
Tidak terasa Euis sudah memasuki masa penulisan karya tulis ilmiah.
Jika lancar, Ia bisa lulus tahun ini dan bisa langsung mengikuti Co Assistant untuk mendapatkan gelar dokter.
Mahasiswa fakultas kedokteran yang sudah menyelesaikan masa preklinik atau masa perkuliahan akan lulus dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked).
Jika jurusan lain yang sudah lulus menjadi sarjana sudah bisa bekerja dengan menggunakan gelarnya, berbeda dengan fakultas kedokteran.
Masih ada beberapa tahapan sampai akhirnya kami bisa menjadi seorang dokter yang praktik langsung memeriksa pasien.
Setelah lulus dan menjadi Sarjana Kedokteran, kami di wajibkan untuk mengikuti Koas (Co-Assistant).
Masa Koas akan berlangsung selama dua tahun, para dokter muda yang menjalani Koas akan turun langsung untuk melayani pasien dibawah bimbingan konsulen Rumah Sakit.
Secara umum, tugas koas meliputi wawancara pasien, membaca hasil rontgen, mengikuti operasi dan memeriksa bangsal.
Dalam masa itu, para Koas akan mengimplementasikan ilmu yang kami dapatkan di bangku perkuliahan.
Sebagai Koas kami akan di rotasi pada beberapa department ataupun spesialis, dari mulai obsteri ginokologi sampai operasi.
Biasanya, mahasiswa kedokteran akan menghabiskan empat sampai delapan minggu pada setiap rotasi koas.
Dokter residen akan membantu mengevaluasi status klinis pasien dan menentukan perubahan yang sesuai pada rencana medis setiap harinya.
Dengan koas, mahasiswa kedokteran akan belajar mengenali dan mengatasi penyakit, sesuai dengan kondisi di lapangan, berdasarkan teori yang dipelajari sebelumnya.
Ketika berhadapan dengan pasien, mahasiswa kedokteran akan mendapatkan pengalaman langsung.
Dan tahapan untuk menjadi dokter tidak berhenti di Koas saja.
Setelah itu kami harus mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter untuk mendapatkan gelar dokter.
Apa selesai sampai disitu? Belum. Masih ada sumpah dokter, Intership dan PPDS.
Setelah dilantik sumpah dokter, kami menjalani program internship yang merupakan program pemerintah untuk menempatkan para dokter yang baru lulus di berbagai kota di Indonesia selama satu tahun.
Jika beruntung bisa saja kami ditempatkan di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya.
Selama 1 tahun, aku akan ditempatkan di rumah sakit selama 8 bulan dan Puskesmas selama 4 bulan.
Namun khusus untuk daerah Jakarta, kami akan ditempatkan di rumah sakit selama 4 bulan dan Puskesmas selama 8 bulan.
__ADS_1
Setelah internship, Euis akan langsung mengambil spesialis Onkologi.
Memang pendidikan dokter hingga menjadi seorang dokter spesialis adalah perjalanan yang membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Di kala teman teman yang berkuliah di fakultas lain sudah bisa bekerja dan mengejar karirnya, Kami masih harus mengikuti setiap tahapan sampai akhirnya bisa menjadi seorang dokter.
Namun untuk mengejar cita citanya, Euis harus semangat menjalani tahap demi tahap itu.
Cindy dan Monic baru saja pulang dari kosan Euis.
Semenjak mereka mengerjakan Karya tulis ilmiah, sudah menjadi rutinitas mereka untuk mengerjakan karya tulis ilmiah secara berbarengan.
Mereka selalu mengerjakannya secara berpindah pindah, kadang di kosan Euis, di perpustakaan kampus, di taman kampus ataupun di coffee shop terdekat.
Dari mulai awal Euis mengerjakan karya tulis ilmiah, Ia mendapatkan beberapa kesulitan salah satunya adalah judul yang tidak di-acc oleh dosen pembimbing ataupun ia kesulitan menghubungi dosen pembimbingnya.
Dosa pembimbing Euis adalah Prof Kunto, seorang Profesor terkenal dan memiliki jadwal yang sangat padat.
Bahkan dari awal ditetapkannya Profesor Kunto sebagai dosen pembimbing, sampai saat ini Euis belum pernah bertemu sama sekali.
Komunikasi mereka hanya lewat WhatsApp dan email saja, itu pun tidak lancar karena setiap Euis mengirimkan WhatsApp ataupun email selalu lama di balas
Bahkan untuk judul skripsinya di acc oleh Profesor Kunto memerlukan waktu lebih dari satu bulan.
Dan mulai hari itu Sampai detik ini Elis mengalami gangguan tidur. Euis merasa penulisan karya tulis ilmiahnya bergerak lamban dibanding dengan kedua sahabatnya.
Walaupun mereka mengerjakannya secara bersama sama tapi Euis masih stuck di bab 1 dan belum kunjung di ACC oleh Prof Kunto.
Komunikasi yang tidak lancar menyebabkan Euis takut jika karya tulis ilmiahnya akan terhambat dan Ia tidak bisa lulus tepat waktu.
Memasuki bulan kedua, Euis mengalami penurunan berat badan dan rambutnya mulai rontok.
Ia mulai mengumpulkan helai demi helai rambutnya, dari mulai jumlah yang bisa di hitung dengan jari sampai akhirnya menjadi tumpukan gumpalan rambut yang tidak sedikit.
Bahkan ketika Ia mengaca, Ia bisa melihat pitak di sisi rambut kanannya.
Perubahan perubahan itu membuat kondisi Euis menjadi drop.
" Is..Is " Monic memanggil Euis yang terlihat melamun.
Namun Euis masih tidak mendengar suara Monic. Cindy akhirnya menepuk pundak Euis sambil memanggilnya kembali " Euis "
__ADS_1
Euis terlihat kaget dengan tepukan di pundaknya, dan ketika Ia menoleh Monic san Cindy sedang menatapnya.
" Eh..Iya kenapa Cin? " Euis membetulkan posisi duduknya.
" Bukan aku yang manggil, Monic yang manggil kamu " Jawab Cindy.
Euis mengalihkan pandangannya ke Monic " Ada apa Mon? "
" Are you ok? " Tanya Monic dengan wajah yang serius.
" Aku baik kok, kenapa memang Mon? " Jawab Euis dengan mencoba tersenyum.
" Gue perhatiin akhir akhir ini Lo beda "
" Beda gimana? " Euis mengerutkan dahi.
" Lo nyadar nggak, akhir akhir ini Lo jadi orang yang berantakan banget? Dari cara berpakaian sampai kondisi kamar Lo. Di tambah lagi Lo sekarang suka ngelamun kaya ada yang lagi dipikirin. Lo lagi ada masalah? " Tanya Monic.
Euis memperhatikan kamarnya ketika Monic berbicara dan Ia baru menyadari jika kondisi kamarnya lumayan berantakan.
Semua pikiran Euis terpusat kepada karya ilmiahnya sehingga Ia tidak menyadari kondisi kamarnya sendiri.
Beberapa barang tergeletak begitu saja di lantai dan bahkan Ia lupa menutup lemari bajunya yang terlihat berantakan.
Melihat Euis yang diam saja membuat Monic merasa khawatir.
Ia sudah memperhatikan sahabatnya itu dari beberapa minggu yang lain.
Ia menyadari tubuh Euis yang semakin kurus, Monic bahkan sengaja membawa beberapa lauk untuk Euis.
Setelah tubuh Euis yang semakin kurus, Monic juga melihat beberapa gumpalan rambut di tempat sampah ketika Ia membuang sampah makanan.
Monic yakin sekali Euis mengalami tanda tanda depresi, karena semakin lama kondisi sahabatnya itu semakin parah.
" Gini Is, Gue udah merhatiin Lo dari beberapa minggu ini. Dan tanda tanda yang Gue liat kayanya Lo masuk ke dalam tahap depresi awal. Hal itu mungkin karena Lo stres dengan karya ilmiah Lo dan dosen pembimbing Lo yang sulit di hubungi " Monic memandang Euis dengan pandangan lembut.
Cukup sulit untuk dirinya mengatakan hal itu kepada Euis. Ada kemungkinan Euis akan denial atau marah kepadanya karena dianggap lancang berbicara seperti itu.
Namun Monic tidak ingin kondisi sahabatnya itu semakin parah, sehingga dengan pertimbangan yang matang Ia memilih untuk berbicara kepada Euis.
Tidak ada ekspresi di wajah Euis, Ia tidak marah ataupun terkejut.
__ADS_1
Sepertinya Euis sudah menyadari kondisinya sendiri dan Monic hanya membantu untuk memastikannya.