
"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian akan kemari. Sebenarnya, aku ada janji bersama sahabatku yang lain di-caffe. Itu sebabnya aku berdandan rapi,"
Deg
Kalimat tidak terduga dilontarkan Rendi. Amirra berpikir Rendi akan mengatakan hal yang ia pikirkan. Namun, jawabannya membuat ia tak dapat berkutik. Malu? tentu saja, apalagi ia dengan PD-nya mengatakan jika Rendi berdandan rapi karena tahu kalau ia akan datang.
"Kenapa kalian serius sekali, aku hanya bercanda," mendengar hal itu Amirra reflek menoleh pada Rendi.
"Dasar anak nakal! lihatlah kau membuat sahabatmu itu kaget," sosor Ardi membuat Rendi berhenti tertawa dan melihat wajah Amirra yang nampak kaget.
"Maaf aku tidak bermaksud," kepala Rendi tertunduk, sedikit tidak enak
Ting!
Notif masuk keponselnya. Rendi membuka dan pesan itu dari grup yang berisikan ia dan para sahabatnya yang lain
💬Revan: "Gw udah di-caffe nih. Buruan dateng."
__ADS_1
"Pah, Tante. Rendi pamit ya, ada urusan," mencium punggung tangan Ardi dan Tina secara bergantian. Lantas, Rendi melangkahkan kakinya hendak pergi. Namun, Ardi menghentikan langkahnya "mau kemana? sama siapa? dan urusan apa?" tanya beruntun Ardi. Rendi memutar bola matanya jengah seraya membuang napas pelan.
"ke-caffe, sendiri, kumpul bareng sahabat Rendi," singkat, padat dan jelas. Rendi menjawab satu-persatu pertanyaan dari Ardi dan bersiap kembali pergi. Namun, lagi-lagi Ardi menghentikannya
"Apa kamu lupa Amirra juga sahabatmu? kenapa gak diajak?"
"Bukankah kamu mencari sahabat kecilmu ini. Dia sekarang sudah ada dihadapanmu tapi kau malah mencampakannya," ujar Ardi membuat Rendi berpikir. Benar juga apa yang dikatakan Papa-nya tersebut. Namun, pikiran dan hatinya selalu teringat sahabat kecilnya itu dan ia sedang mencarinya. Seakan jika yang saat ini berada didepan matanya bukanlah Ira sahabat kecilnya tapi Amirra.
"Tunggu apa lagi, ajak juga sahabatmu ini besamamu." lamunan Rendi buyar seketika. Mau tak mau ia harus menuruti perintah Ardi.
____
"Hmm...." didalam mobil, sepanjang perjalanan Amirra terus saja mengoceh mengajak ngobrol pria yang tengah menyetir. Namun, tidak pernah ada jawaban darinya dan hanya deheman saja yang keluar dari bibirnya membuat Amirra sedikit kesal tapi tidak diutarakannya dan berusaha memendam dengan sikap manis dan polosnya.
"Sepertinya aku lebih baik bersama Mama deh, kau mau pergi bersama sahabatmu tapi aku malah ikut denganmu," mimik wajah Amirra berubah sedih bahkan seperti akan mengeluarkan air mata. Rendi yang menyadarinya sedikit khawatir
"ke-kenapa kamu berbicara seperti itu, sungguh aku tidak keberatan. Sahabat-sahabatku juga akan senang jika kamu hadir," kalimat itulah yang keluar dari bibirnya. Namun, batinnya berkata lain. Ia sungguh tidak enak jika membawa Amirra pergi bersamanya dan bergabung dengan kumpulannya. Ia tahu jika sahabat-sahabatnya tidak menyukai Amirra.
__ADS_1
Amirra yang mendengar jawaban Rendi seketika senyum yang tadinya pudar sekarang terbit kembali. "Benarkah itu?" tanya Amirra berbinar, Rendi mengangguk seraya tersenyum padanya.
Sekarang ia bisa duduk dengan tenang. Walau sebenarnya tidak sudi sekali ia bertemu dengan sahabat-sahabat Rendi yang menurutnya kampungan dan murahan. Namun, ia harus bersabar dan bersikap manis agar rencana yang ia bangun bersama Tina berhasil.
"Loh, bukannya ini taman?" tanya Amirra melirik Rendi, pemuda itu hanya menjawab "iya,"
"Kenapa kita kemari? bukankah kau ada janji bersama sahabatmu?"
"Itu, kenapa kau menanyakan hal itu? kau masih ingat 'kan taman ini tempat kita selalu bermain waktu kecil," jawab Rendi dengan Amirra hanya mengiyakan walau sedikit terbata
Mereka berjalan menyusuri tempat tersebut dengan dipenuhi banyak orang berlalu-lalang juga sebagian yang tengah fiknik bersama keluarga kecilnya dan nampak bahagia. Rendi menikmatinya, tapi Amirra yang sepanjang jalan terus mengeluh karena menurutnya tempat itu jijik dan jorok.
"Huekk...." Rendi menoleh kebelakang "maaf, aku permisi ketoilet."
Rendi menatap punggung Amirra yang perlahan mengecil dan menghilang dari pandangannya. Sedikit kerutan dikening yang melihat sikap Amirra seperti itu. Hingga, pandangannya tak sengaja melihat seorang gadis yang tengah berjongkok didekat sebuah pohon besar. Ia menghampirinya
"Permisi...." gadis itu mendongkak, terlihat oleh Rendi matanya sembab dengan hidung merah muda pertanda ia habis menangis bahkan ada sisa air mata dipipinya
__ADS_1
"Ira...."