
"Ayolah Paa! Papa punya banyak karyawan 'kan? mengapa harus aku yang menjalankan caffe ini," keluh Rendi yang terus memohon pada papanya. Namun, Ardi tidak mempedulikannya.
"Pah, papa!" Rendi terus memohon, Ardi hanya berfokus pada benda pipih yang ada pada genggammannya.
Brukk....
Terlalu fokus pada layar ponsel, Ardi tidak sengaja menabrak seorang wanita "maaf nyonya, saya tidak sengaja,"
"Bisa hati-hati gak sih Pak? baju saya kotor nih!" pekik wanita itu dengan membersihkan bajunya dengan cara menepuk-nepuk. Sementara, Rendi melihat pada seorang gadis yang bersama wanita itu. Manik mata mereka bertemu, mengingat-ngingat pertemuan mereka yang jauh dari kata baik.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria itu sih." batin Amirra menggerutu. Yap, gadis itu Amirra dan wanita yang bersamanya Tina ibunya.
"Maaf sekali nyonya, apa anda baru datang kemari?"
"Apa urusanmu menanyakan hal seperti itu? apa kau tahu aku ini istri dari Prammata Adhinata, kau jangan macam-macam denganku," Ardi sedikit kaget mendengarnya, Pram? Pram itu sahabatnya dan sekarang ia tidak tahu dimana. Wanita ini? istri dari Pram? yang ia kenal hanyalah Widia istri dari Pram, istrinya dan Widia juga bersahabat dari kecil. Namun, ia mengenal Widia dengan sikapnya yang lemah lembut dan tidak akan berbicara seperti itu walau dalam keadaan emosi sekali pun.
"Maafkan saya sekali lagi nyonya, mari duduk sebentar," ajak Ardi dan menuntun wanita itu pada sebuah bangku kosong.
Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Menghidangkan sebuah menu yang mewah dan tidak murah harganya. "Silakan," Tina menyantap menu itu, lidahnya mengecap merasakan tiap rasa manis dan gurih dari makanan yang ia makan. Hingga, memilih untuk menghentikan makannya. Walau jujur ia menikmati menu itu dan ingin sekali menghabiskannya.
"Apa benar anda istri dari Prammata Adhinata?" tanya Ardi penasaran "memang kenapa?" bukannya menjawab Tina malah balik bertanya "apa masih ingat dengan saya?"
"Ingat? bertemu saja baru sekarang," batin Tina sering bingung "memang siapa kamu?" selidik Tina "saya Ardi,"
"Ardi?"
__ADS_1
"Iya, Ardi Adijaya. Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Ardi antusias, ia mengira Tina adalah Widia sebab sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Adijaya. Wah, beruntung sekali aku bertemu dengannya. Apa itu putranya? sepertinya seumuran dengan Amirra," seringai licik ia pancarkan
"Ardi! aku tidak menyangka jika akan bertemu denganmu lagi,"
"Benar, apa dia Ira? cantik sekali," Ardi melirik pada seorang gadis yang duduk disamping Tina "benar, dia Ira dan...." pandangan Tina teralihkan pada Rendi yang sedari tadi hanya diam "dia Rendi, Ndi. Ira apa kamu masih mengingatnya?" Amirra menyernitkan keningnya, apa yang dimaksud lelaki paruh baya itu? Ira, Ndi siapa mereka.
"Sepertinya dia sudah lupa, maklum saja." Tina tersenyum getir, semoga kedua lelaki itu tidak curiga.
Sementara, pikiran Rendi berkecamuk. "Ira? apa benar dia Ira?" tidak tahu harus digambarkan seperti apa, Rendi sungguh senang mendengarnya. Sahabat kecil yang ia cari-cari akhirnya ia menemukannya.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? apa ada yang salah denganku?" Amirra sedikit risih melihat Rendi yang tidak mengalihkan pandangan darinya
"Amirra dengarkan Mama," Tina mengejar putrinya hingga sampai rumah. Sepulangnya dari caffe Tina menyuruh putrinya agar berpura-pura sebagai Ira sahabat kecil Rendi tentu Amirra menolaknya mengingat saat bertemu pemuda itu ia hampir ditabraknya.
"Amirra dengarkan Mama!" Tina berteriak membuat Amirra menghentikan langkahnya dan menoleh pada sang mama.
ART melihat mereka, tidak ingin rencananya diketahui Tina memutuskan mengajak Amirra kelantai atas dan berhenti pada kamar Amirra.
"Kenapa sih Mah?"
"Dia putra dari Adijaya, apa kau tidak ingin bersamanya?" Amirra berpikir sebentar "Adijaya? benar juga. Tapi, apa aku bisa bersamanya?"
"Kasihanilah Mama-mu ini nak, Papa mungkin akan menceraikan Mama," Tina berkata dengan dibuat sesedih mungkin agar putrinya menurut "apa maksud Mama? kenapa Papa kalian harus bercerai?"
__ADS_1
"Kamu tahu 'kan Mama dan Papa itu menikah karena sebuah kejadian? Papa dan istri pertamanya sudah bercerai ketika kamu berumur 14 tahun dan putri mereka juga berumur sama sepertimu. Dia...."
"Tunggu maksud Mama, Papa punya seorang putri selain aku gitu?" potong Amirra "benar,"
"Setelah bercerai, Istri pertama dan putrinya pergi dari rumah ini. Mama gak tahu mereka kemana. Papa-mu masih mencintai Istri pertamanya dan hendak mencari mereka,"
"Apa kau ingin kita tinggal dijalanan?!" Tina memegang bahu putrinya "tapi, apa hubungannya dengan Adijaya?"
"Itu...." kalimat Tina terhenti karena melihat sebuah fhoto anak kecil berbeda jenis kelamin tergeletak diatas meja "darimana kamu mendapatkan ini Amirra?" Tina mengambilnya "itu milik seorang gadis yang ku temui ditaman," jawab Amirra membuat Tina mendapat menyunggingkan senyum sinis "apa kau tahu ini siapa?" Amirra menggelengkan kepala "aku juga melihatnya disekolah, mungkin sekolahnya sama denganku."
"Ohh, bagus sekali,"
"Bagus apanya?"
"Apa kau tahu dia adalah putri dari Pram dan anak lelaki ini adalah putra Ardi Adijaya,"
"Ma-mama tahu darimana?"
"Papa-mu pernah menunjukan fhoto ini saat kamu masih kecil. 'lihatlah dia kakakmu semoga nanti kalian bisa bersama dan akur ya'.
"Apa kau ingin dia kembali kesini dan merebut posisimu?" Tina semakin mengompori putrinya, tangan Amirra mengepal "jadi gadis itu putri Papa, aku tidak akan biarkan dia merebut posisiku." Tina tersenyum "jadi, bagaimana? apa kau mau...."
"Akan aku lakukan apa saja agar gadis ini tidak kembali kerumah ini."
"Bagus...." Tina mengelus pucuk kepala Amirra "lihat saja, aku tidak akan biarkan kalian kembali kerumah ini dan merebut posisiku dan putriku."
__ADS_1