Story Of Mayra

Story Of Mayra
BAB 10. PRAMMATA ADHINATA


__ADS_3

Seorang lelaki paruh baya tengah berdiri menghadap jendela kantornya, dengan sebuah fhoto berbingkai kayu dipegangnya dengan deraian air mata terjatuh pada fhoto itu. Ia terus mengusap fhoto itu dengan kata yang terucap dari bibirnya "kalian dimana." tak henti-hentinya ia menangis. Hingga pintu suara terbuka, cepat-cepat ia menghapus air matanya dan berbalik dengan bingkai itu disembunyikan belakang badannya.


"Sayang aku membawa makan siang uuntukm," ujar seorang yang membuka pintu, lantas ia menghampiri suaminya dan langsung bergelayut manja padanya "terimakasih Tina, tapi lain kali jangan repot-repot aku bisa menyuruh asistenku." ujar lelaki itu yang sedikit risih akan sikap wanita itu walau ia istrinya.


"Memang kenapa, sudah kewajibanku bukan sebagai seorang istri," Tina terus memeluk lengan suaminya "ini ambilah." ia menyodorkan kantong berisi makanan pada suaminya "kau letakkan saja." dingin pria itu membuat istrinya cemberut "kenapa, apa kau tidak suka masakanku?"


"Bukan maksudku begitu, tapi aku belum lapar." Tina meletakkan kantung pada meja yang tak jauh darinya dan kembali bergelayut manja pada pria itu "tidak lapar?" ia berjinjit mensejajajarkan tingginya dengan sang suami, hendak menautkan bibir mereka namun suaminya ikut berjinjit membuat ia berdecak. Tina belum menyerah, ia berusaha beraih bibir itu walau penolakan yang diberikan sang suami.


Prang....


Suara benda jatuh mengalihkan perhatian keduanya, Tina berjongkok mengambil benda itu. Ia berdiri dengan air mata tak dapat dibendungnya, menutup mulut dengan telapak tangan. Sementara, lelakinya hanya diam "kau masih menyimpan fhoto ini," ucapnya farau "maaf." seakan tidak peduli suaminya hanya menjawab dengan singkat juga ketus.


"Lupakan Pram, aku istrimu bukan dia," mengambil kerah baju lelaki itu dan menarik-nariknya. Pram, ya pria itu Pram Adhinata, ayah Mayra.

__ADS_1


"Apa hanya mereka yang ada dihatimu? lalu aku dan putriku kau tempatkan dimana," Tina tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Pram meraih pundak Tina dan berkata "dengarkan aku! kau tahu bukan kejadian waktu itu hanya salah paham. Sehingga aku dan Widia bercerai, tapi aku masih mencintainya." Pram berbicara dengan lembut tapi Tina merasakan sakit yang begitu dalam dari ucapan yang dilontarkan suaminya itu.


"Mengapa kau tidak bilang dulu? mungkin aku tidak usah repot-repot memintamu untuk menikahiku dan lebih baik hidup berdua bersama putriku." ia melepaskan kerah baju Pram dan pergi meninggalkannya dengan deraian air mata.


Pintu dibantingnya, karyawan disana yang melihatnya heran kenapa Istri dari pemimpin mereka keluar dengan keadaan menangis, apa yang terjadi didalam?. Tina melirik mereka dengan tatapan tajam bagai elang yang mengincar mangsanya, tentu membuat mereka takut dan pergi dari tempat itu.


Pram duduk dikursi kebesarannya dengan memijat pelipis. Apa yang ia ucapnya memang benar adanya. Ia masih mencintai Widia, namun sekarang Widia dan Mayra pergi kemana?. Memikirkannya membuat ia frustasi


"Tuan Direktur! ini berkas yang anda min... ta...." seorang pemuda masuk ruangannya, ia melihat atasannya yang seperti bersedih. Ia menghampiri Pram "kenapa tuan menangis?" Pram tidak menjawab malah menghampiri pemuda itu dan memeluknya "tu-tuan?" sedikit kaget dengan apa yang dilakukan pria itu, hampir saja ia terjatuh namun bisa menyeimbangkan tubuhnya "berhentilah menyebutku tuan bodoh." Pram memukul dada bidang pemuda yang dipeluknya.


Mereka melepas pelukannya "Papa tenang saja, aku akan mencari mereka dan membawa kerumah." Pram mengangguk sembari tersenyum lantas pergi dari ruangan itu.


Sementara itu, Mayra dkk tengah makan dikantin. Sahabatnya yang lain asik bercanda dengan Shania dan Bisma yang ribut tiada hentinya. Sedangkan, Mayra tengah memikirkan gadis yang ia temui tempo lalu. Pandangannya teralihkan pada seorang gadis hendak memasuki kantin bersama kedua bodyguard-nya.

__ADS_1


"May, loe kenapa?" Shania menyeggol lengan Mayra namun gadis itu tidak menggubris dan berdiri membuat yang lain menatapnya "gw pergi dulu!" ujar Mayra tanpa mengalihkan pandangan dari gadis itu.


"Tunggu!" Mayra sedikit berteriak, Amirra beserta bodyguard-nya menoleh "kamu yang waktu itu ditaman bukan," Amirra mengangguk "apa kamu melihat sebuah fhoto ditoilet atau sekitarnya mungkin?" Amirra mulai membuka mulut hendak berbicara namun ponselnya berdering "hallo Maa...."


"......"


"Tapi...."


"......"


"Baiklah aku pulang." Amirra pergi begitu saja tanpa mempedulikan Mayra "tu...."


"Setidaknya jawablah dulu pertanyaanku." Mayra menjambak rambutnya, air matanya turun setitik dua titik namun ia menghapusnya karena menyadari jika sahabatnya menghampirinya.

__ADS_1


"Ada apa May?" tanya Shania, tentu Mayra tidak memberitahukan hal sebenarnya dan ia hanya menjawab "gapapa kok." dengan tersenyum.


__ADS_2