
Dengan bantuan kedua sahabatnya Euis mencoba bangkit dari depresinya.
Monic dan Cindy bahkan sampai menginap di kostan Euis untuk menjaga Euis sekaligus menghiburnya.
Euis tidak luput dari pandangan kedua sahabatnya itu. Monic dan Cindy benar benar menemani Euis melewati depresinya.
Keberadaan mereka membuat Euis merasa terbantu, Ia tidak lagi larut kedalam kesedihannya dan perlahan menjadi lebih kuat.
Ia tidak lagi fokus dan larut dalam masalah yang Ia hadapi.
Dengan bantuan kedua sahabatnya, Euis mencari informasi kepada Kakak tingkat yang sudah lulus dengan Dosen pembimbingnya adalah Pak Kunto.
Setelah satu minggu menggali informasi ke beberapa orang, akhirnya mereka menemukan informasi jika Pak Kunto memiliki suatu kebiasaan rutin.
Ia selalu berada di Urban Coffee dari jam sembilan sampai dengan jam sepuluh pagi.
Menurut Kak Tiwi yang merupakan kakak tingkatnya, Pak Kunto sangat menyukai brownies di Urban Coffee.
Ia tidak pernah melewatkan sehari pun memakan brownies kesukaannya itu.
Berbekal informasi tersebut, Euis dan kedua sahabatnya sekarang sedang berada di Urban Coffee menunggu kedatangan Pak Kunto.
Sengaja mereka duduk tidak jaug dari pintu masuk, agar dapat melihat kedatangan Pak Kunto.
Euis menggoyang-goyangkan kakinya sedari tadi pertanda Ia sedang cemas.
Berkali kali Ia melihat ke layar ponselnya untuk melihat jam yang masih tiga puluh menit menuju jam sembilan.
" Sudah nggak usah khawatir Is, Pak Kunto pasti akan datang. Tenang saja kamu atur nafasmu agar tidak cemas " Ujar Monic yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.
Kedua sahabatnya bahkan sampai menemani Euis untuk bertemu dengan Pak Kunto, padahal mereka juga sedang mengerjakan karya ilmiah dsn sedang di buru deadline.
Lonceng di pintu berbunyi pertanda seseorang masuk ke dalam coffee shop. Laki laki berusia lima puluh tahunan dengan kemeja berwarna krem masuk dengan menenteng tas berwarna hitam.
Euis menelan ludahnya, orang yang Ia tunggu sedari tadi akhirnya datang tepat di jam sembilan pagi, sesuai dengan informasi Kak Tiwi.
Ia langsung berjalan ke arah kasir untuk memesan makanannya, wajahnya terlihat tersenyum ketika berbicara dengan kasir
__ADS_1
Euis memegang lembar karya ilmiahnya yang Ia sudah print kemarin. Euis sudah mengeceknya berkali kali dan seharusnya tidak ada masalah di bab tersebut.
Setelah memesan Pak Kunto duduk di meja pojok tepat di bawah pohon. Ia langsung membuka tasnya dan mengambil beberapa kertas kemudian mulai membacanya.
" Doa kan aku ya, Pak Kunto sudah ada di mejanya " Euis menatap mata kedua sahabatnya, Ia memerlukan kekuatan untuk menemui Pak Kunto.
Euis takut jika reaksi Pak Kunto tidak bersahabat karena merasa terganggu dengan kehadirannya.
" Nggak usah grogi Is, kamu pasti bisa bimbingan hari ini " Cindy menepuk nepuk tangan Euis guna memberikan semangat.
Dengan memegang erat kertas karya ilmiahnya, Euis berjalan ke arah Pak Kunto dengan langkah yang hati hati.
" Selamat pagi Pak " Dengan nada tidak yakin Euis menyapa Pak Kunto Yang sedang membaca.
Pak Kunto mengangkat kepalanya dan memandang ke arah sumber suara. Ia terlihat kecewa karena yang datang bukan waiters yang mengantar brownies kesukaannya.
" Ia " Pak Kunto membuka kacamatanya dan mengerutkan dahinya, memandang Euis dengan tatapan heran.
Sebelum menjawab pertanyaan Pak Kunto, Euis menghirup nafas dalam dalam untuk menenangkan dirinya.
Hari ini adalah salah satu hari yang penting untuknya dan Euis tidak mau menghancurkannya.
Pak Kunto menyunggingkan senyum, Ia melepas kacamatanya " Silahkan duduk " Ucapnya.
Pak Kunto tidak menyangka bahwa Euis, Mahasiswa yang Ia bimbing mengetahui tempat persembunyiannya.
Tidak banyak orang yang tau tentang kebiasaannya yang datang ke urban coffee.
" Mana karya tulis ilmiah kamu? " Tanya Pak Kunto, tidak ada kemarahan di nada suaranya dan Euis merasa lega.
Euis menyerahkan bab karya tulis ilmiah yang sudah Ia genggam sedari tadi, Pak Kunto mengenakan kaca matanya dan mulai membaca dengan seksama.
Pak Kunto melipat kakinya dan menyenderkan punggung ke kursi.
Dengan pulpen berwarna biru di tangan kanannya, Ia mencoret beberapa kali di lembar karya ilmiah Euis.
Selama Pak Kunto mengecek karya ilmiahnya, Euis hanya bisa memandang Pak Kunto dengan pandangan cemas.
__ADS_1
Tidak banyak ekspresi Pak Kunto pada saat memeriksa karya tulis ilmiah milik Euis, sehingga Ia tidak tau apakah bab yang Ia serahkan akan di acc olehnya.
Setelah kurang lebih sepuluh menit Pak Kunto memeriksa karya tulis ilmiah Euis, akhirnya Ia melepaskan kacamata yang di biarkan tergantung di dadanya.
" Ada beberapa hal yang saya coret, kamu bisa revisi dengan menyertakan kutipan dari sumber informasinya. Tiga hari lagi kamu berikan kepada saya berikut dengan bab selanjutnya "
Euis tersenyum bahagia, akhirnya penantian panjang berbulan bulan membuahkan hasil, karya tulis ilmiahnya mengalami kemajuan.
" Baik Pak terima kasih banyak untuk waktunya, tiga hari lagi akan saya serahkan bab selanjutnya. Saya pamit kalau begitu. Terima kasih untum waktunya Pak " Ucap Euis sopan.
Pak Kunto mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Euis.
Dari kejauhan kedua sahabatnya yang merasa khawatir dengan Euis sedari tadj menjadi lega, tatkala Euis menghampiri mereka dengan senyum yang sumringah.
" Gimana gimana gimana? " Tanya Cindy tidak sabar mendengar cerita Euis.
" Alhamdulillah bisa lanjut ke bab selanjutnya, ada beberapa yang harus di revisi dan tiga hari lagi aku diminta untuk datang kembali kesini " Mata Euis berbinar ketika mengatakan hal itu.
Ia tidak bisa mengontrol tubuhnya, tangannya sangat dingin dan intonasi suaranya lebih besar dari sebelumnya, Euis sangat bersemangat.
Monic sampai menaruh jari telunjuknya di mulut meminta Euis untum tenang, Ia tidak ingin jika Pak Kunto mendengar ucapan Euis.
Euis yang melihat tanda dari Monic langsung duduk di kursinya, dengan suara yang pelan Ia menceritakan semuanya kepada dua sahabatnya itu.
Monic sangat senang karena akhirnya sahabatnya itu menemui titik terang dari masalahnya.
Ia berharap Euis bisa mengejar ketinggalannya dan mereka dapat menyelesaikan karya ilmiah tepat waktu.
Mereka bertiga menghabiskan waktu lebih lama dari Pak Kunto.
Euis menyeruput ice americano yang ia pesan, mungkin ini adalah ice americano termanis yang pernah Ia minum.
Percakapan antara Euis dan Pak Kunto beberapa jam yang lalu nyatanya membuat mood Euis menjadi baik.
Setelah berbulan bulan berada di perasaan yang sangat menyiksa akhirnya Euis bisa merasakan kebahagiaan.
Euis tau ini bukanlah akhir dari segalanya namun merupakan awal dari semuanya.
__ADS_1
Ia harus berlari cepat untuk mengejar kekurangannya dan Ia akan giat berusaha untum itu.