
Semenjak bimbingan pertamanya dengan Pak Kunto di Urban Coffee, karya ilmiah Euis mengalami perkembangan pesat.
Euis bisa menyusul ketinggalannya, sekarang Ia sedang memasuki tahap pembahasan, yang mana Euis semakin dekat dengan akhir karya ilmiahnya yaitu kesimpulan dan saran.
Bagian ini adalah bagian yang paling sulit salam penyusunan karya ilmiahnya.
Mereka bertiga sibuk bolak balik ke perpustakaan demi mendapatkan pembahasan yang logic.
Perpustakaan kampus sore ini sudah tidak seramai siang tadi.
Saru persatu orang mulai keluar dari perpustakaan dan menyisakan beberapa krang saja.
Euis sendiri baru selesai dengan menyusun bab pembahasannya.
Euis meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, punggungnya bahkan terasa panas karena duduk selama lima jam tanpa sandaran kursi.
Ia putar tubuh 20 derajat ke kiri dan ke kanan dan menghasilkan bunyi kretek yang renyah.
Euis menoleh kepada kedua sahabatnya yang masih sibuk dengan laptopnya, rupanya mereka masih belum selesai.
Berbeda dengan Monic yang masih mengetik dengan ritme yang cepat, ketikan Cindy sudah terlihat pelan.
Tidak heran karena tiga minggu ini adalah masa tersibuk mereka, Monic dan Cindy bahkan sudah jarang pulang ke rumah dan menginap di kosan Euis.
" Kapan semua ini akan berakhir? Rasanya sudah lelah sekali " Cindy menenggelamkan wajahnya ke dalam tangan yang Ia lipat.
" Sabar Cin, kita sudah mau sampai di ujung skripsi, semangat terus jangan kendor " Euis mengepalkan tangannya dan menggerakkan dua kali kearah Cindy untuk memberikannya semangat.
" Nih kalo cape minum jeruk peras gue " Monic memberikan tumbler hitam berisi jeruk peras yang Ia buat tadi pagi.
" Idih ogah asem gitu, lagi aku heran kenapa sih bikin jeruk peras se-asam itu? Membayangkannya saja sudah membuat aku bergidik " Cindy menggoyang goyangkan tubuhnya.
Jeruk peras buatan Monic memang sangat asam dan hanya Monic yang tahan dengan rasanya.
" Sengaja Gue buat asem, biar bisa melek pas minumnya. Jadikan semangat lagi tuh, coba deh Lo minum " Monic menyodorkan tumbler nya lagi.
" Nggak, kamu abisin aja Mon ikhlas aku " Cindy mengibaskan tangannya sebagai bentuk penolakan.
Euis hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
" Ada yang bisa aku bantu Cin? Kebetulan aku sudah selesai " Euis menawarkan bantuan kepada Cindy yang terlihat sudah lelah, Cindy bahkan mempunyai kantung mata sekarang.
" Euis baik banget sih, tuh jadi temen kaya gitu dong Mon. Temen capek ya di bantuin bukan malah ngasih jeruk asem " Cindy menjulurkan lidahnya ke arah Monic.
" Ye itu sih Lo namanya males, bukan capek " Monic terlihat tidak terima dengan ucapan Cindy.
__ADS_1
" Udah nggak usah berantem, apa yabg bisa aku bantu Cin? " Euis mencoba menenangkan kedua sahabatnya itu.
Kondisi tubuh yang lelah membuat kami menjadi tambah sensitif, perkataan Monic yang sangat ceplas ceplos pasti akan menyulut kemarahan Cindy.
" Tolong bantuin ngetik boleh Is? Nanti aku bacain materinya " Ucap Cindy sambil membuat wajah memohon yang mengemaskan.
Euis tersenyum sembari beranjak duduk di sebelah Cindy.
Ia langsung mengambil alih laptop Cindy dan bersiap untuk mengetik. Dengan semangat Cindy langsung membacakan materi kepada Euis.
Hari sudah semakin gelap, tanpa mereka sadari tidak ada orang lain di perpustakaan selain mereka.
Suara ketukan sepatu hills mendekat kearah mereka, bunyinya semakin keras pertanda pemilik sepatu itu sudah semakin dekat.
Monic menoleh ke arah sumber bunyi dan mendapati seorang perempuan dengan rok selutut melihat kearah mereka.
" Perpustakaan sudah mau tutup Dik, silahkan taruh kembali buku yang kalian pinjam ke tempatnya dan rapihkan kembali kursinya " Ucap Kakak pustakawan dengan suara yang lembut.
" Oh Iya Kak " Ucap Monic sembari membereskan barang barangnya.
Setelah membereskan semuanya, mereka langsung bergegas keluar dari perpustakaan.
Lampu lampu sudah mulai di nyalakan, hanya ada beberapa orang saja yang masih berada di kawasan kampus.
" Pecel lele Mang Iman? " Tanya Euis.
" Lo nggak bosen apa hampir tiap hari makan pecel lele? " Tanya Monik dengan nada heran.
Cindy memang penggila pecel lele, mungkin jika tidak kami larang Ia bisa makan pecel lele setiap hari.
Saking sukanya dengan pecel lele, Cindy bahkan tidak menyisakan apapun kecuali duri-durinya saja.
" Kenapa sih Mon? Pecel lele kan enak banget ya kan is? " Cindy mencoba mencari dukungan.
Dan seperti biasa Euis selalu menjadi penengah diantara kedua sahabatnya itu.
" Ya udah gini aja, Malam ini kita makan pecel lele Nah besok siang kita makan nasi padang kesukaan kamu Mon gimana? "
Euy selalu tahu bagaimana cara menenangkan kedua sahabatnya ketika sedang berselisih.
Dan terbukti Monik tidak protes dan sekarang mereka sedang duduk bertiga di tempat pecel lele Mang iman.
Dengan semangat Cindy langsung memesan pesanan mereka, terlihat sekali ia sudah tidak sabar menyantap pecel lele kesukaannya itu.
Begitu pesanan kami disajikan, tanpa menunggu lama Cindy yang sudah mencuci tangan terlebih dahulu langsung menyantap pecel lele di hadapannya itu.
__ADS_1
Ia langsung mencuil daging lele yang empuk, menyocolnya di sambel dan mengambil timun sebelum memasukan semuanya kedalam mulut.
Berkali kali keluar kata " Hemm " dari dalam mulutnya, sebagai tanda Cindy sangat menikmati pecel lelenya.
Euis tersenyum melihat ekspresi Cindy, walaupun hampir setiap hari Ia memakan pecel lele itu namun ekspresinya selalu sama.
Disaat mereka sedang menikmati makan malamnya, tiba tiba dari bangku sebelah terdengar suara teriakan dari seorang perempuan berusia empat puluh tahun.
" Aaaaaaaaaaakkkkkkk "
Semua orang yang berada di warung pecel lele menoleh ke arah sumber suara.
Di tanah tergeletak seorang laki laki yang menggunakan pakaian olah raga, tangannya memegang dada dengan wajah kesakitan.
Tanpa berfikir panjang Euis dan Monic langsung menghampiri laki laki itu.
Euis mengecek tanda vital laki laki itu, sepertinya Ia terkena serangan jantung.
Monic melonggarkan pakaian laki laki itu " Tolong jangan mengerubungi bapak ini dulu " Pinta Monic kepada beberapa orang yang mengerubungi mereka.
" Cin telpon ambulance " Terik Cindy kepada Monic.
Mereka berburu oleh waktu, pertolongan pertama pada pasien setangan jantung sangat penting untuk di lakukan agar pasien bisa melewati kondisi ini.
" Bantu cek nadinya Mon " Ujar Euis sambil menengadahkan kepala laki laki itu untuk membuka jalur nafas.
Euis melakukan kompresi atau penekanan dada lalu memberikan bantuan nafas.
Ia lakukan berkali kali sampai kondisi laki laki itu menjadi lebih tenang.
" Atur nafasnya Pak " Pinta Monic kepada laki laki itu.
Nadinya sudah berangsur normal, laki laki itu sudah melewati masa kritisnya.
Dengan sekuat tenaga, laki laki itu mencoba mengatur nafasnya.
" Ambulan sudah dimana Cin? " Tanya Euis tanpa menoleh kepada Cindy.
" Lima menit lagi sampai Is " Ucap Cindy.
Untungnya jarak mereka dengan rumah sakit terdekat tidak jauh, sehingga ambulan bisa tiba dengan cepat dan membawa pasien.
Perempuan yang bersama dengan laki laki itu masih menangis ketika laki laki itu di bawa masuk ke dalam ambulan.
" Terima kasih untuk bantuannya, saya nggak tau kalau nggak ada kalian suami saya akan bagaimana " Ucapnya sebelum masuk kedalam ambulan.
__ADS_1