
Commuter Line sedang berjalan dengan bising menuju Manggarai, membawa Euis yang sedang dalam keadaan kalut.
Apa yang Euis lalui hari ini seperti mimpi buruk.
Ia harus melihat keluarganya bersedih lagi dengan masalah yang sama.
Dan yang lebih menyedihkan, Euis tidak bisa membantu apa apa untuk keluarganya. Bahkan untuk berada di tengah keluarganya saja Euis tidak bisa.
Euis mulai mempertanyakan apakah pilihannya untuk mengejar cita cita sepadan dengan ini semua?
Tiba tiba Euis merasa menjadi orang jahat karena meninggalkan keluarganya demi cita citanya.
Ia hanya bisa menenggelamkan wajahnya di9 balik kedua tangannya dan menangis.
Sesampainya di kostan ia langsung beranjak ke kamar mandi dan vmenumpahkan semua air matanya di sana.
Euis menangis hebat, dadanya terasa sesak! Ia bersedih untuk Aa Asep dan benci dengan keadaan ini.
Euis memikirkan Ibu yang saat ini mungkin sedang menangis sendirian di kamar, tidak ada yang menenangkannya dan tidak ada yang menemaninya.
Euis merasa jika Ia tidak berguna sebagai anak, bahkan di saat keluarganya susah Ia masih hidup nyaman di kamar kostnya dan menjalani kehidupan perkuliahannya.
Tidak terasa sudah tiga hari Aa Asep mendekam di jeruji besi.
Ibu sempat menelepon Ibu untuk menanyakan kabar Aa Asep.
Menurut Ibu, Bapak akan menjual lahan peternakannya untuk menyelamatkan Aa Asep.
" Apa harus di jual Bu? " Tanya Euis pada saar menelpon Ibu.
" Uang yang di butuhkan sangat besar Is, dan harta benda Bapak hanya peternakannya saja. Ini sangat berat untuk Ibu dan Bapak, namun harus tetap di lakukan untuk menyelamatkan Asep " Ucap Ibu dengan nada Sedih.
Euis tidak tau harus berkata apa, tidak ada Cara untuk menyelamatkan Aa Asep kecuali menyiapkan semuanya.
Euis melihat jam dinding berwarna Pink yang berada si atas meja belajarnya.
Ini sudah jam tujuh malam, besok Euis ada ujian biokimia mata kuliahnya Bu Irene.
Masalah Aa Asep membuat Euis kehilangan semangat belajarnya.
Sampai sekarang, Euis belum belajar untuk ujiannya besok, semua pikirannya tercurah pada Aa Asep.
__ADS_1
Namun Ia harus mempertahankan nilainya agar masih bisa mendapatkan beasiswa.
Dengan langkah yang berat Euis berjalan ke meja belajarnya.
Di buka buku tebal bertulis Biokimia san Ia mulai belajar. Baru kali ini rasanya sulit sekali menghafal semuanya.
Kepalanya seolah penuh dan tidak mau terisi lagi. Euis bahkan harus mengulang kalimatnya berkali kali untuk dapat mengingatnya.
Euis tidak boleh kalah dengan masalahnya, Ia harus bisa mempertahankan beasiswanya agar terus dapat melanjutkan kuliahnya.
Jam sudah menunjukan pukul dua pagi, nata Euis terasa panas, kepalanya sudah pusing.
Mungkin jika Ia adalah robot kepalanya kaan keluar asap.
Dengan mata setengah tertutup Euis menuju tempat tidur, merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung tertidur lelap.
Euis Membolak-balik kertas ujiannya yang baru saja ia terima, Ini pertama kalinya Euis kesulitan mengerjakan soal ujian.
Sudah tiga puluh menit berlalu tapi dan masih banyak soal yang belum terjawab.
Keringat dingin mengucur di wajahnya, Euis tidak mau gagal dalam ujiannya namun otaknya terasa buntu.
Berkali kali ia memejamkan matanya untuk mengingat-ingat apa saja yang sudah ia hafal semalaman, namun hasilnya nihil.
Di tengah kekalutan yang Euis rasakan tiba tiba Bu Irene berkata " Waktunya tiga puluh menit lagi, harap selesaikan semuanya tepat waktu, jika ada yang menyerahkan jawaban lebih dari waktu yang ditentukan, maka saya akan kurangi nilainya "
Perasaan Euis bertambah kalut mendengar ucapan Bu Irene, hampir setengah soal belum Ia kerjakan.
" Tolong hamba ya Allah, berikanlah kemudahan untuk hamba mengerjakan soal soal ini " Doa Euis dalam hati.
Ia tidak tau lagi harus berbuat apa selain berdoa, Euis sudah benar benar pasrah.
Dengan sisa waktu yang tersisa, Euis mencoba mengisi jawaban dengan sisa sisa hapalan yang masih Ia ingat.
" Sepuluh menit lagi " Ucap Bu Irene.
Tidak hanya Euis yang panik dengan ujian hari ini. Hampir semua teman sekelasnya merasakan hal yang sama.
" Kumpulkan sekarang " Ucap Bu Irene.
Melihat hanya beberapa Mahasiswa yang mengumpulkan jawaban, Bu Irene menjadi berang.
__ADS_1
" Saya hitung sampai tiga, satu..dua "
Setengah berlari Euis dan beberapa temannya mengumpulkan lembar jawaban.
" Tiga "
Bu Irene merapihkan semua lembar jawaban dan setelah itu meninggalkan ruangan kelas.
Dua teman Euis yang belum mengumpulkan lembar jawaban mengejar Ibu Irene yang sudah berlalu dari kelas namun tidak berapa lama, mereka kembali ke dalam kelas dengan wajah yang lemas.
" Nggak diterima ya Vin? " Tanya Mia yang melihat Alvin masuk kedalam kelas.
" Mau nangis Gue rasanya " Jawab Alvin.
Mia menenangkan Alvin yang terlihat hampir menangis dengan memegang lembar jawabannya.
Euis hanya bisa melihat ke arah Alvin tanpa melakukan apapun, Euis juga tidak yakin jika hasil ujiannya akan mendapatkan nilai yang bagus.
" Ya ampun kepala gue rasanya mau pecah, Padahal Gue udah belajar, tapi pas ngelihat soal ujian tadi tiba-tiba semuanya Blank" Ujar Cindy yang menghampiri Euis ke mejanya.
" Sama Gue juga Cin, rasanya pengen nangis" Ucap Euis sambil meletakan kepalanya di meja.
Dari meja belakang, Monic menghampiri Euis dan Cindy.
" Tumben kamu kesulitan salam ujian Is? Kalau Cindy sih nggak perlu ujian, cuma quiz biasa saja Dia sudah pusing " Ucap Monic terkekeh.
" Sialan, tapi mau marah juga memang begitu adanya ya, Gue bisa lulus jadi dokter aja udah bagus kayanya " Bukannya marah di goda seperti itu, Cindy malah tertawa.
" Aku sedang ada masalah keluarga, sekeras apapun aku belajar tapi tetap tidak ada yang masuk. Aku sampai pasrah tadi karena tidak bisa mengisi soal ujian " Ucap Euis menahan air matanya.
Cindy mendekati Euis dan memeluknya " Sabar ya Is, apapun masalahmu semoga semuanya cepat selesai ya "
" Ada yang bisa kita bantu Is? " Tanya Monic.
" Aku saja nggak bisa bantu keluargaku Mon, baru kali ini aku merasa tidak berguna menjadi Anak " Air mata Euis mulai membasahi pipinya.
Dengan sigap Monic memberikan tisu kepada Euis yang sedang menangis.
Dadanya begitu sesak jika mengingat tentang Aa Asep. Sampai saat ini Bapak masih berusaha menjual peternakan mereka namun belun ada yang beli.
Membayangkan Aa Asep harus tidur di lantai yang dingin dan tanpa alas membuat perasaan Euis semakin sakit.
__ADS_1
Tangis Euis semakin keras, Monic yang semula masih berdiri disamping Cindy, sekarang ikut memeluk Euis yang tubuhnya gemetar karena tangis.
Ia tidak bisa menceritakan masalah keluarganya kepada kedua sahabatnya itu, namun Euis sangat menghargai Cindy dan Monic yang tidak bertanya lebih jauh, namun tetap menghibur Euis dengan caranya sendiri.