
Tin!
"Aduh...." Rendi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, tiba-tiba seorang gadis berlari kearahnya, hingga hampir ditabraknya, namun untung saja ia tepat waktu mengerem. Tapi tetap saja, gadis itu tersungkur ke aspal
"Woi! loe bisa nyetir gak sih?" gerutu gadis itu tanpa bangkit dari posisinya saat ini. Terdengar ringisan kecil dari bibir gadis itu sembari meniup-niup lututnya yang terlihat tergores, hanya tergores.
Rendi membuka helmnya "Maaf, sepertinya Anda yang harus berhati-hati, mengapa berlari dilampu sedang hijau," ujar Rendi sopan "Ohh! loe nyalahin gw?" decak gadis itu tak terima
"Seragam yang kita pakai sama, apa dia juga sekolah di SMA LIMA SILA?" bBatinkeduanya
Rendi turun dari motor ninja-nya dan langsung menghampiri gadis itu. Sang gadis menatap wajah tampan Rendi yang kala itu sudah berjongkok dihadapannya
"Apa loe? liat nih, lutut gw luka," ucap gadis itu dengan menunjukkan lututnya.
"Hanya tergores, bahkan tidak perlu ke Rumah Sakit," gumam Rendi namun masih didengar gadis itu
"Apa loe bilang? loe tahu gak sih kulit gw yang mulus ini jadi gak enak dilihat?!" gerutunya, Rendi tak habis pikir dengan gadis yang ada dihadapannya, mengapa ia begitu berlebihan seperti itu
"Baiklah, Nona. Saya minta maaf kalau begitu." Rendi yang sudah terlanjur kesal menghadapi gadis satu ini akhirnya memilih untuk mengalah walau apa yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahannya. Ada yang mengatakan jika perempuan lah yang selalu benar. Namun baginya, mereka hanya merasa benar. Bahkan ia mengakui jika Mama-nya juga seperti itu
Detik berikutnya, Rendi merogoh saku jaketnya, ia mengeluarkan uang merah tiga lembar dan menyodorkannya pada gadis yang hampir ditabraknya. Bukan meremehkan, ia hanya tidak ingin di cap sebagai lelaki tak bertanggungjawab "Apa nih?!" Namun, gadis itu... sungguh menyebalkan, tak bisakah ia berucap biasa saja? kali pertamanya Rendi menghadapi makhluk Tuhan yang dinamakan perempuan seperti ini
"Buat ngobatin kulit mulus loe," jawab Rendi singkat. Memberi uang untuk menyuruh gadis itu mengobati lututnya yang tergores sedikit saja sudah mendapat amukan dari sang empu, apalagi jika ia mengobatinya langsung, bisa-bisa ia dikira c*bul
"Uang segitu gw juga punya, malah lebih banyak dari loe," ejek sang gadis. Lagi, lagi dan lagi gadis itu sungguh membuat darahnya seketika mendidih
"Kau—"
"Amirra!" belum sempat Rendi berbicara, suara seorang wanita cukup keras mampu mengalihkan perhatian keduanya
"Mama!" Teriak sang gadis pada wanita setengah baya yang memanggilnya, wanita itu menghampiri gadis yang diketahui namanya Amirra, Putrinya
"Mama!"
"Astaga! kau kenapa, Sayang? lututmu...." wanita itu panik. Melihat Putri semata wayangnya terluka membuat ia panik bukan main, walau luka itu tidak seberapa dan hanya tergores saja, bahkan tidak ada darah mengalir dari sana
Amirra melirik pada Rendi, sang mama mengikuti arah pandang Putrinya itu
"Kau! apa yang kau lakukan pada Putriku hingga terluka seperti ini?" geramnya
__ADS_1
"Ya ampun, bagaimana kalau kakimu sampai di amputasi?" gumamnya yang langsung mendapat teriakkan dari Putrinya "Mama! Mama doa-in kaki Amirra di potong?"
"Eh, itu... maksud Mama...."
Rendi hanya diam saja, menonton, memperhatikan dan mendengarkan keributan sepasang Ibu dan Anak itu. Ternyata, Ibunya sama saja, sama-sama bawel. Mungkin, memang gadis itu menuruni sifat sang mama
****
"Kau kemana? aku merindukanmu." Mayra mengusap bingkai fhoto yang menggambarkan ia dan sahabat masa kecilnya yang tengah tertawa bahagia dengan seekor kucing oren-putih berada dipangkuan Mayra kecil. Kenangan masa lalunya membuat Mayra menitikan air mata. Entah kemana perginya sahabatnya itu, berumur 4 tahun sang sahabat meninggalkannya tidak tahu kemana, hingga sampai sekarang tak ada lagi kabar tentangnya.
"May...ra...." Widia mama Mayra hendak mengajak putrinya makan malam, terlihat Mayra yang tengah mengusap-usap sebuah fhoto, Widia mengira jika fhoto yang tengah diusap Mayra adalah fhoto keluarga lengkapnya. Pram, Widia, Mayra beserta Manaf kakak dari Mayra. Tiga tahun lamanya mereka tak bertemu lagi dengan Pram dan Manaf. Mayra memang lebih dekat dengan Pram daripada Widia. Setelah kejadian itu, apa Mayra membeci sang Ayah atau tidak? entahlah....
"Eh, mama...." Melihat sang mama yang sudah berdiri diambang pintu, cepat-cepat Mayra menghapus air mata yang sempat lolos ke pipi mulusnya
"Mama sudah membuat makan malam, sebaiknya kamu makan dulu," ucap Widia lembut, lantas Mayra menjawab "Mayra turun sebentar lagi." dengan tersenyum untuk menutupi kesedihannya saat ini "Baiklah, mama tunggu dibawah." Mayra tak mengeluarkan sepatah katapun, hanya tersenyum menanggapi ucapan sang mama.
__
"Nak, apa kau merindukan papamu?" tanya Widia hati-hati, spontan Mayra menghentikan aktivitas makannya, menatap Widia dengan heran. Jika memang dipikirkan, jujur ia merindukan mereka tapi Mayra tak ingin sang mama kembali memikirkan hal yang dapat membuatnya down. Mayra tahu betul seberapa sakit mamanya itu ketika mengetahui papanya memiliki wanita lain bahkan memiliki seorang putri dari wanita itu
"Mama-mama kita lagi makan, jangan ngomongin orang ah," protes Mayra "tapi kan...."
"Sttt...." potong Mayra menaruh telunjuknya depan bibirnya, mengisyaratkan agar diam "maafkan mama May."
___
Mayra mulai mengerjapkan mata, tangannya perlahan meraih handphone sekedar melihat pukul berapa sekarang, ia mengucek-ngucek matanya yang masih melihat dunia dengan buram. Hingga dirasa sudah jelas,
"Aaaaaa kok udah jam tujuh aja sih." Mayra berteriak, menyibak selimut dan melompat dari tempat tidur. Menyambar handuk lalu pergi kekamar mandi "Auhh, mam...." Mayra yang terlalu terburu-buru sampai kakinya menabrak kaki meja rias sampai menyisakan rasa sakit yang tidak main-main. Namun, Mayra tetap melanjutkan jalannya walau melompat dengan satu kaki, karena satu kaki yang masih terasa sakit ia pegang
"Oh, ****," umpat Mayra, akibat melompat-lompat dengan satu kaki, saat menginjak kelantai kamar mandi yang licin membuatnya terpeleset membuat bokongnya mati rasa
___
Mayra menuruni satu persatu anak tangga dengan sedikit berlari
"Mayra jangan lari-lari!" Mayra memperlambat jalannya tapi pandangannya tetap fokus pada isi tas "lihat-lihat kalo jalan, nanti jatuh." Mayra menuruti ucapan Widia. Sampai dibawah, Mayra mengambil roti yang telah diolesi selai oleh sang mama. Yah, itulah menu sarapan pagi yang selalu dibuat Widia untuknya, tak lupa segelas susu juga menemani sarapannya bersama sang roti. Ia memakannya sembari memakai sepatu, kesalahan demi kesalahan terjadi, dimulai dari tali yang diikat salah dan roti yang ia makan terjatuh namun masih diambil dan dimakannya.
Selesai memakai sepatu ia berlari keluar, dilangkah ketiga ia terhenti "Mayra mau kemana?" teriak Widia, Mayra berbalik "berangkat sekolah dong maa, gak lihat Mayra udah pakek seragam,"
__ADS_1
"Mayra berangkat, assalammu'alaikum...."
"Ehh tung...."
"Wa'alaikumsallam,"
"Anak itu,"
***
"Huff, semoga gak telat." Mayra membuang napas kasar setelah berlari dari rumah dan berhenti ditempat biasa ia menunggu ojek. Melirik alroji yang melingkar ditangan kiri, sudah menunjukkan pukul 07:20. 15 menit lagi bel berbunyi, padahal itu waktu yang dibutuhkan untuk sampai kesekolah.
"Apa ada yang aneh ya, orang-orang kok ngeliatin aku kayak gitu banget," gumam Mayra yang melihat pada orang-orang berada tak jauh dari tempatnya, apa yang aneh, atau make up nya tidak rata? tunggu, ia tidak memakai make up. Akhirnya Mayra memilih untuk percaya diri saja, mungkin mereka bukan memperhatikannya
"Neng mau kemana?" tanya wanita paruh baya menghampirinya "mau sekolah bu...." jawab Mayra ramah
"Sekolah?" Terlihat kerutan dikening wanita itu
"I-iya, memang kenapa ya?"
"Oh tidak, saya baru tahu kalo hari Minggu juga sekolah."
"Ha-hari Minggu?"
"Iya, memang sekarang hari Minggu, 'kan."
"Minggu."
***
"May kok pulang lagi?" Widia yang tengah menyapu halaman heran melihat putrinya yang pulang dengan muka cemberut
"Hari Minggu," jawab Mayra lesu
"Lah, ini emang hari Minggu,"
"Kamu kira ini hari apa?"
"apa! jadi mama tahu ini hari Minggu?" pekik Mayra "Aduh! kuping mama,"
__ADS_1
"Makanya kalo ada yang ngomong dengerin dulu jangan asal nyelonong bae," ketus Widia meninggalkan Mayra yang terbengong sendirian diluar
"Why? Mayra merentangkan tangannya, menatap punggung Widia yang perlahan menghilang dibalik pintu