
Euis terbangun di sebuah ruangan yang sangat familiar yaitu kamarnya dulu.
Tidak ada yang berubah dari kamar Euis, semua benda masih tertata di tempatnya dan semuanya terlihat bersih.
Sepertinya Ibu masih merawat kamar Euis dengan baik walaupun Euis tidak pernah pulang.
Ibu, seketika Euis teringat jika Ibunya sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Kesedihan itupun datang lagi dan Euis kembali menangis.
Cindy dan Monic yang duduk tepat di samping Euis mendekati Euis ketika Ia menangis.
Cindy langsung mengambilkan Euis segelas air putih " Di minum dulu Is "
Dengan bantuan Monic, Euis mencoba untuk duduk dan bersandar ke tembok, kepalanya terasa pusing.
Euis meminum air yang diberikan oleh Cindy " Jam berapa sekarang? " Tanya Euis.
" Tadi baru selesai adzan maghrib Is " Jawab Cindy.
" Aa Asep mana Cin? "
" Biar aku panggilkan dulu ya Is " Cindy beranjak keluar dari kamar Euis untuk memanggil Aa Asep.
" Maaf ya Mon harus merepotkan kalian " Euis yang larut dalam kesedihan bahkan belum mengucapkan permintaan maaf karena sudah merepotkan kedua sahabatnya.
" Kita udah kaya keluarga Is, nggak usah sungkan " Monic tersenyum, hal yang jarang sekali Ia lakukan.
Tidak lama, datanglah Cindy bersama Aa Asep.
" Kita tunggu di depan ya Is, kalau perlu apa apa telpon saja " Monic membuat bentuk telpon dengan jari jempol dan kelingkingnya
Begitu kedua sahabatnya pergi, Aa Asep langsung menutup pintu kamar Euis.
" Gimana kondisimu Is? " Aa Asep menatap Euis dengan pandangan sedih.
" Sudah enakan Aa "
__ADS_1
" Syukur kalau begitu " Ada rasa lega di dalam kalimat Aa Asep.
" Euis mau nanya A, kenapa Aa cegah Euis untuk mendekat dengan Bapak tadi sore? " Tanya Euis penasaran.
Aa Asep menarik nafas panjang dan dalam, sebenarnya Ia tidak tega menceritakan semua ini kepada Euis, namun Ia tidak ingin jika Euis mendengar cerita ini daei mulut orang lain.
" Seminggu sebelum kepergian Ibu, Bapak dan Ibu bertengkar hebat. Seumur Aa hidup, ini pertama kalinya Aa melihat Bapak semarah itu kepada Ibu "
" Kenapa Bapak begitu? " Euis sangat tau jika Ibu adalah orang yang sangat Bapak cintai dan semarah apapun Bapak tidak pernah memarahi Ibu dengan nada tinggi.
" Bapak mengetahui jika tabungan Bapak untuk dana darurat di pakai Ibu untuk diberikan kepada Kamu Is " Dengan berat hati Aa Asep mengucapkan kalimat yang pasti akan menyakiti hati Euis.
Euis jadi teringat sejumlah uang yang Ibu berikan kepadanya di awal Ia masuk kuliah, Ibunya bilang Euis bisa menggunakan uang itu untuk kebutuhannya selama Ia berkuliah.
Euis tidak tau jika uang itu adalah dana darurat milik Bapak karena Ibu tidak pernah bercerita.
" Malam itu mati matian Ibu tidak mengaku jika dana darurat itu Ibu berikan kepada Kamu. Bapak mulai menuduh Ibu macam macam namun Ibu masih tidak mengaku "
Euis menyimak semua perkataan Aa Asep sambil membayangkan apa yang Ibu rasakan.
" Dan puncaknya dua hari yang lalu Bapak bertemu dengan Bi Imas, dan tanpa sengaja Bi Imas menceritakan bahwa uang itu Ibu berikan kepada Kamu Is, dan disanalah puncak kemarahan Bapak "
Euis bisa membayangkan seperti apa kejadian hari itu, dan kesedihan yang Ibu rasakan.
Mendadak Euis merasa tidak pantas menerima uang pemberian Ibu.
" Semenjak kejadian itu, Ibu dan Bapak tidak tidur di kamar yang sama, Bapak tidur di kamar dan Ibu tidur di kamarmu "
Pantas saja kamar Euis terlihat sangat rapih tanpa ada debu sedikitpun.
" Dan pada saat Aa menemukan Ibu yang sudah tidak bernyawa pada saat shalat, Bapak begitu sangat terpukul dan menyalahkan kamu atas kepergian Ibu. Berkali kali Bapak bilang, harusnya jangan kamu ikuti anak kurang ajar itu Is "
Air mata Euis menetes, Ibu tidak pernah menceritakan hal itu kepada Euis. Ibu memilih untuk menghadapi Bapak sendirian.
Aa Asep memeluk Euis yang tengah menangis, Ia tau apa yang diungkapkannya sekarang pasti menyakitkan adiknya itu.
" Semua ini gara gara Euis Aa, Euis terlalu egois dengan hanya mentingin keperluan Euis sendiri " Ujar Euis sambil terisak.
__ADS_1
" Engga Is bahkan sampai akhir hayat Ibu, Ibu selalu mendukungmu dan mendoakan sidangmu sukses. Ibu nggak pernah menyesali keputusannya "
Mendengar ucapan Aa Asep membuat air mata Euis semakin mengalir, Ia merasakan kesedihan yang luar biasa.
Pantas saja Bapak melihatnya dengan pandangan marah, awalnya Euis pikir itu karena ketidaksukaan Bapak karena Euis nekat tetap kuliah, namun ternyata ada hal lain yang membuat Bapak bersikap seperti itu.
Aa Asep masih memeluk adik kesayangannya itu, Ia membelai rambut Euis dengan lembut sambil beberapa kali menepuk pundak Euis untuk menenangkannya.
Suasana si kamar Euis begitu haru malam itu, namun riba riba pintu kamarnya di buka oleh seseorang dan orang itu adalah Bapak.
Aa Asep langsung melepaskan pelukannya dan Euis menghapus air mata yang turun di pipinya.
" Buat apa kamu menangis? Ibu kamu meninggal karena kamu! " Ucap Bapak begitu masuk kedalam kamar.
" Ya Allah Bapak, kematian hanya Allah yang tau. Itu semua bukan salah Euis " Aa Asep mencoba membela Euis.
" Bapak tidak ingin melihat kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Bagi Bapak kamu sudah Mati "
Ucapan Bapak sangat mengiris hati Euis, setelah membuatnya sebagai seorang pembunuh Ibunya sendiri Bapak juga tega dengan berucap Euis sudah mati.
Lidah Euis kelu, Ia tidak bisa membela dirinya sendiri, karena jauh di lubuk hatinya Ia memang menyalahkan dirinya atas kematian Ibu.
" Bereskan barang barangmu dan cepat pergi sari rumah ini! " Bapak langsung keluar dari kamar Euis setelah mengucapkan kalimat kalimat yang sangat menyakitkan itu.
Baik Euis dan Aa Asep hanya bisa tertegun melihat kepergian Bapak.
Euis langsung beranjak dari tempat tidurnya, Ia harus bergegas pergi dari rumah sebelum Bapak tambah murka.
" Biar Aa antar sampai ke depan ya Is " Aa Asep langsung menggandeng lengan Euis dan membantunya berjalan.
Euis bahkan belum meratapi kepergian Ibu namun Ia dipaksa harus segera pergi dari rumahnya.
Euis berpamitan kepada keluarga besarnya yang sedang melantunkan Surat Yassin.
Beberapa orang memandang dengan tatapan heran, bagaimana seorang anak bisa pergi begitu saja di hari kematian Ibunya, itu mungkin yang mereka pikirkan.
Setelah berpamitan, Euis di bantu Aa Asep berjalan kearah luar mencari kedua sahabatnya.
__ADS_1
Sebelum pergi, Euis menatap rumah yang penuh dengan kenangan itu. Ia ingin merekam semuanya karena hari ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki di rumah ini.
" Ibu..maafkan anakmu ini dan tolong jaga Bapak " Ucap Euis dalam hati diiringi dengan setetes air mata yang membasahi pipinya.