Story Of Euis

Story Of Euis
Senioritas


__ADS_3

Euis baru saja selesai melakukan follow up rutin pagi ini. Ia menyelusuri lorong untuk menuju ke ruang perawat.


Tidak ada siapapun di lorong, mungkin teman temannya masih di dalam kamar atau sudah kembali ke ruangan.


Begitu Ia membuka pintu, tidak ada orang sama sekali. Sepertinya yang lain masih sibuk dengan pasien.


Baru saja Euis duduk di bangku dekat pintu masuk tiba tiba masuk Kak Imah.


" Ya ampun kamu Dek masih Koas jangan malas gitu, yang lain sedang sibuk dengan pasien tapi kamu enak enakan istirahat disini " Ucapnya sambil menaruh papan jalan dengan kasar di meja.


Ketika orang normal mengucapkan salam ketika masuk kedalam ruangan, namun Kak Imas lebih memilih untuk mengomel.


" Aku baru selesai melakukan follow up pasien Kak " Ucap Euis membela diri.


Kak Imas menatap tajam pada Euis " Dulu aku waktu jadi Koas nggak berani sama senior loh, anak sekarang bener bener ya udah berani ngejawab senior "


Entah darimana Kak Imas belajar senioritas seperti itu. Euis pikir senioritas sudah habis di era beberapa tahun tapi ternyata masi ada yamg seperti itu.


Anehnya sikap senioritas Kak Imas hanya di keluarkan jika tidak ada orang lain di dalam ruangan.


Jika ruangan sedang rame, Kak Imas seperti orang yang sangat beda. Ia tiba tiba mendadak menjadi orang yang lembut dan perhatian.


Bahkan kepala ruangan kami sampai menjuluki Kak Imas sebagai Ppds teladan karena mengayomi kami para dokter muda.


Tidak ada yang tau kelakuan Kak Imas yang sebenarnya, Ia hanya memperlihatkan sifat aslinya kepada kami bertiga.


Ia memberikan alat alat untuk mengambil sample darah, yang terdiri dari spoit, tourniquet tabung vakum, jarum dan needle.


" Nih kamu pergi ke kamar sembilan ambil sample darah Tuan Alfredo dan serahkan ke laboratorium untuk pengecekan Ureum " Ucapnya ketus.


Euis mengambil alat alat itu dan hendak keluar dari ruangan, namun Kak Imas memanggilnya lagi.


" Tunggu sebentar, kamu tau pengecekan Ureum kan? " Tanya Kak Imas dengan nada mengejek.


" Tau Kak, Ureum atau blood urea nitrogen yaitu tes yang digunakan untuk menentukan kadar urea nitrogen dalam darah yang merupakan sisa zat metabolisme protein, dan zat ini seharusnya dibuang melalui ginjal " Jawab Euis lancar.


" Dilakukan dengan Pasien yang memiliki diagnosa apa? " Tanyanya lagi.


" Untuk mengetahui fungsi ginjal terlebih dahulu Kak "


" Oke langsung kerjain deh, kalau sudah selesai cepet bali ke ruangan jangan kelayapan " Senyum sinis menyungging di wajah Kak Imas dan Euis benci sekali melihatnya.


Euis langsung menuju kamar sembilan untuk mengambil darah Pak Alfredo.


" Permisi Pak Alfredo, saya ambil darah dulu ya untuk di cek di laborat " Ucap Euis dengan ramah.

__ADS_1


" Iya silahkan dok "


Euis mulai mengikat lengan Pak Alfredo dengan pengikat lengan untuk memperlambat aliran darah, sehingga pembuluh vena lebih terlihat jelas dan sampel darah mudah diambil.


Ia mulai mencari pembuluh darah Pak Alfredo namun belum terlihat jelas.


Euis memberikan sentuhan di area pembuluh darah, menekannya dengan pelan agar terlihat pembuluh darahnya.


Walaupun tipis namun pembuluh darah Pak Alfredo mulai terlihat. Euis membersihkan area pengambilan sampel dengan kapas alkohol.


" Tarik nafas ya Pak "


Ketika Pak Alfredo menarik nafas, Euis menusukkan jarum suntik untuk mengambil sampel darah.


Setelah darah sudah diambil, Euis memasukkan sampel darah yang diambil ke tabung khusus untuk kemudian diperiksa di laboratorium.


Setelah itu Ia melepas ikatan pada lengan dan menekan bekas suntikan, lalu menutupnya dengan plester.


" Baik Bapak saya bawa sampel darahnya ke laboratorium, silahkan beristirahat kembali Pak " Ucap Euis sebelum keluar dari kamar sembilan.


Begitu Euis keluar dari kamar sembilan, Cindy juga keluar dari kamar tujuh habis melakukan follow up pasien.


" Eh kok kamu keluar dari kamar Sembilan? " Seharusnya kamar sembilan menjadi tanggung jawab Monic untuk melakukan follow up.


" Oh " Cindy mengangguk mendengar ucapan Euis.


" Sial banget tadi balik ke ruangan eh cuma ada Dia, langsung deh di suruh ambil darah "


" Kira kira Monic udah di ruangan belum ya? Males nih Aku kalau cuma ada Kak Imas, bisa nangis deh kalo di marahin "


" Kalau Dia ngomong apa bilang Iya aja nggak usah panjang panjang " Euis memberikan tips kepada Cindy.


Di depan ruangan Cindy mencoba mengintip untuk memastikan apakah ada Kak Imas didalam, tapi sayangnya tidak kelihatan apapun dari luar.


" Aku ke laborat dulu ya "


" Doakan aku ya " Ucap Cindy dengan berbisik.


Euis menelusuri lorong menuju laborat dan dari kejauhan Ia melihat Ida, rekan koas yang menjaga bangsal RC.


" Ida " Panggil Euis.


Ida menengok mendengat namanya di panggil dan menghentikan langkah ketika melihat Euis yang berjalan cepat ke arahnya.


" Mau kemana Da? " Tanya Euis.

__ADS_1


" Ke laborat, kamu juga? "


" Iya, bareng atuh " Ajak Euis.


" Gimana di bangsal RA? " Tanya Ida.


" Ya gitu, lagi full pasiennya Da ada empat puluh orang "


" Banyak juga ya di RC cuma ada dua puluh tapi ya itu cleaning servicenya nyebelin banget "


" Hah cleaning service? " Tanya Euis heran.


" Iya, kalo kita bolak balik pas dia lagi ngepel langsung neriakin kita, padahal aku jalan udah hati hati dan udah dipinggir juga "


" Kalo di tempat aku yang nyebelin Ppds-nya "


" Hah? Kok bisa kan sama sama magang juga kaya kita cuma dia yang spesialis "


" Gimana yaa, orangnya manipulatif gitu Da. Kalo didepan orang orang baik banget sama kita tapi kalau nggak ada orang senioritas banget "


" Aduh kaya anak SMA aja "


" Maka itu, males kan. Setelah ini siapa yang rotasi ke bangsal RA? Siap siap ajah deh ketemu sama dia ".


" Aduh moga bukan team aku deh "


Sesampainya di ruang laborat, kami langsung menyerahkan sample yang kami bawa.


" Tolong cek Ureum dari sample darah ini ya Kak " Euis menyerahkan sample darah Pak Alfredo kepada petugas laborat.


Setelah menyerahkan sample darah, Euis dan Ida berpisah karena Euis langsung kembali ke bangsal sedangkan Ida menuju ke kantin karyawan.


Sesampainya di ruangan Euis mendengar suara tangisan Cindy.


Ketika Ia membuka pintu, semua personel sudah lengkap.


Terlihat kepala ruangan kami Bu Ratri sedang memeluk Cindy yang menangis, di sebelahnya Kak Imas sedang menepuk nepuk pundak Cindy.


Euis memberikan isyarat kepada Monic, menanyakan kenapa Cindy menangis?


Monic langsung menghampirinya dan berbisik " Dari tadi di tanya kenapa nangis tapi nggak di jawab "


Euis menduga ini pasti ada hubungannya dengan Kak Imas dsn Cindy takut menceritakan semuanya.


Euis memandang tajam ke arah Kak Imas yang ikut sibuk menenangkan Cindy.

__ADS_1


__ADS_2