Story Of Mayra

Story Of Mayra
AWAL PERTEMUAN


__ADS_3

Tok tok tok....


Seorang gadis tengah berdiri didepan pintu rumahnya dengan seragam SMP yang masih dikenakannya, ia mengetuk-ngetuk pintu hingga berulang kali namun tak ada sahutan dari dalam rumah.


Ia membuka pintu itu "gak dikunci ternyata."


"Tumben sepi banget nii rumah, pada kemana sih." herannya, berjalan kelantai 2 tempat kamarnya berada.


Prang....


"Astagfirullah," kaget gadis itu dengan mengelus-elus dadanya


Ia mendengar keributan dari dalam kamar kedua orang tuanya, takut terjadi sesuatu ia mendekat. Memegang handle pintu hendak membukanya namun terhenti karena suara dari dalam sana.


"Widia, sungguh aku tidak...."


"Cukup Pram, aku sudah tahu semua. Kau tidak perlu menutupinya."


"Itu ti...."


"Tidak benar, kau mau bilang seperti itu bukan. Cukup aku sudah muak, kau tidak bisa mengelak, hikss...."


"Apa pekerjaan diluar kota itu hanya alasanmu saja dan kau menemui wanita itu juga anaknya,, oh tidak-tidak maksudku anakmu dan anaknya."


Deg


Waktu seakan terhenti, bumi tak berputar lagi gadis itu mendadak lemas, berjalan kebelakang dengan satu tangan memegang dadanya.


Prangg....


Tak sengaja sebuah gucci disenggolnya, ia melihat kebelakang. Gucci kesayangan neneknya sudah hancur lebur dengan serpihan dimana-mana.


Klekk


Pintu terbuka menampakkan seorang pria dan wanita yang sebentar lagi beranjak tua. "Mayra!" Teriak keduanya, tak menyangka jika putri mereka akan berada disini. Apa ia mendengar keributan tadi, pikir mereka dengan cemas.


Kepala Mayra mendongkak, melihat ibunya dengan mata sembab. "Ma-mayra," lirih sang ibu


Gadis itu tak sangup berkata-kata, lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Hanya keheningan yang tercipta. Air mata mulai menggenang dipelupuk mata, sampai mengalir membasahi pipinya tanpa diminta. Mengusap dengan punggung tangan, ia berlari menuruni tangga tidak tahu hendak kemana.


"Non Mayra?" Panggil seorang ART yang baru pulang dari pasar, melihat anak majikannya.menuruni anak tangga sembari berlari dengan tangan kanan berada dipipi membuatnya heran


****


"Hikss... hikss...." isak tangis Mayra yang tengah duduk dikursi taman dengan kepala tertunduk, dihadapannya terdapat sebuah danau alamai buatan Tuhan yang memanjakan mata. Taman itu tempat favoritnya, yang selalu didatanginya dari waktu kecil bersama sahabatnya. Namun, sahabatnya itu tidak tahu kemana karena sejak mereka berumur 4 tahun sahabatnya itu pergi darinya tanpa pamit terlebih dahulu


Bunyi hujan mulai terdengar, seakan tahu perasaan gadis itu alam pun ikut bersedih melihatnya. Mayra menadahkan kepalanya keatas sembari memejamkan matanya, membiarkan rintik hujan menerpa wajahnya. Semakin lama hujan semakin deras hingga membuat pakaiannya basah kuyup. Namun, ia tidak mempedulikannya


Dilain sisi, seorang pemuda tengah berlari kearah saung yang berada ditaman dengan kedua tangan menutupi kepala. Dinginnya akibat hujan membuat ia memeluk tubuhnya sendiri sekedar memberi rasa hangat.


Pemuda itu mengedarkan pandangan pada Taman tersebut, hingga membuatnya tersadar bahwa tempat ini adalah tempat yang selalu didatanginya waktu kecil bersama sahabatnya. Tanpa sadar setitik air mata lolos kepipinya seraya kedua sudut bibirnya terangkat keatas membentuk senyum tipis. Entah dia sedang bahagia ataupun bersedih, tidak ada yang tahu.

__ADS_1


Tiba-tiba senyum itu perlahan memudar dan air mata sudah dihapusnya. Matanya menyipit pada satu titik hanya satu titik, ia melihat seorang gadis dengan menggunakan pakaian seragam sekolah dan tas ransel masih melekat dipunggungnya tengah duduk dikursi Taman dengan kepala tertunduk. Tidak tahu apa yang tengah dilakukannya tapi Pemuda itu heran mengapa ada gadis yang diam saja ditengah derasnya hujan, apa tidak ada niatan untuk berteduh


Ia terus memperhatikan gadis tak dikenalinya itu. Derasnya hujan membuat ia tidak bisa mendengar isak tangis maupun yang diucapkan gadis itu, walau jarak antara mereka hanya beberapa meter saja.


"Ada apa dengan gadis itu?" Tanyanya pada diri sendiri, melihat gadis yang diperhatikannya sedari tadi tiba-tiba menyenderkan kepalanya pada pegangan kursi


Melihat itu membuatnya sedikit panik, ia celingak-celinguk berharap ada orang yang melintas tapi nihil di taman ini sepi hanya ada dia dan gadis itu.


Pemuda itu meremas rambutnya kasar. Tak lama kemudian kakinya melangkah dengan cepat menerobos derasnya hujan untuk menyelamatkan sang gadis. Air hujan mulai menerpa wajahnya dan pakaian yang dikenakan pun ikut basah kuyup tapi tak membuatnya mengurungkan niat untuk menolong gadis itu.


Dengan nafas yang ngos-ngosan dan sampai ditempat tujuan ia menghentikan larinya. Walau jarak antara saung dan gadis itu tidak terlalu jauh tapi tetap saja capek ya capek. Dan juga hampir saja terjatuh karena jalanan yang licin


Pemuda itu membungkukkan badannya "Mbak, mbak!" Ia menepuk-nepuk pipi gadis itu. Terlihat matanya terpejam dengan hujan yang tidak berhenti membasahi wajahnya. Tidak terlihat jika gadis itu telah menangis karena tertutupi oleh air hujan yang membasahi wajahnya. Lama ia memperhatikan wajah polos gadis itu


Uhuk uhuk....


"Mama, papa...." Mayra berucap pelan yang nyaris tak terdengar


"Apa dia sudah sadar?" Tanya pemuda itu pada dirinya sendiri. Mendengar jika gadis itu berbicara mungkin saja sudah sadar, tapi ternyata matanya masih terpejam sempurna


*****


"Maa bukain pintunya Maa." Karena sang gadis tak kunjung membuka mata membuat ia frustasi dan memilih untuk membawanya kerumahnya


"Iya iya bentar," jawab seorang dari balik pintu. Tak lama pintu pun terbuka menampakkan sosok wanita setengah baya


Tanpa menunggu lama Pemuda itu langsung nyelonong masuk kerumahnya dan berjalan kelantai 2 tempat kamarnya berada. Sang mama yang tidak tahu apapun itu hanya mengekor Putranya hingga lantai dua


"Dia–"


"Mama, Papa...." Ibu dan Anak itu saling melihat kearah Mayra hingga Pemuda yang diketahui namanya Rendi itu pun melanjutkan kalimatnya


"Rendi gak tahu Mah, dia pingsan ditaman pas hujan. Yaudah Rendi tolong aja dan bawa kerumah," jeda sebentar sampai Rendi kembali melanjutkan kalimatnya "gapapa, kan Mah?" Tanyanya hati-hati


"Astagfirullah Rendi, kamu kok nanya gitu sih. Gapapa dong, malah Mama bangga sama kamu mau nolong dia," ujarnya tersenyum sembari mengelus pucuk kepala Putranya


"Sebaiknya kamu mandi dulu gih, nanti masuk angin," tambah Linda wanita itu


"Rendi mandinya dikamar Mama ya?"


__


"Astagfirullah, dungu banget sih gw, kok bisa lupa sama baju," umpat Rendi yang masih menggunakan handuk disetengah badannya. Ia lupa jika mandi dikamar kedua orang tuanya dan pakaiannya ada dikamarnya dan ia lupa untuk mengambilnya tadi sebelum mandi


"Gimana nih, apa gw balik ke kamar?" Rendi menggigit bibir bawahnya seraya berpikir. Dikamarnya sekarang ada seorang gadis dan apakah ia harus kesana dengan memakai handuk


"Bodo amatlah."


__


Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan terlihat gadis yang ia tolong masih terbaring ditempat tidurnya dengan baju sudah diganti, mungkin Mamanya atau ART dirumah itu yang menggantinya

__ADS_1


Rendi perlahan berjalan kearah almari dan mencari bajunya disana, tak lupa pintu kamar yang ia biarkan terbuka.


Sementara, Mayra mulai mengerjapkan matanya. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudit ruangan yang ditempatinya, hingga ia menyadari jika tempat ini asing baginya.


Pandangannya berhenti pada Lelaki yang membelakanginya dengan handuk melilit dipinggangnya tengah mengotak-atik isi almari.


"Aaaaaa!" Teriak Mayra ketika Rendi membungkuk membuat handuk yang dikenakannya sedikit terangkat keatas membuat sesuatu yang seharus tak tertampak terlihat olehnya, walau tidak terlalu jelas.


Rendi kaget mendengar teriakan dari arah belakang. Refleks ia membalikan badannya dan melihat gadis yang ditolongnya tengah menutup seluruh tubuhnya dan tidak menyisakan sedikitpun anggota badan yang keluar.


"Ka-kamu siapa? dan apa yang kau lakukan padaku, hikss...." tanya Mayra dari balik selimut. Ia baru menyadari jika baju yang ia kenakan masih seragam sekolah dan kini terganti oleh pakaian rumahan.


"Apa yang kamu lakukan padaku, hikss.... kembalikan seragam aku, hikss.... Aku masih sekolah." Mendengar ucapan Mayra membuat Rendi mengerti kenapa gadis yang tidak dikenalinya itu pasti berpikir yang tidak-tidak


"Ak-aku–"


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku hanya–"


"Hua! Mama, Papa, Kak Manaf, Mayra mau pulang. Hua...." Rendi hendak menjelaskan namun tangis Mayra alih-alih mereda, tapi malah semakin kencang. Saking kencangnya hingga terdengar ke lantai bawah


"Ada apa ini Rendi?" Tahta Linda panik setelah mendengar teriakan dari arah kamar Putranya


Melihat Rendi yang masih memakai handuk dan Mayra yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut membuat Linda langsung paham dengan apa yang terjadi


Linda menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Mayra tapi Mayra menariknya kembali berpikir jika Rendi lah yang menarik selimutnya


"Jangan! tolong jangan apa-apakan Saya. Saya masih mau sekolah." Linda menatap Putranya dengan tatapan tajam. Namun, Rendi memalingkan wajahnya seraya menggaruk tekuk yang tidak gatal


''Hallo Nak, bisa buka selimutnya? gak bakal tante apa-apain kok," ujar Linda. Mayra yang yang mendengar suara wanita pun heran. Bukankah tadi yang ia lihat adakah Laki-laki kenapa bisa ada suara wanita


"Apa kamu mendengar tante?" Tanya Linda dengan lembut


Terlihat pergerakan dari gadis itu, Linda tersenyum melihatnya. Akhirnya dia membuka selimutnya juga, walau hanya sebatas hidung


Mayra melihat sosok wanita yang kira-kira seumuran dengan Mamanya. Hingga, pandangannya beralih pada Pemuda jangkung seumurannya tengah bersedekap dada dan tak lupa handuk itu. Berarti yang ia lihat tadi....


"Hai cantik, nama kamu siapa?" Tanya Linda pada Mayra, namun gadis itu tidak menjawab dan pandangannya terus memperhatikan Rendi dengan sedikit takut


"Dia Putra tante, kamu salah paham aja kok, dia hanya—" Linda menggantung kalimatnya dan matanya melotot kearah Rendi, Rendi yang mengerti tatapan Mamanya itupun angkat suara


"Aku tadi cuma ambil baju kesini karena baru aja mandi dikamar sebelah tapi lupa bawa baju. Jadi, kau jangan salah paham, aku tidak berbuat macam-macam kok," terang Rendi panjang lebar


"Tadi dia nolong kamu karena katanya pingsan ditaman," Linda melanjutkan. Mayra hanya manggut-manggut mendengarnya


"Tante gantiin baju kamu karena baju yang kamu pakai basah, takut masuk angin," tambah Linda lagi. Mayra berpikir sejenak, mengingat kembali kejadian sebelum ia memutuskan pergi ketaman hingga tidak sadarkan diri dengan pakaian yang basah semua


"Oh ya, nama tante Linda dan ini Putra tante namanya Rendi," ujar Linda memperkenalkan diri


Mayra menjawab "Mayra tante," dengan sedikit gugup


"Mayra? kayak pernah dengar."

__ADS_1


__ADS_2