
Pak Rahman sudah menyerahkan berkas beasiswa yang harus Euis isi untuk keperluan kuliahnya.
" Ini semua harus prang tua Kamu isi ya, pastikan nggak ada yang terlewat agar tidak ada masalah dalam administrasinya "
Sudah beberapa hari hari berkas-berkas itu ada di dalam tasnya.
Euis harus menunggu waktu sampai Bapak tidak ada di rumah, agar Ia dapat berbicara dengan Ibu.
Bagaimanapun Ia harus meminta restu kepada Ibunya sebelum melangkah lebih jauh.
Setelah menunggu sampai sore, akhirnya Euis mendengar suara motor Bapak keluar dari rumah.
Cepat-cepat Euis mencari Ibu, agar sebelum Bapak pulang semuanya bisa selesai.
Ibu ternyata ada di dapur dan sedang memasak untuk makan malam mereka.
Rasanya seperti dejavu, Euis mengulang kembali kejadian enam tahun yang lalu ketika Ia merengek ingin melanjutkan sekolahnya ke SMP.
Euis langsung duduk di kursi dekat meja makan, memandang Ibu yang masih sibuk memasak.
Dari Euis kecil Ibu tidak mau dibantu jika sedang memasak, kata Ibu biar lebih cepat matang.
Alhasil sampai usia Euis hampir tujuh belas tahun, Euis tidak bisa memasak.
" Bu, menurut Ibu gimana tentang beasiswa Euis? " Euis langsung membuka obrolan.
Ibu masih mengaduk aduk sayur asem yang sedang Ibu masak.
" Sebentar ya Is, sebentar lagi matang sayur asemnya baru kita mengobrol " Ujar Ibu kepada Euis.
Euis mengambil peyek dari atas meja makan dan memakannya sambil menunggu Ibu selesai masak.
Setelah sayur asamnya matang, Ibu mencuci tangan lalu duduk di meja makan bersama Euis.
" Mau ngomong apa Is? " Ibu mengelap tangannya yang basah dengan serbet warna merah jambu.
" Menurut Ibu gimana tentang beasiswa Euis? " Euis membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak.
" Bagus, Ibu bangga sekali kamu bisa dapet beasiswa kedokteran " Ujar Ibu sambil memegang tangan Euis.
__ADS_1
Akhirnya Ia bisa mengungkapkan rasa bangganya kepada Putri semata wayangnya. Kemarin Ia tidak bisa mengungkapkan rasa bangganya karena suasananya masih tegang.
" Tapi lagi-lagi Bapak nggak setuju Bu, apa Euis harus mengubur mimpi Euis dan kehilangan kesempatan ini Bu? "
Ibu tidak tega melihat wajah Euis yang sedih, Ia sudah memikirkannya berhari-hari apa yang harus Ia lakukan kali ini untuk keluarganya?
Dari kecil Euis sudah terlihat cemerlang dengan segudang prestasinya, piala-piala yang berada di ruang tamu menjadi saksi betapa pintar anak perempuannya Itu.
Ibu tentu saja tidak mau jika Euis menyia-nyiakan kesempatan ini, tapi Ia tau pendirian suaminya tidak akan pernah goyah.
" Kamu yakin jika biaya kuliah akan di tanggung sepenuhnya oleh kampus? karena seperti yang Euis tau, Bapak nggak akan mau membiayai kuliah Euis "
" Euis udah tanya langsung sama pihak kampusnya Bu, dan informasinya benar seperti itu "
Ibu mengangguk-angguk mendengar ucapan Euis. Sepertinya untuk kali ini Ibu harus melawan Bapak dan memilih mendukung Euis.
Ibu punya tabungan yang mungkin bisa di pakai Euis untuk biaya ngekost dan makan selama di Depok
Tentu saja jika Euis kekeuh ingin melanjutkan kuliahnya, Ia tidak bisa tinggal di bogor lagi.
" Gini Is seperti yang Euis tau, Bapak punya prinsip sendiri. Ibu udah coba ngomong sama Bapak tapi Bapak tetep kekeuh sama prinsipnya "
Ibu memegang tangan Euis untuk memberikan kekuatan.
Ini adalah keputusan terberat yang harus Euis ambil dan semua ini adalah untuk masa depannya sendiri.
Sudah bertahun-tahun lamanya Euis memikirkan kemungkinan ini dan ia sudah yakin dengan pilihannya.
Uang tabungannya dan tabungan Ibu seharusnya cukup untuk bekal dirinya hidup di Depok.
" Kalo Ibu merestui, Euis yakin untuk melanjutkan kuliah Bu " Euis memandang Ibu dengan tatapan penuh keyakinan.
Melihat keteguhan anaknya, Ibu menjadi yakin dengan pilihannya mendukung Euis mengejar cita citanya.
" Baik-baik hidup di depok ya Is, mungkin Ibu nggak bisa sering jenguk kamu. Pesan Ibu jangan pernah kamu meninggalkan shalat, jaga kepercayaan yang Ibu berikan untukmu dan jaga kesehatan "
Entah mengapa rasanya sangat sedih mendengar ucapan Ibu, seakan-akan Euis ingin pergi jauh dari kota Bogor.
Ibu juga tidak kalah sedih, Ia harus melepaskan anaknya merantau sendirian di kota orang.
__ADS_1
Walaupun jarak Bogor dan Depok tidak terlalu jauh, tapi tetap saja mereka akan jarang bertemu, atau jika Suaminya masih keras terhadap prinsipnya, bisa bisa Ia tidak akan bertemu secara bebas dengan Euis.
" Makasih Ibu untuk selalu percaya dan support mimpi-mimpi Euis, Euis janji nghak akan mengecewakan kepercayaan Ibu "
Euis memeluk Ibu erat, beruntung sekali Euis memiliki Ibu yang selalu mendukungnya dan Euis tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Ibu dengan belajar sebaik-baiknya di perkuliahan nanti.
Walaupun Bapak tidak setuju dengan pilihan Euis tapi setidaknya Ibu memberikan restu untuk Euis.
Euis teringat dengan berkas yang harus diisi oleh orang tua.
" Oh Iya Ibu, ada dokumen yang harus Ibu isi, Euis ambil sebentar ya Bu "
Euis lalu mengambil berkas yang harus Ibu isi untuk persyaratan masuk kuliah dari dalam tasnya kemudian Ibu langsung mengisinya.
Semuanya harus dilakukan dengan cepat sebelum Bapak pulang.
Setelah selesai Ibu mengisi semua dokumen yang berisi tujuh lembar, Euis langsung memasukannya ke dalam tas untuk di serahkan kepada Pak Rahman besok.
Euis merebahkan tubuhnya di atas kasur, Ia melihat ke sekeliling kamarnya, Ia pasti akan kangen sekali dengan ruangan ini.
Entah kapan bisa tidur lagi di dalam kamar ini, ruangan yang menjadi saksi perjalanan hidupnya sampai dengan sekarang.
Jalan yang nanti Euis lalui pasti akan berat, apalagi Ia harus melaluinya sendiri tanpa bantuan keluarganya lagi.
Tapi Euis harus yakin dengan pilihan hidupnya.
Berbekal uang tabungannya dan uang tabungan Ibu, Euis harus bisa bertahan hidup di Depok sampai Ia lulus nanti.
Euis mengambil ponsel, Ia ingin mengabari Aa Asep sekaligus minta ditemani mencari kostan besok.
" Aa besok bisa temenin Euis nggak untuk nyari kostan di Depok? "
Euis mengirimkan chat itu kepada Aa Asep yang masih belum pulang dari kuliahnya.
Tiga puluh menit kemudian Aa Asep membalas chat Euis " Boleh, jam berapa? Memang Bapak sudah memberikan izin untuk kamu kuliah? "
" Bapak belum mengizinkan tapi Alhamdulillah Ibu sudah Aa, jadi Euis harus siap-siap cari kostan dulu "
" Alhamdulillah kalo Ibu sudah mengizinkan Aa ikut senenh, besok jam satu siang kita ketemuan di Stasiun Bogor ya "
__ADS_1
" Iya Aa, makasih banyak udah mau nemenin Euis nyari kostan "
" Iya sama-sama Is " Ujar Aa Asep mengakhiri percakapan mereka.