Story Of Mayra

Story Of Mayra
BAB 7. SAHABAT


__ADS_3

"Satu, dua, tiga!"


"Mayra!...." teriak Shania mengagetkan para sahabatnya, mereka pun ikut melihat kondisi sahabatnya itu, betapa terkejutnya mereka "May, loe abis nangis."


"Ihh apaan sih...." Mayra kembali menutup tubuhnya dengan selimut namun Shania terus menarik selimut itu alhasil kedua sahabat itu saling berebut selimut


Nah loo siapa yang ngira Mayra pingsan....


______


Disinilah mereka, ruang tengah... adapun Widia disana. Setelah pergulatan antara Mayra dan Shania memakan waktu cukup lama akhirnya sahabatnya itu menyuruh agar Mayra memakai kacamata, Mayra sempat tidak mau namun dipaksa alhasil ia pun memakainya.


"Mayra abis nonton drakor apa ya? sembabnya gitu amat." celutuk Shania membuat para sahabatnya menepuk jidat "lain kali gak deh bawa ini orang."


Widia hendak berbicara, ia melihat Mayra yang menggelengkan kepala. Rendi melihat tingkat mereka "sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan."


"May loe hamil!" teriak Shania hingga semua orang menatapnya, sedikit kaget dengan apa yang dilontarkan Shania. Tiara yang berada didekatnya langsung membekap mulutnya "maaf tante, dia emang rada-rada." Widia hanya tersenyum menanggapi "lebih baik kalian mengobrol, tante tinggal dulu." mereka menatap kepergian wanita paruh baya itu.


"Jadi loe kenapa nangis?" tidak berhenti Shania mengatakan hal itu, jika sudah kepo tak bisa dikata.


"kakek loe meninggal?" tanya Shania dan Mayra hanya menggeleng, Shania kembali memutar otak "uang loe ilang?" lagi-lagi Mayra menggeleng "kucing loe mati? atau sahabat loee pergi." pertanyaan terakhir ia mendapat getokan kepala dari Tiara "kalo ngomong gak masuk diakal tahu gak, kita kan sahabat Mayra dan gak akan pergi selamanya." jelas Tiara merangkul pundak Mayra dan Shania dengan tersenyum bahagia, namun mendadak Mayra menjadi sedih tapi karena tertutup kacamata ia dapat menyembunyikannya "i-iya."


Lain lagi dengan Rendi, ia merasakan ada yang aneh dari gadis itu "sepertinya memang dia menyembunyikan sesuatu." batinnya, "hei...." ia mendapat tepukan dari Rio yang berada disebelahnya "napa loe ngelamun gitu? awas nanti kerasukan mbak kun loo." tambah Rio menakut-nakuti "ya nggaklah." elak Rendi "gw mau ketoilet." sambungnya lalu berdiri "oh dia melamun karena mau ketoilet toh." gumam Rio menganghuk-anggukan kepala.

__ADS_1


Rendi berjalan melewati dapur mencari-cari toilet, ia melihat sebuah pintu yang dikiranya toilet. Kakinya terus melangkah namun baru beberapa langkah ia berjalan, Rendi mendengar seorang yang tengah menangis hingga kakinya menuntun kearah apa yang ia dengar "hikss... maafkan mama nak, maafkan mama karena terpaksa menyembunyikan semua ini dari kamu hikss...." isak tangis Widia didengar Rendi "apa maksud tante Widia? menyembunyikan apa?" batinnya bertanya-tanya


Diruang tengah....


"May, Rendi udah pernah kesini ya?" tanya Bisma yang sedari tadi hanya diam "enggak, dia baru kesini... emang kenapa?" jawab Mayra diakhiri dengan pertanyaan "kalo dia baru kesini pasti belum tahu lah letak toilet." jelas Bisma membuat Mayra berpikir sejenak "iya yah, yaudah aku susul dulu deh."


"Maafkan mama karena memisahkanmu dengan...." Rendi semakin penasaran dibuatnya, ia merasakan pundaknya ditepuk akhirnya terlonjak kaget dan menoleh kebelakang "udah ketemu toiletnya." Rendi gelagapan "i-ini mau nyari tapi gak ketemu, jadi nyasar." jawabnya dengan menggaruk tekuk yang tidak gatal


Mayra hendak menuntunnya dimana toilet berada. Namun, Widia menghampiri mereka "ada apa ini May?" Tanya Widia sesaat menghampiri mereka "gapapa maa, teman Mayra mau ketoilet."


Mayra meninggalkan Rendi yang telah masuk ketoilet. Tak lama keluarlah Rendi "astagfirullah... tante ngagetin aja." Rendi mengelus dada, melihat Widia yang sudah berdiri dihadapannya "tante tahu kamu dengar'kan tadi."


"Ma-maksud tante?" Rendi sedikit gelagapan namun Widia hanya menggeleng sembari tersenyum "lebih baik kamu ikut tante, ada yang mau tante bicarakan." sebenarnya Rendi tak ingin ikut campur namun ia juga penasaran dengan apa yang terjadi. Iapun mengikuti kemana Widia pergi


____


Bruk....


"Auh... hua...."


"Ira! Ira gapapa."


"Kaki Ira sakit."

__ADS_1


"Huaaa...."


"Ira jangan nangis...."


"Sakit...."


"Jangan nangis hikss...."


"Ndi kok ikut nangis? kan Ira yang luka."


"Tertawa bersama...."


"Ndi, Ira jangan lari-lari nanti jatuh."


"Kejar aku, kejar aku bwlee...."


"Tapi aku merasa bersalah terhadap anakku sendiri, hikss...." air mata meluncur seketika "mama, Ndi mana? kok gak dateng, padahal kita udah janji mau main lagi disini."


"Sahabatnya sakit parah hingga orang tuanya harus membawa ia keluar negri, saya tidak mau Mayra sedih jadi terpaksa saya merahasiakannya."


"Sejak saat itu saya tidak mendengar lagi kabar mereka dan Mayra terus menanyakan sahabatnya sampai kenangan satu-satunya ia simpan sampai sekarang tapi kemarin kenangan itu hilang membuat Mayra seperti sekarang." tanpa sadar Rendi ikut menitikan mata mendengarnya, ia juga mempunyai sahabat dan sekarang tidak tahu kemana "sa...."


"Mama!"

__ADS_1


__ADS_2