
"Hua...."
"Kan Mama udah bilang jangan dibawa kemana-mana takut ilang, bener'kan sekarang ilang. Kamu sih bandel."
"Aaa mama...."
"Kamu sekarang tidur, besok sekolah entar kesiangan." ujar Widia mengusap-usap pucuk kepala Mayra yang tengah menangis sesenggukan "mama tinggal ya."
"Jangan dipikirin entar sakit lagi." sambung Widia mengecup pucuk kepala sang anak, mematikan lampu dan keluar dari kamar Mayra
Disinilah Mayra, dalam kegelapan... menangis sendirian, hanya ditemani cahaya bulan yang menyusup dari celah jendela. Ia menoleh pada jendela "puji aku, puji aku dengan cahaya itu walau hanya sekali."
"Ira lihat langit indah sekali."
"Iya, karena ada bulan dan bintang."
"Melihat bulan aku seperti melihatmu, jika bulan yang menerangi bumi pada malam hari dan Ira adalah cahaya yang menerangi Ndi siang dan malam hari
_______
"May... bangun nanti telat." Widia menggoyang-goyangkan tubuh Mayra yang tidur dengan selimut menutup seluruh tubuhnya "Mayra...."
"Mayra gak mau sekolah." ucap Mayra sedikit lirih membuat Widia mendesahkan nafasnya pelan. Widia mengerti dengan keadaan Mayra yang sudah seperti itu, ia tak bisa menolak jika memaksa itu akan membuat putrinya semakin down.
"Kamu mau makan?" tanya Widia, Mayra menggeleng " yasudah mama ambilin minum dulu." Mayra berdehem
_____
__ADS_1
"Beh, gw kira telat." Tiara menghampiri sahabatnya Shania dengan nafas tersenggal, setengah berjongkok dengan memegangi ke-dua lututnya.
"Yeh loe sih kebiasaan telat. Lah Mayra belum datang." sahut Shania membuat Tiara mendongkak "apa! Mayra belum datang?" pekiknya hingga Shania terlonjak kaget dengan menutup telinga "woi, biasa aja dong." bentak Shania dan Tiara hanya terkekeh.
"Woi pagi-pagi udah gosip aja nih emak-emak." teriak Bisma datang bersama Rio dan Rendi "woi! bisa gak sih jangan teriak." timpal Shania dengan berteriak "gw lupa kalo ada medusa disini." gumam Bisma namun masih didengar Shania "apa loe bilang."pekik Shania tidak terima "ribut lagi... entar kalo jodoh tahu rasa kalian." geram Tiara membuat Bisma maupun Shania bergidik "hih, amit-amit." sahut keduanya serempak "tuh'kan ngomongnya aja barengan."
"Apa sih, ini nih anak curut yang ngikutin."
"Loe yang ngikutin gw."
"Loe...."
"Loe...."
"Woi udah...." teriak Rio membuat Bisma dan Shania berhenti "mau loe, gw keluarin dari kelas." ancamnya "mentang-mentang jadi ketua." cibir Shania
Tut Tut....
Lama yang ditelpon mengangkatnya. Mereka saling merapat mendengar jika ada jawaban "kok lama banget, gak biasanya." gerutu Shania "sttt...." sahabatnya kompak menutup mulut dengan telunjuk membuat Shania cengengesan.
"May loe lama banget dah ngangkatnya... ngapa gak sekolah lagi." Rio langsung berbicara setelah yang ia hubungi mengangkatnya
"Maaf ini tante Widia, Mayra gak sekolah karena lagi sakit."
"Eh, maaf tante kirain Mayra."
"Kok bisa tante, apa Mayra abis main ya kok bisa sakit." Shania merebut ponsel Rio membuat yang punya menatapnya dengan tajam
__ADS_1
"Mungkin kedinginan aja."
"Bisa kasih ponselnya ke-Mayra tante?"
"Iya, bentar."
Beberapa detik tak ada suara dari seberang "hallo." akhirnya suara yang ingin didengar Shania "May loe sakit apa sih."
"Gak, cuma kedinginan aja."
"Loe abis nangis ya."
"Gak kok, siapa yang nangis. Telingamu kali"
"Gada masalah dengan telingaku ya."
"Terserah."
"Aku tutup telponnya ya."
"Eh tu...."
Tut Tut....
Terlambat, Mayra lebih dulu menutupnya membuat Shania bingung "dimatiin." ia menoleh pada sahabatnya dengan muka sedih "abis pulang kita jenguk yuk." usul Tiara "boleh tuh." seru Rio antusias begitupun dengan yang lain
"Woi Ren, kok diam." ujar Bisma sembari menyenggol tangan Rendi membuat yang disenggol terlonjak "gapapa." jawabnya tersenyum "apa dia sakit karena kemarin ya."
__ADS_1