
"Kenapa tamu gak dibiarin masuk sih." Manaf bergumam lantas berjalan kearah gerbang
"Manaf!" Teriak Pram dari ambang pintu yang tengah memakai alroji pada pergelangan tangan kirinya. Manaf menoleh, Pram lagi-lagi berteriak. "Mengapa kau masih disitu? kita ada meeting jadi cepatlah mandi dan bersiap," tutur Pram tanpa mengalihkan perhatian dari alrojinya.
Manaf yang teringat pun langsung bergegas pergi kerumah dan menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
Pram yang melihat seorang pemuda didepan gerbang mengerutkan kening dengan bergumam "siapa dia? tidak mungkin tukang ojek atau pengantar makanan 'kan?" Pram yang penasaran pun lantas berjalan kearah gerbang. Namun, baru saja berjalan 3 langkah Tina dan Amirra sudah ada dibelakangnya "suamiku, apa kau tidak pergi kekantor?" Tanya Tina yang tentu itu hanya akal-akalannya saja agar Pram tidak bertemu Rendi. Pram sedikit kaget karena Tina yang kedatangannya tak ia ketahui menepuk pundaknya, Pram lantas mengelus dada.
"Aku sedang menunggu Manaf," jawab Pram sedikit dingin membuat Tina tersenyum getir
"Apa kalian memesan makanan? mungkin sudah datang dan pemuda itu...."
"Itu teman Amirra Pah," sela Amirra. Pram mengangguk dengan berpikir jika mungkin pemuda itu kekasih Amirra.
"Baiklah, kau berangkatlah kasihan mungkin dia sudah menunggu sejak tadi," tutur Pram dan Amirra mencium punggung tangan Pram, hal sama ia lakukan pada Tina dan barulah Amirra pergi
__ADS_1
"Maaf menunggu lama," Ucap Amirra namun Rendi tak menanggapi dan menyodorkannya helm. Rendi melirik kearah dua orang berbeda jenis kelamin tengah memperhatikan mereka "Apa itu Ayah-mu?" tanya Rendi. Amirra melihat kemana pandangan Rendi terarah "i-iya,"
"Sudah lama sekali kami tidak bertemu, biarkan aku menemuinya dulu," Rendi hendak masuk namun Amirra menarik lengannya membuat langkah Rendi terhenti dan refleks menoleh padanya "ini sudah pukul tujuh lewat, sebaiknya kita berangkat. Aku tidak ingin Pak Herman menghukumku," tutur Amirra. Rendi yang teringat pun hanya menoleh sebentar pada Pram yang juga tengah melihatnya. Walau jarak antara mereka cukup jauh tapi Pram masih bisa melihat Rendi bahkan wajahnya dan itu membuatnya teringat akan seseorang.
"Ardi."
****
Bukan XII IPS 1 jika tidak membuat kerusuhan, apalagi ketua kelas dan wakil beserta bendahara yang agak gesrek membuat para penghuni kelas itu ikut gesrek.
Satu orang yang belum ditagih Shania, yaitu Bisma. Setiap menangih padanya membuat Shania malas karena pemuda itu murid yang paling susah jika ditagih.
"Apa?" Tanya Bisma melihat satu tangan Shania mengadah dan mengarah padanya. Shania membulatkan matanya dengan menggeretkan gigi, sudah biasa jika Bisma pasti akan bertanya dulu sekedar basa-basi "uang kas," ketus Shania
"Aduh, Shan tolong perutku sakit. Mungkin salah makan," Bisma memegangi perutnya menahan sakit "benarkah itu? apa perlu kita ke UK UKS?" tanya Shania dengan nada khawatir. Bisma terus saja merintih dengan memegangi perutnya "sini biar kubantu," Shania memegang perut Bisma dan....
__ADS_1
Bug!
"Akhh...."
"Masih sakit? hah!"
Kini sakit perut yang hanya akal-akalannya saja untuk mengelabui Shania agar tidak menagih uang kas padanya. Sekarang, Bisma memegangi perut yang dirasa sakit olehnya karena pukulan Shania.
"Masih sakit? apa perlu kubantu lagi?" tutur Shania memegang bahu Bisma membuat pemuda itu ketakutan "ti-tidak perlu, sebentar," Bisma yang akhirnya pasrah dengan keadaan, ia merogoh saku membuat Shania senang
"Bisma!" Teriak Shania, ia pikir Bisma merogoh saku untuk mengambil uang nyatanya Bisma hanya mengelabuinya dan berlari keluar
"Maaf aku hutang dulu minggu ini," teriak Bisma yang masih berlari "ini sudah ke-4 kalinya, aku tidak akan membiarkanmu. Awas saja." Shania mengejar Bisma yang sudah jauh dari pandangan. Sementara, para murid disana hanya menonton drama hari senin itu.
"Awas Bis, entar loe balik tinggal nama doang." Para murid disana saling berteriak walau tak dapat didengar Bisma yang sudah menjauh.
__ADS_1