
Euis keluar dari ruang sidang dengan perasaan gembira.
Sidang karya ilmiahnya berlangsung lancar dan Ia bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji.
Akhirnya perjuangannya selama ini tidak sia sia, Euis bisa melewati ini semua dengan baik.
Ketika keluar dari ruang sidang Euis langsung disambut oleh kedua sahabatnya yang sudah setia menunggu Euis sidang.
" Gimana Is? Lancar? " Tanya Cindy dengan tidak sabar.
" Lancar Cin Alhamdulillah " Ucap Euis dengan tersenyum.
Terlihat sekali wajah gembira di kedua sahabat Euis.
Monic dan Cindy sudah melakukan sidang dua hari sebelumnya dan sudah di nyatakan lulus.
Beberapa teman yang sedang menunggu jam sidang pun memberikan selamat kepada Euis.
Baru saja Ia ingin mengabarkan hasil sidangnya kepada Ibu, ponsel Euis pun bergetar.
Buru buru Ia mengangkat telpon Ibu, Ia tidak sabar mengabarkan hasil sidangnya.
" Halo Ibu Assalamualaikum, Ibu baru aja Euis ma.."
Euis tidak melanjutkan kalimatnya ketika Ia mendengar suara tangis di ujung telpon.
Perasaannya gembira yang awal Euis rasakan berubah menjadi perasaan tidak enak.
Baru mendengar suara tangisan saja, dada Euis sudah berasa sesak, Ia tau ada sesuatu yang terjadi di rumahnya.
Suara tangis yang Ia dengar adalah suara Aa Asep. Aa Asep bahkan tidak bisa berkata apapun kepada Euis dan Ia hanya mendengar suara tangis.
" Kenapa Aa? Jangan bikin Euis khawatir " Suara Euis bergetar ketika mengucapkan kalimat itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Euis, Aa Asep mematikan telponnya dan tidak lama masuk pesan dari Aa Asep.
' Is Ibu udah nggak ada, meninggal tadi pagi pada waktu shalat duha '
Dunia Euis serasa runtuh ketika membaca pesan dari Aa Asep.
Dadanya terasa sesak, kakinya mendadak lunglai Euis bahkan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri dan menjatuhkan dirinya ke lantai.
Tangisan Euis pun pecah ketika sudah mencerna apa yang terjadi.
__ADS_1
" Ibuuuuu " Pekik Euis dengan suara yang serak dan air matanya pun turun.
Kebahagian yang Ia rasakan beberapa menit yang lalu berubah menjadi sebuah duka yang sangat mendalam.
Ibunya yang paling Euis sayang, yang selama ini selalu mendukung dan percaya akan semua mimpinya, kini sudah pergi meninggalkannya.
Euis berharap ini semua hanya mimpi atau prank semata, namun Ia sadar bahwa Aa Asep tidak akan melakukan prank seperti itu.
Suara tangis Euis terdengar di sepanjang lorong lantai 3. Siapapun orang yang mendengarnya ikut merasakan kesedihan Euis.
Walaupun tidak yakin benar apa yang terjadi, kedua sahabatnya tau Euis sedang berduka.
Mereka berdua mencoba membantu Euis untuk berdiri dari lantai dan duduk di kursi.
Cindy langsung memeluknya ketika mereka sudah di kursi.
Tubuh Euis gemetar hebat, Cindy jadi mengingat beberapa tahun lalu ketika Ia kehilangan Ibunya untuk selamanya.
" Gue anter ke Bogor Is " Ucap Monic dengan mata yang berkaca kaca.
Benar, Ia harus cepat cepat sampai di rumah, Euis ingin melihat Ibu untuk terakhir kalinya.
Dengan susah payah, dibantu kedua sahabatnya Euis berjalan menuju parkiran tempat Monic memarkirkan mobilnya.
Euis dan Cindy duduk di bangku belakang, Euis sudah mengirimkan google maps rumahnya kepada Monic untuk Monic ikuti.
Di bangku belakang, Cindy memeluk Euis yang masih menangis.
Ketika memasuki jalan bebatu, Euis tau mobil Monic sudah dekat dengan rumahnya.
Ia membetulkan posisi duduknya dan melihat keluar jendela, banyak orang yang sedang berjalan ke arah rumah Euis.
' Anda sudah sampai ' Suara dari google maps memberitahukan bahwa mereka sudah sampai di rumah Euis.
Bendera kuning berkibar di pagar rumahnya, tenda dan kursi kursi terpasang rapih di pekarangan rumah.
Euis dan kedua sahabatnya turun dari mobil dan berjalan menuju rumah.
Beberapa tetangga yang mengenali Euis nampak memasang wajah Iba.
Tiba di depan pintu, Euis melihat jenazah Ibu yang sudah di bungkus oleh kain kafan.
Tangisan Euis pecah Ia langsung menghamburkan diri dekat dengan Ibu.
__ADS_1
" Air matanya jangan kena Ibu ya Neng, sudah di mandikan " Ujar Tetangganya mengingatkan.
Wajah Ibu terlihat bersih, wajahnya seperti tersenyum dan terlihat sedang tertidur.
Dari belakang, Aa Asep menghampiri Euis dan memeluknya. Tangisan mereka berdua pun pecah di samping jenazah Ibu.
Orang orang yang berada di ruangan itu merasakan kepedihan mereka, bahkan ada beberapa yang ikut menangis.
Mereka semua tau sedekat apa hubungan Ibu Iis dengan kedua anak nya.
" Maafin Aa ya nggak langsung mengabarkan kamu, Aa takut kamu nggak fokus dalam sidang " Ujar Aa Asep sembari menghapus air mata adik satu satunya itu.
" Ceritanya gimana Aa? Kenapa Ibu bisa meninggal tanpa sakit " Tanya Euis.
" Semuanya tiba tiba Is, Ibu hanya mengeluh masuk angin saja beberapa hari ini. Sudah di berikan obat masuk angin, sudah di kerokin juga sama Bik Enah. Tadi pagi pas pamit shalat duha Ibu nggak keluar keluar dari kamar. Karena curiga, Aa masuk ke kamar dan menemuka. ibu tergeletak di atas sajadah masih menggunakan mukena Is "
Padahal beberapa hari ini Euis setiap hari video call dengan Ibu, namun Ibu tidak menceritakan apa apa dan Euis pun tidak melihat sesuatu yang aneh.
Tepat di sebrang Euis, Bapak duduk dengan tatapan kosong, Euis baru sadar jika Ia belum menemui Bapak.
Euis hendak beranjak dari tempatnya untuk memberikan salam kepada Bapak, namun Aa Asep mencegahnya.
Euis menatap Aa Asep " Kenapa Aa ? " Tanya Euis.
" Nanti setelah Ibu dimakamkan Aa ceritakan semuanya " Ucap Aa Asep berbisik.
Setelah shalat Ashar, jenazah Ibu di bawa ke pemakaman yang tidak jauh dari rumah Euis.
Makam Ibu tepat di bawah pohon kamboja yang sedang berbunga saat itu.
Wangi kamboja dan beberapa daun dari pohon kamboja yang rontok mengiringi kepergian Ibu.
Pada saat Ibu di masukan kedalam liang lahat dan Adzan di kumandangkan, Euis tau bahwa itu adalah saat terakhir Euis bersama Ibu.
Kenangan Euis bersama Ibu terputar kembali di pikiran Euis. Tangan Ibu yang selalu terasa hangat, tatapan Ibu yang lembut dan suara Ibu yang masih Euis ingat.
Air mata Euis tumpah bersama tanah yang sedikit demi sedikit mengubur Ibu.
Kedua sahabatnya mencoba menenangkan Euis, namun siapa yang bisa tenang jika kehilangan orang yang paling Euis sayang.
Pandangan Euis mulai kabur, lama lama Ia tidak bisa melihat jelas apa yang ada di depannya.
Euis mencoba memfokuskan pandangannya agar tidak kabur, tapi tetap tidak bisa. Seketika Euis kehilangan kesadarannya, tubuhnya jatuh ke tanah.
__ADS_1
Ia masih bisa mendengar langkah kaki beberapa orang yang mendekatinya setelah itu Euis tidak sadarkan diri.