Story Of Euis

Story Of Euis
Terima Kasih Bu Irene


__ADS_3

Euis sedang di panggil oleh Ibu Irene di ruangannya.


Itu semua terjadi karena imbas dari nilai hasil ujian tulis yang menurun.


Di ujian mata kuliah biokimia kemarin, Eis mendapatkan nilai 60. Tentu saja itu menjadi sebuah masalah karena untuk pemegang beasiswa prestasi nilai minimumnya adalah di atas 80.


Euis mengetuk pintu Ibu Irena " Tok..Tok"


" Masuk" Ujar Bu Irene mempersilahkan Euis masuk.


Euis membuka pintu kalau masuk ke dalam ruangan Bu Irene.


" Duduk dulu Is " Bu Irene mempersilahkan Euis duduk di kursi yang tepat berada di depannya.


Euis duduk dengan cemas, Ia menggoyang goyangkan kakinya pertanda nervous.


Dari mulai Malik yang merupakan teman sekelasnya memanggil Euis dan memberitahukan bahwa Ibu Irena mencarinya,


Euis sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


" Menurut Lo, Kenapa kira-kira Bu Irene manggil Lo ke ruangannya? " Tanya Monik dengan wajah penasaran.


Euis juga sedang berpikir alasan Ibu Irene memanggilnya. Tiba-tiba ia teringat tentang ujian biokimia yang tidak dapat ia selesaikan dengan baik.


Apakah karena nilai ujiannya buruk sehingga Bu Irena memanggilnya? Ataukah ada alasan lain?


" Gue juga nggak tahu Mon, ya udah Gue ke Bu Irene dulu ya " Ujar Euis berpamitan dengan kedua sahabatnya itu.


" Oke, kita tunggu di taman ya Is " Ujar Cindy sambil melambaikan tangan kepada Euis yang sudah berlalu.


Di depan Euis sekarang, Bu Irene sedang mengambil selembar kertas dan menunjukannya kepada Euis.


Selembar kertas jawaban ujian Biokimia dua minggu yang lalu.


Banyak sekali coretan merah di lembar jawaban Euis.


" Sudah kamu lihat hasil ujian kamu kan Is? " Tanya Bu Irene sembari melipat tangannya di dada.

__ADS_1


" Sudah Bu " Jawab Euis takut takut.


" Ini pertama kalinya hasil ujian kamu dibawah standar. Mungkin nilai tujuh puluh lima bukan nilai yang terlalu buruk, namun kamu tahu kan kalau kamu adalah mahasiswa dengan beasiswa prestasi" Ujar Bu Irene.


" Iya saya mengerti Bu " Ucap Euis dengan suara lemas.


Ia tau benar jika mahasiswa yang mendapatkan beasiswa prestasi diharuskan memiliki nilai IPK lebih dari tiga dari skala empat.


" Kamu sebenarnya ada masalah apa Is? " Tanya Bu Irene.


Euis terdiam sebelum menjawab pertanyaan Ibu Irene " Saya sedang ada masalah keluarga Bu, memang saya akui jika akhir akhir ini saya agak kesulitan dalam belajar "


Bu Irene menatap Euis dengan pandangan yang dalam, sejujurnya Ia pernah ada di posisi Euis.


Bu Irene muda yang kala itu masih menjadi mahasiswa semester tiga harus kehilangan Ibu karena sebuah kecelakaan.


Berminggu minggu Ia berduka dan tidak bisa fokus dalam kuliahnya, sampai akhirnya semua nilai ujiannya anjlok.


Beruntungnya seorang dosen memanggilnya dan bertanya, apakah Ia sedang ada masalah sehingga nilai nilainya anjlok?


Berminggu minggu tidak ada yang menanyakan hal tersebut kepada Bu Irene kecil, sehingga pertanyaan itu membuat nya menangis tersedu-sedu.


Berbulan-bulan Ia selalu menceritakan kondisinya kepada dosen anatominya kala itu yaitu Ibu Syarifah, berkat pendekatan yang dilakukan olehnya, Bu Irene kecil dapat bangkit dari keterpurukannya dan memulai perkuliahannya kembali.


Hal ini yang sedang ia lakukan kepada Euis, iya tahu benar bahwa Euis adalah salah satu mahasiswanya yang sangat berprestasi.


Nilai-nilainya hampir sempurna dan tidak pernah sekalipun mendapat nilai di bawah 80.


Beberapa hari lalu ketika Ia memeriksa jawaban dari ujian Biokimia, Ia kaget ketika mendapati nilai Euis yang di bawah 80.


Bu Irene tahu benar bahwa ujian yang Ia berikan tidak akan sulit untuk Euis dan seharusnya Ia bisa mendapatkan nilai sempurna, Bu Irene tahu sekali potensi Euis dan Ia yakin akan itu.


Dan Betul saja sekarang Euis sedang menangis di hadapannya, menceritakan masalah keluarga kepadanya.


Bu Irene bangkit dari kursinya dan mendekati Euis yang sedang menangis hebat.


Ia langsung memeluk Euis dan menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkan.

__ADS_1


" Saya mengerti perasaan kamu is, Memang menyakitkan jika kita tidak bisa membantu keluarga kita yang sedang dalam kesulitan. Namun kamu harus kuat untuk menghadapi semua ini " Ujar Bu Irene sambil tetap menepuk pundak Euis.


" Bukan hal yang salah jika akhirnya Kamu mengikuti kata hatimu untukmu meluruskan kuliah di fakultas kedokteran. Saat ini kamu dan keluargamu mungkin sedang diuji oleh Allah, tapi bukan berarti apa yang kamu sedang jalani sekarang adalah sesuatu yang salah atau tindakan yang egois "


" Tapi saya merasa bersalah karena tidak bisa membantu apapun, seharusnya uang dari Ibu bisa diberikan kepada Aa Asep untuk membantu masalahnya" Euis mengusap air matanya yang terus menetes.


" Saya paham Is, rasanya pasti berat. Tapi saya selalu yakin kalau Allah tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita. Kamu sudah hampir lulus di fakultas kedokteran, dan saya yakin itu bukan sesuatu yang salah. Kamu harus kuat ya " Ujar Bu Irene menenangkan Euis.


Ucapan Bu Irene sangat berarti untuk Euis, berminggu-minggu Ia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu egois dengan berkuliah di fakultas kedokteran.


Ia merasa gagal sebagai anak dan adik yang baik di keluarganya.


Setelah Euis mulai Tenang, Bu Irene melepaskan pelukannya.


" Saya punya sahabat seorang pengacara, Saya yakin dia bisa membantu kamu"


Bu Irene berjalan kembali ke mejanya dan mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompet hitam.


Diberikannya kartu nama seorang pengacara bernama Albert Stefanus kepada Euis.


Bu Irene melihat Euis terlihat ragu-ragu menerima kartu nama pemberiannya.


" Tenang saja Is, nanti saya akan hubungi Albert untuk membantu kamu secara sukarela tanpa meminta bayaran sepeserpun, sahabat saya itu sering membantu LSM juga kok, jadi kamu nggak usah khawatir ya " Ucap Bu Irene.


Mendengar perkataan Bu Irena membuat hati Euis sedikit lebih tenang. Seolah ada jalan keluar dari permasalahan Aa Asep.


" Terima kasih banyak Bu, saya nggak tau harus berterima kasih seperti apa untuk semua bantuan Ibu " Euis menangis menatap Bu Irene sambil memegang kartu nama berwarna hitam itu.


" Kamu harus janji dengan saya untuk memperbaiki nilai kamu, saya tau kamu akan menjadi dokter hebat Is, jadi jangan pernah menyesali semua keputusanmu " Ucap Bu Iren.


" Saya janji Bu untuk selalu melakukan yang terbaik " Mata Euis berkilau ketika mengatakan hal itu.


Semangat yang sudah hilang beberapa minggu ini seolah kembali lagi.


Dengan langkah yang panjang Ia berlari menuju sahabatnya yang sedang menunggunya di taman.


Dari kejauhan Euis sudah melihat kedua sahabatnya itu sedang mengobrol di taman.

__ADS_1


Euis mempercepat langkahnya, dengan nafas yang tersengal sengal Euis sudah berdiri di depan Cindy dan Monic.


" Lo Kenapa Is? " Tanya Monic dengan tatapan heran.


__ADS_2