Story Of Euis

Story Of Euis
Bukan Hari Bahagia


__ADS_3

Euis sedang berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh.


Ia sedang berjalan dengan langkah cepat menuju stasiun pondok cina.


Euis mengenakan kebaya berwana merah muda beserta kain dengan warna senada dan sepatu kets.


Hari ini adalah hari wisuda Aa Asep. Walaupun Euis sudah bangun lebih awal tapi tetap saja Ia berangkat mepet, tidak sampai tiga puluh menit lagi acara akan segera di mulai.


Ibu sudah menelpon sedari tadi untuk mengingatkan Euis berangkat lebih awal.


Dari kejauhan Ia mendengar dari pengeras suara bahwa commuter line tujuan depok akan tiba tiga menit lagi.


Euis mempercepat langkahnya agar tidak ketinggalan kereta.


Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Euis masuk di gerbong wanita dsn duduk di bangku dekat pintu.


Jika perjalanan lancar, Euis akan tiba tepar waktu di kampus Aa Asep.


Euis mengeluarkan kaca dari dalam tasnya dan mengecek riasannya.


Bedak Euis mulai luntur karena keringat yang membasahi wajahnya akibat Ia berlari mengejar kereta.


Ponselnya berbunyi menandakan ada pesan baru masuk, Euis membuka ponselnya dan ternyata pesan dari Aa Asep.


" Aa sama Ibu sudah nunggu di dekat pintu masuk " Ujar Aa Asep dengan mengirimkan foto Ibu.


" Euis udah di Cilebut, sebentar lagi sampai Aa, nanti langsung naik ojek online " Jawab Euis mengirimkan chat nya.


Satu stasiun lagi Euis sudah sampai di stasiun Bogor, Ia bergegas memesan ojek online agar ketika Ia tiba ojek online sudah standby di stasiun.


Hari ini terlihat cerat dengan matahari yang bersinar dengan teriknya.


Euis harus berjalan lagi menuju arah pintu keluar kereta dan menghampiri ojek online yang sudah menunggunya.


Euis mengecek ponselnya dan menghampiri salah satu ojek online yang sudah standby.


" Atas nama Euis ya? " Tanya Euis kepada pengemudi ojek online.


" Betul Teh " Jawab Pengemudi itu sembari memberikan helm kepada Euis.


Perjalanan menuju kampus Aa Asep hanya sekitar tiga puluh menit.


Euis sudah tidak sabar bertemu dengan Ibu dan Aa Asep.


Udara Bogor pagi ini terasa sejuk, walaupun suara klakson angkot menghiasi perjalanan Euis hari ini, tapi tidak mengurangi rssa bahagianya.

__ADS_1


Setelah tiba di kampus Aa Asep Ia langsung menuju gedung aula yang berada di bagian belakang kampus.


Euis berjalan setengah berlari, sepuluh menit lagi Acara akan di mulai dan Aa Asep masih menunggunya di dekat pintu masuk sedangkan teman temannya yang lain sudah memenuhi aula.


Dari kejauhan Ia melihat Ibu dan Aa Asep yang menunggu Euis dengan wajah panik. Maklum saja acara wisuda sudah di mulai tetapi Aa Asep belum masuk juga.


" Maaf Euis terlambat Aa " Ujar Euis sambil mencium tangan Ibu dan Aa Asep.


" Kita langsung masuk saja Is, udah mulai soalnya "


Kami bertiga pun masuk kedalam aula, Aa Asep langsung duduk berbaur bersama teman temannya sedangkan Euis mencari kursi sesuai dengan undangan wisuda Aa Asep.


Setelah duduk di kursinya, Ibu dan Euis menyaksikan prosesi wisuda Aa Asep yang berlangsung hikmat, sayangnya Bapak tidak dapat menyaksikan acara hari ini.


Aa Asep dapat lulus dengan IPK 3,2, Euis tau itu bukan usaha yang mudah, karena Aa Asep berusaha memperbaiki nilai nilainya yang hancur di awal semester.


Euis sangat bangga dengan Aa Asep karena bisa bangun dari keterpurukannya dan bekerja keras untuk memperbaiki semuanya.


Sekarang Ia sedang melihat Aa Asep berjalan menuju panggung, menyalami dosen dan rektor dan menerima piagam kelulusannya.


Ibu meneteskan air matanya kala itu Euis yakin Ibu juga pasti bangga dengan Aa Asep.


Setelah selesai wisuda, Aa Asep berfoto dengan teman temannya dan setelah itu mereka foto bertiga dengan ponsel Euis.


Terlihat sekali wajah gembira ketiganya di dalam foto yang mereka ambil berkali kali dengan engel tempat yang sama.


Mereka memperkenalkan diri sebagai pihak berwajib dan Aa Asep terpaksa harus ikut ke kantor polisi saat itu juga.


" Lebih baik kamu menurut agar tidak terjadi keributan yang nantinya akan mempermalukan Kamu " Ujar Bapak berkemeja biru.


" Ada Apa Aa? " Tanya Ibu terlihat khawatir.


" Asep harus ikut Bapak ini dulu, Ibu sama Euis nyusul pake angkot aja ya " Ujar Aa Asep yang berjalan meninggalkan Euis dan Ibu.


Euis mencoba untum tenang agar tidak ada orang yang menyadari kejadian itu. Euis tidak mau jika Aa Asep menjadi malu.


Di dalam angkot berkali kali Ibu mengusap air matanya, wajahnya begitu khawatir dan bingung dalam satu waktu.


Ia tidak mengerti kenapa anak laki lakinya di bawa ke kantor polisi di saat hari bahagianya.


Euis mencoba menenangkan Ibu sebisa mungkin walaupun hati Euis pun sama sama kalut dengan Ibu.


Sesampainya di kantor polisi Ibu san Euis bergegas masuk ke dalam kantor san mencari Aa Asep.


Aa Asep sedang duduk di meja yang tidak jauh dari pintu masuk.

__ADS_1


Di depannya ada Pak Polisi mengenakan seragam lengkap dan sedang mengintrogasi Aa Asep.


Ibu langsung menghampiri Aa Asep san memeluknya.


Aa Asep yang semula diam sekarang sedang menangis di dalam pelukan Ibu.


" Ada apa ini Pak? Anka saya salah apa? " Tanya Ibu.


" Menurut laporan dari seseorang, Anak Ibu merupakan pemakai obat terlarang " Jawab Bapak Polisi yang memiliki kumis tipis di wajahnya.


Deg!


Jantung ibu dan Euis berdegup dengan cepat, apakah selama ini Aa Asep masih menggunakan obat terlarang itu?


" Engga Bu, Asep berani sumpah udah nggak pernah makai barang haram itu lagi. Demi Allah Bu " Ujar Aa Asep dengan wajah yang kalut.


Ibu dan Euis tau Aa Asep tidak mungkin berbohong.


" Saya yakin anak saya tidak berbohong Pak " Ujar Ibu.


" Kita harus proses dulu Bu, nggak bisa di tentukan hanya dengan keyakinan Ibu saja " Ujar Pak Polisi tegas.


Ibu akhirnya menelpon Bapak, dengan menangis Ibu menceritakan masalah ini.


" Bapak tolong kesini, kasihan anak kita Pak " Ibu berkata dengan suara yang bergetar.


Bagaimana bisa hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk Aa Asep harus berakhir seperti ini.


Dari kejauhan Euis memandang wajah Aa Asep yang sedang diinterogasi oleh pihak berwajib.


Euis tidak tega sekali melihatnya, Aa Asep terlihat ketakutan menghadapi ini semua.


Hanya Euis yang berusaha untuk tidak menangis karena harus menguatkan Ibu dan Aa Asep.


Sudah satu jam berlalu dan Aa Asep masih diinterogasi oleh pihak berwajib.


Ponsel Ibu berdering di layar ponselnya tertulis nama Bapak.


" Iya Pak " Jawab Ibu.


" Bapak Masuk saja, dari pintu masuk nanti langsung belok kanan "


Jantung Euis berdegup kencang, Ia membayangkan bagaimana nanti pertemuannya dengan Bapak?


Apakah Bapak akan marah karena melihat Euis disini? Atau akan mengacuhkannya? Atau mungkin sudah memaafkannya.

__ADS_1


Pikiran pikiran itu berkecamuk di kepala Euis, semakin lama semakin ramai di pikirannya.


__ADS_2