
Kringg Kringg....
Bel berbunyi, semua murid berbondong-bondong keluar kecuali Shania, Tiara, Bisma, Rio dan Rendi yang malah berkumpul membicarakan rencana yang mereka telah susun "gimana nih?" tanya Tiara yang mendapat jitakan dari Bisma "kan loe yang ngajak, ngapa loe yang tanya." Tiara meringis dan membalas menjitak Bisma "maksud gw, kita beli bingkisan dulu apa gimana masa bertemu kagak bawa apa-apa."
"Bilang dong."
"Wih ada apa nih pada ngumpul." trio A (Andri, Agung dan Angga) menghampiri mereka. Baru saja keluar kelas dan hendak menuju parkiran. melihat jika pimtu kelas XII IPS 1 terbuka, mereka mengintip dan ternyata para sahabatnya yang tengah berkumpul "mau jenguk Mayra, loe pada ikut gak."
"Mayra sakit?" tanya Andri sedikit keras "loe gak liat apa dari tadi tu anak gak ada." sungut Shania membuat Andri cengengesan "eh kemana Revan?" tanya Agung dengan celingak-celinguk "mungkin duluan." jawab Rio datar
"Sebaiknya kita berangkat." usul Rio dibalas anggukan sahabatnya
Mereka berjalan kearah parkiran, terlihat seorang pemuda tengah berdiri tak jauh dari mobil Rio "Van?!" teriak Rio membuat Revan menoleh "gw kira kalian kemana, gak ada yang nongol satu pun." ucapnya dengan muka sedih "loe yang kemana, loe mau ikut gak jenguk Mayra?"
"Emang Mayra kenapa?" tanyanya sama dengan pertanyaan Trio A sebelumnya "udah ayok kalo mau ikut." Angga dan Agung menyeret Revan masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Mobil Rio, Rendi dan Shania keluar dari parkiran sekolah. Rendi dan Shania yang menyetir dengan tenang, namun mobil Rio yang dalam keadaan berdesakan. Tentu saja, karena dimobilnya berisi Trio A, Revan dan dirinya sedangkan... Shania hanya membawa Citra dan Rendi sendiri "kalo tahu gini mening ikut Rendi gw." keluh Revan yang berada dikursi belakang "nikmatin aja." enteng Bisma berada dikursi depan "loe enak didepan."
"Diem loe jangan gerak-gerak, gw kehimpit nih."
"Geser dikit dong."
"Lemak gw auto lenyap seketika."
"Aduh tangan gw jangan didudukin." umpatan-umpatan terdengar dari kursi belakang, Rio dan Bisma yang mendengarnya hanya tertawa.
Lampu lalu lintas berganti merah, karena tidak fokus Rio yang baru menyadari langsung menginjak rek membuat kepala Bisma terbentur das board mobil cukup kerasnya hingga yang berada dikursi belakang menertawakannya.
Tiga mobil berhenti dipekarangan rumah sederhana berlantai 2. Mereka keluar dari mobil dengan coolnya kecuali dari mobil Rio, mereka keluar dengan dibarengi gelak tawa membuat Shania dan Tiara heran namun tak mempedulikannya.
"Assalammu'alaikum...." salam mereka dengan serempak ketika dihadapannya pintu rumah itu "wa'alaikumsallam...." jawab dari balik pintu yang sesaat kemudian terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya yang diketahui mama Mayra yaitu Widia.
__ADS_1
"Cari siapa ya?" heran Widia karena memang tidak mengenal mereka "Mayra ada tante?" Shania menjawab sekaligus bertanya membuat Widia mengerti "kalian teman-temannya Mayra." mereka semua mengiyakan "ada didalam, ayok masuk. Setelah sampai didalam mereka terpukau dengan isi rumah itu, diluar terlihat sederhana tapi saat memasukinya rumah itu tak kalah mewahnya dengan rumah yang dimiliki orang berada.
"Silahkan duduk, tante ambilin minum dulu." ujar Widia ramah. Pandangan mereka menelusuri setiap inci rumah yang dipenuhi barang antik itu. Walau banyak barang antik, tapi tak membuatnya seperti tua malah sebaliknya.
"Silahkan diminum." Widia menaruh nampan yang diatasnya terdapat gelas berisi minuman. Mereka mengucapkan terimakasih dengan serempak.
"Mayra-nya dimana tante?" tanya Shania yang cepat-cepat ingin bertemu sahabatnya "dia ada dikamar, mari biar tante antar."
………………
Klekk....
Pintu dibuka Widia, terlihat gundukan selimut diatas tempat tidur dengan sedikit rambut terlihat diujungnya. Shania berlari, ia tahu sendiri jika itu sahabatnya "May... gw kangen, loe tumben banget gak sekolah." ia membanting tubuhnya pada tempat tidur dan memeluk Mayra yang ditutupi selimut, para sahabatnya hanya tersenyum getir sedikit tidak enak karena mama Mayra masih bersama mereka.
"Dia yang malu-maluin tapi gw yang malu ya " batin mereka yang berpikir sama "tante tinggal dulu ya."
__ADS_1
"May, loe kebo banget sih ini udah siang loh kok belum bangun." Shania menggoyang-goyangkan tubuh Mayra namun tak ada respon "May! Mayra." teriaknya namun tetap Mayra diam saja membuat ia khawatir, sahabatnya ikut menghampiri. Mengkode satu sama lain dengan lirikan mata. Shania mengerti dengan kode itu, jarinya terangkat keatas satu persatu dengan mulutnya ikut bergerak sesuai jari yang ia acungkan. Itungan ketiga ia membuka selimut yang membungkus seluruh tubuh Mayra
"Mayra!" teriak Shania reflek membuat para sahabatnya menutup telinga, mereka merapat dan ikut kaget melihatnya.