Story Of Euis

Story Of Euis
Kehilangan


__ADS_3

Minggu ini Euis dan kedua sahabatnya di rotasi ke IGD. Mereka semua merasa senang karena terbebas dari Kak Imas yang manipulatif.


Setelah terakhir kali membentak Cindy dengan tiba tiba di dalam ruangan hanya karena masalah kecil, mereka bertiga sudah benar benar tidak senang dengan Kak Imas.


Dan alangkah senangnya ketika minggu ini jadwal rotasi mereka keluar dan beralih ke IGD.


Euis bertugas di shift malam dengan jam kerja dari jam sembilan malam sampai jam tujuh tiga puluh pagi.


" Tenang aja Is, kalo shift malam nggak seramai pagi atau siang, tapi kalau tiba tiba ada kecelakaan aih lain cerita ya " Kak Panji perawat yang bertugas hari ini menjelaskan.


Mereka berdua sedang duduk di meja penerimaan sambil bercerita pengalaman masing masing.


Dalam suasana malam yang tenang, tepat di jam sebelas malam suara sirine ambulan terdengar menuju IGD.


Semua dokter dan perawat yang berjaga malam ini mulai bersiaga.


Dari mobil ambulan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masih memakai cycling jersey di bawa masuk ke dalam UGD.


" Pasien di duga Infark Miokard dok " Info petugas medis yang membawa pasien.


Dokter jaga langsung mengambil tindakan dengan melakukan EKG (Elektrokardiografi) untuk melihat aktivitas listrik jantung dan mendeteksi seberapa parah kerusakan jantung sekaligus memantau detak dan ritme jantung.


Pasien sendiri terlihat masih sadar dan merintih sambil memegang dadanya.


Keadaan IGD mendadak sibuk, semua orang menjalankan perannya masing masing.


Beruntungnya setelah di lakukan beberapa tindakan di IGD, keadaan pasien berangsur normal.


Euis diminta untuk memantau pasien dalam beberapa jam sebelum di pindahkan ke ruang perawatan.


" Is jika dalam beberapa jam keadaan pasien stabil selanjutnya pasien harus di test darah dan Rontgen dada di lab " Ujar dokter Santoso.


" Baik dok " Ucap Euis.


Menurut informasi, Pasien ini sedang bersepeda dengan beberapa rekannya.


Di medan yang menanjak sepertinya Pasien yang baru menekuni olahraga sepeda tidak kuat tiba riba saja pasien ambruk dan oleh teman temannya langsung di bawa ke UGD.


Penting sekali untuk memulai olahraga sesuai dengan kelompok usia.


Dimulai dari usia 20 tahun, menjadi waktu yang tepat untuk melatih kebugaran tubuh. Jadi, sebisa mungkin buatlah olahraga adalah suatu kebiasaan dan rutinitas harian.


Olah raga yang di sarankan sepak bola, basket, atau bulu tangkis.


Memasuki Usia 30-an, tubuh pertama kali kehilangan massa otot karena usia, sehingga latihan beban menjadi penting untuk dilakukan.

__ADS_1


Tulang pun mulai melemah sehingga Kita juga perlu mulai berlatih penguatan tulang.


Olahraga yang di sarankan adalah angkat beban atau rutin berolahraga ringan, seperti jalan cepat, joging, atau yoga. Berlatih aerobik dan berenang juga bagus.


Memasuki usia 50-an kita mungkin akan lebih sering merasa nyeri.


Olahraga yang di sarankan adalah berjalan kaki, berenang, dan bersepeda masih menjadi pilihan olahraga berdampak rendah yang baik dilakukan. 


Jadi jika sudah memasuki usia 40 tahun disarankan tidak melakukan olahraga dengan aktivitas berat.


Karena salah memilih olahraga yang di butuhkan oleh tubuh sesuai usia akan berdampak buruk bagi tubuh.


Selang satu jam setelah pasien di bawa ke IGD, keluarga pasien mulai berdatangan.


Euis yang sedang berdiri di samping pasien memandang ke arah keluarga pasien yang tengah menangis.


Mereka berpelukan dan saling menguatkan, Euis jadi teringat Ibu.


Dari pertama Ia menginjakan kaki di bogor, Euis belum berkunjung ke makam Ibu.


Kegiatannya yang padat membuat Euis belum bisa meluangkan waktunya.


Mungkin apa yang Ia saksikan malam ini sebagai pengingat Euis untuk berkunjung ke makam Ibu.


Selain pasien tersebut tidak ada pasien lain yang masuk malam itu sampai Euis selesai tugas.


" Gimana malem Is? " Tanya Monic yang bertugas di shift pagi.


" Lancar Mon, nggak ada kasus berat " Euis mengenakan tasnya dan bersiap untuk pergi.


" Oh iya Cindy nitip lontong sayur katanya, Lo langsung balik ke kosan kan? "


" Aku mau mampir dulu ke makam Ibu Mon, nggak langsung ke kostan "


" Oh ya udah Gue chat Cindy deh, Lo hati hati ya "


Makam Ibu tidak jauh dari rumah Euis di kampung.


Sebelum berangkat Euis mengabarkan Aa Asep untuk mengajak bertemu, namun ternyata Aa Asep sedang tugas ke luar kota.


Euis memutuskan untuk berangkat menggunakan ojek online agar cepat tiba di makam Ibu.


Matahari pagi itu terasa hangat seolah menyambut kedatangan Euis di kampung halamannya.


Euis seperti napak tilas ketika melewati sekolahnya ketika SD.

__ADS_1


Ia teringat kembali saat Bapak mengantarnya sekolah atau ketika Ia pulang berjalan kaki dengan beberapa temannya.


Mungkin saat Euis SD adalah masa tersenang Euis. Keluarganya masih harmonis, Ia masih makan masakan Ibu yang sangat lezat dan bisa bermain bersama teman teman.


Masakan Ibu, tiba tiba Euis teringat masakan Ibu yang selalu enak. Apapun yang Ibu masak pasti enak rasanya.


" Euis kangen masakan Ibu, Euis kangen Ibu " Ucap Euis lirih hampir tidak bersuara.


Euis menghapus air matanya yang menetes semakin deras. Kehilangan Ibu adalah masa terberat Euis.


Sampai saat ini Euis masih belum bisa berdamai dengan kepergian Ibu. Masih banyak luka di hatinya yang entah kapan bisa sembuh.


" Ini kita belok kanan ya Teh? "


" Iya Mas " Jawab Euis sambil mengusap air matanya.


Makam ibu hanya beberapa meter lagi, Euis bersiap siap untuk turun. Matanya fokus ke arah depan agar tidak terlewat. 4


Dari kejauhan Euis melihat mobil bak terbuka berwarna putih yang membawa tumpukan ayam.


Euis hapal benar mobil dengan stiker KB 2 anak cukup yang tertempel di kaca depan, itu adalah mobil Bapak.


Semakin dekat, Euis melihat Bapak yang sedang menyetir mengobrol dengan seorang perempuan.


Kemungkinan itu adalah Ibu tirinya yang Euis sendiri belum pernah bertemu.


Di dalam mobil itu Bapak sedang mengobrol sambil sesekali tertawa tanpa beban.


Sepertinya Bapak sudah melupakan Ibu sepenuhnya, tidak seperti Euis yang masih belum bisa merelakan kepergian Ibu.


Tiba di makam, Euis membeli bunga untuk di tebar di makam Ibu.


Makam Ibu terlihat bersih, tidak ada rumput liar yang tumbuh sepertinya Aa Asep rajin mengunjungi Ibu.


Setelah menaburkan bunga, Euis membacakan Al Fatihah dan Yassin untuk Ibu.


Berada di makam Ibu membuat perasaan Euis tenang, Ia bisa melupakan perasaan marahnya ketika melihat Bapak tadi.


" Ibu, Euis kangen sekali dengan Ibu " Air mata Euis turun dengan derasnya.


Dadanya terasa sesak, Ia ingin bercerita dengan Ibu, mengobrol apapun sambil tidur di pangkuan Ibu. Tapi itu semua tidak bisa Euis lakukan.


Ternyata kehilangan orang yang sangat berarti untuk selamanya sangat menyakitkan. Kita tidak bisa mendengar suaranya lagi maupun memeluknya.


Serindu apapun tetap tidak ada yang bisa kita lakukan selain mendoakan.

__ADS_1


__ADS_2