
Bel berbunyi pertanda jam pelajaran sudah berakhir. Para murid tengah membereskan alat tulis mereka kedalam tas bersiap untuk pulang.
"Eh guys, ke-caffe yuk." ajak Shania ketika ia dan para sahabatnya sudah diambang pintu "ide bagus tuh, udah lama juga kita gak kumpul bareng," Rio menimpali
"Yuk lah, besok jam 8 kita kumpul di caffe cemara." timpal Revan diangguki yang lain.
"Yah mumpung hari minggu juga."
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak ikut," ucap Mayra membuat mereka menoleh padanya "lah, kenapa?" tanya Shania cepat tanggap "aku ada urusan." jawab Mayra diakhiri senyum tipisnya membuat Shania menyipitkan mata, heran dengan sahabatnya itu tumben sekali ada urusan biasanya tidak pernah seperti itu.
"Aku ada urusan keluarga besok," seakan tahu apa yang ada dibenak Shania, Mayra menjawab walau sedikit gelagapan. "Urusan keluarga apa?" tanya Shania yang masih belum puas dengan jawaban Mayra
"Euu... Papa aku pulang, iya Papa aku pulang,"
"Aku duluan ya, dah semua." takut mendapat pertanyaan dari sahabatnya itu lagi. Mayra cepat-cepat pergi. Ia melambaikan tangan kearah mereka dengan senyum manis terbit dari wajahnya walau terlihat sedikit kaku. Perlahan Mayra menghilang dari pandangan mereka.
"Gw pikir dia cuma punya Ibu," gumam Bisma, mereka yang ada disana menoleh padanya "itu, ya kan gw gak pernah lihat bapak-nya, denger pun nggak," Bisma menggaruk tekuk yang tidak gatal "bener, gw juga berpikir kaya loe."
"Gw juga."
"Iya sama."
__ADS_1
"Bener tuh."
Hal yang tidak diduga, Bisma pikir mereka akan marah padanya karena berkata seperti itu. Namun, ternyata para sahabatnya sama saja.
"Bukannya kalian udah kenal Mayra dari lama, kok gak tahu keluarganya?" tanya Rendi sedikit heran "gw kasih tahu ya. Mayra tuh siswi pindahan, kita gak tahu dia asal mana. Katanya dia pindah kekota ini bareng Ibu-nya. Kalo kita tanya tentang Bapak-nya pasti tu anak jawab yang lain." sahut Revan panjang lebar
"Boro-boro kita yang baru tiga tahun kenal. Yang teman SD nya aja kagak," cibir Tiara dengan ekor mata mengarah pada Andri membuat pemuda itu cengengesan
"Gw bukannya gak tahu, tapi dia penuh misteri aja."
"Maaf gw gak bermaksud bohongin kalian."
Keesokan harinya tiba, Rendi tengah bersiap-siap untuk menemui sahabat-sahabat barunya.
"Rendi!" suara Linda dari luar dibarengi ketukan pintu "iya, bentar Maa...." jawab Rendi dari dalam kamar dengan teriakan
........
Klekk
Pintu terbuka dibarengi keluarnya sesosok pemuda tampan yang nampak rapi dengan setelan kemeja kotak-kotaknya.
__ADS_1
"Anak Mamq tampan banget, tahu aja kalo mau ketemu gadis," puji Linda dengan senyum menggoda
"Maksud Mama?" tanya Rendi dengan menautkan alisnya "Amirra ada dibawah," balas Linda berbisik. Tanpa basa-basi Rendi langsung turun kebawah, ia bukan senang akan datangnya Amirra sahabat kecilnya kemari. Namun, ia heran untuk apa gadis itu datang kerumahnya.
"Anak itu." gumam Linda tersenyum dengan bersedekap dada seraya geleng-geleng kepala
Tap... Tap....
Suara langkah kaki berasal dari arah tangga, semua orang yang ada dibawah menoleh keatas. Senyum terbit dari wajah mereka ketika melihat siapa yang datang.
"Rendi kemarilah," ajak Ardi dengan melambaikan tangan kearah putranya
Rendi tidak membantah, ia berdiri disamping sang Ayah yang tengah duduk disofa dan berhadapan dengan Amirra juga Tina.
"Wah sepertinya kamu memang sudah menduga jika sahabatmu akan kemari," tutur Tina karena melihat Rendi yang begitu rapi padahal ia tidak memberitahu kalau akan datang ke-kediaman Adijaya.
"Tentu saja Mah, walau aku tidak memberitahu tapi hati kita selalu terhubung hingga ia merasakan jika sahabatnya akan datang kerumahnya," timpal Amirra dengan senyum manis. Tina dan Ardi tertawa dibuatnya
"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian akan kemari. Sebenarnya, aku ada janji bersama sahabatku yang lain di-caffe. Itu sebabnya aku berdandan rapi,"
Deg....
__ADS_1