Story Of Euis

Story Of Euis
Bangsal RA


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Bapak dengan Dewi calon Ibu tirinya.


Tentu saja Euis tidak di undang, bagi Bapak Euis sudah mati.


Euis sendiri sekarang sedang berada di RSUD Bogor, ini adalah hari pertamanya menjadi koas bersama kedua sahabatnya.


Di awal masa Koas mereka, mereka akan di tempatkan di stase penyakit dalam di bawah pengawasan dr. suryani Sp.PD.


Setelah mengurus administrasi mereka bertiga langsung menuju ke ruangan dr Suryani.


Di ruang tunggu sudah ada beberapa orang koas yang sudah menunggu di sana.


Ada lima belas orang koas yang akan berada si stase penyakit dalam, menurut cerita kakak tingkat yang sudah menjalani koas kami


Kami akan di tempatkan di IGD, ICU, bangsal rawat inap dan asisten poli.


Tepat di jam delapan pagi kami bertemu dengan dr Suryani. Perempuan berusia hampir lima puluh tahun itu terlihat rapi dengan wajah yang lembut.


Di hari pertama kami di minta untuk bekerja di bangsal rawat inap.


Di rumah sakit ini terdapat beberapa bangsal yaitu bangsal RA (interna untuk pria), bangsal RC (interna untuk perempuan), Paru (berisi pasien yang sakit paru paru baik infeksi maupun non infeksi), Ria (bangsal kelas dua), Anyelir dan Yasmin (bangsal kelas satu).


Kami bertiga di tugaskan untuk menjaga bangsa RA dan teman teman yang lain di bagi ke bangsal yang lainnya.


Di bangsal RA kami bertemu dengan kepala ruangan yaitu Bu Ratri.


Bu Ratri menerima kami dengan baik dan memperkenalkan kami kepada tenaga medis lainnya.


Dalam satu ruang bangsal selain ada Koas dan Kepala Ruangan ada juga Ppds (Program Pendidikan Dokter Spesialis, Perawat, orang Laborat, Farmasi, Admin dan cleaning service )


" Perkenalkan teman teman mereka bertiga adalah Koas yabg di tugaskan di bangsal perawatan RA " Ucap Ibu Ratri Kepala Ruangan kami.


Kami bertiga memperkenalkan diri kami kepada teman teman di bangsal RA.


Setelah pengenalan diri Ppds kami Kak Imas mendekati kami bertiga yang sedang bersiap siap untuk follow up pasien.


" Adik adik sudah tau apa yang harus dikerjakan di bangsal perawatan? " Tanyanya ramah.


" Kami harus memfollow up pasien dengan mencatat keluhan pasien hari ini, tanda vital, tekanan darah, nadi dan laju pernafasan Kak " Jawab Monic.


" Betul, hari ini semua bed terisi penuh. Jumlah pasien rawat inap yang tercatat sejumlah lima puluh orang jadi semangat ya adik adik " Kak Imas menyemangati kami.

__ADS_1


" Iya Kak " Jawab Monic dengan senyum masam.


Begitu Kak Imas pergi kami bertiga membagi kamar mana saja yang menjadi tugas kami.


Euis sudah menyiapkan papan berjalan, beberapa lembar follow up dan alat tulis.


Dengan jantung yang berdebar Euis yang sedang berdiri di depan kamar 1 menarik nafasnya dalam dalam untuk menenangkan diri.


Mereka bertiga sudah belajar bagaimana untuk memulai percakapan dengan pasien dari semalam namun tetap saja ada perasaan grogi.


Euis membuka pintu ruang 1 dan memulai dari sisi kanan.


Ia membaca papan pasien, pasien pertama Euis bernama Bapak Iskandar berusia tujuh puluh tahun dengan diagnosa ginjal hipertensi.


" Selamat pagi Bapak, bagaimana kondisinya pagi ini? " Tanya Euis dengan suara yang ramah.


" Baik dokter " Jawab Pak Iskandar.


" Ada keluhan apa hari ini Pak? "


" Saya sulit menghubungi anak saya dok, sudah hampir dua minggu disini anak saya belum juga menjenguk saya " Wajah Pak Iskandar terlihat sedih.


Melihat wajah Pak Iskandar yang sedih membuat Euis tidak sampai hati menyampaikan jika bukan itu maksud pertanyaan Euis.


" Sudah Bu dokter cuma tidak diangkat, Bu dokter bisa bantu? " Pak Iskandar memberikan ponselnya kepada Euis.


Euis mengambil ponsel itu dan menghubungi anak Pak Iskandar.


Telpon berdering namun tidak di angkat, Euis mencoba berkali kali namun hasilnya masih sama.


" Belum diangkat ya Bu dokter? "


" Iya belum Pak "


Euis mengambil ponselnya dan menghubungi anak Pak Iskandar.


Tanpa di duga di dering pertama anak Pak Iskandar langsung mengangkat telpon Euis.


" Halo " Suara laki laki terdengar di sebrang telpon.


" Mohon di tunggu sebentar ya Pak " Ucap Euis sambil menyerahkan ponselnya ke Pak Iskandar "

__ADS_1


" Halo Ismet, ini Bapak " Ucap Pak Iskandar bersemangat.


" Kamu susah sekali di telpon Met, kamu sibuk ya? Apa, kamu sedang bersama Tamu? Iya iya Bapak matikan kalau begitu nanti telpon balik Bapak ya kal.. " Pak Iskandar belum menyelesaikan kalimatnya namun telponnya sudah di tutup oleh anaknya.


Jelas sekali anak Pak Iskandar tidak ingin di telpon oleh Bapaknya.


Bisa bisanya berkali kali Pak Iskandar menelpon tidak diangkat namun ketika Euis menelepon di dering pertama Dia langsung menjawabnya.


" Anak saya lagi sama tamu Bu dokter, dia sekarang bekerja menjadi ojek online setelah terkena pengurangan di pabrik " Pak Iskandar menghentikan ceritanya, matanya menatap ke pintu masuk seolah berharap anaknya muncul dari pintu itu.


" Bapak memang punya salah dengan Istri dan Anak Bapak, bertahun tahun Bapak tidak pulang dan tidak memberikan uang untuk keluarga Bapak. Itu adalah masa kelam Bapak Bu dokter, mungkin Anak Bapak masih marah dan tidak mau menjenguk Bapak "


Air mata menetes di mata Pak Iskandar yang sudah keriput, buru buru Pak Iskandar langsung menghapus air matanya.


" Maaf ya Bapak jadi mengganggu waktu Bu dokter " Pak Iskandar mencoba tersenyum dalam tangisnya.


" Tidak apa apa Pak "


Seketika Euis teringat dengan Bapak yang menikah hari ini. Saat ini pun Euis masih marah dengan keputusan Bapak yang menikah lagi.


Ia jadi memikirkan, sampai kapan perasaan marah Euis terhadap Bapak?


Walaupun Euis masih marah dengan Bapak, namun Ia tidak ingin jika dimasa tuanya Bapak seperti Pak Iskandar yang kesepian.


Tiga puluh menit Euis habiskan untuk mendengarkan cerita Pak Iskandar. Setelah itu Ia memfollow up kesehatan Pak Iskandar.


Setelah selesai di kamar 1 Euis melanjutkan ke kamar selanjutnya. Tidak ada kendala yang berarti di hari pertama Euis dan kedua sahabatnya.


Ketika selesai me-follow up Pasien, Euis berjalan menuju ruang karyawan di bagian depan.


Langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara bernada tinggi dari dalam ruangan.


Suara itu adalah suara Kak Imas, Ppds di bangsal mereka.


" Tadi sudah aku bilang tulis semuanya dengan rapi, apa kamu nggak mengerti bahasa Indonesia " Ucap Kak Imas.


Euis membuka ruangan itu, terlihat Monic yang sedang di marahi oleh Kak Imas.


Di ruangan tersebut hanya ada Kak Imas dan mereka bertiga.


Euis memberikan kode kepada Cindy menanyakan apa yang terjadi? Namun Cindy hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


" Kalian itu baru jadi dokter muda, masih panjang perjalanan kalian untuk menjadi seorang dokter. Masa hanya menulis dengan rapih saja kalian tidak bisa "


Monic tidak banyak berbicara, Ia hanya menjawab maaf untuk semua kalimat yang Kak Imas lontarkan.


__ADS_2