Story Of Euis

Story Of Euis
Awal Perkuliahan


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Euis memulai perkuliahannya.


Berbeda dengan masa SMA yang terasa santai, di semester awal jadwal kuliah Euis sangat padat.


Jadwal kuliahnya full dari senin sampai jumat dan dimulai dari jam tujuh pagi hingga sore.


Belum lagi tugas-tugas yang di berikan oleh Dosen yang membuat Euis semakin tidak ada waktu.


Harusnya hari ini adalah hari libur Euis, tapi Ia bahkan tidak bisa bersantai di hari liburnya.


Ia masih berkutat dengan buku-buku tebal yang harus Ia pelajari untuk perkuliahan hari senin.


Tapi yang membedakan hari ini dengan hari lainnya adalah, Euis bisa video call dengan Ibu dan Aa Asep di rumah karena Bapak sedang ada urusan di kota.


" Gimana kuliahnya Is? " Tanya Ibu ketika video call tersambung.


Ini pertama kalinya kami video call rasanya kangen sekali mendengar suara Ibu.


" Alhamdulillah lancar, tapi jadwal kuliahnya padat banget Bu. Ini saja Euis sambil belajar " Ujar Euis mengadu kepada Ibu kesayangannya.


" Jangan terlalu di forsir Is, Ibu tau kamu suka belajar tapi jangan terlalu capek ya, makan mu gimana selama di sana? " Tanya Ibu kembali.


" Kalo hari minggu Euis belanja di pasar Bu untuk kebutuhan makan seminggu, disini ada kulkas yang di sediakan oleh Ibu kost jadi aku bisa masak setiap hari " Jawab Euis.


Semenjak merantau, mau tak mau Euis mulai belajar memasak.


Dan untungnya Euis hidup di era digital, untuk memasak Euis tinggal menonton youtube saja , praktis walaupun di awal Euis masak rasanya nggak karu-karuan.


" Wah hebat anak Ibu sekarang udah bisa masak, nanti kalo Ibu mampir masakin untuk Ibu ya Is " Ujar Ibu.


" Ibu emang kapan main ke Depok? " Tanya Euis dengan semangat.


" Belum tau, Bapak sedang ada pesanan ayam potong untuk pabrik nugget jadi jarang keluar Is, nanti ya kalo Bapak sedang ada kerjaan ke kota, Ibu dan Aa Asep akan main ke Depok. Ibu juga sudah kangen sama kamu " Ucap Ibu.


Konsekuensi dari Euis mengejar mimpinya adalah tidak bisa bertemu dengan Ibu dan Aa Asep dengan fleksibel.


Kami harus kucing kucingan jika ingin bertemu agar Bapak tidak tau jika Ibu dan Aa Asep bertemu dengan Euis.


" Tapi Bapak sehat Bu? " Tanya Euis.

__ADS_1


Walaupun Bapak tidak mengizinkan Euis melanjutkan Kuliah tapi Ia tidak pernah membenci Bapaknya.


" Baik Alhamdulillah, tapi sekarang lagi batuk-batuk kebanyakan merokok kayanya " Jawab Ibu dengan mimik yang khawatir.


Gaya hidup Bapak memang kurang sehat selama ini. Bapak adalah perokok aktif yang sehari menghabiskan satu bungkus rokok.


Dan selama ada di peternakan, Bapak tidak mau menggunakan masker, katanya sesak jika harus menggunakan masker.


Selain itu, Bapak juga tidak suka minum air putih dan hanya minum kopi dan air teh saja.


Ibu dan Euis sudah sering mengingatkan Bapak tapi tetap saja Bapak tidak bisa meninggalkan itu semua.


" Kalo batuknya makin parah, periksa ke dokter ya Bu, jangan didiamkan nanti bahaya " Ujar Euis.


" Kamu tau sendiri, Bapak susah banget diajak ke rumah sakit. Kalau sakit paling hanya minum obat warung saja " Ujar Ibu.


Betul kata Ibu, Bapak memang sulit sekali diajak ke rumah sakit. Bapak selalu berfikir jika semua sakit adalah masuk angin.


Jadi apapun sakitnya Bapak hanya selalu minum tolak angin, atau jika tidak sembuh juga Bapak hanya minta di kerok oleh Ibu.


Dari belakang telpon Euis mendengar Aa Asep berbicara kepada Ibu, Aa memberitahukan jika Bapak sudah datang.


Euis melanjutkan kembali membaca buku anatomi yang sedari tadi di pegangnya.


Ia merangkum apa saja yang penting dan harus Ia hapalkan.


Menjadi mahasiswa kedokteran mengharuskan Euis pintar menghapal.


Kami harus sudah tau bagian anatomi tubuh yang jumlahnya banyak sekali berikut fungsinya.


Cindy bahkan sampai ingin menyerah ketika baru masuk tiga kelas di awal kuliah.


" Ampun banyak banget yang harus di pelajari dan di hapal " Ujar Cindy sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.


" Memang sebelum kamu mendaftar di FK Kedokteran kamu nggak cari tau dulu akan seperti apa kuliahnya? Sampe kita jadi dokter beneran juga harus tetep menghapal dan belajar " Ujar Monic dengan mulut yang di sumpal lolipop.


" Tau sih, tapi nggak nyangka sepadat ini. Aku sampe ngga punya waktu untuk main ke mall " Ujar Cindy terlihat frustasi.


" Semangat Cin, tujuh semester lagi kita lulus kok " Euis menggoda Cindy.

__ADS_1


Cindy makin mengetuk-ngetuk kepalanya mendengar ucapan Euis.


" Kalau bukan karena Ayah, rasa-rasanya aku ingin pindah jurusan saja " Cindy memasang wajah manyun.


" Memang Ayahmu yang menyuruh kamu masuk kedokteran? " Tanya Euis


" Iya, Ibuku dulu adalah seorang dokter di angkatan darat tapi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Ayah bilang aku pasti bisa menjadi seorang dokter seperti Ibu, karena konon kecerdasan anak di turunkan dari Ibunya " Ujar Cindy.


" Itu bukan sekedar ucapan belaka, menurut penelitian memang seperti itu. Kecerdasan anak memang di turunkan dari Ibu sedangkan Ayah mewarisi gen rambut " Ucap Monic dengan wajah serius.


Dari kami bertiga Monic adalah orang yang memiliki wawasan yang luas. Ia bisa menjawab pertanyaan apapun dan selalu ada dasarnya.


Menurutnya, sedari kecil kedua orang tuanya selalu menyuruhnya membaca buku.


Bahkan setiap tahunnya kedua orang tua monic selalu menghadiahkan buku ketika natal.


Tidak heran Monic menjadi terbiasa membaca buku dan dari kami bertiga, monic yang tidak pernah mengeluh membaca buku yang sangat tebal, Ia malah terlihat menikmatinya.


" Ya sudah nanti pulang ngampus aku temani ke mall margo city mau? " Euis menawarkan diri, Ia tidak tega melihat Cindy stress seperti itu.


" Bener Is? Aku seneng banget ih akhirnya bisa ke mall. Hmm..nanti aku mau beli make up sama skin care " Cindy terlihat sangat bersemangat.


Ia sudah terpikir akan kemana saja dan mau membeli apa.


Euis dan Monic hanya tersenyum saja melihat tingkah Cindy.


" Kamu ikut Mon? " Tanya Euis kepada Monic.


" Terpaksa ikut, kalo Gue nggak ikut si monic mau pulang sama siapa? " Jawab Monic tanpa ekspresi apapun.


Mengenal Monic beberapa minggu ini membuat Euis menjadi mengerti jika karakter Monic memang seperti itu.


Ia terlihat datar tanpa ekspresi ketika padahal tidak dalam mood yang buruk.


Bahkan Euis tidak pernah melihat Monic tersenyum.


Tapi di luar itu Monic adalah pribadi yang perhatian dan ringan tangan menolong siapapun yang butuh bantuan.


Tidak lama Dosen Biomedik kami Bu Irene masuk kedalam kelas, suasana kelas yang semula ramai mendadak menjadi hening.

__ADS_1


Tidak asa yang berani bersuara di kelas Bu Irene yang terkenal killer.


__ADS_2