Story Of Euis

Story Of Euis
Bebas


__ADS_3

Berbekal kartu nama yang diberikan oleh Bu Irene, Euis langsung menghubungi Pak Albertus Stevanus.


Ia menjelaskan dengan rinci permasalahan Aa Asep kepada Pak Albert.


Dan hari ini Euis dan Pak Albert akan mengunjungi Aa Asep.


" Kamu yakin Is nggak akan bayar sepeserpun? " Tanya Ibu pada saat Euis menelepon tadi malam.


" Betul Bu, Alhamdulullah Pak Albert mau bantu dan kita nggak perlu bayar " Jawab Euis penuh antusias.


" Alhamdulillah ya Allah, akhirnya doa Ibu diijabah oleh Allah " Ibu menitikkan air mata ketika mengucapkan kata kata itu.


" Besok Euis dan Pak Albert akan mengunjungi Aa Asep di kantor Polisi, doakan semuanya lancar ya Bu, agar Aa Asep dapar pulang kembali ke rumah " Ujar Euis.


Pak Albert meyakinkan Euis bahwa kasus Aa Asep mungkin hanya kesalahpahaman saja, semoga segala upaya hukum yang akan Pak Albert lakukan bisa membantu Aa Asep.


Sekarang Euis sedang berada di dalam mobil Rubicon putih Milik Pak Albert. Mobilnya terlihat rapih walaupun banyak sekali box di jok belakang.


Euis bersyukur sekali Pak Albert menggunakan pengharum beraroma hutan pinus dan bukan aroma jeruk yang membuat pusing.


Hujan deras menguyur kota Bogor, tidak sampai sepuluh menit lagi mereka akan tiba di kantor polisi.


" Pake payungnya Is, pastikan kamu nggak kehujanan. Kalau kamu samapi sakit Irene pasti akan marah " Ujar Pak Albert terkekeh.


Euis membentangkan payung hitam dengan logo berwarna emas bertuliskan Albertus Stevanus Law Firm, dengan setengah berlari Ia masuk ke dalam kantor polisi.


Pak Albert langsung memperkenalkan diri sebagai pengacara dari Asep.


Bapak berseragam mengantarkan kami ke dalam suatu ruangan.


" Saya panggilkan saudara Asep Nurrahman dulu, mohon di tunggu sebentar " Ujar Bapak berseragam sambil keluar dari ruangan.


Di dalam ruangan yang berukuran 2x3 meter Euis menunggu Aa Asep dengan perasaan tidak sabar.


Ia ingin Aa Asep tau bahwa ada seseorang yang akan menyelamatkannya dan mengeluarkannya dari sini.


Tidak berapa lama Aa Asep beserta Bapak berseragam masuk kedalam ruangan.


Aa Asep terlihat senang melihat kedatangan Euis.


Euis langsung menghampiri Aa Asep dan memeluknya.


Tubuh Aa Asep terlihat kurusan dan bawah matanya terlihat menghitam.


" Aa baik baik saja kan? " Tanya Euis, Ia hampir menangis ketika menanyakan hal itu.


" Baik baik saja Is " Jawab Aa Asep.


" Silahkan duduk terlebih dahulu " Ujar Bapak berseragam mempersilahkan Euis dan Aa Asep duduk.

__ADS_1


Pak Albert tidak menyia-nyiakan waktu, Ia langsung memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum Aa Asep.


Mengupayakan segala cara termasuk menanyakan barang bukti yang memang tidak di temukan di tubuh Aa Asep pada saat penangkapan.


Bapak berseragam menerima semua upaya hukum yang di lakukan oleh Pak Albert dengan kooperatif.


Ia membaca berkas yang sedang Ia pegang lalu menyamakan dengan keterangan dari Aa Asep maupun Pak Albert.


Euid dan Aa Asep yang tidak mengerti hukum hanya bisa diam sambil menyaksikan obrolan keduanya.


" Oleh karena itu saya minta client saya di bebaskan dari semua tuduhan " Ujar Pak Albert.


Bapak berseragam masih membaca baca tumpukan berkas yang sedang Ia pegang.


Dan akhirnya setelah obrolan yang panjang dan mengacu pada pembelaan yang di berikan oleh Pak Albert, Aa Asep di bebaskan dari tuntutan.


Walaupun, Aa Asep di haruskan untuk wajib lapor selama tiga bulan.


Air mata Euis menetes begitu saja, Ia senang karena akhirnya Aa Asep bisa terbebas dari semua tuduhan.


Aa Asep terlihat menyalami Bapak berseragam berkali kali sembari mengucap " Terima kasih "


" Silahkan Saudara Asep ikut saya untuk mengambil semua barang barang yang di simpan pada saat masuk " Ujar Bapak berseragam sambil mempersilahkan Aa Asep keluar.


" Terima kasih banyak Pak Albert sudah membantu Kakak, Saya benar benar mengucapkan terima kasih Pak. Saya nggak tau bagaimana harus membalas semua kebaikan Bapak " Euis memegang tangan dan menatap Pak Albert dengan tulus.


" Iya Pak, Euis akan belajar dengan baik " Ucap Euis dengan sungguh sungguh.


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit Aa Asep datang dengan sudah menggunakan baju bebas.


Euis langsung menggandeng Aa Asep yang terlihat sumringah.


" Pulang yuk Aa " Ucap Euis dengan senyum.


Mereka berdua pulang ke rumah dengan diantar oleh Pak Albert.


" Kita jadi banyak ngerepotin Pak Albert jadinya " Ucap Euis dari kursi belakang.


" Nggak apa apa Is, kebetulan jadwal saya sedang kosong hari ini, lagipula nanti kamu mau langsung pulang ke depok kan? Biar saya antar " Ujar Pak Albert sambil tetap fokus dengan kemudinya.


Euis yakin sekali Bapak masih tidak mau jika Ia menginap di rumah. Daripada harus sakit menerima kenyataan itu, Euis lebih memilih untuk langsung pulang ke Depok bersama Pak Albert.


Rubicon putih Pak Albert sudah memasuki kampung Euis, tinggal belok kanan mereka akan sampai di rumah Euis.


Euis sudah kangen sekali dengan rumahnya, rumah yang sederhana namun selalu terasa hangat. Terlebih lagi kamarnya, tempat yang menjadi saksi kehidupan masa kecil Euis.


Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk kedalam rumah.


" Assalamualaikum " Ujar Aa Asep mengucapkan salam ketika mereka tepat di depan pintu.

__ADS_1


Dari dalam rumah suara Ibu menjawab salam Aa Asep " Waalaikumsalam "


Euis dapat mendengar langkah kaki Ibu yang setengah berlari.


Kreekkkkkk..


Pintu rumah terbuka dan wajah Ibu langsung terlihat.


Ibu langsung memeluk Aa Asep sambil menangis haru " Ya Allah Sep akhirnya kamu pulang "


Sambil memeluk Aa Asep, Ibu menepuk nepuk punggung Aa Asep, Euis mengusap air matanya yang terjatuh karena haru.


Setelah Ibu melepaskan pelukannya dari Aa Asep, Euis memperkenalkan Pak Albert kepada Ibu.


" Ibu Kenalkan ini Pak Albert pengacara yang membantu Aa Asep " Ujar Euis kepada ibu.


Ibu langsung menjabat tangan Pak Albert " Ya Allah Bapak, Terima kasih sudah membantu anak saya, saya nggak tahu harus membalas kebaikan Bapak seperti apa. Keluarga saya sungguh sangat tertolong dengan bantuan yang Bapak berikan "


" Sama-sama Ibu, saya juga ikut senang karena sekarang Asep sudah bebas " Ujar Pak Albert dengan sopan.


" Saya sampai lupa Silakan masuk dulu Pak, biar saya Panggil suami saya" Ujar ibu mempersilahkan kami masuk.


Euis langsung mengikuti Ibu ke dapur untuk membuatkan minuman Pak Albert.


Tidak ada yang berbeda dari rumahnya, Ibu masih sangat apik merawat rumah. Semua peralatan tersimpan rapi di tempatnya.


Setelah membuatkan teh manis, Euis membawanya ke meja depan " Silakan diminum Pak Albert "


" Terima kasih banyak Is " Pak Albert mengambil cangkir berisi teh manis hangat pemberian Euis dan meminumnya.


Tidak beberapa lama Ibu datang bersama dengan Bapak, jantung Euis kembali berdegup kencang ketika melihat bapak.


Iya tahu benar kedatangannya tidak diharapkan oleh Bapak.


Wajah Bapak terlihat lelah ketika menyapa Pak Albert di ruang tamu, pipinya terlihat tirus dengan mata yang cekung. Terlihat sekali Bapak memikirkan keadaan Aa Asep selama berminggu minggu ini.


Seperti halnya Ibu, Bapak juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Albert untuk semua bantuan yang telah diberikan.


Bahkan Bapak sudah menyiapkan setumpuk telur ayam negeri untuk Pak Albert bawa sebagai bentuk Terima kasih dari bapak.


" Sebetulnya tidak perlu repot-repot loh pak, saya sangat senang bisa membantu Euis sekeluarga " Ujar Pak Albert ketika berpamitan.


" Nggak apa-apa Pak, itu wujud Terima kasih kami untuk semua bantuan Bapak kepada anak kami " Ucap Bapak dengan sesekali membungkuk.


" Baik kalau begitu saya terima ya pak, Euis benerin mau ikut saya pulang nggak mau nginep dulu di rumah? " Tanya Pak Albert.


" Besok Euis masih ada tugas Pak Albert, jadi harus pulang ke Depok "


Tentu saja Euis harus berbohong, Ia tidak mungkin jujur kepada Pak Albert bahwa ia tidak diharapkan lagi pulang ke rumah oleh Bapak.

__ADS_1


__ADS_2