Story Of Euis

Story Of Euis
Bapak Kawin Lagi


__ADS_3

Euis dan teman temannya sedang berada di aula Balairung tempat prosesi wisuda fakultas kedokteran di selenggarakan.


Hanya Aa Asep yang hadir dalam wisuda Euis hari ini.


Sepanjang prosesi sekuat tenaga Euis menahan air matanya agar tidak tumpah.


Seharusnya Ibu dan Bapak ada disini melihat Euis yang wisuda sama seperti teman temannya yang lain.


Ketika Euis berjalan naik keatas podium, Air matanya tidak bisa Ia tahan lagi.


Euis kangen Ibu suporter Euis nomor satu, orang yang membuat mimpi Euis menjadi nyata dengan mengorbankan apapun untuk anak perempuannya ini.


Kedua sahabatnya yang melihat Euis menangis langsung memeluknya ketika Euis duduk kembali ke tempatnya.


" Sabar ya Is " Hanya itu yang bisa Cindy ucapkan.


Karena Ia tau benar rasa kehilangan terkadang tidak bisa selesai dengan ucapan sabar.


Euis membenamkan matanya dengan tisu, Ia tidak peduli dengan riasannya dan hanya ingin menangis saat ini.


Aa Asep yang melihat Euis dari kejauhan pun ikut menangis, Ia bisa merasakan kesedihan adiknya itu.


" Yang kuat ya Is, Ibu pasti bangga dengan kamu " Ucap Aa Asep dalam hati.


Setelah acara wisuda mereka berfoto untuk mengabadikan moment wisudanya.


Tidak usah ditanya riasan Euis seperti apa, eyeliner nya sudah luntur dan bedaknya sudah tidak terpoles rata.


" Is besok kita pindahan jam sembilan pagi ya, kamu perlu bantuan buat packing barang barangmu? " Tanya Monic.


Mereka bertiga memutuskan untuk melakukan program profesi atau Koas di RSUD kota bogor.


Monic dan Cindy memutuskan untuk mengikuti Euis karena tidak tega meninggalkan Euis yang sedang rapuh.


Mereka tidak ingin Euis mengalami depresi seperti pada saat penyusunan skripsi.


" Nggak usah Mon, Aa Asep akan membantu aku packing barang hari ini "


" Oke kalau begitu ketemu besok ya " Monic dan Cindy berpamitan dan kembali ke keluarganya masing masing.


" Mau makan dulu Is? " Tanya Aa Asep.

__ADS_1


Ia khawatir dengan kondisi adiknya pasca meninggalnya Ibu.


Tubuh Euis menjadi tambah kurus, tulang pipinya terlihat menonjol dan ada lingkaran hitam di bawah matanya mulai nampak.


" Langsung pulang aja ya Aa, Euis capek banget "


" Ya sudah nanti Aa aja yang keluar beli makan " Tawar Aa Asep.


Sesampainya di kosan, Euis langsung melepaskan rambutnya yang di buat konde.


Dihapusnya riasan yang sudah berantakan dengan makeup removal.


Euis memandang wajahnya sendiri yang terlihat sangat menyedihkan.


Kehilangan Ibu untuk selama lamanya ternyata membuat hidup Euis hampa dan seolah tidak ada artinya.


Euis seperti kehilangan semangat hidup dan kehilangan tujuan hidupnya.


" Ibu..Euis kangen " Euis berucap lirih dan air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.


" Aa beli makan dulu ya Is, kamu mau makan apa? " Tanya Aa Asep.


" Apa saja Aa " Euis bahkan tidak memiliki nafsu makan saat ini.


Ia lupa mengisi daya ponselnya tadi malam sehingga ponselnya kehabisan baterai.


" Iya Aa " Jawab Euis.


Euis melanjutkan kembali aktivitasnya dan mengganti bajunya.


Pada saat Euis mengganti baju ponsel Aa Asep berdering dan nama Bapak muncul di layar ponsel.


Euis tidak mengangkatnya Walaupun Bapak menelpon berkali kali, akan jadi masalah jika Bapak tau Aa Asep sedang bersama Euis.


Setelah capek menelpon namun tidak diangkat, Bapak kemudian mengirimkan pesan yang membuat mata Euis terbelalak.


Bapak mengirimkan pesan dalam bahasa sunda yang jika diartikan " Sep jangan lupa besok acara lamaran Bapak jangan pulang malam banyak yang harus di siapkan "


Euis membaca pesan Bapak berkali kali untuk memastikan jika Ia tidak salah lihat.


Belum genap seratus hari dari kepergian Ibu tapi Bapak ingin menikah lagi? Euis bahkan masih merasakan duka atas kepergian Ibu.

__ADS_1


Namun Bapak sudah berfikir untuk menikah lagi? Kemana Bapak yang Euis kenal sangat mencintai Ibu? Mengapa Bapak bisa menikah padahal Ibu belum lama meninggal.


Dada Euis bergemuruh Ia marah sekali dengan Bapak, sebagai anak Euis merasa tidak terima jika Bapak bisa melupakan Ibu begitu cepat.


Euis masih berdiri mematung memegang ponsel ketika Aa Asep datang membawa makanan untuk makan malam mereka.


" Ambil piring Is, hayu makan bareng " Aa Asep masih belum menyadari Euis yang sedang berdiri mematung.


Dicabutnya ponsel Aa Asep " Ini bener Aa? " Tanya Euis sambil menyerahkan ponsel itu ke Aa Asep.


Asep mengambil ponsel dari tangan Euis dan membaca pesan Bapak.


Sebetulnya Ia sudah ingin memberitahukan tentang pernikahan Bapak kepada Euis, namun ketika Ia melihat adiknya menangis pada saat wisuda karena teringat Ibu Asep membatalkan niatnya.


Asep yakin Euis pasti akan histeris mengetahui hal itu, sama seperi yang Asep rasakan beberapa minggu yang lalu.


Di suatu sore Bapak pulang dengan membawa wanita muda yang mungkin usianya hanya selisih beberapa tahun di atas Asep.


Dari gelagat keduanya yang malu malu, Asep sudah paham jika ada sesuatu diantara mereka.


Dan benar saja, tanpa basa basi Bapak mengutarakan niatannya untuk menikahi Dewi , perempuan yang Bapak kenal ketika menjual hasil ternak di pasar.


Dewi adalah anak dari pedang ayam potong di pasar tersebut. Usia Dewi dan Bapak terpaut enam belas tahun namun mereka berdua terlihat sedang kasmaran.


Bapak yang kaku tiba tiba banyak tersenyum hari itu, seperti anak SMA yang sedang di mabuk asmara, Asep sampai tidak tahan melihatnya.


Perempuan itu juga terlihat mencintai Bapak yang lebih cocok menjadi Kakak atau bahkan Bapaknya sendiri.


Akhirnya Asep menceritakan semuanya kepada Euis. Kalimat demi kalimat yang Euis dengar dari Aa Asep membuat Euis marah.


" Bapak mikir apa sih sampe mau cepat cepat menikah, bunga di kuburan Ibu bahkan masih ada di sana" Air mata Euis pun tumpah.


" Aa juga menanyakan hal itu kepada Bapak, tapi kamu tau sendiri sifat Bapak seperti apa, Bapak nggak mau mendengar kata kata Aa, baginya kita hanya anak kecil yang tidak punya hal bicara "


Seolah semua kesedihan yang di rasakan Euis belum cukup untuk membuatnya hancur, kini Bapak dengan mudahnya menyakiti hati kami dengan menikahi perempuan lain.


Tapi benar yang dikatakan Aa Asep, budaya patriarki yang kuat di keluarganya membuat kami anak anak Bapak tidak memiliki suara di rumah.


Hanya Bapak yang berhak melakukan apapun kami anak anaknya tidak punya hak untuk mengeluarkan suara.


Malam itu Euis habiskan untuk menangis. Ia membayangkan jika Ibu tau Bapak akan menikah lagi bagaimana perasaan Ibu.

__ADS_1


Baru kali ini Euis merasa sangat marah dan kecewa dengan Bapak. Ia tidak bisa menerima jika sebentar lagi mereka akan mempunyai Ibu tiri.


__ADS_2