
Semua administrasi untuk memulai perkuliahannya sudah Euis selesaikan dari jauh-jauh hari.
Di bantu oleh Aa Asep, Euis juga sudah mendapatkan kostan untuk Ia tempati nantinya.
Kostan itu Euis pilih sendiri dari tiga kandidat. Ia langsung membayar kostan itu full untuk setahun.
Kostan Euis tidak jauh dari kampusnya, hanya ada enam kamar di sana sehingga tidak terlalu ramai.
Kostan nya juga mengingatkan Euis pada rumahnya di bogor, karena sama sama memiliki banyak tanaman di pekarangannya.
Kepada penjaga kost, Euis sudah bilang jika akan menempati kostan itu besok, karena di hari selanjutnya Ia sudah mulai masa orientasi di kampusnya.
Malam ini Euis sedang memasukan semua barang di lemarinya ke dalam tas yang Aa Asep pinjam dari temannya.
Sampai saat ini, Euis belum berpamitan kepada Ayah. Rencananya besok Ia akan berpamitan pada saat mereka sarapan pagi.
Semua barang yang Euis perlukan sudah masuk ke dalam dua tas besar berwarna biru yang terlihat gendut.
Besok pasti akan menjadi hari yang berat untuk Euis lalui. Selain Ia harus bersiap menerima kemarahan Ayah, Ia juga harus berpisah dengan Ibu dan Aa Asep.
Euis mematikan lampu di kamarnya dan bersiap untuk tidur. ia sudah membuat Alarm untuk membangunkannya esok hari.
*******
Euis sedang menikmati masakan Ibu yang sangat enak. Ibu memasak telur balado, sayur asem dan ikan asin dengan sambel bawang. Kesemuanya adalah makanan kesukaan Euis.
Euis menikmati semua suapan yang masuk kedalam mulutnya, mengingat semua rasanya degan baik karena mungkin dalam waktu yang lama Ia tidak bisa memakan masakan Ibu lagi.
Setelah makan seperti biasa Euis membantu Ibu membersihkan bekas makan mereka.
Bapak masih menyeruput kopi hitamnya yang hanya di berikan sedikit gula.
" Pak, besok Euis sudah akan mulai kuliah. Doakan Euis agar semuanya lancar ya Pak " Takut takut Euis memandang wajah Bapak.
Bapak menarik nafas dalam sambil menggeleng dan memegang kepalanya. Tentu saja Bapak tidak senang dengan kepergian Euis yang sudah Bapak langgar sebelumnya.
Mata Bapak bahkan seperti menangis karena menahan marahnya.
__ADS_1
" Ternyata kamu nggak ikuti perkataan Bapak ya Is " Ucap Bapak masih dengan memegang kepalanya.
" Euis hanya ingin mengejar cita-cita Euis sebagai dokter Pak, bukan maksud Euis untuk nggak ngikutin apa yang Bapak mau " Jawab Euis.
" Oke kalau begitu kamu harus siap keluar dari rumah ini, dan jangan pernah pulang lagi. Bapak nggak mau punya anak yang nggak bisa nurut sama orang tua " Ucap Bapak kepada Euis yang masih menunduk.
" Apa harus seperti itu Pak? " Tanya Euis.
" Kalau kamu masih tinggal disini maka kamu harus ikut omongan Bapak, sekali kamu langgar artinya kamu siap keluar dari rumah ini. Dan sekali kamu keluar, jangan pernah datang lagi " Ucap Bapak sambil berdiri dari kursi dan berlalu meninggalkan Euis.
Ibu yang memperhatikan Euis dan Bapak sedari tadi sampai meneteskan air mata, melihat Suaminya yang begitu keras dengan prinsipnya itu.
" Sudah jangan sedih, ayo Aa anter ke kostan kamu " Ujar Aa Asep sembari beranjak dari kusinya.
Walaupun Euis sudah memikirkan tentang kemungkinan ini, tapi tetap saja rasanya begitu sedih harus meninggalkan rumah dan tidak tau kapan bisa menginjakan kaki di rumahnya lagi.
" Iya Is, Kamu harus kuat. Nanti Ibu sama Aa Asep akan sering sering menjenguk kamu " Ujar Ibu kepada Euis.
Euis menghapus air matanya, memang ada konsekuensi yang harus Ia terima jika mengambil keputusan ini.
" Iya Bu, doakan Euis terus ya Bu agar kuliah Euis lancar dan hati Bapak di berikan kelembutan " Ucap Euis sembari memeluk Ibunya.
Sebelum Euis pergi, Ibu memberikan Euis kartu ATM yang berisi tabungan Ibu " Kamu bisa pakai untuk biaya hidup kamu, nanti Ibu tetap kirim tiap minggunya ya Is "
Euis mengambil kartu ATm yang Ibu berikan " Akan Euis pakai sebaik mungkin Bu " Ujar Euis kepada Ibu.
Setelah berpamitan dengan Ibu, Euis yang di bonceng oleh Aa Asep meninggalkan rumahnya.
Ia menatap rumahnya terus sampai akhirnya Ia tidak bisa melihatnya lagi.
Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di kostan Euis jika menggunakan motor.
Euis memutuskan untuk diantar dengan motor karena harus membeli beberapa perabotan untuk di kamar kostnya nanti.
Setelah sampai di kostan Euis hanya menaruh tas di dalam kamar tanpa menyusunnya dulu, dan langsung melanjutkan perjalanan ke pasar terdekat.
Euis membeli beberapa perabotan di sana " Ini kamu yakin semuanya bisa kamu pegang Is? " Tanya Aa Asep sambil melihat kearah perabotan Euis yang sudah menumpuk.
__ADS_1
" Bisa Aa, nanti minta di iket sama abangnya biar nggak jatuh " Jawab Euis sambil memegangi semua perabotan.
" Mas tolong ikat semua bisa kan ya Mas? " Tanya Euis dengan senyuman di wajahnya.
Dan sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju kostan Euis.
Euis sudah membeli semuanya, bahkan Ia sempat membeli magic com dan kompor listrik yang akan Ia gunakan untuk memasak.
Bisa si bayangan motor beat hitam kepunyaan Aa Asep harus membawa semua barang itu.
Aa Asep bahkan kesulitan untuk banyak bergerak, begitupun dengan Euis yang tidak bisa melihat ke arah jalan karena tertutup dengan perabotan yang baru Ia beli.
Euis memanfaatkan keberadaan Aa Asep, karena Ia tidak mungkin bisa membawa semuanya sendirian.
Sesampainya di kamar, Euis langsung menata barang barang ke tempatnya.
Hari sudah sore ketika semua sudah terpasang rapih di kamar Euis.
" Aa beli makan dulu ya, kamu mau makan apa? " Tanya Aa Asep kepada Euis.
" Nasi goreng saja Aa " Jawab Euis kemudian.
Aa Asep keluar dari kamar Euis untuk membeli nasi goreng yang berada di ujung gang kostan Euis.
Euis menyiapkan apa yang perlu Ia bawa untuk masa orientasi mahasiswa baru besok.
Tidak lama Aa Asep datang membawa dua bungkus nasi goreng dan mereka berdua langsung menyantapnya dengan lahap.
" Nanti kalau butuh apa-apa hubungi Aa ya, Bogor Depok deket kok " Ucap Aa Asep sambil menyendok nasi goreng dan melahapnya kedalam mulut.
" Iya Aa, nanti kalo ada perlu apapun Euis bakal ngehubungi Aa " Jawab Euis.
Setelah makan Aa Asep pamit untuk pulang ke Bogor " Aa pulang dulu ya Is, kamu baik baik disini, kuliah yang bener, ngga usah khawatir dengan Ibu dan Ayah, InshaAllah Aa akan jagain "
Seumur-umur Euis tidak pernah mengalami sebuah perpisahan. Namun hari ini Ia harus berpisah dengan tiga orang yang paling Euis sayangi.
Melihat punggung Aa Asep yang pergi menjauh membuat air mata Euis menetes.
__ADS_1
Tiba-tiba Ia merasa sangat kesepian, berada di dalam kamarnya tanpa ada suara keluarganya.
Setidaknya ini kehidupan yang harus Euis jalani bertahun-tahun ke depan.