajam menatap pemuda yang terengah-engah dan ambruk dipelukannya.


Jin Yucen menarik napas dalam-dalam. Dia juga mengangkat kepalanya dan menatap saudaranya yang senantiasa menunggu jawabannya. Dia menggigit bibirnya lembut, dan dengan malu-malu mengangguk.


"Saudaraku... semenjak ayah dan ibu meninggal. Aku sudah menjadi milikmu." Hati, jiwa dan tubuh. Segala yang dia miliki adalah miliknya. Jin Yucen dengan lembut bergumam dalam hatinya. Tangannya memeluk saudaranya dengan erat.


Mata Jin Fuchi langsung meleleh begitu dia mendengar perkataan adiknya. Senyum lembut muncul dibibirnya.


Dia menunduk dan menempelkan bibirnya pada leher adiknya, dengan suara rendah dan lembut, dia bergumam ditelinga adiknya.


"Bagus, Cencen adalah milik saudara."


Daun telinga sensitif yang sama dipegang di mulut yang hangat, dan bahkan digigit ringan. Jin Fuchi menjilat telinga sensitif pemuda menawan itu, membuat pemuda itu mèlenguh samar.


"Umm..." Tubuh Jin Yucen bergetar ringan, pipinya memerah, dan senyum pria tampan itu semakin dalam menyaksikan adiknya yang dia cintai sepenuhnya menerima sentuhannya.


Tangan besar pria itu mulai mengelus pinggang ramping yang masih tertutup pakaian, tangannya perlahan menyelusup kedalam pakaian pemuda dan kulit lembut dan halus menyapanya.


Menyipitkan matanya, Jin Fuchi mulai membuka kancing pakaian yang dikenakan adiknya. Perlahan tubuh giok yang tampak proposional dan lembut terlihat sedikit demi sedikit.


Menyaksikan dari atas, kulit pemuda itu halus dan putih, dia menidurkan adiknya pada kasur lembut dibawahnya. Dada pemuda itu menjulang dan sepasang putîng merah ceri yang indah didadanya tampak memikat, tanpa sadar dia menelan ludahnya.


Dia harus mengakui adiknya memang sangat menawan. Adiknya ini juga sangat populer di sekolah, terkadang ada banyak wanita dan pria yang ingin menjadikan adiknya sebagai pacar, namun Jin Yucen menolak mereka.


Dan sekarang dia bahkan juga termasuk salah satu orang yang terpesona oleh sosok pemuda menawan ini.


Setelah melepas pakaian adiknya, Jin Fuchi menundukkan kepalanya dan bibirnya mencium putîng merah muda sebelah kiri, perlahan lidahnya mulai menjilat dan dengan lembut memutarnya, lidah itu fleksibel seperti ular menari, setetes demi setetes air liur tumpah dan membasahi ceri yang perlahan mengeras.


"Um...ahh...satu...uhh...saudara..." Jin Yucen mengèrang lembut dan meminta saudaranya untuk tidak mengabaikan ceri satunya. Putîng sebelah kanan gatal dan sangat tidak nyaman bagi dirinya untuk bergerak.


Jin Fuchi tersenyum lembut dan dengan patuh mengikuti permintaan kekasihnya.


Tangan besar pria itu menggosok ceri merah muda disebelah kanan, mencubit dari waktu ke waktu. Beberapa saat dia bergantian untuk menjilat kiri dan kanan, sampai-sampai ceri itu bengkak dan merah.


Nafas Jin Yucen tampak terengah-engah, dia menatap kepala berbulu yang masih dengan asik menyusu di putîngnya, pipinya tersipu. Matanya yang tampak penuh air mata dipenuhi cahaya kelembutan. Tangannya bergerak dan mengelus rambut lembut saudaranya yang sekarang berstatus kekasihnya.


"Saudaraku, ini tidak adil. Kamu masih memakai pakaian begitu rapi, aku juga ingin melihatnya." Jin Yucen menatap saudaranya dan mengeluh dengan mata menyedihkan. Bibirnya mengerucut dan mata phoenix menawan diisi dengan air mata karena keinginan.


Gerakan Jin Fuchi berhenti, dia mendongak dan menyaksikan penampilan kekasih kecilnya yang bertindak genit. Mendengar permintaan di nadanya, senyum jahat melintas dimatanya yang tajam.


"Oh? Apakah bayi saudara begitu bersemangat? Kalau begitu lakukanlah. Ayo buka pakaian saudara!" Dia dengan murah hati mencondong tubuhnya kedepan, untuk memudahkan adiknya membuka pakaian untuknya.


Sudut bibir Jin Yucen berkedut, melihat tatapan nakal saudaranya yang biasanya dingin dan dewasa, dia tampa daya mulai membuka satu persatu kancing dipakaiannya.


Mata pemuda itu berbinar cerah, dia menyaksikan tubuh saudaranya yang tidak tertutup pakaian, tubuh kuat pria itu berwarna putih, otot-otot di dada dan perutnya tersusun rapi, punggung kokoh seperti harimau dan pinggang serigala. Poin plus wajahnya yang sangat tampan seperti ukiran tajam, fitur wajah yang sempurna.


Melihat tatapan pemujaan dari adiknya, Jin Fuchi merasa sangat bangga dan beruntung. Untungnya dia memiliki kebiasaan berolahraga, sehingga otot-otot ditubuhnya terlihat keren di mata adiknya.


Tangan pemuda itu mengelus otot kuat di perut saudaranya, matanya dipenuhi keinginan dan sedikit iri. Jin Yucen menghela nafas dan berpikir bahwa saudaranya adalah pria yang sempurna, sayang sekali bahwa pria tampan yang tampak luar biasa ini hanya bisa menjadi miliknya.


Mata pemuda itu bersinar dengan kegembiraan.


Bibir pria tampan itu mencium perut halus dan lembut milik Jin Yucen, perlahan ciumannya juga menurun sampai wajahnya menghadap kearah retsleting celana adiknya.


Tampa meminta izin pada pemuda itu, pria tampan itu mulai membuka retsleting celana dan memperlihatkan celana dàlam warna abu-abu. Menarik celananya sampai bawah dan melempar ke samping. Dia mulai mencium pàha bagian dalam, lidahnya menjilat dari lutut ke pàha atas.


"Ahh...saudara...umhh...huh..." Jin Yucen memegang erat selimut dibawahnya dan mengèrang sesekali. Kakinya gemetar karena rasa gelitik dari kakinya yang sensitif.


Gerakan Jin Fuchi berhenti didepan celana dàlam abu-abu itu. Tangannya menggosok celana dàlam itu dan dia merasakan benda didalamnya mulai mengeras. Sesekali dia meremas lembut dan membuat benda itu mengangkat sepenuhnya, rasanya begitu sesak didalam sana.


Jin Yucen mengangkat kepalanya dan mèlenguh samar. Wajahnya merah seperti direbus dan air mata fisiologi keluar dari mata phoenix yang menawan. "Saudaraku..." suaranya lembut dan menyedihkan.


Dengan ekspresi tenang Jin Fuchi menarik celana dàlam dan mengeluarkan benda milik pemuda itu. Tatapannya begitu panas sehingga Jin Yucen merasa malu. Dia menutup kakinya dengan malu-malu. Giginya menggigit ringan bibir merah itu dan dia dengan samar melirik raut wajah saudaranya yang tenang.


Jika bukan karena tonjolan keras menekan kaki kirinya, Jin Yucen akan mengira saudaranya tidak bernàfsu.


Jin Fuchi melirik adiknya yang tampak malu, dengan senyum samar dimatanya, dia memintanya untuk membuka kakinya. Pemuda itu dengan enggan menuruti perintah kakaknya.


Tatapan panas itu berlama-lama di tengah kakinya. Jin Yucen agak sulit bernapas karena dia merasa terangsàng oleh tatapan antusias saudaranya.


Tangan besar itu memegang akar kehidupan adiknya, membuat tubuh Jin Yucen menegang. Jin Fuchi perlahan menggosok benda milik adiknya, dari pelan sampai kecepatan konstan membuat pemuda menawan itu berteriak pelan.


Sampai Jin Yucen merasakan sesuatu akan keluar dari benda miliknya, dia mengangkat kepalanya dan mengèrang keras. "Ahhhhh...." Dia menembak banyak air, dan cairan lengket jatuh ditangan milik Jin Fuchi, beberapa juga mengenai dada pria tampan itu.


"Hah...hah...hah...hah..." Jin Yucen menarik napas dalam-dalam, tubuhnya terasa lemah dan dia melepas cengkramannya pada selimut yang kusut.


Jin Fuchi menyaksikan ekspresi adiknya yang awalnya memerah, sampai melihat kelelahan menyapu tubuhnya. Tangannya yang masih terdapat cairan lengket diangkat ke kearah mulutnya, dan dia menjilatnya.


Manis. (Asin itu mah... (*////▽////*) Hehe;)


Jin Fuchi membuka celananya dan mengeluarkan kekerasannya yang telah lama mengeras. Menyaksikan benda besar dan panas milik saudaranya membuat Jin Yucen menarik napas terkejut. Dia menelan ludah susah payah.


OMG, besar sekali... (b aja kali, lebay lu thor...)


Author: "...."


....


"Ah...ah...ah...ah..." Suara keras dari tabrakan dua tubuh saling menyatu memenuhi ruangan yang sempit. Tubuh pemuda itu terbanting keras membuat suara 'pop, pop, pop' dengan percikan air.


"Umh...saudaraku..." Tangan pemuda itu mencengkram punggung kokoh pria tampan yang sekarang tengah bekerja keras, keringat menetes melewati pangkal hidung tinggi dan menetes ke tubuh menawan dibawahnya.


Jin Fuchi menatap adiknya yang bersenandung lembut, matanya dipenuhi cinta dan obsesif. Dengan keras dia menyentak lubang bunga pemuda itu, membuat jeritan kesenangan.


"Ahhhh..." Tubuh Jin Yucen melengkung dengan indah, ceri merah didadanya telah lama bengkak dan mengeras. Lidah pria tampan itu menjilat ceri merah adiknya, dengan sabar memutar, menyesap, dan menguleni. Masih dengan kerja keras dibawahnya.


Setelah lama mereka terhubung, akhirnya keduanya menembak secara bersamaan.


"Ahhhh..."


"Ugh..." Jin Fuchi menggeram setelah pelepasannya. Senyum puas dan obsesif memenuhi bibirnya yang merah. Menatap penuh kasih pada pemuda yang tampak kelelahan dibawahnya.


"Cencen, saudara mencintaimu." Suaranya lembut dan dia berbisik ditelinga adiknya sekaligus kekasihnya. Pelukan erat mengitari tubuh lembut pemuda itu.


Senyum muncul dimata phoenix menawan Jin Yucen. Dia juga membalas pelukan saudaranya dan berkata dengan mata lembut.


"Saudaraku, aku selalu mencintaimu."


Dari awal sampai akhir, aku hanya mencintaimu saudaraku. Jin Yucen menutup matanya dengan mengantuk.


....


Oke, udah dulu bye!


Ngomong" ini cerita dewasanya udah yang paling mentok, takutnya gak lulus jadi cuma buat yang sederhana.

__ADS_1


__ADS_2