
Euis berjalan dengan cepat menuju kelas yang berada di lantai dua.
Ia tidak sabar untuk menceritakan apa yang Ia alami kemarin.
Sengaja Ia tidak menceritakan lewat chat group agar kedua temannya dapat merasakan ketakutan yang Ia rasakan kemarin.
Sesampainya di lantai dua Ia langsung masuk ke dalam kelas dan matanya mencari keberadaan kedua sahabatnya.
Euis melihat kedua sahabatnya yang tengah mengobrol di meja paling belakang.
Dengan langkah yang panjang Ia menghampiri kedua sahabatnya itu.
Cindy dan Monic terlihat terkejut dengan kehadiran Euis.
Euis datang dengan nafas yang berkempul kempul dan keringat yang mengucur di wajahnya, seperti habis lari keliling lapangan.
" Kamu kenapa Is? " Tanya Cindy dengan tatapan khawatir.
Euis mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Cindy.
" Kalian tau semalam aku mengalami apa? " Tanya Euis dengan nafas yang masih memburu.
Euis menatap mata kedua sahabatnya satu persatu, mereka terlihat bingung.
" Mengalami apa? " Tanya Monic.
" Buku notes yang aku pakai untuk mencatat praktikum bedah anatomi kemarin tertinggal di ruang praktikum " Ujar Euis dengan bersemangat.
" Lalu kamu sudah ambil notes nya? " Tanya Cindy.
Euis mengambil notes dari dalam tasnya dan memperlihatkannya kepada Cindy dan Monic.
" Bukunya sudah ada di tanganku tapi bukan karena aku ambil di ruang praktikum, tapi ada yang mengantarkan tadi malam ke kosanku "
Cindy dan Monic mengerutkan dahi " Siapa yang mengantarkannya? Bukannya tidak ada yang tau dimana kosan mu? " Tanya Cindy dengan nada heran.
" Nah, betul kan tidak ada yang tau kosan aku? Terlebih lagi kalian akan terkejut jika tau siapa yang mengantarkannya " Euis mengambil nafas sebentar sebelum melanjutkan kembali ceritanya.
" Yang mengantarkan notes-ku ke kosan adalah Mr X " Ujar Euis dengan setengah berbisik.
" Mr X siapa? " Tanya Cindy, nampaknya Ia sudah lupa jika jenazah tanpa identitas di sebut dengan nama Mr X.
" Lo udah lupa Cin? Mr X yang di bedah dokter Roni kemarin di praktikum anatomi " Ujar Monic dengan nada santainya.
Ketika sudah memahami itu, raut wajah Cindy yang semula heran berubah menjadi takut.
" Se..seriusan Is? Kamu tau darimana? " Cindy memundurkan tubuhnya dari Euis.
" Bapak kosan Aku bilang kalo yang mengantar notes ku adalah seorang perempuan, dan ciri yang di bilang Bapak kost itu sama dengan Mr X "
" Horor banget Is, Aku kalau jadi kamu pasti nggak akan bisa tidur " Ujar Cindy.
" Lo udah cek isi notes nya, mungkin Mr X meninggalkan sesuatu? " Tanya Monic dengan wajah penasaran.
__ADS_1
Kemarin Euis hanya mencium notes nya saja untuk mengetahui apakah ada bau formalin di sana? Tapi ia belum sempat melihat isi notes nya.
Berbekal saran dari Monic, Euis mengambil notes dari dalam tasnya.
Euis bukan notes nya selembar demi selembar namun ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.
" Aku nggak ngelihat ada sesuatu yang aneh sih, tidak ada catatan apapun selain tulisan tanganku sendiri "
" Mungkin niat Mr X adalah baik dengan memberikan notasi yang tertinggal di dalam ruang praktikum tanpa ada alasan lain " Ujar Monic menenangkan Euis dan Cindy yang masih terlihat ketakutan.
Cindy dan Euis lebih memilih untuk mengiyakan ucapan Monic.
Hari pun berlalu dan Euis pun sudah melupakan kejadian itu.
Perkuliahan berjalan normal seperti sebelumnya , mereka masih berkutat dengan hafalan dan tugas tugas yang menumpuk.
" Ke kantin yuk, aku laper banget " Ujar Euis yang lapar karena melewatkan sarapannya.
" Ayo deh, Gue juga laper " Monic sedang memasukan peralatan tulisnya ke dalam tas.
Kami bertiga pun berjalan menuju kantin dengan langkah yang cepat.
Sesampainya di kantin, Euis memesan nasi ayam katsu dengan es teh manis setelah itu Ia kembali ke kursinya dan menunggu makanannya datang.
Euis membiarkan buku tebal biokimia menopang kepalanya, Ia sampai lemas dan tidak bisa fokus belajar di jam pertama tadi.
Tidak jauh dari Euis duduk ia mendengar sayup-sayup percakapan beberapa orang laki-laki.
Euis tidak mengenal suara laki-laki itu dan jelas iya bukan dari fakultas kedokteran.
Namun Euis cukup terganggu dengan obrolan mereka karena membicarakan hal yang tidak baik mengenai Cindy.
" Lo lihat deh cewek yang pakai baju pink di depan konter gado-gado " Ucap salah satu laki-laki itu.
" Gile ada juga ya perempuan modelan begitu di sini, anak mana tuh? " Ucap laki laki yang lain.
" Lo pasti nggak percaya kalau gue bilang dia anak FK kedokteran "
" No way! Nggak mungkin banget cewek secantik itu anak kedokteran " Laki laki itu terkekeh dan Euis sangat benci mendengarnya.
" Ya paling juga peringkat terakhir Bro, udah cewek, cantik lagi! mana mungkin pinter kan "
Mereka berdua tertawa, lebih tepatnya mentertawakan Cindy.
Sejak kapan kepintaran harus identik dengan laki laki atau perempuan di bawah standar kecantikan indonesia?
Euis selalu merasa terganggu bahkan kesal dengan beberapa pemikiran menyimpang di masyarakat kita yang mengkerdilkan gender tertentu.
Nyatanya banyak wanita hebat yang masuk kedalam jejeran wanita paling berpengaruh di Indonesia bahkan di dunia.
Contohnya menteri keuangan kita Ibu Sri Mulyani, Ia masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi forbes.
Sebuah prestasi yang membanggakan dan tidak mudah untuk di capai.
__ADS_1
Perempuan karir bahkan dituntut untuk bisa balance antara keluarga dan karirnya, berbeda dengan laki laki yang seperti tidak memiliki batasan apapun untuk mengejar karirnya.
Bahkan jika anak melakukan kesalahan, pasti Ibunya yang akan di salahkan, padahal Bapak juga punya peran penting dalam tumbuh kembang anak.
Namun setinggi-tingginya pencapaian perempuan, buat sebagian masyarakat bukanlah sesuatu yang luar biasa, sangat minim apresiasi pokoknya.
Euis tidak mengerti, darimana pikiran pikiran itu berkembang di masyarakat kita dan bahkan di jadikan patokan oleh sebagian orang.
Baru saja ingin berdiri dari kursinya dan menghampiri laki laki itu, Euis melihat Monic sudah lebih dahulu berada di sana.
Dengan membawa bakso di piring kanannya dan es nutrisari jeruk di tangan kirinya, Monic menghampiri mereka.
" Siapa yang peringkat terakhir? " Tanya Monic dengan nada ketus.
" Apaan sih? " Jawab laki laki berkaos putih.
" Lo tau maksud Gue kok, nggak usah berlagak bodoh " Monic masih mencecar laku laki itu.
Beberapa orang yang berada di kantin mulai memperhatikan Monic dan laki laki itu.
Terlihat sekali laki laki berkaos putih tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
" Kenapa Lo marah? Kita bukan ngomongin Lo kok " Jawab laki laki berjaket jeans.
" Oh jangan jangan itu pacarnya kali Vid, makanya Dia marah ceweknya di omongin " Laki laki berkaos putih tertawa merendahkan.
Dengan gaya berpakaian Monic yang boyish, memang ada beberapa orang yang salah mengartikan hubungannya dengan Cindy yang sangat feminim.
Namun mereka berdua tidak pernah peduli dengan pikiran orang lain.
Euis dapat melihat wajah Monic menjadi merah karena ucapan laki laki itu, dengan tanpa segan Ia menumpahkan es nutrisari jeruk tepat di atas laki laki itu.
Byuuuuuuurrrrr
Tanpa aba aba, Monic menuangkan segelas penuh es nutrisari itu.
" Apa apaan sih Lo " Laki laki berkaos putih berdiri dari kursinya dengan penuh amarah.
" Setidaknya bales pertanyaan Gue dengan argumen, bukan dengan ucapan norak kaya begitu! " Ucap Monic setengah berteriak.
Euis langsung menghampiri Monic, Ia tidak ingin keributan itu menjadi semakin besar.
Laki laki berjaket jeans juga menarik pergi temannya karena malu sudah menjadi pusat perhatian.
Euis masih melihat nafas Monic yang masih cepat, walaupun laki laki itu audah pergi dari hadapan mereka.
" Sabar Mon, duduk dulu yuk " Euis menggandeng Monic untuk duduk di meja mereka.
Untungnya Monic mau mengikuti Euis untuk duduk di meja mereka.
Tidak lama mereka duduk, Cindy datang dengan membawa makanannya.
" Ada apaa sih Is? " Tanya Cindy dengan wajah polos.
__ADS_1