Story Of Euis

Story Of Euis
Hasil Test


__ADS_3

Dari arah pintu masuk Euis dapat mendengar langkah kaki yang terdengar familiar di kupingnya.


Langkah kaki ayah yang terdengar dalam dan tegas sangat Euis hafal.


Tidak lama kemudian sosok Bapak muncul dari arah pintu masuk, dengan mengenakan kaos berkerah berwarna biru dan celana bahan berwarna Senada, raut wajah Bapak terlihat gusar.


Semakin Bapak mendekat semakin Euis merasa takut.


Tatapan Bapak dan Euis beradu, kikuk dan canggung itu yang Euis rasakan.


Ibu langsung menghampiri Bapak dan mencium tangan Bapak.


Euis mengekor di belakang Ibu dan mencoba mencium tangan Bapak, tapi Bapak hanya melihat wajah Euis beberapa detik lalu melewatinya tanpa membiarkan Euis menyentuh tangan Bapak.


Bapak berjalan ke tempat Aa Asep yang sedang di interograsi.


Dari kejauhan Euis bisa melihat raut wajah Aa Asep yang takut melihat kedatangan Bapak.


" Selamat siang Pak saya adalah Wali dari Asep " Ujar Bapak sambil menyalami Bapak berseragam.


" Silahkan duduk dulu Pak " Ujar Bapak berseragam dengan ramah.


" Anak saya melakukan kesalahan apa ya pak sehingga harus di interograsi seperti ini? " Tanya Bapak.


" Kami mendapatkan laporan dari masyarakat jika Anak bapak adalah seorang pemakai " Ujar Bapak Berseragam.


" Laporan masyarakat? Siapa orangnya? " Tanya Bapak sambil membetulkan posisi duduknya.


" Mohon maaf kamu belum bisa menginformasikan hal itu "


Euis yakin sekali jika Aa Asep sudah tidak mengkonsumsi obat terlarang itu, tapi siapakah orang yang melaporkan Aa Asep kepada pihak berwajib?


" Anak Bapak harus mengikuti serangkaian pemeriksaan dulu, sebelum kami putuskan hasilnya "


" Silahkan di proses Pak, saya yakin sekali jika anak saya tidak akan terbukti bersalah " Ujar Bapak penuh keyakinan.


Bapak merangkul Aa Asep untuk memberikan kekuatan.


Hari sudah beranjak sore, kami berempat masih berada di kantor polisi.


Pihak berwajib sedang memeriksa urin Aa Asep untuk memastikan apakah ada kandungan bahan terlarang di tubuh Aa Asep.


Euis sedang menenangkan Aa Asep yang terlihat tidak tenang.


Euis memegang tangan Aa Asep sambil menepuk nepuk lembut. Tangan Aa Asep terasa dingin dan berkeringat.

__ADS_1


Selama duduk Aa Asep menggoyang goyangkan kakinya pertanda sedang tidak nyaman berada di situasi ini.


" Aa nggak tau apa yang terjadi Is? Siapa yang tega melaporkan Aa seperti ini? Demi Allah Aa sudah nggak pernah menyentuh barang haram itu lagi " Ujar Aa Asep dengan suara yang lemas.


" Sabar ya Aa, semoga nanti semua hasil test yang dilakukan oleh pihak berwajib hasilnya negatif dan Aa nggak terbukti bersalah " Euis memegang tangan Aa Asep untuk memberikannya kekuatannya.


Disaat kalut seperti ini, tiba tiba dari sebuah ruangan keluar sesosok laki laki dengan menggunakan jaket dengan kupluk yang menutupi kepalanya.


Aa Asep yang semula duduk di samping Euis tiba tiba berdiri dari kursinya.


Matanya terlihat membelalak melihat kearah laki laki berjaket hitam.


Dengan setengah berlari Aa Asep menghampiri laki laki itu dan menarik kupluk yang menutupi kepalanya.


Dan Emosi Aa Asep semakin memuncak ketika melihat sosok di balik kupluk itu.


Dia adalah Anwar, teman kuliahnya yang hampir di drop out dari kampusnya.


Ia sangat terkenal di kampusnya karena mengedarkan barang terlarang, Aa Asep bahkan mengenal barang terlarang itu dari Anwar.


Aa Asep mengepalkan tangannya dan dengan cepat memukul Anwar tepat di pipinya.


" Buuugggg "


Tangan Aa Asep menghantam pipi Anwar dengan keras, nafasnya memburu karena di kuasai rasa marah.


Anwar yang mendapatkan serangan yNg tiba tiba terhuyung mau jatuh ke lantai karena pukulan itu.


Aa Asep yang emosi sudah mau menghadiahinya lagi dengan pukulan namun Bapak berseragam menahan Aa Asep.


" Sudah sudah ini kantor polisi, jangan bertindak arogan " Bapak berseragam mencoba menahan Aa Asep yang masih emosi.


Bapak yang semula duduk dengan Ibu langsung ikut menahan Aa Asep.


" Tahan Sep tahan " Ujar Bapak.


" Asep nggak bersalah Pak, Anwar fitnah Asep! " Ujar Aa Asep setengah berteriak.


Anwar hanya menunduk saja mendengar ucapan Aa Asep, Euis jadi ikut kesal melihat wajah Anwar.


" Iya Bapak tau, tenang Sep " Ujar Bapak.


Aa Asep nampak masih belum bisa mengontrol emosinya, wajar saja siapa yang tidak marah jika di tuduh seperti itu.


Di tambah lagi jika Aa Asep terbukti bersalah, Ia akan di hukum selama lima sampai sepuluh tahun. Waktu yang lama untuk di habiskan di dalam jeruji besi dan lantai yang dingin.

__ADS_1


Bagaimana nasib masa depan Aa Asep jika itu terjadi?


Bapak berseragam dengan cepat membawa Anwar pergi menjauh dari Aa Asep.


Aa Asep yang masih kesal sampai menangis menahan emosinya. Bapak memeluk Aa Asep yang sedang menangis dengan tubuh bergetar.


Suasana di ruangan itu menjadi mencekam, Aa Asep yang sedari tadi bertanya tanya mengapa hal inj terjadi akhirnya mendapatkan jawabannya juga.


Setelah agak tenang, Aa Asep kembali duduk di kursi bersama Euis.


Dengan susah payah Euis mencoba menenangkan Aa Asep.


" Anwar siapa Aa? " Tanya Euis.


" Temen kampus Aa Is, Dia dulu jualan barang haram sekaligus orang yang memperkenalkan barang haram itu ke Aa " Jawab Aa Asep.


" Aa memang masih berhubungan dengannya? " Tanya Euis lagi.


" Setelah kejadian itu, Aa sudah menghindarinya. Jika bertemu di kampus Aa hanya menyapa tanpa mengobrol. Aa nggak mengerti kenapa Dia bisa ngelaporin Aa seperti ini " Jawab Aa Asep sambil mengacak acak rambutnya.


Bapak sedang mencoba menanyakan hal itu kepada pihak berwajib, mengapa seorang penjual barang terlarang bisa berada disini dan melaporkan Aa Asep?


Euis bisa melihat perdebatan yang cukup sengit antara Bapak dan Pihak berwajib, namun sebagai warga negara yang kurang mengerti akan hukum keluarga Euis harus pasrah mengikuti semua prosesnya.


" Aa Tenang ya, kita semua ada disini nemenin Aa untuk melalui ini semua. Euis yakin nanti hasil testnya akan negatif " Ujar Euis, namun Aa Asep tidak bergeming dan masih sibuk dalam pikirannya.


Tidak beberapa lama Bapak berseragam datang dan membawa hasil test Aa Asep.


Aa Asep dan Bapak duduk kembali di meja interograsi.


" Dari hasil test yang di jalankan terdapat zat psikotropika di dalam tubuh Saudara Asep " Ucap Bapak berseragam dengan tegas.


" Nggak mungkin Pak, saya nggak pernah menyentuh barang hatam itu lagi " Ujar Aa Asep tidak bisa menahan emosinya.


Ibu menggenggam tangan Euis sambil.menangis.


Sekeras apapun kami mencoba membela diri, namun hasil test tersebut sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.


Setelah mengetahui hasil test, Bapak menghampiri Ibu.


" Kamu pulang duluan saja, biar aku yang urus Asep " Ujar Bapak tanpa melihat ke arah Euis.


Dengan berat hati Ibu harus pulang, karena tidak ada yang bisa kami lakukan disini.


" Aku antar ya Bu? " Tanya Euis.

__ADS_1


Belum sempat Ibu menjawab pertanyaan Euis, Bapak sudah memotong dengan berucap " Aku sudah suruh Dudi menjemputmu, dia sudah dalam perjalanan, tunggu san pulang dengannya " Ucap Bapak sambil berlalu.


Sepertinya Bapak tetap dengan pendiriannya, Ia tidak ingin Euis menginjakan kaki lagi di rumah.


__ADS_2